Loading...
Logo TinLit
Read Story - Imajinasi si Anak Tengah
MENU
About Us  

Hari demi hari, Tara merasa semakin dekat dengan Awan. Ada sesuatu yang tumbuh perlahan, tak bernama, tapi terasa. Hubungan mereka terasa makin spesial, seperti ada rasa yang sama-sama mereka pertanyakan, namun belum berani mereka ungkapkan. Hari-hari pulang Tara kini selalu diiringi suara mesin motor dan cerita-cerita kecil yang dibagikan di balik helm. 

Sore itu, mereka tengah membahas jalannya cerita dari Buku Konspirasi Alam Semesta. Awan baru saja selesai membaca novel yang ia pinjam dari Tara, dan diskusi mereka mengalir di atas motor yang melaju.

"Serius deh, Mas. Aku suka banget cara pikir Juang di novel itu, kritis, bijaksana. Tapi aku nggak suka ending-nya, Juang jadi egois," ujar Tara sedikit berteriak, khawatir suaranya tenggelam di antara angin dan mesin.

"Iya, aku juga suka sama Juang. Dia berani ambil keputusan. Tapi bener, dia egois di akhir," balas Awan sambil sesekali melirik ke spion, menangkap pantulan senyum Tara yang membuat dadanya hangat.

"Iya, kasihan Ana... Lagi hamil malah ditinggal suaminya," gumam Tara.

"Ya, tapi itu juga bukti kalau Juang cinta banget sama tanah airnya," sahut Awan.

Tara mengangguk, meski tak terlihat dari depan. "Tapi mereka lucu sih... jadian di puncak gunung, nggak pasaran banget. Haha."

"Kamu mau juga?"

"Mau apa?"

"Jadian di puncak gunung?"

Pertanyaan itu membuat waktu seolah terhenti. Tara terdiam. Ada yang berdesir pelan di dadanya. Ia tak tahu harus menjawab apa, jadi ia memilih mengalihkan.

"Aku pengin naik bianglala. Sama kayak Ana, ngelihat senja dari atas kincir angin."

Awan tersenyum. Senyum yang tak dilihat oleh Tara. Motor terus melaju, menyusuri langit yang mulai mendung. Diam-diam, tangan Tara menarik sedikit ujung jaket Awan, seolah ia tak ingin jatuh dari ruang tenang yang perlahan mereka ciptakan bersama.

 

                                    ***

 

Minggu pagi, usai menjemur sepatunya di belakang rumah, Tara menerima notifikasi dari seseorang yang kini akrab mengisi hari-harinya: Awan.

| "Ra, main yuk!"

Tara mengernyit heran, lalu membalas:

| "Hah? Main ke mana?"

| "Naik bianglala."

Tara terdiam sejenak, lalu menjerit kecil. Ada bahagia yang membuncah. Naik bianglala memang jadi mimpinya sejak lama. Meski Jakarta punya banyak wahana tinggi itu, entah kenapa ia belum pernah sekalipun mencobanya. Kini, ajakan itu datang dari seseorang yang belakangan mulai mengisi ruang hatinya.

Tanpa ragu, Tara bersiap. Ia mandi, berdandan sederhana dengan kaus panjang garis-garis biru putih dan celana jeans gelap, ditambah riasan tipis di wajahnya. Saat keluar rumah, Vespa hijau Awan sudah terparkir di depan, bersama pemiliknya yang mengenakan sweater hijau tua dan celana jeans hitam. Kehadirannya membuat jantung Tara berdetak lebih cepat. Ia mengambil helm dari bagasi, lalu mereka pun melaju, berpadu dengan hiruk-pikuk Jakarta yang tak pernah tidur.

Awan membawanya ke Dufan. Setelah membeli tiket, mereka masuk dengan penuh semangat, tertawa dan bercanda sepanjang jalan. Roller coaster jadi wahana pertama mereka. Tara sempat ketakutan, berteriak sekuat tenaga dan meminta berhenti, tapi begitu selesai, ia justru ketagihan, teriakannya seperti melepaskan semua hal yang selama ini ia pendam. Seperti sunyi yang akhirnya menemukan suara.

Setelah itu mereka naik kuda berputar, Tara bahagia memilih kuda paling lucu. Mereka hampir menjajal semua wahana, sampai akhirnya sore datang dan senja mulai menyapukan jingga di langit barat. Saat itulah mereka naik bianglala.

Putaran lambatnya seperti waktu yang berjalan pelan-pelan, memberi ruang untuk bernapas. Saat gondola mereka sampai di puncak, Tara membelakangi senja, tapi wajahnya bersinar seolah cahaya itu datang dari dalam dirinya.

"Kita udah di puncak, nih," bisik Awan.

Tara hanya mengangguk kecil.

"Boleh aku bicara serius, Ra?"

Tara sedikit terkejut, tapi tanpa kata, ia mengangguki pertanyaan dari Awan. 

"Kita di sini bukan kebetulan, Ra. Kita udah lama kenal, banyak hal yang udah kita bagi. Dan aku jatuh cinta... sama cara kamu kagum sama hal-hal kecil. Sama langit, sama buku, sama tulisan kamu."

Tara tak sanggup berkata-kata. Di tengah keinginannya untuk menyendiri, semesta justru menyodorkan momen paling hangat dalam hidupnya.

Awan menatap matanya dalam. "Tara Aksara, mau nggak jadi pacarku?"

Tara tertawa kecil, bahagia sekaligus malu. Awan masih gelisah menunggu jawaban.

"Duh, ayok jawab dong. Sebentar lagi kita sampai bawah," katanya tak sabar.

Tara menatap senja sekali lagi, cahayanya membias di wajahnya. Lalu ia menatap Awan, yang masih gelisah seperti bocah.

Dengan suara pelan, nyaris seperti doa. Tara berkata, "Iya, aku mau."

 

                                    ***

 

Dan dunia seolah berhenti berputar untuk sejenak. Suara hiruk-pikuk taman bermain menghilang di latar, digantikan oleh detak jantung dua anak manusia yang baru saja saling membuka hatinya. Tara memejamkan mata sejenak, membiarkan udara senja menyapu wajahnya yang hangat, bukan karena terik, tapi karena kebahagiaan yang tak bisa disangkal. Di sampingnya, Awan tersenyum. Senyum yang penuh rasa syukur dan lega, seperti seseorang yang akhirnya tiba di tempat yang sudah lama ingin ia tuju.

"Terima kasih," gumam Awan pelan. 

"Buat apa?"

"Buat berani jatuh cinta padaku, di tengah semua ketidakpastian yang mungkin kamu rasakan."

Tara menatap matanya, dan untuk pertama kalinya ia merasa tidak ingin lagi lari dari perasaan yang sejak lama hanya berani ia pendam. “Mungkin karena kamu bikin semua hal terasa pasti, meskipun gak ada satu pun di dunia ini yang benar-benar pasti.”

Bianglala itu kembali berputar, membawa mereka dan kembali turun perlahan, tapi keduanya tahu, mereka sedang menuju naik menuju perjalanan baru yang tak sekadar memutar ruang dan waktu, tapi juga hati. Tara memperhatikan Awan lebih dalam, seolah ingin berkata, Terimakasih sudah mengajakku meraih mimpi sederhana ini: menaiki bianglala. 

 

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (17)
  • yuliaa07

    real anak tengah sering terabaikan tanpa ortunya sadarii

    Comment on chapter Bagian 4: Sebuah Kabar Baik
  • pradiftaaw

    part damai tapi terjleb ke hati

    Comment on chapter Bagian 18: Teman yang Bernama Cemas
  • langitkelabu

    tidak terang tapi juga tidak redup:)

    Comment on chapter PROLOG
  • jinggadaraa

    gak cuman diceritain capeknya anak tengah ya, tapi juga ada selip2an anak sulung dan bungsunya:) the best cerita ini adil

    Comment on chapter Bagian 10: Tentang si Sulung yang Selalu Diandalkan dan Tentang Anxiety Disorder
  • rolandoadrijaya

    makasih Tara sudah kuat, makasih juga aku

    Comment on chapter Bagian 10: Tentang si Sulung yang Selalu Diandalkan dan Tentang Anxiety Disorder
  • rolandoadrijaya

    gimana gak ngalamin trauma digunjang gempa sendirian:('(

    Comment on chapter Bagian 10: Tentang si Sulung yang Selalu Diandalkan dan Tentang Anxiety Disorder
  • rayanaaa

    seruu banget

    Comment on chapter EPILOG
  • rayanaaa

    Oke, jadi Tara itu nulis kisahnya sendiri ya huhuu

    Comment on chapter EPILOG
  • auroramine

    ENDING YANG SANGAT MEMUASKAN DAN KEREN

    Comment on chapter EPILOG
  • jisungaa0

    nangis banget scene inii

    Comment on chapter Bagian 30: Renungan
Similar Tags
By Your Side
524      386     1     
Short Story
Syrena dan mimpinya untuk berada di atas es.
Ojek
919      648     1     
Short Story
Hanya cerita klise antara dua orang yang telah lama kenal. Terikat benang merah tak kasat mata, Gilang dihadapkan lagi pada dua pilihan sulit, tetap seperti dulu (terus mengikuti si gadis) atau memulai langkah baru (berdiri pada pilihannya).
Seperti Cinta Zulaikha
1921      1270     3     
Short Story
Mencintaimu adalah seperti takdir yang terpisahkan. Tetapi tuhan kali ini membiarkan takdir itu mengalir membasah.
Jika Aku Bertahan
14197      3532     58     
Romance
Tidak wajar, itu adalah kata-kata yang cocok untuk menggambarkan pertemuan pertama Aya dengan Farel. Ketika depresi mengambil alih kesadarannya, Farel menyelamatkan Aya sebelum gadis itu lompat ke kali. Tapi besoknya secara ajaib lelaki itu pindah ke sekolahnya. Sialnya salah mengenalinya sebagai Lily, sahabat Aya sendiri. Lily mengambil kesempatan itu, dia berpura-pura menjadi Aya yang perna...
I\'m Too Shy To Say
555      395     0     
Short Story
Joshua mencintai Natasha, namun ia selalu malu untuk mengungkapkannya. Tapi bagaimana bila suatu hari sebuah masalah menimpa Joshua dan Natasha? Akan masalah tersebut dapat membantu Joshua menyatakan perasaannya pada Natasha.
Wabi Sabi
818      582     2     
Fantasy
Seorang Asisten Dewi, shinigami, siluman rubah, dan kucing luar biasa—mereka terjebak dalam wabi sabi; batas dunia orang hidup dan mati. Sebuah batas yang mengajarkan jika keindahan tidak butuh kesempurnaan untuk tumbuh.
Pensil HB dan Sepatu Sekolah
175      160     1     
Short Story
Prosa pendek tentang cinta pertama
Premium
Cinta si Kembar Ganteng
13322      1757     0     
Romance
Teuku Rafky Kurniawan belum ingin menikah di usia 27 tahun. Ika Rizkya Keumala memaksa segera melamarnya karena teman-teman sudah menikah. Keumala pun punya sebuah nazar bersama teman-temannya untuk menikah di usia 27 tahun. Nazar itu terucap begitu saja saat awal masuk kuliah di Fakultas Ekonomi. Rafky belum terpikirkan menikah karena sedang mengejar karir sebagai pengusaha sukses, dan sudah men...
Nona Tak Terlihat
1929      1248     5     
Short Story
Ada seorang gadis yang selalu sendiri, tak ada teman disampingnya. Keberadaannya tak pernah dihiraukan oleh sekitar. Ia terus menyembunyikan diri dalam keramaian. Usahanya berkali-kali mendekati temannya namun sebanyak itu pula ia gagal. Kesepian dan ksedihan selalu menyelimuti hari-harinya. Nona tak terlihat, itulah sebutan yang melekat untuknya. Dan tak ada satupun yang memahami keinginan dan k...
Kenangan
769      513     2     
Short Story
Nice dreaming