Loading...
Logo TinLit
Read Story - Interaksi
MENU
About Us  

 

Jurnalku hari ini isinya hanya mengeluh saja.

 

Perihal perasaan malu yang membuatku berdoa agar besok demam saja. Menghindar untuk bersitatap dengan orang beraroma buku lama. Payah dalam menghadapi masalah adalah aku. Memikirkan apa yang terjadi hari ini hanya membuatku menghela napas panjang sambil bersandar pada kursi kayu. Aku segera mencatat sesuatu saat terbesit ucapan wali kelasku.

 

“Hadapi masalah. Jangan melarikan diri.”

 

Tulisan itu berhuruf tebal berwarna merah pada sticky note berwarna kuning. Aku menempelkannya pada dinding meja belajar yang memiliki berbagai catatan tempel berwarna-warni dengan tinta tipis. Meja belajarku yang bisa dihitung beberapa jengkal ukurannya ini dipenuhi setumpuk buku sekolah yang hanya dibaca saat hari ujian mendatang.

 

“Jadilah berani. Mulai dengan mengatakan tidak.”

 

Aku kembali menempelkan sticky note serupa dengan tulisan berbeda. Kupikir, aku perlu melakukannya sebagai pengingat bahwa aku harus melancarkan tujuanku. Kedua hal itu layaknya tantangan. Dalam lubuk hati terdalam, aku meragukan bisa menjalankan hal tersebut.

 

“Harus yakin bisa,” gumamku berasumsi positif. Sedetik kemudian, aku mengembuskan napas dan bersandar santai pada punggung kursi kayu yang bantalannya kian tipis seiring waktu. Kupikir, aku harus menggantinya demi kenyamanan berlama-lama di depan meja belajar berlampu kuning hangat seraya menulis jurnal.

 

Itu menyenangkan, setidaknya membosankan bagi kakakku yang sedaritadi berceloteh dengan ponselnya yang menyeruakan suara seorang pria.

 

Have a good night, babe,” ucapnya disertai kecup ringan. Aku bergidik dan melayangkan tatapan mengejek yang dipahami kakakku. Ia langsung terbahak dan malah mengatakan, “Nanti lo juga paham kalau punya pacar.”

 

Kupikir, aku tak ingin tahu.

 

Btw, lo punya cepek?” cengirnya. “Pinjem, dong. Gue mau potong rambut. Lo mau bareng? Kata temen gue sih kalau berdua dapat potongan harga yang lumayan.”

 

Aku tak ingin memotong rambutku. Yah, gaya rambut lurus monoton selama tiga tahun ini tak membuatku berpikir untuk memotongnya dalam waktu dekat. Lagipula, aku selalu memotongnya sendiri daripada pergi ke salon seperti tawaran saudariku.

 

“Cepek itu berapa?”

 

Kenapa pertanyaanku mendapatkan tawa kencang sebagai jawaban. Jujur saja, istilah gaul seperti itu masih membuatku bingung.

 

。。。

 

“Lewat kelas IPS aja ya,” pintaku dengan ekspresi yang dibuat semelas mungkin. Aku yakin wajahku jelek sekali sampai April Lia yang mengajak ke kantin menahan tawa. “Ketawa aja sebelum ketawa dilarang, April.”

 

Dan ya, teman sebangku yang rambutnya agak bergelombang ini tertawa di sepanjang koridor saat mengambil jalan memutar menuju kantin. Menyinggung soal kejadian hari kemarin, April kian terbahak sampai menyita beberapa pasang mata yang kami lewati. Aku hanya menunduk malu.

 

Jujur saja, melewati kelas IPA 5 dengan tiga anak tangga itu terasa seperti aib jika kulewati. Jadi, aku sama sekali tak mengikuti sticky note yang memintaku untuk tak menghindari masalah. Namun, dipikir-pikir aku dan cowok beraroma woody itu tak memiliki masalah. Jadi, apa yang bermasalah adalah aku?

 

Iyalah, rasa malu bikin lo nggak mau ketemu dia.

 

Isi kepalaku berteriak demikian. Aku mengangguk setuju. Aku harus mengoreksi diriku dan kalimat pada stiky notekemarin malam lebih cocok jika seperti ini, “Harus berani lewat IPA 5.”

 

Aku kembali mengangguk-anggukan kepala sampai April menyimpan atensi padaku di antara ramainya kantin. Aku hanya menggelengkan kepala. Kurasa konyol jika menjawab, “Lagi ngomong sama diri sendiri.”

 

“Makan di sini aja deh. Muter jalan ‘kan lama.” April memberi usul. Sejujurnya, aku tak terlalu suka karena ramainya orang-orang. Hanya saja aku tak ingin merepotkan April lebih dari memutari jalan kembali ke kelas. Mungkin, beberapa waktu akan kami lakukan hal merepotkan itu.

 

Bakmi pesananku telah tersimpan di nampan sekaligus bakso milik April, lantas kami duduk bersisian di tempat kosong saat di hadapan kami ada pelajar lain. Aku mengangguk ringan sebagai sapa saat mata orang beratribut angka dua belas dalam bahasa romawi melirik.

 

“Kalian kelas sepuluh, ‘kan? Udah gabung eskul apa? Eits, biar gue tebak.” Senior di hadapan April itu mengerutkan kening berpikir dengan tangan mengusap dagu. Saat memandangiku, dia menebak, “Muka lo kayak orang pinter yang doyan buku, kayaknya ikut kumpulan khusus olimpiade atau eskul sastra.”

 

Apa wajahku memang semembosankan itu?  Stereotip seperti itu sedikit membuatku kecewa sekaligus mengulum senyum bangga diam-diam. Sedikit sombong, di antara nilai biasaku memanglah pelajaran bahasa yang selalu unggul setiap ujian.

 

“Dia ikut basket, Bang.” 

 

Sebelum aku mengoreksi, seseorang menempati bangku kosong di hadapanku. Aku spontan mengusap leher dan sok sibuk dengan bakmi setelah dia melambai disertai senyum lebar. Dia malah bercakap dengan senior seolah saling mengenal bahkan menertawakannya bersama.

 

Kuperhatikan, rambutnya memamerkan sebelah kening yang memiliki dua tahi lalat kecil di atas alis. Kerah seragamnya tak memiliki dasi abu yang menjuntai. Dan, yang menyita perhatianku adalah liontin berwarna ruby yang menyembul keluar.

 

“Diliat-liat, cakep juga, ya.” April berbisik, setelah kutanya siapa malah cengegesan, “Dia lah. Yang lo peluk kemarin.”

 

Wajahku merona. Tolong, jauhkan topik itu.

 

“Kalian tertarik gabung band, nggak? Eits, gue setengah maksa, nih. Butuh anggota baru buat lanjutin bandgenerasi selanjutnya. Nggak masalah kalau nggak bisa alat musik, karena soal itu bisa belajar bareng nanti,” jelas senior itu.

 

Aku tak pernah terpikirkan untuk bergabung band meski bisa memainkan alat musik petik bernama gitar akustik. 

 

“Band kumpulnya setiap Kamis ‘kan, Kak?” April bertanya, lalu menolak ajakan dengan sopan setelah diiyakan, “Gue nggak bisa gabung, Kak. Soalnya ikut marching band.”

 

Aku baru tahu April mengikuti perkumpulan orang-orang yang mengenakan baju seiras saat penyambutan siswa ajaran baru. Menurutku, April akan cocok dengan rambut bergelombangnya yang alami.

 

“Kalau lo?” Pertanyaan itu diajukan untukku. Lantas, aku menjawab, “Biar gue pikirin, ya, Kak.”

 

“Ohh, bagus. Biar lo yakin, hari ini kumpulannya. Lo boleh gabung buat liat-liat sebelum gue kasih formulir pendaftaran. Gue tetap sedikit maksa biar lo join, haha.”

 

Aku mengulas senyum.

 

“Gue diundang buat liat-liat nggak nih, bang? Soalnya gue pernah les piano pas kecil.” Cowok di hadapanku memamerkan deretan gigi rapinya. Senior itu lebih riang menerima tanpa embel-embel kata memaksa lalu pamit entah ke mana meninggalkan kami bertiga.

 

Kulirik April yang memerhatikan orang di hadapanku dengan senyum terukir. Apa dia menyukai orang aneh yang memandangiku dengan senyum mencurigakan?

 

“Lo anak kelas IPA 5?” April memulai dialog, ditanggapi anggukan oleh orang yang diberi pertanyaan. Mereka berkenalan saat aku berperan sebagai pelengkap dunia yang mendengarkan lelucon garing cowok di depanku. Sungguh April terbahak karenanya?

 

“Nggak sopan kalau kenalan cuma sama satu cewek cantik aja. Jadi, nama lo siapa?”

 

Dia mengulurkan tangan dan aku menggapainya. Hangat seperti waktu itu. Aku menggeleng untuk mengenyahkan memori kenangan berupa aib tersebut. Eh? Lepasin tangan gue, hei.

 

“Gue Anbi Sakardja,”katanya. Pandangan matanya seolah mengejekku. “Lo bisa panggil gue Bi, Iffaa.”

 

Eh? Apa? Apa dia bilang?

 

Aku berpendapat lain dan berharap ekspresiku tak terlihat menghakimi, “Gue pikir An lebih bagus.”

 

“Tolong, lepasin tangan gue, Anbi Sakardja,”jeritku dalam kalbu. Kulirik April yang memandangi kami dengan alis tertaut dan entah mengapa sorot matanya seakan tak suka.

How do you feel about this chapter?

0 1 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Gilan(G)ia
542      311     3     
Romance
Membangun perubahan diri, agar menciptakan kenangan indah bersama teman sekelas mungkin bisa membuat Gia melupakan seseorang dari masa lalunya. Namun, ia harus menghadapi Gilang, teman sebangkunya yang terkesan dingin dan antisosial.
Baskara untuk Anasera
3      2     1     
Romance
Dalam setiap hubungan, restu adalah hal yang paling penting, memang banyak orang yang memilih melawan sebuah restu, namun apa gunanya kebahagiaan tanpa restu, terlebih restu dari keluarga, tanpa restu hubungan akan berjalan penuh dengan gelombang, karena hakikatnya dalam setiap hubungan adalah sebuah penjemputan dari setiap masalah, dan restu akan bisa meringankan ujian demi ujian yang menerpa da...
Camelia
615      354     6     
Romance
Pertama kali bertemu denganmu, getaran cinta itu sudah ada. Aku ingin selalu bersamamu. Sampai maut memisahkan kita. ~Aulya Pradiga Aku suka dia. Tingkah lakunya, cerewetannya, dan senyumannya. Aku jatuh cinta padanya. Tapi aku tak ingin menyakitinya. ~Camelia Putri
Sahabat
622      482     2     
Short Story
Dhea dan Gia merupakan sepasang sahabat yang oernah berjanji untuk selalu tampil kembar. Namun Gia lupa akan janji tersebut dan mengubah penampilannya. Tentu saja Dhea marah dan menjauhi Gia. Namun bagaimana bila Dhea mengalami kecelakaan dan membutuhkan donor jantung? Akankah Gia memberikan jantungnya untuk sahabat yang telah menyakitinya? Atau membiarkan Dhea meninggal? \"Dhea akan selalu...
Ojek Payung
686      501     0     
Short Story
Gadis ojek payung yang menanti seorang pria saat hujan mulai turun.
Sepotong Hati Untuk Eldara
1798      887     7     
Romance
Masalah keluarga membuat Dara seperti memiliki kepribadian yang berbeda antara di rumah dan di sekolah, belum lagi aib besar dan rasa traumanya yang membuatnya takut dengan kata 'jatuh cinta' karena dari kata awalnya saja 'jatuh' menurutnya tidak ada yang indah dari dua kata 'jatuh cinta itu' Eldara Klarisa, mungkin semua orang percaya kalo Eldara Klarisa adalah anak yang paling bahagia dan ...
Smitten Ghost
665      532     3     
Romance
Revel benci dirinya sendiri. Dia dikutuk sepanjang hidupnya karena memiliki penglihatan yang membuatnya bisa melihat hal-hal tak kasatmata. Hal itu membuatnya lebih sering menyindiri dan menjadi pribadi yang anti-sosial. Satu hari, Revel bertemu dengan arwah cewek yang centil, berisik, dan cerewet bernama Joy yang membuat hidup Revel jungkir-balik.
Adelaide - He Will Back Soon
1890      1022     0     
Romance
Kisah tentang kesalah pahaman yang mengitari tiga insan manusia.
Broken Promises
1038      706     5     
Short Story
Janji-janji yang terus diingkari Adam membuat Ava kecewa. Tapi ada satu janji Adam yang tak akan pernah ia ingkari; meninggalkan Ava. Namun saat takdir berkata lain, mampukah ia tetap berpegang pada janjinya?
When You Reach Me
8781      2688     3     
Romance
"is it possible to be in love with someone you've never met?" alternatively; in which a boy and a girl connect through a series of letters. [] Dengan sifatnya yang kelewat pemarah dan emosional, Giana tidak pernah memiliki banyak teman seumur hidupnya--dengan segelintir anak laki-laki di sekolahnya sebagai pengecualian, Giana selalu dikucilkan dan ditakuti oleh teman-teman seba...