Loading...
Logo TinLit
Read Story - Dominion
MENU
About Us  

Zay mengunci diri di kamar. Nafasnya tersengal, tubuhnya gemetar hebat. Matanya membelalak, menatap bayangannya sendiri di cermin dengan tatapan kosong. Tangan kanannya masih terasa berat, seolah-olah darah yang mengalir di sana bukan lagi miliknya.

Dia telah membunuh seseorang.

Bayangan preman itu masih jelas dalam pikirannya. Wajah penuh amarah, pecahan kaca yang berkilat di bawah cahaya lampu jalan, lalu tubuh itu ambruk bersimbah darah. Begitu mudah. Begitu cepat. Dan sekarang, tubuh Zay sendiri seakan tidak bisa menerima kenyataan itu.

"Tidak... tidak... ini tidak mungkin..."

Suara Zay terdengar lirih, nyaris seperti bisikan. Ia memeluk kepalanya yang berdenyut hebat. Dunia seakan berputar cepat di sekelilingnya. Ruangan kecil itu berubah menjadi pusaran mimpi buruk yang tak henti-hentinya menariknya masuk. Setiap kali ia memejamkan mata, wajah preman itu muncul. Tatapan kosong sebelum napas terakhir.

Pusing. Kepalanya seperti berputar tanpa kendali. Ia tersandung ke belakang, jatuh terduduk di lantai. Keringat dingin membasahi leher dan punggungnya. Ia ingin menjerit, tapi suaranya tercekat di tenggorokan.

Apakah ini nyata? Ataukah aku sudah gila?

Ia menggenggam rambutnya erat-erat. Dadanya terasa sesak, seolah udara dalam kamar itu menghilang. Ia ingin melupakan, tapi kenangan itu melekat, menolak pergi.

"Aku bukan pembunuh... aku bukan pembunuh..." gumamnya berulang-ulang, tapi suara itu terdengar begitu hampa.

Matanya melesat ke sudut ruangan. Bayangannya sendiri tampak aneh di cermin, seakan bukan lagi dirinya. Ada sesuatu yang berbeda—tatapan itu, ketakutan itu, wajah itu. Itu bukan dia. Itu adalah sosok asing yang telah berubah selamanya.

Tiba-tiba, suara notifikasi HP-nya berbunyi.

Jantungnya hampir berhenti.

Dengan tangan gemetar, Zay meraih ponselnya. Layarnya menyala dengan terang di tengah kegelapan kamar. Sebuah pesan masuk dari Sean.

Sean: Cepat ke minimarket. Ambil rokok. Kalau tidak datang, kau tahu akibatnya.

Darahnya seakan membeku. Jika ia tidak datang, Sean akan memukulnya. Itu bukan ancaman kosong. Sudah terlalu sering Zay merasakan bogeman Sean mendarat di wajahnya hanya karena hal sepele. Tapi jika ia keluar malam ini, bagaimana jika para preman itu masih mencarinya? Bagaimana jika seseorang melihatnya tadi malam?

Pilihan mana pun akan berakhir buruk. Ia tak bisa lari. Tak bisa sembunyi.

Jari-jarinya gemetar saat menekan layar. Ia mengetik balasan, lalu menghapusnya. Mengetik lagi, lalu kembali menghapus. Apa pun yang ia katakan tidak akan mengubah keadaan. Jika ia menolak, Sean akan menghajarnya. Jika ia pergi, ketakutan akan menghantuinya setiap langkah.

Ia menutup matanya, berusaha menarik napas dalam-dalam. Tapi udara terasa begitu berat, seperti batu yang menekan dadanya. Ia merasa terjebak, terkunci dalam lingkaran ketakutan yang semakin menyempit. Tidak ada jalan keluar.

Di luar, suara angin malam berbisik di jendela, seakan mengingatkannya bahwa dunia di luar masih ada—dan ia harus segera mengambil keputusan.

***

Zay duduk di pojok kamar, tubuhnya menyatu dengan kegelapan. Sudah dua hari ia tidak keluar. Tidak ke sekolah, tidak menyentuh ponselnya, tidak melakukan apa pun selain bernapas dan menyesali segalanya. Perutnya perih karena belum makan, tapi ketakutan yang mencekiknya lebih besar dari rasa lapar. Setiap suara kecil di luar kamarnya membuat jantungnya berdetak panik. Setiap bayangan yang bergerak di jendela membuatnya hampir menjerit.

Tapi hari ini ia harus pergi.

Jika ia bolos sehari lagi, wali kelasnya akan menghubungi ibunya. Dan itu adalah sesuatu yang tak bisa ia biarkan terjadi. Ibunya sudah cukup menderita sebagai TKW di negeri orang. Jika ia tahu apa yang terjadi, jika ia tahu anaknya menjadi seorang pembunuh… tidak. Zay tidak sanggup membayangkan reaksinya.

Dengan tangan gemetar, ia meraih ponselnya yang sudah ia abaikan selama dua hari terakhir. Layar menyala, dan seketika dadanya terasa sesak.

Ratusan notifikasi memenuhi layar.

Sean: Oi, keparat! Jangan kira bisa ngilang begitu aja!

Sean: Kau pikir aku main-main? Besok kau nggak muncul, aku bakal cari kau sendiri!

Sean: Jawab, Babi! Atau aku bakal buat kau menyesal pernah lahir!

Puluhan pesan lainnya mengikuti, penuh makian, ancaman, dan janji kekerasan yang membuat tengkuknya meremang. Setiap pesan dari Sean terasa seperti cengkeraman yang menariknya kembali ke dalam ketakutan. Panggilan tak terjawab berbaris panjang, masing-masing membawa kepanikan yang semakin menggerogoti pikirannya.

Lalu, ada pesan dari Zahra.

Zahra: Babi, kalau besok kau nggak masuk juga, kita putus. Aku capek sama sikapmu.

Zay membaca pesan itu berulang kali, menunggu reaksi dari dirinya sendiri. Tapi tak ada apa-apa. Tidak ada kesedihan, tidak ada kemarahan. Hanya kehampaan. Hubungannya dengan Zahra sudah lama retak, dan sekarang, bahkan ancaman putus pun tak lagi berarti.

Yang lebih mengerikan adalah kenyataan bahwa Sean tidak akan tinggal diam. Ia akan mencarinya. Dan jika Sean mencari, maka cepat atau lambat… preman-preman itu juga bisa menemukannya.

Jari-jarinya mencengkeram selimutnya erat. Ia ingin tetap di sini, terkunci dalam kamarnya, bersembunyi dari dunia yang mengerikan. Tapi ia tak punya pilihan.

Dengan napas yang tersengal, Zay bangkit berdiri. Kepalanya masih terasa ringan, tubuhnya masih terasa lemah. Namun, ia harus pergi. Ia harus masuk sekolah.

Tangannya meraih gagang pintu, tapi tiba-tiba tubuhnya membeku. Jantungnya berdetak kencang. Kakinya seakan menolak melangkah.

Bagaimana kalau mereka ada di luar?

Bagaimana kalau saat aku membuka pintu, seseorang sudah menunggu di sana?

Bagaimana kalau ini adalah hari terakhirku?

Ruangan terasa semakin sempit. Udara semakin berat. Dadanya naik turun dengan panik. Suara di kepalanya berbisik: Jangan keluar. Jangan keluar. Jangan keluar.

Tapi ia harus.

Dengan tangan gemetar, Zay menarik napas dalam-dalam dan membuka pintu.

Udara dingin menyambutnya, tapi itu bukan udara yang membuatnya menggigil.

Itu adalah ketakutan yang menelannya hidup-hidup.

***

Zay melangkah ke dalam kelas dengan kepala tertunduk, berharap bisa duduk tanpa menarik perhatian. Tapi itu hanya harapan bodoh. Begitu kakinya melewati ambang pintu, suara berat Pak Yudha langsung menyambarnya.

"Lihat siapa yang akhirnya punya nyali untuk muncul!"

Seluruh kelas menoleh ke arahnya, sebagian tersenyum sinis, sebagian hanya menonton dengan ekspresi puas. Zay tetap diam, mencoba menekan napasnya yang mulai memburu.

"Dua hari bolos, kau pikir sekolah ini tempat main petak umpet, hah?" Pak Yudha mendekat, tangan kasarnya menepuk bahu Zay dengan keras. "Atau jangan-jangan… kau terlalu sibuk menangis di pojok kamar? Kasihan sekali anak mamih ini!"

Tawa meledak di kelas. Beberapa siswa mulai berbisik, membisikan hal-hal yang Zay tahu pasti bukan sesuatu yang baik. Tapi yang keluar dari mulut Pak Yudha berikutnya jauh lebih buruk dari apa pun yang pernah ia dengar.

"Oh, aku tahu alasannya." Senyum gurunya melebar, penuh hinaan. "Kau mewarisi sifat ibumu, ya? Suka menjual diri?"

Tawa di kelas mendadak sunyi.

Zay membeku. Kata-kata itu menamparnya lebih keras daripada semua hinaan yang pernah ia terima.

"Apa?" suaranya keluar lirih, hampir tak terdengar.

Pak Yudha terkekeh, lalu menepuk pundaknya lagi, kali ini lebih kasar. "Ya, kau dengar sendiri, kan? Ibumu itu, bekerja di luar negeri katanya jadi TKW. Tapi siapa yang bisa menjamin? Siapa yang tahu kalau dia benar-benar bekerja jadi asisten rumah tangga? Atau mungkin…" ia mendekat ke telinga Zay, "dia lebih suka buka paha buat yang berduit?"

Meledaklah gelak tawa seisi kelas. Ada yang menepuk meja, ada yang sampai menangis karena terlalu menikmatinya.

Dunia Zay seakan runtuh.

Sesuatu dalam dirinya mati saat itu juga.

Tangannya mengepal begitu erat hingga kuku-kukunya menancap ke kulit. Nafasnya bergetar, tubuhnya menegang. Tapi ia tetap diam.

Pak Yudha tersenyum puas, lalu menepuk pipi Zay dengan keras. "Jangan diam saja. Kau marah? Mau melawan?"

Zay menatapnya. Tatapannya kosong, hampa, tapi di baliknya ada sesuatu yang membuat gurunya sedikit mundur.

Tatapan itu… dingin.

Tatapan seseorang yang tidak lagi peduli dengan hidup atau mati.

Pak Yudha meneguk ludah, lalu menghardik. "Kalau kau suka berdiri seperti patung, aku punya tempat yang lebih cocok buatmu. Berdiri di koridor! SEKARANG!"

Tanpa kata, Zay melangkah keluar.

Begitu pintu tertutup, dunia di luar kelas tidak lebih baik.

Di lorong yang sepi, seseorang sudah bersandar di dinding, menunggunya.

Sean.

Senyum keji itu menyambutnya seperti pisau yang siap menguliti dagingnya hidup-hidup.

"Lama nggak ketemu, Babi!"

Zay tidak bereaksi.

Kali ini tidak ada rasa takut, tidak ada keinginan untuk menghindar.

Sean berjalan mendekat, menepuk pipi Zay keras—seperti yang dilakukan Pak Yudha tadi.

"Kau pikir bisa kabur dari aku, hah?!"

Tidak ada jawaban.

Sean menggeram, lalu mencengkeram kerah seragam Zay. Ia menariknya, lalu mendorong tubuhnya ke dinding dengan keras. Kepala Zay terbentur, tapi ia tetap diam.

Tatapan kosong itu masih ada.

Sean menyipitkan mata, marah karena reaksinya tidak seperti yang ia harapkan.

"Jangan diam saja, Babi!"

Ia meninju perut Zay, membuatnya terhuyung. Tapi Zay tetap diam.

Sean menyeringai. "Ayo ikut aku. Kita main sebentar."

Tanpa perlawanan, tanpa ekspresi, Zay membiarkan dirinya diseret pergi.

Dan untuk pertama kalinya…

Ia tidak merasakan apa-apa.

***

Pintu kamar mandi sekolah berdecit saat Sean mendorongnya dengan kasar. Udara di dalam ruangan itu dingin, lembab, dan berbau besi—entah itu dari pipa berkarat atau sesuatu yang lebih buruk.

Zay tetap diam saat Sean melemparkannya ke lantai. Lututnya menghantam ubin keras, tapi ia tidak bereaksi. Tidak ada rasa sakit, tidak ada ketakutan. Hanya kehampaan.

"Kau tahu," suara Sean bergema di ruangan yang sepi, "aku benci orang yang sok lepas dari takdirnya."

Ia berjalan mengitari Zay yang masih berlutut di lantai, seperti pemangsa mengelilingi mangsanya yang tak berdaya.

"Dulu kau pikir bisa lari dari aku. Sekarang kau pikir bisa sembunyi di kamarmu selama dua hari dan aku akan lupa?"

Zay tidak menjawab. Ia hanya menatap lantai, matanya kosong.

Sean menggeram, lalu menendang rusuknya dengan keras. "JAWAB, BABI!"

Tubuh Zay terguling, kepalanya menghantam lantai. Tapi ia tetap tidak bereaksi.

Sean membungkuk, mencengkeram rambutnya, lalu menarik kepalanya ke atas.

"Lihat aku, keparat!"

Zay mengangkat wajahnya perlahan.

Tatapan itu…

Datar. Hampa. Mati.

Bukan ekspresi ketakutan yang Sean harapkan.

Sean mengerutkan kening. Ada sesuatu yang berbeda. Biasanya, Zay akan berusaha menangkis, berteriak, memohon. Tapi kali ini… ia hanya diam.

Sesuatu dalam diri Sean terasa tidak nyaman.

"Kau pikir bisa melawan dengan diam saja?" Ia menyeringai, menutupi kegelisahan yang tiba-tiba merayap dalam benaknya. "Baik. Kalau begitu, ayo lihat seberapa jauh kau bisa bertahan."

Ia menarik tubuh Zay ke wastafel yang sudah retak, lalu menekankan wajahnya ke dalam bak cuci yang dipenuhi air kotor.

Zay tidak melawan.

Buih-buih air kotor naik ke permukaan, tapi tidak ada perlawanan.

Sean menekan lebih keras, jantungnya berdebar cepat.

Kenapa dia tidak berontak?

Tangannya sedikit gemetar saat ia menarik kepala Zay keluar dari air.

Zay terbatuk pelan, air menetes dari dagunya. Tapi tidak ada kepanikan. Tidak ada kemarahan.

Hanya tatapan kosong itu lagi.

Sean mundur selangkah. Tiba-tiba ruangan itu terasa lebih dingin.

"Apa…" suaranya terdengar lebih lemah dari yang ia inginkan. "Apa yang salah denganmu?"

Zay menatapnya.

Lama.

Tanpa emosi.

Tanpa kata-kata.

Sesuatu dalam diri Sean berteriak untuk pergi. Tapi egonya menahannya di tempat.

Ia mencoba tersenyum, tapi itu lebih terlihat seperti seringai yang dipaksakan. "Jangan sok kuat, Babi." Ia menampar pipi Zay pelan, lebih ke arah mengejek. "Aku belum selesai dengan—"

Zay tiba-tiba bangkit.

Cepat.

Tanpa peringatan.

Sean tersentak mundur. "Hei, kau—"

Zay tidak melakukan apa pun. Ia hanya berdiri di sana, basah kuyup, dengan kepala menunduk sedikit.

Lalu, ia tersenyum.

Bukan senyum kepedihan.

Bukan senyum putus asa.

Tapi senyum kecil, nyaris tidak terlihat, seperti seseorang yang baru menyadari sesuatu yang seharusnya ia sadari sejak lama.

Sean merasakan bulu kuduknya meremang.

Untuk pertama kalinya…

Ia yang merasa takut.

Sean mengembus napas, kini ia berusaha menghilangkan semua rasa takut yang tinggah di benaknya tadi. Tangannya merobek kancing seragam Zay dengan kasar, membuat benangnya putus dan kainnya terlepas begitu saja.

"Lo nggak pantas pakai ini!" desis Sean, mencengkeram kerahnya sebelum merenggut seragam itu sepenuhnya.

Zay terhuyung ke belakang, hanya mengenakan celana dan kaus dalam yang kusut. Dinginnya lantai kamar mandi menembus telapak kakinya, tapi itu bukan yang membuat tubuhnya menggigil.

Sean mengangkat seragam itu, mengibaskannya seolah itu hanyalah kain kotor yang tidak berharga.

"Lihat lo sekarang!" katanya, suaranya penuh penghinaan. "Cuma segini harga diri lo?!"

Zay tetap diam.

Sean menyeringai. "Tapi gue nggak heran sih… dengar-dengar, nyokap lo di luar negeri bukan kerja jadi asisten rumah tangga, tapi jadi pelacur."

Dada Zay naik turun. Napasnya memburu.

Sesuatu bergetar di dalam dirinya.

Sean mendekat, berbisik di telinganya. "Mungkin lo harus mulai mengikuti jejaknya?"

Sebuah suara pelan terdengar.

Krek.

Jari-jari Zay mengepal, kuku-kuku jarinya menekan telapak tangannya begitu kuat hingga bunyi itu keluar.

Sean mundur sedikit, mengangkat dagunya dengan seringai puas.

"Apa?! Mau mukul gue?!"

Zay tetap diam.

"Ayolah, Zay. Puk—"

Bugh!

Sean terhuyung ke belakang. Dia tidak sempat bereaksi saat Zay, tanpa ekspresi, tanpa peringatan, mengayunkan tinjunya tepat ke wajahnya.

Darah merembes dari hidung Sean.

Dia menyentuhnya, terkejut.

Dan kemudian, kemarahannya meledak.

Brak!

Sean balas menghantam perut Zay, membuat tubuhnya tertekuk ke depan. Ia meraih rambut Zay, menariknya ke belakang, lalu meninju rahangnya keras-keras.

Zay jatuh ke lantai.

Tapi dia tidak meringkuk. Tidak menangis. Tidak meminta ampun.

Dia hanya berusaha bangkit.

Sean menggertakkan giginya. "Lo masih mau lawan gue?!"

Dia menendang perut Zay, membuatnya tersungkur kembali.

"Jawab, dasar sampah!"

Zay terbatuk, darah mengalir dari sudut bibirnya.

Lalu, tanpa ekspresi, dia mengangkat kepalanya.

Mata mereka bertemu.

Dan untuk pertama kalinya, Sean merasa ada sesuatu yang salah.

Tatapan itu…

Tatapan yang tidak seharusnya dimiliki seseorang yang sedang ditindas.

Tatapan yang tidak menunjukkan rasa sakit, tidak menunjukkan ketakutan.

Hanya kehampaan.

Sesaat, Sean merasa tenggorokannya kering.

Tapi dia menepis perasaan itu.

Dengan gerakan kasar, dia menarik celana seragam Zay, menyisakan hanya celana pendek di tubuhnya. Lalu, dengan satu dorongan kuat, dia menendang Zay keluar dari kamar mandi.

Tubuh Zay terdorong ke depan, jatuh ke lantai koridor yang dingin. Lorong sekolah yang biasanya riuh kini mendadak sunyi saat para siswa melihat pemandangan di depan mereka.

Zay, hanya dengan celana pendek dan kaus dalam yang sudah kusut. Bekas pukulan menghiasi lengannya, darah mengering di sudut bibirnya.

Tapi ia tidak lari.

Ia tidak menangis.

Ia hanya bangkit, menepuk lututnya perlahan, lalu berjalan melewati tatapan orang-orang seakan mereka tidak ada.

Bisikan-bisikan tajam menusuk telinganya.

"Gila… Sean benar-benar keterlaluan."

"Kenapa dia nggak lari? Kenapa dia nggak menutupi badannya?"

"Dia bahkan nggak terlihat malu…"

Zay tidak peduli.

Ia masuk ke kelas, kepalanya tetap tegak.

Di depan kelas, Bu Rini—wali kelasnya—menatap Zay dengan ekspresi mencemooh. Tatapan puas itu seolah mengatakan bahwa ia menikmati kehancuran Zay.

"Astaga, Zay..." Suaranya bernada pura-pura iba. "sudah miskin, sekarang memalukan juga?"

Tawa kecil terdengar di sudut kelas.

"Atau… jangan-jangan ini memang warisan dari ibumu?" lanjut Bu Rini dengan nada tajam. "Aku dengar dia di luar negeri bukan jadi asisten rumah tangga, tapi jadi pelacur."

Ruangan mendadak sunyi.

Beberapa siswa terkesiap. Beberapa hanya menunduk, berpura-pura tidak mendengar.

Tapi Zay…

Zay berdiri diam di ambang pintu.

Tangan kanannya mengepal di sisi tubuhnya. Dadanya naik turun perlahan. Napasnya lebih berat dari sebelumnya.

Mata itu…

Tatapan itu…

Tatapan yang membuat Bu Rini tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh.

Ketakutan.

Sesaat, hanya sesaat, wanita itu merasa ada sesuatu yang berubah. Ada sesuatu yang berbahaya dalam diri anak ini.

Tapi ia menepis perasaan itu, merapikan kacamatanya, lalu mendengus.

"Ambil pakaian yang ada dan segera ke ruang BK!"

Zay tetap diam.

Tapi kali ini, senyuman tipis terukir di sudut bibirnya.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Suara Kala
7377      2538     8     
Fantasy
"Kamu akan meninggal 30 hari lagi!" Anggap saja Ardy tipe cowok masokis karena menikmati hidupnya yang buruk. Pembulian secara verbal di sekolah, hidup tanpa afeksi dari orang tua, hingga pertengkaran yang selalu menyeret ketidak bergunaannya sebagai seorang anak. Untunglah ada Kana yang yang masih peduli padanya, meski cewek itu lebih sering marah-marah ketimbang menghibur. Da...
Just a Cosmological Things
1094      645     2     
Romance
Tentang mereka yang bersahabat, tentang dia yang jatuh hati pada sahabatnya sendiri, dan tentang dia yang patah hati karena sahabatnya. "Karena jatuh cinta tidak hanya butuh aku dan kamu. Semesta harus ikut mendukung"- Caramello tyra. "But, it just a cosmological things" - Reno Dhimas White.
Wajah Para Pendosa
34      11     2     
Mystery
Delima menerima warisan dari seorang seniman yang pernah ia temui sekali bernama Maja yang ia tidak ketahui apakah dirinya keluarga Maja atau bukan. Namun, dengan semua warisan sejumlah uang dan rumah mewah, Delima dipaksa harus menyelesaikan karya terakhir Maja yang ia tidak ketahui konsep dan maksudnya.
HAMPA
549      409     1     
Short Story
Terkadang, cinta bisa membuat seseorang menjadi sekejam itu...
Late Night Butterfly
96      89     0     
Mystery
Maka sejenak, keinginan sederhana Rebecca Hahnemann adalah untuk membebaskan jiwa Amigdala yang membisu di sebuah belenggu bernama Violetis, acap kali ia memanjatkan harap agar dunia bisa kembali sama meski ia tahu itu tidak akan serupa. "Pulanglah dengan tenang bersama semua harapanmu yang pupus itu, Amigdala..." ucapnya singkat, lalu meletupkan permen karet saat langkah kakinya kian menjauh....
KESEMPATAN PERTAMA
655      461     4     
Short Story
Dan, hari ini berakhir dengan air mata. Namun, semua belum terlambat. Masih ada hari esok...
Night Wanderers
20054      5095     45     
Mystery
Julie Stone merasa bahwa insomnia yang dideritanya tidak akan pernah bisa sembuh, dan mungkin ia akan segera menyusul kepergian kakaknya, Owen. Terkenal akan sikapnya yang masa bodoh dan memberontak, tidak ada satupun yang mau berteman dengannya, kecuali Billy, satu roh cowok yang hangat dan bersahabat, dan kakaknya yang masih berduka akan kepergiannya, Ben. Ketika Billy meminta bantuan Julie...
Aku Istri Rahasia Suamiku
17472      4765     1     
Romance
Syifa seorang gadis yang ceria dan baik hati, kini harus kehilangan masa mudanya karena kesalahan yang dia lakukan bersama Rudi. Hanya karena perasaan cinta dia rela melakukan hubungan terlarang dengan Rudi, yang membuat dirinya hamil di luar nikah. Hanya karena ingin menutupi kehamilannya, Syifa mulai menutup diri dari keluarga dan lingkungannya. Setiap wanita yang telah menikah pasti akan ...
Kamu Pernah Jadi Rumahku
25      24     0     
Short Story
Lo pernah ngerasa pulang ke rumah tapi tetap ngerasa sendirian? Sena terbiasa hidup dalam kesunyian yang nggak pernah benar-benar dipahami siapa pun. Sampai Rakacowok berandalan langganan BKtiba-tiba datang dan perlahan membuat hidup Sena yang dingin mulai terasa hangat. Tapi saat Sena mulai menganggap Raka sebagai rumah, luka yang terlalu lama ia pendam justru semakin menghancurkan dirinya.
Code: Scarlet
29642      7612     16     
Action
Kyoka Ichimiya. Gadis itu hidup dengan masa lalu yang masih misterius. Dengan kehidupannya sebagai Agen Percobaan selama 2 tahun, akhirnya dia sekarang bisa menjadi seorang gadis SMA biasa. Namun di balik penampilannya tersebut, Ichimiya selalu menyembunyikan belati di bawah roknya.