Ucapan tadi cukup membuat hati Fadli teriris. Benarkah ia egois? Tapi entah kenapa hatinya sangat sakit mendengar pernyataan itu? Bukankah selama ini ia tidak pernah peduli apapun ucapan orang?
Sampai sekarang Marrinette mendiamkannya. Marrinette yang selama ini banyak bicara berubah menjadi cuek dan dingin. Selama ini jika dia kesal pasti selalu protes panjang lebar. Tapi kali ini tidak. Apakah Marrinette sedang berada dipuncak kemarahannya? Dan mengherankan kenapa ia menjadi sedih? Bukankah selama ini ia tak peduli?
"Tuan muda, mengapa terlihat murung?" sapa Pak Adi mengusik lamunannya.
"Menurut Pak Adi, apakah saya ini egois?"
Pak Adi menghela nafas panjang. Ia harus berhati-hati mengeluarkan kata-kata. Mengingat anak bosnya ini bersumbu pendek dan gampang meledak.
"Menurut Tuan muda sendiri bagaimana? Alangkah lebih baik terlebih dahulu kita mengoreksi kesalahan kita sendiri sebelum orang lain."
"Saya tidak bisa mengoreksi kesalahan saya sendiri. Makanya saya minta pendapat Pak Adi. Tak usah khawatir, kali ini saya terbuka terhadap kritikan walaupun terdengar menyakitkan."
"Sebelumnya saya minta maaf pada Tuan muda. Semenjak Nyonya meninggal, Tuan muda berubah."
"Berubah bagaimana?"
"Tuan muda berubah menjadi arrogant dan menindas orang lain. Tapi saya berusaha memahami. Mungkin pikiran Tuan muda lagi kalut, terlebih tidak mendapatkan perhatian dari Tuan besar. Padahal Nyonya sendiri menginginkan Tuan muda jadi anak baik. Tapi yaa, mau gimana lagi. Musibah dapat merubah seseorang. Termasuk kelakuannya."
"Marrinette bilang saya ini egois. Entah kenapa saya sedih saat dia marah kepada saya."
"Itu artinya Tuan muda sudah jatuh cinta pada Marrinette."
Ya, tak dapat dipungkiri. Saat Marrinette hilang di rumah sakit, ia bahkan tak bisa makan enak dan tidur nyenyak.
"Lalu, bagaimana caranya biar Marrinette tak lagi marah kepada saya?"
"Minta maaf dan perbaiki kesalahan. Buanglah sifat-sifat yang tidak disukainya."
Bagai secercah cahaya di tengah mendung, ia langsung bersemangat mendengar saran Pak Adi.
"Sepertinya saya tau apa yang harus saya lakukan."
Fadli pergi dan tak lama kemudian ia sudah kembali membawa bunga dan coklat.
Ia langsung menemui Marrinette yang lagi mengepel teras bagian belakang.
"Marrinette."
Marrinette menoleh. Sesaat matanya menatap bunga dan coklat yang dibawa Fadli.
"Aku minta maaf karena sudah menghancurkan coklat dan bungamu. Sebagai permintaan maafku, aku belikan gantinya."
Marrinette menerimanya. Tapi masih belum bersuara.
"Maaf ya coklatnya kurang manis. Dari tadi aku udah mutar-mutar nyari coklat yang paling manis tapi akhirnya aku sadar ternyata yang manis cuma kamu."
"Apaan sih!" seru Marrinette tersenyum malu.
"Hehe. Jangan marah lagi ya. Aku berusaha akan berubah jadi lebih baik."
Marrinette tersenyum.
***
Ketika Marrinette hendak menuju pasar ia dihadang oleh Caitlin.
"Heh!"
"Ada apa?"
"Cuma mau bilang jangan terlalu deket dengan Fadli. Kamu itu cuman pembantu, jadi tolong sadar diri!" ucapnya lalu pergi.
Fadli menyambutnya saat Marrinette masuk ke dalam rumah sepulang dari pasar.
"Hai Marrinette "
Namun Marrinette tak menyahut. Hanya bersikap dingin yang membuat Fadli kebingungan. Namun Fadli tetap mengikutinya ke dapur. Membantu mengeluarkan barang-barang belanjaan.
"Kamu kenapa sih? Capek ya?"
Lagi-lagi Marrinette tak menyahut.
"Kalau capek istirahat." Fadli membuatkan Marrinette segelas susu hangat dan memberikan padanya. "Nih, minum dulu."
Marrinette hendak mengambil minuman itu namun Fadli menahan tangannya agar tak menyentuh gelas itu. Kemudian langsung meminumkannya pada Marrinette.
Darah Marrinette berdesir. Jujur ia menyukai perlakuan manis Fadli. Tapi, ucapan Caitlin juga terngiang dikepalanya. Ah, bukan dia yang mendekati Fadli, lebih tepatnya Fadli yang mendekatinya. Marrinette tersenyum, melupakan peringatan dari Caitlin. Toh, Caitlin juga tidak akan mengetahui hal ini.
Sore yang cerah, Marrinette membersihkan dedaunan bunga yang kering dari dalam potnya. Ketika hendak mengambil pot yang digantung, Marrinette kesulitan karena letaknya tinggi. Disaat yang sama ia melihat Fadli tidak jauh dari tempatnya berdiri. Ia memanggilnya.
"Fadli boleh minta tolong nggak?"
"Apa?" sahut Fadli.
"Tolong ambilkan pot bunga yang diatas itu dong. Tinggi nih."
"Maaf, kalau untuk ngambilin pot bunga, aku tidak bisa. Tapi kalau kamu memintaku untuk mencintaimu, sepertinya aku tak keberatan."
"Aku serius!"
"Oke maaf." Fadli mengambilkan pot bunga.
Marrinette menerimanya dengan cuek lalu pergi. Padahal diam-diam pipinya memerah karena malu.
***
Malam harinya Darlius memanggil Fadli ke ruang keluarga. Ada hal penting yang dia bicarakan.
"Ada apa, Pa?"
"Papa ingin kamu menikahi Caitlin."
Hh itu lagi.
"Kenapa Papa selalu ingin menjodohkanku dengan dia? Sudah jelas-jelas aku tidak menyukainya."
"Fadli, ini demi kebaikan kamu."
"Demi kebaikan aku apa demi kebaikan Papa? Pa, urusan bisnis jangan bawa-bawa anak."
"Caitlin menyukaimu."
"Saya tidak peduli," ucap Fadli seraya bangkit dari tempat duduknya hendak pergi.
"Bisa nggak kamu tidak membangkang pada saya?"
Fadli membalikkan badan. "Pa, saya ini sudah besar. Bukan anak kecil yang harus selalu nurut kemauan Papa. Saya juga punya pilihan sendiri." Fadli pergi dengan kesal.
Hh! Dasar tak punya perasaan! Urusan bisnis malah melibatkan anak. Batin Fadli jengkel. Ia memasuki dapur dengan wajah bete.
"Kenapa?" Marrinette bertanya.
"Lagi-lagi aku dijodohkan dengan Caitlin," sahut Fadli dengan tampang merengut.
Diam-diam Darlius mengintip, menguping pembicaraan mereka.
"Terima saja Caitlin itu."
"Tidak," sahut Fadli tegas.
"Mengapa tidak? Jangan menolak pilihan orangtuamu," kata Marrinette.
"Aku hanya mencintaimu Marrinette." Ucap Fadli lembut.
"Kita tidak akan bisa bersatu."
"Aku akan memperjuangkan cinta kita."
Oh, jadi perempuan itu yang membuat Fadli menolak perjodohan itu? Geram Darlius. Sepertinya aku harus menyingkirkan perempuan itu dari hidup Fadli.
Darlius muak melihatnya dan pergi dari sana.
"Fadli please. Jangan jadikan aku sebagai pemisah antara kamu dengan orangtuamu."
"Kenapa? Apa kamu tidak mencintaiku?"
Marrinette hanya diam.
"Marrinette jawab," desak Fadli.
"Aku tak pernah bermaksud untuk membuatmu jatuh cinta. Aku datang kerumah ini hanya karena suatu misi-" Duh, Marrinette keceplosan.
"Misi apa?"
"Maaf, salah ngomong. Lupakan."
***
Di malam yang sunyi, Marrinette termenung. Memikirkan perjodohan Fadli. Entah mengapa hatinya terasa sakit. Padahal itu bukan urusannya.
Marrinette, ingat! Kamu disini karena suatu misi, merebut mustika duyung. Tapi mengapa?
Cinta slalu bertindak diluar nalar. Mengganggu pikiran, menguasai hati.
Huh.
Fadli yang menyebalkan, arrogant. Bahkan dirinya pernah mengutuki karena harus serumah dengan pria itu. Namun, alam memberi alur lain. Sedikit demi sedikit terselip kenangan manis bersamanya. Yang tak mudah ia lupakan begitu saja.
Apa ia harus minggat dari rumah ini?
Tidak. Misinya belum selesai.
Biarkan saja nanti ia menyaksikan pemandangan yang menyakitkan, menguras air mata.
Tidak. Itu semua takkan terjadi, andaikata ia melupakan Fadli. Sepertinya mulai hari ini dia harus belajar menjauhinya.
"Hai Marrinette."