Suatu ketika rumah Fadli dimasuki perampok.
"Halo," sapa seseorang yang tidak dikenal saat ia sedang merapikan letak vas bunga. Entah lewat mana.
"Siapa ya?" tanya Marrinette sopan.
"Nama saya Banu. Hehe."
"Ada apa Pak Banu?"
"Saya mau merampok dirumah ini. Boleh nggak?"
PLAK! Satu tamparan melayang dipipinya dari orang yang baru muncul dibelakang.
"Peak kali kau! Pakai izin segala."
Banu memegangi pipinya seraya meringgis. "Kita itu harus sopan, bos. Apalagi mau ngambil barang orang."
"Sopan palamu! Kita ini perampok, nggak perlu izin segala." Berpaling pada Marrinette. "Heh! Tunjukkan barangmu!"
Marrinette merapatkan kakinya. "Tidak mau."
"Kenapa tidak mau? Kau mau mati?"
"Masak bapak menyuruh menunjukkan barangku, kan malu."
Peak! Salah nanya dah (tepok jidat).
"Maksudku tunjukkan semua barang berharga dirumah ini!"
"Siapa Marrinette?" tanya Fadli yang sedang menuruni tangga dan kaget sendiri lalu berteriak. "Bodyguard! Ada rampok! Tangkap!"
Bodyguard yang mendengar dengan sigap datang dan menghajar perampok itu. Terjadilah duel diantara mereka. Marrinette dihadang oleh dua perampok.
"Hahaha mau lari kemana kau."
Marrinette mundur, tangannya meraba vas dan melemparkannya pada salah seorang. Dengan sigap ia berlari ke dapur untuk mencari pisau, sayangnya ia lupa naruh dimana. Dia melihat pisang di atas meja, mengambilnya dan membaca mantra.
"Pisang oh pisang. Jadilah senjata! Bim salabin gedobrak gedubruk pok pok pok piuww!"
Wush!
Bukannya berubah menjadi senjata, malahan pisangnya yang berubah jadi besar.
"Iih! Aku minta kamu tuh berubah jadi senjata. Kok malah jadi pisang raja?"
Tiba-tiba dua maling menyergapnya di dapur.
"Haa, mau lari kemana kamu heh! Kamu sudah tak bisa lari kemana-mana lagi."
"Ayo kesini kalian. Kalian pikir aku takut."
Seorang maling ingin menangkapnya.
Hya! Pisang yang Marrinette pegang disorongkannya pada mulut maling itu. Lalu ia mengambil teflon yang tergantung di paku.
"Jurus teflon melayang! Hiya!"
Kepala dua maling itu kena pukul oleh Marrinette. Kemudian Marrinette lari dari dapur kearah kolam renang. Mereka yang masih kesakitan itu tetap memaksakan diri untuk mengejar Marrinette.
Jangan sampai aku masuk ke kolam renang ini. Bisa-bisa malah berubah jadi duyung dan mereka dengan mudah menangkapku. Batinnya waspada. Mengingat cincinnya tertinggal di kamar.
"Ho kolo kolo," kata salah seorang maling yang mulutnya kesumpel pisang. Teman disampingnya mengeluarkan pisang itu dengan kesal.
"Bicara yang benar."
"Mulutku tersumbat, anjing!" Balasnya kesal.
"Kau kan punya tangan."
"Woi!" teriaknya temannya satu lagi menghentikan keributan mereka. "Kapan kita mau nangkap dia!"
"Oh iya lupa."
Mereka serempak mengejar Marrinette. Sedangkan Marrinette tetap tenang karena melihat ada tali. Ketika dirasa sudah dekat Marrinette menggunakan kekuatannya untuk mengambil tali dan mengikat tubuh mereka pada tiang.
"Marrinette!" Teriak Fadli menghampirinya, memegangi pipi Marrinette. "Kamu tidak apa-apa?"
Marrinette menggeleng. Fadli berpaling pada perampok yang sudah terikat itu.
"Pak Adi. Bawa mereka semua ke kantor polisi!" Perintahnya.
"Baik Tuan."
***
"Marrinette, kau mau kepasar?"
Marrinette mengangguk.
"Aku temanin."
Marrinette menolak. "Aku bisa sendiri."
"Tapi kalau terjadi apa-apa gimana?" tanya Fadli khawatir.
"Aku akan berhati-hati," sahut Marrinette kemudian pergi.
Marrinette sedang memilih-milih sayur. Alex dan Rian yang mengikuti dari tadi bersembunyi. Memantau Marrinette. Mereka benar-benar membenci Marrinette terutama sejak Fadli mengusir mereka dari rumahnya.
Ditangan Alex, ada tiga butir telur busuk. Ia tersenyum miring, mengambil telur yang pertama, melemparnya pada Marrinette namun meleset, tidak kena. Alex mengambil telur yang kedua, dilempar lagi. Alya menggunakan kekuatannya dan mengarahkan telur itu sehingga tidak mengenai Marrinette, tapi mengenai salah seorang penjual.
"Woi! Siapa yang berani kurang ajar sama saya!" teriak penjual itu kesal.
Alex dan Rian sembunyi. Pindah ke tempat yang berbeda. Telur ketiga, ia memandang Marrinette dengan tajam, ketika dirasa sasarannya sudah tepat, Alex melemparkan telur itu. Namun kekuatan Alya membuat telur itu tidak mengenai Marrinette. Telur itu melesat jauh, kemudian berbalik arah, kembali pada Alex dan pecah di kepalanya.
"Hh sialan!" seru Alex.
Alya tersenyum. Kalian pikir Marrinette pergi tanpa penjaga?
Kini giliran Evelyn. Ia menatap tajam ke arah Rian, menempelkan jari di kedua pelipisnya, fokus. Rian tiba-tiba menggigil. Kemudian ia tertawa keras seraya memukul-mukuli Alex. Dia berteriak pada orang-orang.
"Copet! Copet!"
Orang-orang lantas mengejar Alex--yang kabur dengan ketakutan.
"Hahaha." Alya ketawa.
Disuatu tempat.
Alex mendatangi Rian dengan kesal dan tanpa bicara langsung memukuli pipi Rian.
"Eh ngapain lo datang-datang mukulin gue?"
"Lo sengaja ya neriakin copet. Biar gue dipukulin orang-orang!"
"Ngomong apa sih lu. Nggak ngerti."
"Nggak usah pura-pura lu!"
"Lo kenapa sih? Jelasin!"
Alex semakin kesal.
"Nggak usah pura-pura lupa ingatan! Jelas-jelas lo neriakin gue! Untung gue dapat menghindar dari orang-orang pasar. Kalau enggak, habis gue."
"Gue nggak tau apa-apa! Justru elo yang ninggalin gue sendirian!"
"Aakh bangsat!" seru Alex lalu pergi.
"Lu yang bangsat!"
Saat pulang dari pasar ia melihat Halim sudah berdiri di depan pagar yang kemudian menghampirinya sambil tersenyum.
"Marrinette."
"Halim? Udah lama disini?"
"Lumayan," sahutnya tersenyum. "Kamu habis dari pasar?"
"Iya."
"Banyak juga ya. Sini aku bantuin bawa ke dalam," ujarnya seraya mengambil beberapa belanjaan Marrinette.
"Nggak usah. Aku bisa sendiri. Nggak usah repot-repot."
"Ah nggak apa-apa." Halim membawanya dan berjalan mengiringi Marrinette.
Fadli menyaksikannya dari balik tirai jendela. Hatinya memanas.
"Halim. Taruh disini saja. Biar aku nanti yang bawa ke dalam."
"Kenapa tidak sekalian aku bantu bawakan ke dapurnya. Biar kamu tidak kerepotan."
"Sudah tidak apa-apa disini saja." Marrinette mendekat, berbisik. "Aku tak boleh membawa orang sembarangan ke dalam rumah, nanti aku kena marah." Kemudian Marrinette tersenyum. "Makasi ya."
Halim terlihat salah tingkah. "Iya sama-sama. Kalau gitu aku balik dulu."
"Hati-hati," sahut Marrinette tersenyum sampai Halim menghilang di balik pagar.
"Siapa?"
Kehadiran Fadli sedikit mengagetkan Marrinette.
"Teman."
"Teman? Oooh, jadi itu alasannya kamu menolakku buat nemenin ke pasar. Ternyata ada yang nemeniin," kata Fadli dengan nada meledek.
"Apaan sih? Orang juga baru ketemu tadi di depan pagar."
"Masak?"
"Bodo ah. Aku mau masak." Marrinette membawa belanjaan-belanjaannya ke dapur. Meninggalkan Fadli yang masih dipenuhi dengan pikirannya.
Siapa pria itu? Dan apa hubungannya dengan Marrinette?
Marrinette mengeluarkan sayur-mayur, lauk-pauk dan bahan-bahan masakan lainnya. Tiba-tiba Fadli masuk ke dapur dan menghampirinya.
"Hari ini aku bantuin kamu masak?"
"Tidak usah."
"Tidak apa. Nanti kamu kerepotan mengerjakan sendiri."
"Biasanya aku juga melakukannya sendiri," sahut Marrinette.
"Kali ini aku ingin membantu."
Marrinette menatapnya. "Memangnya kamu bisa apa?" Tanya Marrinette meragukan.
Dalam hati Fadli membenarkan ucapan Marrinette. Dia memang tidak tahu apapun dalam dunia perdapuran. Tapi demi menjaga gengsinya di depan Marrinette ia membantahnya.
"Yaa, apa aja gitu. Apa yang kamu suruh. Mengupas kentang, mencuci sayur, atau mengupas bawang."
"Kamu yakin mengupas bawang? Bawang itu nggak cuma dikupas tapi juga diiris. Yang ada nanti matamu perih trus nangis."
"Kan masih bisa yang lain, seperti mengupas kentang."
"Udah deh, itu pekerjaan paling gampang yang bisa kulakukan sendiri. Kalau kamu mau bantu, mending cuci ayam dan ikan itu," ucap Marrinette seraya mengarahkan telunjuknya pada ayam dan ikan yang sudah ada di wastafel.
Fadli tak menyahut. Ia jijik dengan segala hal yang berbau anyir.
"Tidak mau kan? Ya sudah mendingan nggak usah bantu. Yang ada bukannya menyelesaikan pekerjaan malah menambah pekerjaan. Mendingan kamu duduk manis di sofa, nonton dan tunggu masakan siap. Toh biasanya juga disiapkan."
Fadli pergi dari dapur dengan kesal. Huh! Susah sekali mencari kesempatan.
Malamnya, Darlius pulang kerumah. Marrinette membukakan pintu dan menyambutnya dengan ramah.
"Selamat malam, Pak. Saya sudah menyiapkan makanan kesukaan Bapak diatas meja."
Darlius tidak menyahut, seperti biasa ia melewatinya dengan tatapan cuek dan dingin, menuju meja makan. Disana sudah ada Fadli yang menunggunya.
"Papa kemana saja? Sudah seminggu tidak pulang."
"Papa sibuk. Ada banyak kerjaan yang harus Papa selesaikan."
Hh! Sibuk kerjaan atau sibuk main dengan perempuan lain? Ia tau, Papanya setiap pulang kerja selalu mampir ke diskotik. Lalu menyewa wanita jalang untuk menemaninya tidur dihotel, suka bergonta-ganti pasangan. Sudah beberapa kali ia mendapat info dari beberapa kenalannya.
Papanya sampai sekarang masih belum berubah. Bahkan kelakuannya-lah yang sudah membuat Mamanya serangan jantung hingga meninggal dunia. Disaat Mamanya sedang kritis dirumah sakit Papanya bukan menjenguk, tapi malah asyik dengan perempuan lain. Hanya Pak Adi yang selalu ada bersamanya.
Hatinya sakit mengingat semua itu. Jujur ia sudah sangat muak dengan lelaki ini. Andai saja bukan karena amanah almarhumah Mamanya, pasti ia sudah melarikan diri dari rumah ini. Fadli... titip Papa ya. Jaga dia, jangan biarkan ia terus tersesat ke lembah hitam.
Fadli memperhatikan lelaki itu yang sangat lahap menyantap makanannya. Ia juga mengambil makanannya. Seperti biasa, tidak ada komunikasi diantara mereka berdua. Hubungan mereka sangat dingin.
Tunggu, dimana Marrinette?
Fadli mengedarkan pandangannya kesekeliling. Pandangannya terhenti pada Marrinette yang sedang berdiri di tepi dinding, seperti bersiap menunggu perintah.
Dengan isyarat tangannya Fadli memanggilnya. Marrinette mendekat.
"Ada apa Tuan muda?" tanya Marrinette menirukan ciri khas Pak Adi.
"Duduk disini," kata Fadli seraya menggeser kursi disampingnya. "Kita makan bareng."
Fadli menarik tangan Marrinette agar duduk.
"Eh, kenapa dia duduk disitu?" Protes Darlius.
"Sesekali Pa," sahut Fadli tersenyum.
Darlius diam, dengan wajah dinginnya melanjutkan makannya.
Marrinette berbisik pada Fadli. "Bukankah aku tidak boleh makan disini jika ada Bos besar?"
"Sst. Sudah, tenang saja. Ada aku."
Marrinette membalik piringnya, mengambil makanan dengan canggung.
Fadli tersenyum memperhatikan Marrinette. Suasana hatinya lebih baik daripada harus selalu memperhatikan tua bangka tak tau diri itu, yang membuatnya kesal dan tak nafsu makan.
Selesai makan, Marrinette langsung membereskan piring-piring dan membawanya ke dapur. Sekaligus menghindari tatapan Darlius yang tak bersahabat itu. Bukannya takut, tapi demi menjalani perannya dengan baik. Sebagai seorang pembantu yang patuh terhadap tuannya.
Tak disangka Fadli juga mengikuti Marrinette kedapur. Apalagi kalau juga bukan menghindari Darlius. Ia pun merasa tidak nyaman jika berlama-lama dihadapan Darlius walaupun lelaki itu adalah ayah kandungnya.
Ia mendekati Marrinette yang sedang mengambil sabun.
"Aku bantuin ya."
"Hah?"
Tanpa peduli dengan ekspresi Marrinette, Fadli menggenggam tangan Marrinette yang sudah memegang spons dan mencelupkannya ke dalam sabun. Lalu mengusapkan spons itu ke piring yang kotor.
Lagi, dia membuat jantung Marrinette berdetak tak karuan. Entah mengapa, ia tak mengerti. Marrinette menatapnya. Entah mengapa perlakuan ini membuatnya nyaman. Bahkan ia tak ingin melepaskan tangannya dari genggaman Fadli. Membiarkan tangannya dikendalikan, mencuci piring.
Masih terlalu pagi bel dipencet oleh seseorang ketika Marrinette sedang sibuk menyapu halaman depan. Pintu di buka oleh satpam, ia terlihat berbicara sebentar dan kemudian memanggil Marrinette.
"Ada yang mencarimu."
Marrinette meletakkan sapu lidinya, berjalan menemui orang yang dimaksud.
"Halim?"
"Hai Marrinette."
"Kamu ngapain pagi-pagi kemari? Bu Helen nggak marah?"
"Hehe, Bu Helen lagi tidak di restorant. Jadi aku bisa pergi sebentar."
Dasar. Dia tidak tau kalau Bu Helen pasti mengetahui dimanapun keberadaannya.
Tiba-tiba, ia mengeluarkan coklat dari dalam sakunya dan memberikannya pada Marrinette.
"Nih, ada coklat buat kamu. Nanti kalau lagi badmood coklatnya dimakan aja. Otomatis badmoodnya hilang."
Marrinette menerimanya.
"Masih ada lagi," ujar Halim seraya mengeluarkan seikat bunga yang sedari tadi disembunyikannya di belakangnya. "Buat kamu."
Marrinette menerima bunga itu.
"Suka tidak?"
Marrinette mengangguk, tersenyum.
"Makasi ya."
"Sama-sama."
"HEH!" seru Fadli yang tiba-tiba muncul. Ia menatap Halim dengan tajam.
"Ngapain datang kerumah orang tanpa izin?"
"Dia siapa Marrinette?" tanya Halim sedikit berbisik.
"Anak bosku."
"Maaf, saya hanya ingin menemui Marrinette," ujar Halim berusaha ramah.
"Tidak ada yang bisa menemui Marrinette tanpa seizin saya!"
"Tapi saya ini bukan orang jahat."
"Saya tidak peduli siapa Anda dan keluar dari rumah saya."
"Saya tidak memasuki rumah Anda. Dari tadi saya hanya berdiri di halaman rumah Anda." Halim membela diri.
"Pokoknya keluar dari sini!" seru Fadli seraya menyeret Halim keluar dari pagar. Tidak mempedulikan teriakan Marrinette yang mencegahnya.
"Anda siapa ngatur-ngatur saya?"
"BOS!"
"Jangan mentang-mentang bos Anda bisa bebas seenaknya!"
"Kalau saya bisa kenapa?!"
"Maumu apa sih?"
"Jauhi Marrinette!"
"Tidak bisa!"
Bugh! Satu pukulan mendarat di pipi Halim. Ia meringgis. Fadli hendak memukulinya lagi namun dicegah oleh Marrinette.
"Fadli. Hentikan! Kamu mau bunuh anak orang? Dia itu pelayan di restorant Bu Helen. Kamu bisa mendapat masalah besar kalau macam-macam dengan anggotanya!"
Hh! Fadli menggeram muak. Nama itu lagi yang disebut-sebut. Tatapan tajamnya mengarah pada Halim.
"Pergi dari rumah ini dan jangan pernah kembali lagi!"
Halim meninggalkan rumah itu. Fadli berpaling pada Marrinette, menatap tajam coklat dan bunga ditangannya. Jantungnya menggelegak. Ia merebutnya dengan paksa dan membanting ke tanah, menginjak-injaknya.
"Fadli! Hentikan!"
Fadli tidak peduli. Dia tersenyum puas setelah dipastikan bunga dan coklat itu hancur.
Marrinette terperangah. "Kamu benar-benar kelewatan!" Serunya kemudian berlari meninggalkan Fadli--yang tiba-tiba berubah jadi tidak enakan dan mengejar Marrinette.
Marrinette mengunci kamarnya. Ia benar-benar sangat kesal. Bisa-bisanya Fadli berbuat seperti itu. Oke, dia memang bos. Tapi bukan berarti dia berhak mencampuri urusan pribadinya.
"Marrinette," ujar Fadli seraya mengetuk pintu.
"Marrinette keluarlah. Kita bicara sebentar."
Suara itu terdengar lembut. Tapi bukan berarti mampu menghilangkan kekesalannya.
"Marrinette ayolah...." Fadli memelas.
Hh! Dasar pengganggu! Dengan sentakan kuat dibukanya pintu, menyambut Fadli dengan wajah masam dan tidak enak dipandang.
"Apa lagi?! Kamu sudah menghancurkan bunga dan coklat kesukaanku!"
"Aku tidak suka dia datang kerumah ini."
"Tapi bukan berarti kamu bisa berbuat seenaknya!"
"Aku bisa membelikan bunga yang lebih bagus dan coklat yang lebih enak dari itu."
"Nggak!"
"Marrinette, aku minta maaf."
Marrinette tak menyahut.
"Sebenarnya kamu ada hubungan apa dengan orang itu? Mengapa kamu begitu marah saat-," ucapan Fadli terpotong.
"Kamu itu egois!! Tidak ada perempuan yang suka dengan lelaki egois!"
Marrinette kembali menutup pintunya dengan sentakan kuat.
***