Loading...
Logo TinLit
Read Story - Dearest Friend Nirluka
MENU
About Us  

Manik, Abigail, Michellin, Galuh, dan Septiansa. Lima murid dari kelas A yang memberanaikan diri mereka untuk memecahkan misteri yang dirahasikan akademi. Ketika mereka lapar, misteri tersebut tidaklah menjadi penting, ada yang lebih penting yakni perkara perut, sehingga mereka memilih untuk membeli kudapan malam di toko kelontong dekat akademi, malam yang sama setelah mereka menemukan beberapa catatan milik laboratorium yang berserakan tak terururs. Mereka berlima duduk melingkar di meja bundar milik toko kelontong tersebut untuk menikmati kudapan mereka.

Setidaknya, bagi remaja seusia mereka, kudapan malam setelah upaya memecahkan misteri adalah imbalan yang setimpal. Cukup menyenangkan, pikir mereka.

Galuh menghela napas dan menyandarkan punggungnya ke kursi, memulai pembicaraan, "siapa yang menyangka kalau laboratorium tua itu menyimpan begitu banyak data yang belum pernah kita lihat? Ini lebih dari sekadar misteri, ini seperti menemukan harta karun!"

Nampaknya tidak ada yang sepeduli Galuh tentang isi laboratorium, namun, lelaki dengan rambut klimis itu tetap antusias.

Michellin tersenyum sambil menggigit roti, "harta karun? Kalau begitu, aku harap ada resep rahasia di sana yang bisa membuatku kaya. Bayangkan, roti legendaris yang bisa bikin orang-orang berbondong-bondong ke toko kuenya ayahku!" mereka terkelakar, terkecuali Galuh, yang merasa itu konyol.

Septiansa yang tertawa tidak percaya, adalah orang yang paling menganggap itu sangat konyol dan kekanak-kanakan, "Michellin, kau dan roti memang tak terpisahkan. Tapi serius, Galuh, apa yang kau pikirkan tentang semua ini?"

"Aku ingin menjadikan diriku sendiri sebagai sukarelawan pertama di tim,” jawabnya sederhana langsung menuju inti pembahasan, “mungkin ini adalah jalan untuk bisa melanjutkan naskah Navaphare”

Semuanya menjadi diam, Septiansa membalas kembali, "menjadi sukarelawan untuk memecahkan misteri ini bukan hal kecil, ketua kelas yang perfeksionis!"

Merasa itu adalah tantangan, Galuh kemudian berpikir sejenak,  tersenyum menantang, "aku selalu percaya bahwa ada banyak hal yang bisa kita pelajari di luar kelas. Akademi ini penuh dengan sejarah dan misteri yang tak terungkap", akhirnya, semua percaya bahwa Galuh tengah berbicara serius, suara kipas bakaran dari toko kelontong nampak terdengar semakin keras karena keheningan mereka sesaat itu, "aku ingin kita semua terlibat dan menemukan kebenaran, bukan hanya untuk memuaskan rasa penasaran, tapi juga untuk mengerti lebih dalam tentang tempat kita belajar." Pungkasnya, menandakan pendirian yang teguh.

Abigail menatap Galuh dengan kagum, "kau selalu punya cara untuk membuat sesuatu terdengar begitu penting. Tapi aku setuju dengan Septiansa, ini bukan sekadar permainan. Kita sudah menemukan banyak petunjuk, dan aku rasa kita semakin dekat dengan jawabannya."

Michellin menatap Abigail dengan heran, keras kepala, "bahkan aku bisa setuju dengan Michellin melebihi dirimu, Galuh." Mendengar itu, Michellin jengkel, tapi Abigail tidak peduli.

Manik tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana yang dingin diantara mereka saat ini, "dan kita juga semakin dekat sebagai teman, lebih dekat dari sebelumnya. Siapa sangka, petualangan ini bukan hanya tentang menemukan misteri akademi, tapi juga tentang menemukan kebersamaan kita. Hal-hal sederhana seperti ini."

Abigail menepuk pundak Manik, "benar sekali, Manik. Kita ini tim yang hebat. Bahkan jika kita harus menjelajah lebih banyak laboratorium atau tempat lainnya, aku yakin kita bisa melewatinya bersama. Bahkan apabila untuk membuat resep rahasia untuk Michellin agar bisa membuat kue yang enak lebih banyak."

"Hei!", protes Michellin, "membuat empat loyang setiap hari dan menjualnya itu cukup sulit, tahu!".

Septiansa mengangkat gelas minumannya, mencoba memecah kebuntuan, "Ayolah guys, bersulang untuk kita, tim petualang yang tak kenal takut dan selalu siap menghadapi tantangan! Semoga kita selalu kompak dan menemukan jawaban dari semua misteri ini."

Semua orang menyahut itu, mengangkat gelas masing-masing, "untuk kita!" seketika setelah itu kudapan yang mereka pesan datang diantarkan ke meja.

Galuh belum menyerah dengan idenya, saat temannya mulai mengambil kudapan masing-masing, ia masih mencoba meyakinkan kawanannya itu atas idenya yang dianggap nekat dan mengorbankan diri, "dan siapa tahu, mungkin kita akan menemukan lebih banyak kejutan di sepanjang jalan", melihat ada yang hendak protes kembali, Galuh langsung melanjutkan argumentasinya, "yang penting, kita melakukannya bersama! Itulah yang membuat perjalanan ini begitu berharga, juga ingatlah tentang Navaphare. Percayakan kepada ketua kelas kalian yang perhitungannya tepat ini."

Abigail mulai menghangat dan memberi sedikit kepercayaan kepada Galuh, "baiklah, aku bisa setuju. Mari kita lanjutkan pencarian ini dengan perhitunganmu. Aku yakin kita bisa menemukan jawabannya berkat bantuanmu."

Begitu Abigail menyetujui permintaan Galuh, seluruh kawanan itu mengangguk setuju dan mulai memakan kudapan mereka masing-masing.

Lampu toko kelontong bersinar lembut di malam hari itu, membingkai momen kebersamaan dan tekad tim. Mereka tahu, apa pun yang terjadi, mereka akan selalu memiliki satu sama lain. Misteri akademi kini menjadi fokus utama mereka, dan perjalanan untuk mengungkap kebenaran baru saja dimulai. Galuh mulai menjelaskan rencananya.

Malam semakin larut, namun, toko kelontong kecil ini masih menjadi tempat menghabiskan waktu bagi kelima siswa kelas A itu. Galuh, dengan semangat yang tak pernah surut untuk menguatan niatnya, mulai menjelaskan rencananya.

“Dengar, aku punya ide yang mungkin terdengar gila, tapi aku yakin bisa berhasil", kalimatnya begitu meyakinkan, tak ada keraguan dari kelompok mereka kali ini, "kita akan mengadakan turnamen catur antar perwakilan kelas,” katanya, sambil menggambar diagram kasar di atas kertas roti yang tergeletak di meja.

Michellin tidak bisa berpikir sejauh itu, mengajukan pertanyaan, “catur? Kenapa harus catur?” tanya Michellin dengan alis terangkat, benar-benar tidak bisa menduga rencana Galuh.

“Catur adalah permainan strategi. Ini cara yang sempurna untuk menarik perhatian semua orang tanpa menimbulkan kecurigaan. Selain itu, aku cukup ahli dalam permainan ini,” jawabnya percaya diri. Tak ada sanggahan lebih jauh dari Michellin.

Septiansa, menaruh rasa heran, mempersilakan presentasi itu bisa lebih jauh, "oke, lanjutkan,” sambil memakan remah roti yang menempel di tangannya.

Galuh berkelakar puas, “kita akan mengadakan turnamen di laboratorium akademi. Dengan begitu, kita bisa menarik lebih banyak orang ke sana. Pada hari pertandingan, aku akan menghiasi seluruh laboratorium dengan propaganda naskah Navaphare ini kepada khalayak umum,” jelas Galuh dengan mata berbinar penuh antusias.

Menurut mereka, kesimpulannya adalah bagaimana mempromosikan ajang tersebut dan mengomunikasikannya, sehingga Abigail mencoba memastikan, “itu ide yang bagus, tapi bagaimana kita bisa memastikan semua orang akan melihatnya?” selalu memikirkan setiap detail.

“Setiap peserta yang kalah dalam pertandingan harus menandatangani petisi untuk mengajukan pertandingan catur antara wakil guru dan wakil murid. Itu akan membuat lebih banyak orang tertarik dan terlibat. Semakin ramai, semakin baik,” lanjutnya, suara Galuh penuh dengan keyakinan.

Manik mencoba menarik kesimpulan apa yang ia bisa lakukan, “jadi, kau ingin menciptakan keramaian di laboratorium agar aku bisa mengamati seluruh aktivitas warga akademi tanpa menarik perhatian?” ucapnya mulai memahami rencana temannya.

“Tepat sekali. Aku yakin bisa mengalahkan semua perwakilan kelas, bahkan mengalahkan perwakilan guru jika perlu. Sementara itu, kau akan memiliki cukup ruang dan waktu untuk mengamati semua yang terjadi di hari pertandingan,” jawab Galuh dengan penuh keyakinan.

Septiansa terlihat sedikit gusar kali ini, “Galuh, kau benar-benar punya bakat sebagai ahli strategi. Tapi ini juga berarti kita harus bekerja keras untuk memastikan semua berjalan lancar”.

Michellin mengangkat tangannya yang masih memegang satu tusuk sate taichan, "aku bisa membantu dengan undangan maupun hiasan propaganda itu! Kita harus membuatnya menarik dan tidak mencurigakan,” tambah Michellin yang menawarkan diri untuk membantu.

Abigail menambahi, “dan aku akan membantu dengan mengoordinir petisi. Kita harus memastikan semua peserta yang kalah menandatanganinya,” sembari menyudahi kudapannya dan membersihkan mulutnya dari sisa remah-remah.

Manik, tanpa mengucapkan apa-apa, dia tahu bahwa dirinya harus berada di luar jangkauan saat hari pertandingan, dia tidak bisa berada di lokasi secara langsung untuk mengamati “ini rencana yang berani, tapi aku percaya kita bisa melakukannya. Kita akan menemukan kebenaran di balik misteri ini,” kata Manik sambil tersenyum pada teman-temannya, merasa lebih kuat dengan kehadiran mereka, "aku pastikan ini tugasku tidak akan gagal".

Malam itu, di toko kelontong yang sepi pembeli, kelima sahabat ini bukan hanya merencanakan strategi. Mereka berbicara tentang harapan dan tekad mereka, merasakan bahwa persahabatan dan kerja sama akan menjadi kunci untuk mengungkap misteri akademi. Mereka tahu perjalanan ini penuh risiko, namun mereka tetap memilih untuk melanjutkannya.

Toko kelontong semakin tetang, lalu menjadi benar-benar sepi setelah kawanan itu meneriakkan jargon dan kembali ke asrama mereka masing-masing. Mitos akademi mulai dijelajahi oleh Manik, Abigail, bersama tim mereka.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Sweet Like Bubble Gum
4671      2812     2     
Romance
Selama ini Sora tahu Rai bermain kucing-kucingan dengannya. Dengan Sora sebagai si pengejar dan Rai yang bersembunyi. Alasan Rai yang menjauh dan bersembunyi darinya adalah teka-teki yang harus segera dia pecahkan. Mendekati Rai adalah misinya agar Rai membuka mulut dan memberikan alasan mengapa bersembunyi dan menjauhinya. Rai begitu percaya diri bahwa dirinya tak akan pernah tertangkap oleh ...
Premium
Akai Ito (Complete)
6911      1468     2     
Romance
Apakah kalian percaya takdir? tanya Raka. Dua gadis kecil di sampingnya hanya terbengong mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Raka. Seorang gadis kecil dengan rambut sebahu dan pita kecil yang menghiasi sisi kanan rambutnya itupun menjawab. Aku percaya Raka. Aku percaya bahwa takdir itu ada sama dengan bagaimana aku percaya bahwa Allah itu ada. Suatu saat nanti jika kita bertiga nant...
HIRAETH
609      443     0     
Fantasy
Antares tahu bahwa Nathalie tidak akan bisa menjadi rumahnya. Sebagai seorang nephilim─separuh manusia dan malaikat─kutukan dan ketakutan terus menghantuinya setiap hari. Antares mempertaruhkan seluruh dirinya meskipun musibah akan datang. Ketika saat itu tiba, Antares harap ia telah cukup kuat untuk melindungi Nathalie. Gadis yang Antares cintai secara sepihak, satu-satunya dalam kehidupa...
Teman Khayalan
1917      900     4     
Science Fiction
Tak ada yang salah dengan takdir dan waktu, namun seringkali manusia tidak menerima. Meski telah paham akan konsekuensinya, Ferd tetap bersikukuh menelusuri jalan untuk bernostalgia dengan cara yang tidak biasa. Kemudian, bahagiakah dia nantinya?
Dream Of Youth
825      552     0     
Short Story
Cerpen ini berisikan tentang cerita seorang Pria yang bernama Roy yang ingin membahagiakan kedua orangtuanya untuk mengejar mimpinya Roy tidak pernah menyerah untuk mengejar cita cita dan mimpinya walaupun mimpi yang diraih itu susah dan setiap Roy berbuat baik pasti ada banyak masalah yang dia lalui di kehidupannya tetapi dia tidak pernah menyerah,Dia juga mengalami masalah dengan chelsea didala...
Janjiku
674      493     3     
Short Story
Tentang cinta dan benci. Aku terus maju, tak akan mundur, apalagi berbalik. Terima kasih telah membenciku. Hari ini terbayarkan, janjiku.
Perjalanan Tanpa Peta
185      166     1     
Inspirational
Abayomi, aktif di sosial media dengan kata-kata mutiaranya dan memiliki cukup banyak penggemar. Setelah lulus sekolah, Abayomi tak mampu menentukan pilihan hidupnya, dia kehilangan arah. Hingga sebuah event menggiurkan, berlalu lalang di sosial medianya. Abayomi tertarik dan pergi ke luar kota untuk mengikutinya. Akan tetapi, ekspektasinya tak mampu menampung realita. Ada berbagai macam k...
CAMERA : Captured in A Photo
1300      667     1     
Mystery
Aria, anak tak bergender yang berstatus 'wanted' di dalam negara. Dianne, wanita penculik yang dikejar-kejar aparat penegak hukum dari luar negara. Dean, pak tua penjaga toko manisan kuno di desa sebelah. Rei, murid biasa yang bersekolah di sudut Kota Tua. Empat insan yang tidak pernah melihat satu sama lainnya ini mendapati benang takdir mereka dikusutkan sang fotografer misteri. ...
NADI
6944      2134     3     
Mystery
Aqila, wanita berumur yang terjebak ke dalam lingkar pertemanan bersama Edwin, Adam, Wawan, Bimo, Haras, Zero, Rasti dan Rima. mereka ber-sembilan mengalami takdir yang memilukan hingga memilih mengakhiri kehidupan tetapi takut dengan kematian. Demi menyembunyikan diri dari kebenaran, Aqila bersembunyi dibalik rumah sakit jiwa. tibalah waktunya setiap rahasia harus diungkapkan, apa yang sebenarn...
Ti Amo
592      370     2     
Romance
“Je t’aime, Irish...” “Apa ini lelucon?” Irish Adena pertama kali bertemu dengan Mario Kenids di lapangan saat masa orientasi sekolah pada bulan Juli sekitar dua tahun yang lalu. Gadis itu menyukainya. Irish kembali bertemu dengan Mario di bulan Agustus tahun kemudian di sebuah lorong sekolah saat di mana mereka kembali mencari teman baru. Gadis itu masih menyukainya. Kenyataannya...