Loading...
Logo TinLit
Read Story - Dearest Friend Nirluka
MENU
About Us  

Pagi hari setelah semalaman Manik menelusuri perpustakaan akademi bersama Nirluka, ia terbangun karena bau steril antiseptik dan dengungan peralatan medis yang beroperasi. Kepalanya terasa berdenyut-denyut merasakan pusing, dan, saat matanya menyesuaikan diri dengan cahaya yang keras, dia menyadari bahwa telah berada di klinik akademi.

Oh, sial, pikirnya.

Peristiwa malam sebelumnya teringat kembali—pertemuan dengan Nirluka yang baginya menakutkan, naskah Navaphare yang semakin menghantui saat semakin terungkap, serta kegelisahan batin Manik karena dia benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Terlebih, saat ini dia berada di klinik akademi tanpa tahu sebabnya.

Mencoba untuk duduk, Manik masih merasakan sakit yang menusuk, menjalar ke seluruh tubuhnya, memilih untuk memaksa dirinya berbaring kembali. Pintu klinik terbuka dan seorang perawat masuk, ekspresinya bingung. "Bagaimana kamu sampai di sini?", dia bertanya, lebih pada bertanya kepada dirinya sendiri, "kau pingsan di depan perpusatakaan dan... oh Tuhan, sekarang kau nampak tidak pernah terjadi sesuatu karena membingkanku!"

Sebelum Manik sempat menjawab, sosok lain muncul di ambang pintu, Abigail, dengan rambut hitam yang sebagian diwarnai oranye itu akan membuat semua orang tahu dalam sekilas, memasang wajah cemas sejak saat dia bergegas menuju klinik, langsung saja perempuan itu duduk ke sisi Manik. Aroma permen karet stroberi menyertai kehadirannya, sedikit kenyamanan di lingkungan klinis, pikir Manik.

"Manik, kamu baik-baik saja?", dia bertanya, suaranya dipenuhi kekhawatiran, "apa yang terjadi denganmu?"

Manik ragu-ragu, tidak ingin menyeret Abigail ke dalam kegelapan yang mengelilinginya, "aku baik-baik saja, Abigail. Hanya sedikit... lelah," ucapnya sambil memaksakan senyum lemah.

Abigail mengerutkan kening, jelas tidak yakin. "Kamu tidak boleh datang ke klinik hanya karena kamu lelah, ada sesuatu yang tidak kamu ceritakan padaku."

Manik menghela nafas, beban rahasia menekan dirinya. “Ini rumit, Abigail. Ada hal-hal yang terjadi di akademi ini yang…kau tidak akan percaya.”

Mata Abigail menyipit karena tekad, "kamu menguji kesabaranku! Aku tidak akan pergi ke mana pun sampai kamu mengatakan yang sebenarnya."

Manik menatap matanya, melihat keteguhan hati yang tak tergoyahkan di sana. Dia tahu dia tidak bisa menyembunyikannya selamanya. "Baiklah," katanya pelan, “tapi tidak di sini, mari kita bicara di tempat lain.”

Kemudian pada hari itu juga, mereka menemukan tempat terpencil di tepi danau, jauh dari mata dan telinga yang mengintip. Manik menceritakan kejadian malam sebelumnya—pertemuan dengan Nirluka, sebagian naskah Navaphare yang hilang—dan penglihatan menghantui para siswa yang meniada. Abigail mendengarkan dengan penuh perhatian, ekspresinya berubah dari tidak percaya menjadi terkejut dan akhirnya menjadi tekad yang muram.

“Ini harus kita selesaikan,” kata Abigail tegas, “jikapun hanya ada sedikit peluang bagi kita untuk mengungkap kebenaran dan membantu para siswa tersebut, kita harus mencobanya, Manik!”

Manik mengangguk, perasaan lega menyelimuti dirinya, "aku tahu kamu akan mengerti. Tapi kita harus berhati-hati. Ada kekuatan yang berperan di sini yang tidak sepenuhnya kita pahami."

Abigail tersenyum, kilatan kenakalan terlihat di matanya. “Sejak kapan kita berhati-hati? Kita akan mencari tahu bersama-sama!”

Saat mereka menyelidiki lebih dalam terkait mitos akademi beserta rahasia tentang naskah Navaphare, Manik merasa terhibur dengan dukungan moril dari Abigail yang kuat. Kehadirannya yang ceria sangatlah kontras dengan kegelapan yang mengelilingi Nirluka pada malam sebelumnya, mata mereka melihat ke mercusuar yang berada di seberang danau, kemudian bertukar ide tentang untuk apa mercusuar itu ada di sana dan bagaimana cara untuk naik ke atasnya.

Mercusuar itu mengingatkan mereka akan sesuatu, bahwa semakin dekat mereka dengan kebenaran, maka semakin berbahaya perjalanan mereka. Disaat Manik dan Abigail berupaya mengungkap lebih banyak tentang mitos kelam tentang akademi, mereka menyadari bahwa pidato Manik tentang Navaphare beberapa hari lalu hanyalah permulaan dari kenyataan yang jauh lebih besar—dan lebih menakutkan dari sekadar sesuatu yang disembunyikan oleh Akademi.

.

Angin menggoyang daun-daun di pepohonan sekitar akademi saat Manik dan Abigail duduk di tepi danau, biar bagaimanapun juga, tempat ini biasa mereka gunakan untuk bercengkerama atau sekadar melampiaskan kekesalan semata. Wajah Abigail terlihat sangat prihatin kali itu, sikapnya yang biasanya ceria digantikan oleh ekspresi muram.

“Manik,” Abigail memulai, suaranya diwarnai dengan nada mendesak, “aku sudah bertanya-tanya tentang Seynald. Kamu tidak akan percaya dengan apa yang aku temukan...”

Jantung Manik berdebar kencang mendengar temannya yang hilang disebutkan, “ada apa, Abigail? Apa yang kamu temukan?”

Abigail menarik napas dalam-dalam, matanya mencerminkan betapa pentingnya penemuannya. "Bukan hanya tentang Seynald yang menghilang, Manik. Ini lebih buruk lagi. Semua orang—setiap siswa di akademi—telah melupakannya. Sepertinya dia tidak pernah ada."

Manik menatapnya tak percaya, "apa maksudmu, apakah mereka sudah melupakannya? Itu tidak mungkin!"

Abigail menggelengkan kepalanya, ekspresinya muram, "aku ngobrol dengan teman-teman yang dekat dengan dia, teman-teman di tim basket kita, bahkan juga para guru. Tidak ada yang mengingatnya, Manik. Saat aku menyebut namanya, mereka menatapku seperti aku sudah gila! Seynald seperti terhapus dari ingatan mereka sepenuhnya."

Manik merasakan hawa dingin merambat di punggungnya. Membayangkan kata-kata Abigail membuatnya sedikit merasakan kengerian. "Tapi kenapa? Bagaimana bisa semua orang melupakannya begitu saja? Seynald nyata, dia ada di sini sebelumnya sebagai murid akademi!"

Abigail meletakkan tangannya yang menenangkan di bahu Manik. "Aku tidak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi, tapi menurutku hal ini ada hubungannya dengan mitos yang sedang kita ungkap. Tentang akademi, tentang penghilangan orang, tentang Navaphare yang kamu coba selesaikan itu, semuanya ada hubungannya, Manik."

Manik mengepalkan tangannya, campuran kemarahan dan tekad melonjak dalam dirinya. “Kita harus mencari tahu kebenarannya, Abigail. Kita tidak bisa membiarkan Seynald dilupakan seperti ini. Harus ada cara untuk mengembalikan ingatan mereka, untuk membuktikan dia ada.”

Abigail mengangguk, matanya dipenuhi tekad. "Kita akan mencari tahu masalahnya, Manik. Bersama-sama, oke? Tapi kita harus berhati-hati, kamu pun harus berjanji soal itu kepadaku. Siapa pun—atau apa pun itu—yang berada di balik semua ini tidak ingin kita menggali lebih dalam soal mitos akademi."

Manik berjanji kepada Abigail mengenai hal itu, menepuk kedua bahu perempuan itu dan berkata, "janji", kalimat yang ingin Abigail dengar, membuat hatinya lega. Mereka pun setelah itu, berdiri dan memilih untuk menemukan beberapa petunjuk kembali.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Untuk Takdir dan Kehidupan Yang Seolah Mengancam
1004      710     0     
Romance
Untuk takdir dan kehidupan yang seolah mengancam. Aku berdiri, tegak menatap ke arah langit yang awalnya biru lalu jadi kelabu. Ini kehidupanku, yang Tuhan berikan padaku, bukan, bukan diberikan tetapi dititipkan. Aku tahu. Juga, warna kelabu yang kau selipkan pada setiap langkah yang kuambil. Di balik gorden yang tadinya aku kira emas, ternyata lebih gelap dari perunggu. Afeksi yang kautuju...
SUN DARK
530      363     1     
Short Story
Baca aja, tarik kesimpulan kalian sendiri, biar lebih asik hehe
Move on
63      42     0     
Romance
Satu kelas dengan mantan. Bahkan tetanggan. Aku tak pernah membayangkan hal itu dan realistisnya aku mengalami semuanya sekarang. Apalagi Kenan mantan pertamaku. Yang kata orang susah dilupakan. Sering bertemu membuat benteng pertahananku goyang. Bahkan kurasa hatiku kembali mengukir namanya. Tapi aku tetap harus tahu diri karena aku hanya mantannya dan pacar Kenan sekarang adalah sahabatku. ...
SIREN [ RE ]
737      445     5     
Short Story
nyanyian nya mampu meluluhkan hati. namanya dan suara merdunya mengingatkanku pada salah satu makhluk mitologi.
Campus Love Story
10535      3042     1     
Romance
Dua anak remaja, yang tiap hari bertengkar tanpa alasan hingga dipanggil sebagai pasangan drama. Awal sebab Henan yang mempermasalahkan cara Gina makan bubur ayam, beranjak menjadi lebih sering bertemu karena boneka koleksi kesukaannya yang hilang ada pada gadis itu. Berangkat ke kampus bersama sebagai bentuk terima kasih, malah merambat menjadi ingin menjalin kasih. Lantas, semulus apa perjal...
Antara Tol dan Nasi Bebek
152      142     0     
Romance
Sebuah kisah romantis yang ringan, lucu, namun tetap menyisakan luka dalam diam.
Contract Lover
14185      3311     56     
Romance
Antoni Tetsuya, pemuda mahasiswa kedokteran tanpa pengalaman romansa berusia 20 tahun yang sekaligus merangkap menjadi seorang penulis megabestseller fantasy komedi. Kehidupannya berubah seketika ketika ia diminta oleh editor serta fansnya untuk menambahkan kisah percintaan di dalam novelnya tersebut sehingga ia harus setengah memaksa Saika Amanda, seorang model terkenal yang namanya sudah tak as...
LOVEphobia
515      364     5     
Short Story
"Aku takut jatuh cinta karena takut ditinggalkan” Mengidap Lovephobia? Itu bukan kemauanku. Aku hanya takut gagal, takut kehilangan untuk beberapa kalinya. Cukup mereka yang meninggalkanku dalam luka dan sarang penyesalan.
Say Your Love
617      482     2     
Short Story
Dien tak pernah suka lelaki kutu buku sebelumnya. Mereka aneh, introvert, dan menyebalkan. Akan tetapi ada satu pengecualian untuk Arial, si kutu buku ketua klub membaca yang tampan.
Forbidden Love
11143      2899     3     
Romance
Ezra yang sudah menikah dengan Anita bertemu lagi dengan Okta, temannya semasa kuliah. Keadaan Okta saat mereka kembali bertemu membuat Ezra harus membawa Okta kerumahnya dan menyusun siasat agar Okta tinggal dirumahnya. Anita menerima Okta dengan senang hati, tak ada prangsaka buruk. Tapi Anita bisa apa? Cinta bukanlah hal yang bisa diprediksi atau dihalangi. Senyuman Okta yang lugu mampu men...