Read More >>"> Love 90 Days (Chapter 20 - "Lo ... beneran nggak ada tertarik-tertariknya gitu sama gue?") - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Love 90 Days
MENU
About Us  

Bisu.

Sepanjang perjalanan mereka lalui dalam diam. Ara sudah menyetel GPS di dasbor mobil Iago sehingga dia tidak perlu lagi bertanya lokasi rumahnya.

“Gue minta maaf,” ujar Iago, diam-diam melirik Ara.

Ara tak merespons.

“Ra, gue minta maaf,” ulang Iago, berharap mendapat respons.

Namun ditunggu beberapa saat, Ara sama sekali tak merespons.

“Ra....”

Ara terjingkat dan celingukan. “Siapa tuh yang manggil-manggil gue? Dih, merinding gue. Ada suaranya tapi nggak ada orangnya.”

Iago mendengus pelan. Jujur dalam hatinya tertawa-tawa melihat cewek itu ngambek. Namun dia berusaha keras mempertahankan ekspresi datarnya.

Setelahnya, situasi kembali hening. Ara tampak sibuk sendiri dengan ponselnya, sedangkan Iago memilih untuk berkonsentrasi mengemudi, dia tidak mau mengganggu Ara yang terlihat masih ngambek. Baru setelah masuk ke kompleks perumahan tempat tinggalnya, Ara menyudahi kesibukannya dengan ponsel dan memasukkan benda itu ke saku depan kemejanya.

“Rumah lo yang mana?” tanya Iago, dia memelankan laju mobilnya. Sebetulnya pertanyaan ini hanya sekadar formalitas saja, Iago sudah tahu di mana letak rumah Ara sejak membuntuti cewek itu tempo hari.

“Itu. Yang halamannya banyak kaktusnya,” jawab Ara ketus.

Iago menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah berpagar putih. Seperti yang Ara bilang tadi, halaman rumah berlantai dua itu memang penuh dengan pot-pot kaktus dari berbagai macam jenis.

“Kayaknya rumah sama halaman lo, lebih luas halamannya.” Iago berkomentar tanpa sadar.

“Emang,” sahut Ara, masih sewot. “Gue masuk dulu. Makasih tumpangannya. Dadaaah....”

“Eh, tunggu, Ra—” Iago berusaha menyetop Ara, tapi cewek itu sudah berjalan memasuki halaman rumahnya. Dari sini Iago dapat melihat Ara yang kebingungan di depan pintu rumah, sedang mengaduk-aduk tas sekolahnya.

Tanpa pikir panjang, Iago turun dan menghampiri Ara. “Lo kenapa?”

“Gue lupa nggak bawa kunci rumah,” sahut Ara setengah mengomel. Dia lalu menelepon seseorang. “Vi, lo di mana?” Sebuah helaan panjang menandakan jika lawan bicaranya juga tidak bisa membantu. “Oh, ya udah deh. Lo sama Monic, have fun ya.”

Iago mengedarkan pandangan ke setiap sudut yang bisa dijangkaunya. Rumah dua lantai yang didominasi oleh warna putih ini memiliki desain minimalis. Ukuran rumahnya sendiri tidak besar, tapi halamannya yang lebih luas membuat keseluruhan rumah ini terkesan lapang.

Sepi. “Emang pada ke mana semua?” tanya Iago.

“Bokap sama nyokap kerja. Herder gue kuliah semua.”

Kening Iago berkerut samar mendengar kata herder. Mendadak dia ingat peringatan Alan sewaktu di lapangan basket tempo hari. “Herder lo kuliah?” Iago masih tidak menangkap apa maksud kata ‘herder’ tersebut.

“Iyaaa.” Ara memutar mata. “Kakak kembar gue. Saking galaknya, temen-temen gue nyebutnya herder.”

“Dan kakak lo nggak apa-apa?”

“Mereka malah bangga kayaknya.” Ara menatap tajam ke arah Iago. “Lo kenapa masih di sini?”

Dan yang ditanya malah balas bertanya, “Lo kenapa kalau ngelihat gue bawaannya pengin ngamuk terus sih?”

“Ya karena muka lo itu ngeselin banget.”

Iago tersenyum tipis, merasa lucu dengan ekspresi Ara saat ini. “Masa lihat orang ganteng kayak gue lo malah kesel?” godanya.

Ara mendelik.

“Udah, kita cabut aja,” ajak Iago.

“Lo aja yang cabut sana. Huss.... Huss....”

“Terus lo mau ke mana? Nungguin di sini sampai orangtua sama herder lo pulang?” Iago melihat jam tangannya. “Ini masih setengah tiga.”

“Gue mau ngegembel aja di sini.”

“Gue temenin lo.”

“Nggak usah!”

Iago mendesah pasrah. Dia mengambil posisi duduk di teras dan bersandar pada pintu rumah. “Ego sama hati lo keras banget ya,” gumamnya.

Ara melayangkan tatapan penuh tanda tanya pada Iago.

“Lo yakin lo benci sama gue?” tanya Iago.

Bukannya menjawab, Ara malah balik bertanya, “Menurut lo?”

Iago mengedikkan bahu.

“Gue awalnya nggak benci sama lo. Gue tahu siapa lo, but I don’t care.”

“Lo ... kenapa nggak pernah coba temenan sama gue?” tanya Iago ragu-ragu, karena setahunya Ara adalah cewek supel yang gampang berteman dengan siapa saja.

“Karena lo terlalu jauh buat gue jangkau. Jadi ... yah, gue nggak kepikiran ke arah sana. Lagian lo sendiri juga nggak pernah coba temenan sama gue.”

Iago tersenyum kecut. “I did. Tapi lo nggak mau.”

“Lo minta bantuan gue, Go. Bukan minta temenan.”

“Gue bingung gimana caranya temenan sama cewek.” Iago menggaruk tengkuknya sembari cengar-cengir tak jelas.

“Wah, lo kalau mau bercandain gue yang agak lucu dikit dong!”

“Gue serius,” sahut Iago, berusaha terlihat meyakinkan.

Sebenarnya ada sedikit kebohongan di sini, tapi juga tidak bisa dibilang sepenuhnya bohong. Seumur-umur, Iago hanya pernah dekat dengan satu cewek dan itu cukup memberinya pelajaran jika cewek hanya akan mendekat ketika mereka merasa diuntungkan.

“Lo ... beneran nggak pernah punya temen cewek?” tanya Ara keheranan.

Iago menggeleng. “Status sosial gue itu petaka buat gue. Cewek-cewek ngedeket, berusaha menarik perhatian gue, terus ujung-ujungnya mereka ribut sendiri. Males gue,” terang Iago.

“Kok kesannya lo sok pangeran banget,” cibir Ara, sembari mengorek telinganya dengan kelingking.

“Gue Prince, Ra. Itu kenyataan.”

“Oh....”

Iago tercenung mendengar respons singkat Ara. Tumben-tumbenan cewek galak itu tidak menyalak. Seulas senyum terlukis di wajah Iago, dia berpikir kalau hati Ara mungkin sudah mulai melunak padanya.

“Tapi gue ngerasa nyaman deket sama lo, meski lo selalu ngedorong gue menjauh,” ujar Iago.

Ara yang tadinya acuh tak acuh seketika memperhatikannya. Mata cewek itu menyipit, menyiratkan rasa tidak percaya. Iago balas menatap Ara, hatinya penasaran, sebab dari semua cewek yang ditemuinya, hanya Ara yang sama sekali tidak tergerak untuk menarik perhatiannya. Malahan, cewek itu cenderung tidak menyukainya.

“Go,” Ara berjalan lambat mendekati Iago, kemudian duduk di sebelah kanan cowok itu, “seinget gue, kita berdua nggak pernah deket deh. Orang kalau ketemu aja kita bawannya ribut terus.”

“Kan lo yang selalu ngajakin ribut. Gue samperin baik-baik, ajakin ngomong baik-baik, tapi lo ngegas melulu,” balas Iago.

Ara mendengus. Ekspresinya mengamini apa yang Iago katakan, tapi mulutnya terkunci seolah mengingkarinya.

“Ra....”

“Hm?”

“Gue ... boleh tanya sesuatu sama lo?”

“Tanya aja.”

“Lo ... beneran nggak ada tertarik-tertariknya sama gue gitu?”

Tak ada jawaban. Atmosfer rumah yang memang sepi terasa dua kali lebih sepi. Iago memberanikan diri melirik Ara yang duduk di sebelahnya. Pipi cewek itu agak bersemu merah, kedua sudut bibirnya sedikit terangkat.

“Ha ha ha!” Ara terbahak keras-keras.

Iago yang tadinya berpikir jika Ara tengah tersipu, kini terbengong-bengong sendiri.

“Eh, Iago Varden Kresna,” Ara menyebut nama lengkap Iago dengan gaya yang dilebih-lebihkan, “gue tahu lo itu emang tajir, ganteng, pinter.... Tapi bukan berarti semua cewek bakalan tertarik dan suka sama lo. Lo harus terima dong, kalau ada golongan cewek yang benci sama lo, salah satunya gue.”

Iago nyengir, menelan kekecewaannya. Memang, Iago tahu jika Ara tidak menyukainya, akan tetapi dia tidak pernah ditolak. Jadi wajar jika Iago tidak dapat menepis rasa kecewa yang menghampirinya.

“Gue tambah penasaran,” gumam Iago nyaris tak terdengar.

“Hah?”

“Nggak. Anggep aja setan penunggu rumah lo yang ngomong.”

“Ck, rumah gue nggak ada setannya! Udah ah, gue laper ngomong sama lo,” dengus Ara.

“Gue juga,” sahut Iago. “Mau makan dulu?”

“Di mana? Jangan yang mahal-mahal. Uang jajan gue bulan ini udah nipis banget. Khilaf beli-beli baju.”

“Gue yang traktir.”

“Ogah!”

Iago memutar otak. Cewek di sebelahnya ini memang berbeda dengan yang lainnya. Dalam hati dia bertanya, seperti apa kira-kira standar cowok Ara? Semua cowok yang mengejarnya bukan cowok ‘biasa’. Seringnya cowok-cowok itu adalah cowok populer di sekolahnya. Misalnya Alan, Hendra....

“Lo biasanya nongkrong di mana sama temen-temen lo?” tanya Iago.

“Tergantung.”

Iago menyipit.

“Kalau pas awal bulan ya di tempat yang agak mahalan dikit, Korean resto gitu misalnya. Pertengahan bulan kita nongkrong di McD, pesan paket hemat. Terus akhir bulannya ya cukup makan di kantin sekolah atau warteg atau kadang puasa gara-gara sisa duit buat patungan beli bensin mobilnya Vika.”

Mendengarnya, Iago ingin tertawa. Namun dia menahannya, takut suasana hati cewek di sebelahnya ini berubah lagi.

“Lo doyan bakso nggak?” tanya Ara tiba-tiba.

Iago menaikkan sebelah alisnya. “Doyan sih. Apalagi kalau makannya sama lo,” balasnya.

Ara nyengir. “Di depan kompleks ada warung bakso. Kecil sih tempatnya, tapi baksonya enak.”

“Ya udah, kita ke sana.”

“Oke. Tapi jalan kaki aja ya. Deket situ doang.”

Boleh juga, pikir Iago. Sebab sambil jalan mereka bisa mengobrol santai. Jujur banyak yang ingin diketahuinya mengenai Ara—yang ternyata bisa jadi cewek manis jika tidak sedang dalam mode membencinya.

“Oke, yuk!”

*

 

Iago mengekori Ara yang berjalan cepat. Rambut panjang Ara terlihat agak berantakan akibat gerakannya yang cekatan, membuat Iago gemas ingin menyodorkan karet gelang untuk menguncir rambut cewek itu.

“Tumben rambut lo nggak dikuncir,” komentar Iago.

Ara otomatis meraba rambutnya. “Pita gue kayaknya ketinggalan di kolong meja.”

Iago melepas wristband dari tangan kirinya dan menyodorkannya pada Ara, “Nih, lo pakai ini dulu.”

Sudah bisa ditebak, Ara menolaknya. “Nggak usah.”

“Kenapa? Niat gue kan baik.”

“Go,” Ara menatap Iago lurus-lurus sembari menggeleng perlahan, “tolong jangan bersikap baik ke gue.”

“Kenapa?” Sebuah tanda tanya besar terlihat jelas dari ekspresi wajah Iago. “Lo takut?”

“Takut?” Ara mengernyit.

“Ngaku aja, lo takut bakalan suka beneran sama gue. Ya, kan?”

“Sinting lo!” Setelahnya Ara kembali melangkah cepat, meninggalkan Iago yang masih menunggu penjelasan lebih darinya.

“Ra, lo kenapa suka banget sama kata sinting? Kosa kata di kepala lo isinya sinting semua, ya?” kejar Iago.

Ara menolak menjawab, melainkan terus berjalan sembari menyembunyikan senyum. Detik ini, untuk kali pertama Ara merasa bila Iago memliki selera humor yang lumayan.

Namun, sesaat sebelum benar-benar terhanyut, Ara tersadar. Pulang sekolah kali ini, dirinya diantar oleh cowok yang dibencinya. Cowok yang harusnya dia dorong jauh-jauh, akan tetapi malah dibiarkannya mendekat. Di satu sisi, Ara merasakan ada sesuatu yang baru—dan rasanya aneh. Pandangannya pada Iago perlahan berubah, cowok itu tak seburuk seperti waktu pertama kali mereka bertemu.

Ketakutan mulai menggelayuti hati Ara, tetapi dia tak berani mengakuinya. Keputusan Ara yang meminta Iago untuk mengantarnya pulang sekolah, tak disangka semakin mengikis karang kebencian di hatinya. Selain rasa simpati Ara pada Iago yang terus membengkak, kini timbul sebuah rasa lain yang selama ini terus ditepisnya. Ya, Ara mulai berpikir ingin menolong Iago.

Tidak! Tidak! Fokusnya adalah mencari ‘cowok kekurangan cinta’, dan Iago bukan salah satu dari mereka. Mau sebaik apa sosok Iago yang sebenarnya, Ara tidak boleh melunak. Sesenang apa pun hatinya saat bersama Iago, dia tidak boleh terlena.

“Ra, gimana kalau besok gue anterin lo pulang lagi?” tanya Iago yang terus-terusan mengejarnya.

“Nggak perlu,” Ara memantapkan hatinya sebelum melanjutkan, “karena ... hari ini adalah hari pertama dan terakhir lo nganterin gue pulang sekolah.”

*

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Maroon Ribbon
456      318     1     
Short Story
Ribbon. Not as beautiful as it looks. The ribbon were tied so tight by scars and tears till it can\'t breathe. It walking towards the street to never ending circle.
Siapa tengah malam di sekolah?
582      350     3     
Horror
Malam minggu menjadi agenda wajib rombongan geng Kapur. Mereka biasanya duduk dicafe menyanyikan lagu dan menyeduk segelas kopi. Malam minggu berikutnya mereka mendatangi sekolahnya. Kata orang-orang sekolah itu angker dihuni oleh teman-teman sekolah yang meninggal. Enam pasangan yang seharusnya berpesta di cafe kini bermain dalam gelap dengan riasan yang pucat. Pekikkan suara mereka tak s...
Ojek
782      532     1     
Short Story
Hanya cerita klise antara dua orang yang telah lama kenal. Terikat benang merah tak kasat mata, Gilang dihadapkan lagi pada dua pilihan sulit, tetap seperti dulu (terus mengikuti si gadis) atau memulai langkah baru (berdiri pada pilihannya).
Haruskah Ada Segitiga?
526      354     0     
Short Story
\"Harusnya gue nggak boleh suka sama lo, karena sahabat gue suka sama lo. Bagaimana bisa gue menyukai cewek yang disukai sahabat gue? Gue memang bodoh.” ~Setya~
Alfazair Dan Alkana
227      185     0     
Romance
Ini hanyalah kisah dari remaja SMA yang suka bilang "Cieee Cieee," kalau lagi ada teman sekelasnya deket. Hanya ada konflik ringan, konflik yang memang pernah terjadi ketika SMA. Alkana tak menyangka, bahwa dirinya akan terjebak didalam sebuah perasaan karena awalnya dia hanya bermain Riddle bersama teman laki-laki dikelasnya. Berawal dari Alkana yang sering kali memberi pertanyaan t...
Luka Adia
681      413     0     
Romance
Cewek mungil manis yang polos, belum mengetahui apa itu cinta. Apa itu luka. Yang ia rasakan hanyalah rasa sakit yang begitu menyayat hati dan raganya. Bermula dari kenal dengan laki-laki yang terlihat lugu dan manis, ternyata lebih bangsat didalam. Luka yang ia dapat bertahun-tahun hingga ia mencoba menghapusnya. Namun tak bisa. Ia terlalu bodoh dalam percintaan. Hingga akhirnya, ia terperosok ...
Sweeter Than Sweet Seventeen
666      474     5     
Short Story
Menunggu papa peka akan suatu hal yang aku impi - impikan. Namun semua berubah ketika ia mengajakku ke tempat, yang tak asing bagiku.
Pasha
1114      478     3     
Romance
Akankah ada asa yang tersisa? Apakah semuanya akan membaik?
MANGKU BUMI
113      104     2     
Horror
Setelah kehilangan Ibu nya, Aruna dan Gayatri pergi menemui ayahnya di kampung halaman. Namun sayangnya, sang ayah bersikap tidak baik saat mereka datang ke kampung halamannya. Aruna dan adiknya juga mengalami kejadian-kejadian horor dan sampai Aruna tahu kenapa ayahnya bersikap begitu kasar padanya. Ada sebuah rahasia di keluarga besar ayahnya. Rahasia yang membawa Aruna sebagai korban...
The Story of Fairro
2203      792     3     
Horror
Ini kisah tentang Fairro, seorang pemuda yang putus asa mencari jati dirinya, siapa atau apa sebenarnya dirinya? Dengan segala kekuatan supranaturalnya, kertergantungannya pada darah yang membuatnya menjadi seperti vampire dan dengan segala kematian - kematian yang disebabkan oleh dirinya, dan Anggra saudara kembar gaibnya...Ya gaib...Karena Anggra hanya bisa berwujud nyata pada setiap pukul dua ...