Loading...
Logo TinLit
Read Story - Gareng si Kucing Jalanan
MENU
About Us  

Rio sedang mengikat kandang tersebut dengan tali untuk dibawa di tempat kios milik ibunya. Sedangkan si ibu pedagang sudah pergi seusai solat subuh. Ia tidak sabar untuk segera memberinya hadiah kepada si kucing malang yang kemaren baru ditemuinya.

"Pak, aku berangkat ke pasar dulu ya?" pamit Rio sambil mencium tangan Bapak.

"Nanti, aku lanjut berangkat ke kampus. Hari ini Rio ada kuliah sampai sore, Pak", lanjutnya lagi sambil menstarter motor kesayangannya.

"Ya Nak hati-hati, ya!" seru Bapak sambil menunggu anaknya untuk berangkat.

Setelah ia menaiki motornya, ia segera melajukan ke arah jalan raya. Pagi ini jalanan sudah dipenuhi beberapa angkutan umum. Ia mengemudikan dengan hati-hati karena membawa barang yang lumayan besar. Hanya butuh beberapa menit untuk sampai di pasar, sehingga Rio segera memarkirkan motornya ke tempat biasa dan langsung menggotong kandang tersebut. Selama ia berjalan, banyak orang yang melihat ke arahnya. Mungkin penasaran benda apa yang dibawa oleh Rio.

"Assalamu'alaikum Bu?" sapa Rio.

Si ibu yang sedang menghitung barang dagangan masuk segera menoleh ke asal suara tersebut.

"Nak, sini. Taruh aja disini!" pinta si Ibu dengan membawa buku catatannya.

Rio segera menaruh kandang di tempat yang ditujukan oleh ibunya. Ia melihat tiga kucing kecil masih tertidur pulas sedangkan induknya entah pergi kemana.

"Bu, induknya kemana kok nggak ada?" tanya Rio sambil mengelus kucing kecil yang terlihat menggemaskan.

"Ibu tadi waktu sampai di kios ini sempat ketemu sebentar kok. Nggak tahu ya dia dimana sekarang? Mungkin cari makan kali", pikir si Ibu.

Anak lelakinya masih sibuk memandangi kucing tersebut karena ia ingin bermain dengannya sebentar. Dari kecil Rio memang sudah suka dengan kucing, biasanya waktu masih suka bermain di luar bersama teman-temannya, ia selalu mengajak kucing jalanan yang baru ditemuinya untuk diajaknya pulang ke rumah. Waktu sudah di rumah, ia selalu memberikan makanan berupa ikan. Kebiasaan ini sudah diketahui oleh Bapak dan juga si Ibu. Namun, karena rumahnya yang kecil dan tidak banyak tempat yang luas akhirnya Rio hanya bisa memberi makan kucing liar. Dari hatinya yang terdalam ia sangat ingin rasanya untuk memelihara kucing, disisi lain pasti bisa dijadikan hiburan ketika perasaannya sedang suntuk memikirkan tugas yang menumpuk. Namun apa daya kondisi yang seperti itu hanya bisa jadi angan saja.

"Wah, Bu. Beli kandang baru ya?" tanya salah satu orang pedagang sayur yang melihat benda itu berada di kios sana.

"Nggak Bu. Ini si Rio dan Bapaknya yang bikin kandangnya dari kayu", jawab si Ibu.

"Wahhh, hebat banget kamu Rio bisa membangun rumah untuk kucing jalanan seperti itu", puji pedagang sayur tersebut.

Rio yang mendengar pujian tersebut semakin bangga akan kerja kerasnya kemarin. Butuh perjuangan untuk merangkai kayu hingga menjadi bangunan yang kokoh.

"Iya Bu. Terima kasih".

Si ibu melirik anaknya yang terlihat senang. Beliau terenyuh dengan keteguhan anak lelakinya yang ingin menyelamatkan si induk beserta anak-anaknya agar tidak kedinginan. Segera, Rio mengangkat kucing kecil itu untuk dimasukkan ke dalam kandang. Kucing kecil tersebut pun hanya bisa terheran-heran melihat rumah barunya. Rio yang melihat itu hanya bisa tertawa geli.

"Sudah ada kain untuk alasnya? " tanya si ibu pedagang sayur tersebut yang turut melihat kandang kayu itu.

Mereka berdua menggeleng pelan, karena dari kemarin mereka sudah mencoba untuk mencari kain yang sudah tidak dipakai, namun karena bulan lalu ada tetangganya yang membutuhkan kain perca untuk mengerjakan tugas, akhirnya di berikanlah kain tersebut kepada tetangganya.

"Tak usah khawatir, aku punya beberapa kain yang bisa menghangatkan mereka. Tunggu sebentar!"

Rio dan si ibu hanya saling berpandangan karena orang tersebut mau membantu memberikan kain bekas. Ternyata, masih ada yang peduli dengan kehadiran kucing jalanan ini.

Tak menunggu lama, si ibu tadi datang dengan tergopoh-gopoh sambil membawa benda yang dibutuhkan.

"Ini dia kainnya, semoga mereka tidak khawatir lagi jika kedinginan", ucap orang tersebut sambil menyerahkan beberapa kain yang agak tebal ke arah Rio.

Ia segera menerima kain tersebut dan mengucapkan terima kasih, segera ia menyelimuti anak kucing itu dengan hati-hati.

"Wah, Bu. Lihatlah dia merasa nyaman berkat kain ini", ujar Rio sambil tersenyum senang.

Si ibu yang sedang mengamati juga tak kalah senangnya.

"Sekali lagi. Terima kasih banyak Bu", jawab mereka kompak. Lalu, si ibu Rio berinisiatif untuk memberi bawang satu kantong plastik sebagai ucapan rasa terima kasih yang terdalam.

"Bu, jangan repot-repot. Disini aku ikhlas membantu. Lagi pula melihat kucing kecil yang seperti itu aku juga merasa kasihan. Kita sebagai makhluk hidup sudah sepatutnya untuk saling tolong menolong", jawab si ibu pedagang sayur berusaha menolak pemberian dari ibu Rio.

"Terimalah, Bu. Anggap saja aku memang sedang ingin memberi ibu sekantong bawang ini. Lumayan Bu tidak perlu beli disaat harga bawang sedang naik", bujuk ibu Rio.

Setelah menimang pemberian tersebut, akhirnya si ibu pedagang sayur mau menerima dengan tulus.

"Ya sudah, saya terima bawang ini. Terima kasih. Ngomong-ngomong, kalau butuh kain bekas lagi, jangan sungkan untuk bilang kepadaku karena aku punya banyak sekali kain yang sudah tidak digunakan".

"Baik, Bu. Sekali lagi terima kasih", ucap Rio dengan sopan.

Akhirnya, si ibu tersebut pamit untuk berjualan lagi. Rio masih menunggu kedatangan si induk yang belum kembali.

"Bu, kok lama ya dia belum balik?" tanyanya kemudian.

"Nak, namanya kucing ya masih asyik jalan-jalan. Mungkin masih makan atau sedang bertemu dengan kucing lain sehingga agak lama", jawab si ibu.

"Aku jadi nggak sabar nih kasih surprise buat induknya".

Si ibu yang mendengar hanya bisa tertawa.

"Jangan kira kamu saja yang nggak sabar. Ibu juga lho".

Matahari sudah tampak semakin menyinari bumi, Orang-orang juga semakin ramai untuk memadati pasar. Mereka berdua masih menunggu kedatangan induk yang belum juga kembali. Rio yang duduk di sebelah kandang hanya bisa mengamati aktivitas orang yang berlalu lalang, dan sesekali membantu ibunya yang sedang melayani jika pembeli terlihat banyak.

"Huh, untung ya ibu sekarang ada yang menemani. Coba kalo lagi sendiri pasti bosen banget", keluh Rio.

"Hahaha, ya mau gimana lagi. Ini kerjaan ibu sehari-hari yang nungguin pembeli datang. Biasanya ibu kalo bosan ya lihat youtube di HP. Tapi setelah kedatangan kucing itu, ibu jadi bisa memerhatikan tingkah laku mereka yang menggemaskan", jelas ibu.

Rio mengangguk paham. Ia merasa kasihan jika ibunya seharian hanya duduk disini. Sementara si Bapak bekerja sebagai satpam di gedung perkantoran. Kehidupan Rio bisa dibilang pas-pasan. Namun karena ketekunan dalam belajar, akhirnya ia bisa mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Sebenarnya, Rio ingin membantu ibunya berjualan di pasar, namun karena tugasnya yang semakin menumpuk maka niat itu diurungkan. Selama berkuliah, ia selalu rajin untuk mengikuti perkuliahan tanpa absen sekalipun. Ia tidak ingin menyia-nyiakan beasiswanya, baginya ini momen langka untuk bisa meraih gelar sarjana dari kalangan keluarga ekonomi menengah ke bawah.

"Nak", tegur si Ibu.

Rio yang merasa dipanggil akhirnya sadar dari lamunannya dan menoleh ke arah ibunya yang sedang menatapnya dengan tatapan heran.

"Kamu ngelamunin apa toh? Kok ibu panggil nggak denger".

"Oohh, ng-nggak kok Bu. Nggak ngelamunin apa-apa", jawab Rio gelagapan.

"Ya sudah cepat kamu berangkat kuliah sana, nanti kamu malah telat!", perintah si ibu.

"Baik, Bu. Rio berangkat dulu ya. Assalamu'alaikum", ucap Rio sambil mencium tangan ibunya.

"Wa'alaikumussalam, Hati-hati ya Nak, belajar yang tekun!"

Namun setelah berjalan beberapa meter, langkah Rio tiba-tiba terhenti lalu ia segera membalikkan badannya ke arah ibunya.

"Ada apa lagi? Ada yang ketinggalan?" tanya si ibu dengan heran.

"Nggak Bu, nggak ada yang ketinggalan kok. Rio lupa belum titip salam sama si induk kucing, nanti kalo sudah balik sampaikan salamku ya Bu", jawab Rio sambil melanjutkan langkahnya ke tempat parkir motor

Si ibu yang mendengar hanya tertawa melihat tingkah laku anaknya.

"Iyaa, nanti ibu sampaikan salammu kepada si induk kucing", seru Ibu.

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (1)
  • antonvw

    Menurut saran saya, kalau ditambahkan kucing berburu tikus akan lebih alami.

    Comment on chapter Perpisahan yang Menyakitkan
Similar Tags
THE HISTORY OF PIPERALES
2319      994     2     
Fantasy
Kinan, seorang gadis tujuh belas tahun, terkejut ketika ia melihat gambar aneh pada pergelangan tangan kirinya. Mirip sebuah tato namun lebih menakutkan daripada tato. Ia mencoba menyembunyikan tato itu dari penglihatan kakaknya selama ia mencari tahu asal usul tato itu lewat sahabatnya, Brandon. Penelusurannya itu membuat Kinan bertemu dengan manusia bermuka datar bernama Pradipta. Walaupun begi...
Rembulan
1504      902     2     
Romance
Orang-orang acap kali berkata, "orang yang gagal dalam keluarga, dia akan berhasil dalam percintaan." Hal itu tidak berlaku bagi Luna. Gadis mungil dengan paras seindah peri namun memiliki kehidupan seperti sihir. Luna selalu percaya akan cahaya rembulan yang setiap malam menyinari, tetapi sebenarnya dia ditipu oleh alam semesta. Bagaimana rasanya memiliki keluarga namun tak bisa dianggap ...
Menuntut Rasa
580      454     3     
Short Story
Ini ceritaku bersama teman hidupku, Nadia. Kukira aku paham semuanya. Kukira aku tahu segalanya. Tapi ternyata aku jauh dari itu.
FaraDigma
6548      2565     1     
Romance
Digma, atlet taekwondo terbaik di sekolah, siap menghadapi segala risiko untuk membalas dendam sahabatnya. Dia rela menjadi korban bully Gery dan gengnya-dicaci maki, dihina, bahkan dipukuli di depan umum-semata-mata untuk mengumpulkan bukti kejahatan mereka. Namun, misi Digma berubah total saat Fara, gadis pemalu yang juga Ketua Patroli Keamanan Sekolah, tiba-tiba membela dia. Kekacauan tak terh...
Begitulah Cinta?
19908      4368     5     
Romance
Majid Syahputra adalah seorang pelajar SMA yang baru berkenalan dengan sebuah kata, yakni CINTA. Dia baru akan menjabat betapa hangatnya, betapa merdu suaranya dan betapa panasnya api cemburu. Namun, waktu yang singkat itu mengenalkan pula betapa rapuhnya CINTA ketika PATAH HATI menderu. Seakan-akan dunia hanya tanah gersang tanpa ada pohon yang meneduhkan. Bagaimana dia menempuh hari-harinya dar...
Ending
5692      1581     9     
Romance
Adrian dan Jeana adalah sepasang kekasih yang sering kali membuat banyak orang merasa iri karena kebersamaan dan kemanisan kedua pasangan itu. Namun tak selamanya hubungan mereka akan baik-baik saja karena pastinya akan ada masalah yang menghampiri. Setiap masalah yang datang dan mencoba membuat hubungan mereka tak lagi erat Jeana selalu berusaha menanamkan rasa percayanya untuk Adrian tanpa a...
Ketika Kita Berdua
41361      7177     38     
Romance
Raya, seorang penulis yang telah puluhan kali ditolak naskahnya oleh penerbit, tiba-tiba mendapat tawaran menulis buku dengan tenggat waktu 3 bulan dari penerbit baru yang dipimpin oleh Aldo, dengan syarat dirinya harus fokus pada proyek ini dan tinggal sementara di mess kantor penerbitan. Dia harus meninggalkan bisnis miliknya dan melupakan perasaannya pada Radit yang ketahuan bermesraan dengan ...
STORY ABOUT THREE BOYS AND A MAN
16312      3752     34     
Romance
Kehidupan Perkasa Bagus Hartawan, atau biasa disapa Bagus, kadang tidak sesuai dengan namanya. Cintanya dikhianati oleh gadis yang dikejar sampai ke Osaka, Jepang. Belum lagi, dia punya orang tua yang super konyol. Papinya. Dia adalah manusia paling happy sedunia, sekaligus paling tidak masuk akal. Bagus adalah anak pertama, tentu saja dia menjadi panutan bagi kedua adiknya- Anggun dan Faiz. Pan...
Secarik Puisi, Gadis Senja dan Arti Cinta
1314      894     2     
Short Story
Sebuah kisah yang bermula dari suatu senja hingga menumbuhkan sebuah romansa. Seta dan Shabrina
Tetesan Air langit di Gunung Palung
585      420     0     
Short Story
Semoga kelak yang tertimpa reruntuhan hujan rindu adalah dia, biarlah segores saja dia rasakan, beginilah aku sejujurnya yang merasakan ketika hujan membasahi