Loading...
Logo TinLit
Read Story - Elevator to Astral World
MENU
About Us  

“Sampai besok, yaa!” Daniel menggeber-geber mesin motor bututnya, asap hitam mengepul hingga membuatku tersedak-sedak.

“Hati-hati di jalan!” Aku berteriak, dibalas lambaian tangannya yang sudah berada di kejauhan. Angel sendiri sudah dijemput supir pribadi dari keluarga Millian, menyisakan aku seorang yang jalan kaki jika ingin pulang.

Daniel sudah beberapa kali menawarkan kursi belakangnya, tapi biasanya kutolak karena rumah kami yang tak sejalan. Tapi hari ini, alasannya karena aku ingin mendapat ramalan.

Kota yang seharusnya tampak sempit di peta dan layar internet, terlihat membentang luas dari balik lensa mata, apalagi jika harus berjalan kaki. Bundaran ikonik bambu runcing tertancap, hiruk pikuk keramaian di pelabuhan tak pernah padam apapun waktunya, hutan dan pohon di belakang kota selalu membayangi, sopir angkot mengklaksonku dengan pelan sambil mengarahkan kendaraannya untuk mengikutiku dengan pelan.

Menggeleng kepala, mereka akhirnya pergi juga.

Jalan aspal penuh lubang kecil dan besar, bau manis dari sepeda penjaja es krim jalanan membuatku tertarik untuk membelinya, tapi kulewatkan karena tak higenis. Pembagian ke jalan kecil menuju gang tempat apartemenku ada di depan mata, aku memutuskan berjalan terus ke simpang T.

Langit sudah sepenuhnya gelap, kewaspadaanku meningkat tinggi saat melewati area dekat tempat pembuangan sampah yang katanya rawan maling.

Setelah menyusuri tepian sungai dan berbelok ke belakang pasar tradisional, aku akhirnya sampai juga.

Lokasinya di sudut kota, berbanding terbalik dengan apartemen tempatku tinggal. Bangunan fondasi kayu ini berbaur mantap dengan atmosfer perumahan sekelilingnya yang antara terbengkalai, atau ditinggali oleh tetangga yang berkaraoke volume konser atau pembangunan rumah yang lanjut hingga jam kerja lembur. Berjumlah 2 tingkat, atapnya diselimuti oleh daun pisang yang layu, kombinasi bau bawang merah putih yang halus dan minyak telon seperti memaksaku untuk menghentikan niat masuk. Anak bau tengik penuh lumpur menendangku dengan bola mereka, sepertinya tak sengaja.

Aku menendang balik ke arah mereka, mereka langsung kabur.

Dari semua yang kukenal, hanya orang ini saja yang punya pengetahuan tentang hal semacam ini. Hanya orang ini saja yang punya keseriusan, harta, dan waktu senggang untuk meneliti hal bodoh semacam pengalaman supernatural.

Membuka pagar reot yang tak digembok, aku memberanikan diri mengetuk pintu.

Tak ada respon.

Aku mengetuk lagi, sesosok bayangan hitam muncul dari balik jendela. Pintu terbuka.

“Selamat datang ... ohh, kita lihat siapa ini? Rupanya adik laki-lakiku yang super imut dan menggemaskan!” Tinggi badan abnormal 182 cm meski bukan pemain basket, sosok wanita berambut biru panjang mengelus-ngelus rambutku sambil mencubit pipiku, tangan mengambil setoples cookies di samping pintu masuk, menyuapiku.

Riselia Edgeward, anak tertua dari 2 bersaudara paman dan bibi. Wajahnya cantik, mungkin dapat lolos audisi model jika ia berniat mencobanya, bintik-bintik di sekitar hidung masih sama seperti yang kulihat saat masih kecil.

“Adik sepupu, tolong.”

“Kau tak bawa siapa-siapa ke sini, kan?” Pandangannya jauh mengarah ke belakang punggungku.

“Tidak, aku hanya seorang.” Aku mengunyah dengan lahap. Begini-begini, ini juga salah satu dari sumber penghasilan utamanya selain hobi aneh nan nyentriknya ini.

Konter aneh yang penuh dengan tanaman herbal dengan bau menyengat menyapaku, ruang depan yang sempit diselingi oleh jam diri klasik dan perabotan berdesain mewah. Ventilasi untuk pengeluaran hawa tak sedap ada di mana-mana, tangga menuju lantai atasnya hampir tertimbun oleh karung beras dan cabe.

“Datang meramaikan tokoku? Atau aku akhirnya telah dapat membujukmu untuk belajar ilmu divinasi yang kugeluti?”

Ah, kalau dipikir-pikir, orang ini rutin mengirimiku pesan setiap minggunya untuk bergabung ke dalam sekte sesatnya. “Tidak, terima kasih. Tapi aku mungkin punya kondisi yang akan membuat anda tertarik, kakak sepupu.” Aku menekankan nadaku di kata terakhir, karena ia sepertinya sering lupa akan itu.

“Oh?” Matanya menoleh kepadaku layaknya predator yang sedang memburu mangsanya. “Coba ceritakan.”

“Uhm, bagaimana cara menjelaskannya ...”

“Jelaskan saja.” Teh merah cerah disuguhkan, baunya yang harum dan rasa manisnya menenangkan pikiran. Pantat terbenam di sofa empuk, kekhawatiran dan degupan jantung yang kecepatannya tak normal serasa hanya memori masa lalu yang sudah lama terlewatkan.

“Kurasa kau tak akan mempercayainya.”

“Oh, tolonglah, adik kecilku. Bukan peranmu untuk diragukan olehku.”

“Uhm, oke. Jadi belakangan ini, aku rasa aku sering melihat penampakan. Kau tahu, mungkin semacam hantu ... kurasa?”

Kilauan mata hitamnya berubah menjadi cahaya berlian, wajah mendekatiku hingga hidung saling menempel satu sama lain. “Ceritakan lebih lanjut.”

Antusiasmenya mendorong badanku ke sandaran, tanganku berusaha menyingkirkan wajahnya yang terlalu dekat. “Singkirkan dulu wajah anda. Anda terlalu dekat, kak!”

“Oops, maaf. Kau masih tak suka kontak fisik, eh?”

“Kau yang terlalu suka hal itu, kak.”

“Jadi?” Matanya masih berkilauan.

Kalau dipikir-pikir, aku baru ingat sama sekali tak ada bukti fisik tentang klaimku sekarang. “Aku tak punya bukti, tapi aku beberapa kali melihat genangan bayangan hitam di foto yang diambil dari kamera temanku.”

“Hmm, menarik. Apa bayangan itu membentuk sesuatu yang spesifik?”

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Hanya tebakan.” Riselia menatapku dengan kepastian orang yang professional di bidangnya.

“Oke, ya, mereka seperti membentuk siluet seorang wanita. Yang paling jelas yang dapat kulihat adalah seorang wanita berpakaian kantor dengan mata memerah.”

“Okeee, kucatat.” Riselia benar-benar mencatatnya dalam sebuah kertas memo kecil. “Dimana, dan sejak kapan kau bisa melihat hal semacam ini?” Nadanya seperti dokter yang sedang mendiagnosis pasiennya.

“Di dalam elevator. Sejak hari ini, kurasa?”

“Elevator? Yang ada di sekolahmu?”

“Ya.” Agak terkejut ia bisa dengan cepat menyusun semua potongan puzzle ini. Mungkin aku datang ke orang yang tepat. “Kau tahu sesuatu, kak?”

Mukanya nostalgia, melamun ke kejauhan dalam waktu singkat, sebelum jiwanya kembali dengan pertanyaan yang disuarakan dengan lembut. “Aku tahu ini mungkin sensitif bagimu. Tapi bukankah Mamamu ...”

Oh, itu lagi. “Ya, dia menghilang 10 tahun lalu. Terakhir dilihat di kantornya, yang sekarang telah menjadi gedung sekolahku. Salah satu penyebabnya katanya adalah karena ada kecelakaan di elevator yang diakibatkan tangan jahil sesama rekan kerja.”

Riselia mengangguk pelan, tangan mulus wangi skincare mendekat untuk membelaiku.

Aku langsung pindah tempat duduk ke sudut terjauh. “Tapi teori itu sudah dipatahkan. Polisi yang melakukan pencarian ke seluruh gedung sekolah melaporkan tak ada yang aneh dengan seluruh gedung bangunan itu, kecuali hampir semua peralatannya yang telah tua. Masalahnya, semuanya masih lulus tes keamanan.”

“Aku tahu. Aku yang mendampingimu bersama paman dan bibimu.”

“Jadi, kenapa kau tiba-tiba mengungkit masa lalu ini?” Cangkir teh diangkat 90 derajat, isinya dikosongkan untuk memuaskan dahaga yang telah berkumpul di tenggorokan.

Panas dari cairan itu membuatku berkeringat, angin sejuk dari pendingin ruangan baru dinyalakan Riselia.

“Bagaimana jika aku bilang ini mungkin ada hubungannya dengan Mamamu?”

Aku menelan ludah, semua sel otak berfokus untuk menanti penjelasannya.

“Dan sepertinya bukan cuma Mamamu, tapi dengan orang-orang ini juga.” Riselia berlari ke arah dapurnya yang sempit dan berbalik hanya dalam waktu hitungan detik, menyodorkanku sebuah kliping koran yang tertata rapi.

“Ini?”

“Coba buka.”

Aku menurutinya, sampul depan memiliki gambar seorang pesepakbola terkenal yang digunting dari koran terdahulu.

Jari tangan mencapit ujung halaman, buku yang kelihatan tebal ini dibolak-balik hingga ke halaman terakhirnya, sebelum kuteliti seksama. Isinya kasus orang hilang yang terjadi selama 10 tahun terakhir, halaman pertamanya foto Mamaku, seorang wanita kantoran cantik berambut panjang yang menurunkan DNAnya kepadaku. Penjelasan dengan huruf hampir mikroskopik membuatku memicingkan mata, sebelum kusadari di sampingnya terdapat ringkasan tebal yang dibuat kak Riselia dalam spidol hitam.

Rose Edgeward, Mama West, hilang tanpa sebab di kantor pada 2000. Tak ada pendendam, punya riwayat dirundung. Jejak supernatural kuat.

Aku mendongak kepala ke Riselia, ia sendiri telah mengambil papan perhitungan skala bulan bintangnya. Kedipan matanya mempersilahkanku untuk membaca lanjutannya.

Yang kuturuti.

Halaman kedua. Michael Rossfield, tetangga rumah paling depan gang, hilang setelah tugas cleaning servicenya di kantor tempat Mama West bekerja, tengah malam menjelang subuh pada 2002. Tak ada pendendam, pria normal, suka merokok, pelit. Jejak supernatural lumayan.

Halaman ketiga. Lisa Hartmann, saudara perempuan dari walikota, hilang saat pertemuan penting antar investor pada 2005. Mungkin punya pendendam tapi tak ada bukti konkret, wanita nyentrik, suka berdandan dan berkelana. Jejak supernatural kuat. Di bawahnya terdapat foto dari kamera pengaman yang dengan jelas menangkap jumlah bayangan hitam dalam jumlah besar saat ia memasuki elevator menuju ke lantai 10.

Halaman keempat. Sepp Hauptmann, langganan teknisi listrik rumah Papa dan Mama, tiba-tiba dinyatakan hilang oleh polisi dalam berita tahun 2007. Pria baik dan ramah, terlalu suka berbicara, agak ceroboh, kesalahan reparasi sirkuit kabelnya membakar tanaman kesayanganku. Jejak supernatural sangat kuat, aku mungkin dapat melihat ada hantu yang mengintai di belakang punggungnya.

Sisanya tak perlu kubaca lagi. Terdapat pola yang jelas pada semua laporan ini.

“Kau sudah tahu kesimpulannya, adik kecilku?”

“Kau ini sebenarnya peramal atau penyihir atau detektif, sih?”

“Detektif supernatural, jika boleh dipanggil begitu.” Senyumnya sombong.

Orang yang hilang di kota ini jauh lebih banyak dari dugaanku. “Semuanya punya hubungan dengan elevator dan ... jejak supernatural yang kuat?”

Riselia mengangguk. “Jejak supernatural berarti seberapa banyak aura dunia lain yang mereka bawa saat melakukan kegiatan sehari-hari.” Ia menunjuk dirinya sendiri. “Aku sendiri lahir dengan indra keenam untuk menyadari hal beginian. Jadi aku tahu.”

Ia membusungkan dada, dijawab tawa yang tertahan di mulut.

Riselia batuk palsu, mengarahkan kami kembali ke topik. “Sekarang, coba lihat halaman terakhir.”

Aku menurut.

Halaman keempat. Rita Reiss, ibu rumah tangga, mantan kolega Rose Edgeward, berkunjung ke kantor tempatnya bekerja dahulu (sekolah West sekarang) untuk ‘alasan bisnis’ dan dinyatakan menghilang, kemudian ditemukan bunuh diri 3 bulan lalu. Tak ada data tentang identitas diri, selain dari fakta bahwa ia pernah ikut membully Mama West (baca catatan yang tertempel). Jejak supernatural sangat kuat, sesosok hantu berseragam kantor yang pucat dengan tangan bercakar terdokumentasi seperti ingin menyeretnya. Sumber: foto kamera pengaman sebelum ia masuk elevator.

Di halaman kulit, terdapat dokumentasi kertas saran dan keluhan dari pelanggan yang ditulis oleh huruf Mama yang mendetailkan beberapa orang yang pernah mengerjainya.

Di antaranya ada nama orang ini.

“Bahkan teman sekantornya?” Sekilas, aku meragukan apa yang dicatat kak Riselia. Tapi beberapa menit berikutnya cukup untuk membuatku sadar bahwa ini hanyalah sekumpulan informasi tanpa maksud mempengaruhi keputusan yang mungkin akan lahir karenanya.

Lagipula, mereka semua sebaiknya mati saja.

Secuil niat jahat.

Tapi, itu normal. Itu natural untuk berharap musuh dari orang tercinta kita untuk menderita dalam metode tertentu. Meskipun tentu, tidak dengan balasan seberat ini.

“Bukan hanya kebetulan, bukan? Aku telah mendalami hal ini semenjak kau ditinggalkan orang tuamu.” Kali ini, elusan kepalanya tak dapat kuhindari.

Lagi-lagi dengan lari cepatnya, Riselia kali ini dengan atletis melompati penghalang-penghalang yang ada pada tangganya dan turun dengan 2 barang. Ponsel pintarnya dan sebuah gantungan seukuran lingkar leherku yang bermotif sebuah bola baseball?

“Ini jimat.” Riselia mengalungkan benda aneh itu. Baru kusadari jika dilihat dari dekat, terdapat semacam ukiran huruf kuno di sekitar cincin yang mengelilingi bola tersebut.

Ponsel yang digenggamnya kuambil. “Dan ini juga untukku.”

“Tidak, dasar maling.” Riselia merebutnya kembali dengan pelan.

Layar putih yang entah kenapa kecerahannya sama dengan ponsel Daniel dipelototi kepadaku layaknya aku yang menjadi setan disini. Remang-remang cahaya yang terpasang di langit-langit rendah juga tak membantu.

“Silau, silau, kak!”

“Ups, maaf.”

Kecerahan diturunkan, aku baru dapat membaca sekumpulan teks yang tertera.

Elevator Game Rules

 

The first requirement to play the elevator game is that you must play alone, and you must be in a building with at least ten floors and an elevator that can reach all ten floors.

Dan, blah blah. Tepat seperti yang ditunjukkan Daniel.

“Sebagaimana konyol dan tak masuk akalnya sebuah kisah hantu dimulai, aku tak boleh dan tak akan mengabaikannya. Lagipula, kurasa kasus hilang orang terjadi karena ini juga. Ini tentang ...”

Aku menoleh ke luar rumah, sebuah limousin putih berhenti tepat di depan pagar rumah dengan senyap. Dua sosok figur familiar dalam pakaian hampir kamuflase membuka pagar dengan kunci.

Paman dan bibi.

“Hmm? Kau pernah melihat ini?”

“Temanku baru menunjukkannya hari ini, kak. Selain itu ...”

“Oke, bagus, kau sudah tahu. Ingat dan camkan kataku, jangan pernah mencobanya.”

“Kenapa?”

“Satu, itu berbahaya jika kau memang benaran bertemu hantu. Kedua, satu-satunya tempat dengan elevator sesuai syarat cerita ini adalah yang ada di sekolahmu. Itu sudah reot dan mungkin akan bermasalah jika dibawa untuk mengetes eksperimen konyol ini. Dan ketiga, kau harus membawaku jika memang ingin mencoba.”

Langkah kaki mereka yang mengendap-ngendap seperti ingin memberi kejutan kepada anak mereka saja. Tapi aku lebih tahu, bahwa kak Riselia tak akan membiarkan mereka datang dan komplain tentang apa yang dilakukannya. Kunci akan digembok dan komunikasi akan dilakukan sambil bertatapan satu sama lain di jendela, tapi suara dikirim melalui ponsel.

Itu akan berbeda cerita jika mereka berhasil diam-diam masuk, yang biasanya karena ada aku.

Aku sebaiknya kabur dari gelut mulut yang akan terjadi.

“Oke, oke. Kalau begitu aku pulang dulu. Hari sudah malam.” Aku berguling dengan lincah di antara tumpukan sampah kakak sepupuku yang kurang cinta kebersihan ini. “Titip pesan pada bibi dan paman. Jangan lupa sampaikan pada mereka, oke?”

“Ohh, kenapa buru-buru begitu ...” Wajah Riselia berubah menjadi horor setelah menyadari bayangan orang tua di belakangnya. “Jangan-jangan?”

“LAGI-LAGI DENGAN BARANG-BARANG ANEH INI, RISELIA!”

“Kau ini tidak pernah kapok-kapoknya dimarahin oleh kami, Riselia?!”

“ARGH, dasar pengkhianat, WEST!”

Aku sendiri sudah berjalan di jalanan sepi, satu dua lampu sorot dari mobil menyinari jalanku yang telah menggelap, lampu jalanan acuh tak acuh memandu perjalanan.

Elevator sekolahku, hmm?

Mungkin perlu kucoba untuk cari tahu.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Game Z
6953      2184     8     
Science Fiction
Ia datang ke ibukota untuk menuntut ilmu. Tapi, anehnya, ia dikejar dengan sekolompok zombie. Bersama dengan temannya. Arya dan Denayla. Dan teman barunya, yang bertemu di stasiun.
Solita Residen
5568      2218     11     
Mystery
Kalau kamu bisa melihat hal-hal yang orang lain tidak bisa... bukan berarti kau harus menunjukkannya pada semua orang. Dunia ini belum tentu siap untuk itu. Rembulan tidak memilih untuk menjadi berbeda. Sejak kecil, ia bisa melihat yang tak kasatmata, mendengar yang tak bersuara, dan memahami sunyi lebih dari siapa pun. Dunia menolaknya, menertawakannya, menyebutnya aneh. Tapi semua berubah seja...
Panggung Terakhir
476      332     0     
Short Story
Apa yang terlintas dipikiran kalian saat melihat pertunjukan opera? Penuh dengan drama? Bernilai seni yang tinggi? Memiliki ciri khas yang sangat unik? Dimana para pemain sangat berkarakter dan berkharisma? Sang Ratu Opera, Helena Windsor Saner, merupakan seorang gadis cantik dan berbakat. Jenius dalam musik, namun lebih memilih untuk menjadi pemain opera. Hidup dengan kepribadian ceria...
Dialog Tanpa Kata
21099      6422     19     
Romance
Rasi mencintai Sea dalam diam Hingga suatu hari Sea malah dinikahi oleh Nolan kakak dari Rasi Namun pernikahan Sea dan Nolan yang terlihat aneh Membuat Rasi bebas masuk ke kehidupan Sea Bahkan selalu menjadi orang pertama saat Sea membutuhkan bantuan Akankah Sea berpaling pada Rasi atau lagilagi perasaan Rasi hanya sebuah dialog dalam hati yang tak akan pernah terucap lewat kata Sea pada Rasi Ras...
Night Stalkers (Sudah Terbit)
1519      1109     4     
Horror
Ketika kematian misterius mulai menghantui sekolah di desa terpencil, Askara dan teman-temannya terjebak dalam serangkaian kejadian yang semakin tak masuk akal. Dimulai dari Anita, sahabat mereka yang tiba-tiba meninggal setelah mengalami kejang aneh, hingga Ifal yang jatuh pingsan dengan kondisi serupa. Mitos tentang kutukan mulai beredar, membuat ketakutan merajalela. Namun, Askara tidak per...
Singlelillah
1369      679     2     
Romance
Kisah perjalanan cinta seorang gadis untuk dapat menemukan pasangan halalnya. Mulai dari jatuh cinta, patah hati, di tinggal tanpa kabar, sampai kehilangan selamanya semua itu menjadi salah satu proses perjalanan Naflah untuk menemukan pasangan halalnya dan bahagia selamanya.
Dearest Friend Nirluka
2752      1371     1     
Mystery
Kasus bullying di masa lalu yang disembunyikan oleh Akademi menyebabkan seorang siswi bernama Nirluka menghilang dari peradaban, menyeret Manik serta Abigail yang kini harus berhadapan dengan seluruh masa lalu Nirluka. Bersama, mereka harus melewati musim panas yang tak berkesudahan di Akademi dengan mengalahkan seluruh sisa-sisa kehidupan milik Nirluka. Menghadapi untaian tanya yang bahkan ol...
Premium
Dunia Leonor
198      175     3     
Short Story
P.S: Edisi buku cetak bisa Pre-Order via Instagram penulis @keefe_rd. Tersedia juga di Google Play Books. Kunjungi blog penulis untuk informasi selengkapnya https://keeferd.wordpress.com/ Sinopsis: Kisah cinta yang tragis. Dua jiwa yang saling terhubung sepanjang masa. Memori aneh kerap menghantui Leonor. Seakan ia bukan dirinya. Seakan ia memiliki kekasih bayangan. Ataukah itu semua seke...
Tic Tac Toe
1705      1375     2     
Mystery
"Wo do you want to die today?" Kikan hanya seorang gadis biasa yang tidak punya selera humor, tetapi bagi teman-temannya, dia menyenangkan. Menyenangkan untuk dimainkan. Berulang kali Kikan mencoba bunuh diri karena tidak tahan dengan perundungannya. Akan tetapi, pikirannya berubah ketika menemukan sebuah aplikasi game Tic Tac Toe (SOS) di smartphone-nya. Tak disangka, ternyata aplikasi itu b...
Without Guileless
1360      814     1     
Mystery
Malam itu ada sebuah kasus yang menghebohkan warga setempat, polisi cepat-cepat mengevakuasi namun, pelaku tidak ditemukan. Note : Kita tidak akan tahu, jati diri seseorang hingga kita menjalin hubungan dengan orang itu. Baik sebuah hubungan yang tidak penting hingga hubungan yang serius