Pagi itu, Chihaya berangkat sekolah bersama Mamoru. Mamoru yang menjemput Chihaya ke rumah. Beberapa murid terihat melirik mereka sambil berbisik-bisik. Sepertinya mereka heran karena melihat Mamoru dan Chihaya kembali bersama setelah beberapa minggu lalu mereka tak saling berinteraksi.
Saat hendak menuju ruang loker terdengar suara orang yang memanggil keduanya.
Izumi Yoshioka dan Akemi Yoshioka.
*****
Izumi, Akemi, Mamoru dan Chihaya akhirnya berbicara empat mata di belakang gedung sekolah. Tentu saja mereka merasa canggung. Mungkin karena masih terlalu pagi. Mungkin juga karena mereka baru berbicara lagi setelah beberapa bulan. Sejak bunkasai, Izumi terkesan menjaga jarak dengan Mamoru setelah dia ditolak. Ia juga menjauhi Chihaya dan bersikap dingin setiap kali ia bertemu gadis itu. Akemi juga ikut menjauhi mereka berdua karena tak terima Mamoru lebih memilih Chihaya daripada saudarinya yang sudah berusaha keras untuk mengungkapkan perasaannya.
"Senpai tak biasanya memanggilku dan Mamoru-senpai, ada apa?" tanya Chihaya.
"Kamu..." Izumi terdiam sesaat setelah mengucapkan kata itu. Ia menoleh pada Akemi, bingung harus berkata apa, atau bersikap bagaimana di depan Chihaya.
"Izumi mau minta maaf padamu," Akemi yang berbicara.
"Ah, iya..." ia memandang Chihaya. Wajahnya terlihat gugup. "Aku mau minta maaf...soal kipas uchiwa Kaito Shion-mu...aku yang mematahkannya,"
Kedua mata Chihaya melebar. Begitu juga Mamoru.
"Soal itu...tak perlu minta maaf, Izumi-senpai," kata Chihaya. "Itu hanya kipas,"
"Kamu sepertinya sudah tahu, ya,"
Chihaya mengangguk. "Ryuto-senpai dan Yukio-senpai yang memberitahuku,"
"Begitu,ya," kata Izumi pelan. "Tapi gara-gara itu, kau jadi bertengkar dengan Mamoru,"
"Dia merasa bersalah, karena itu dia ingin meminta maaf pada kalian," jelas Akemi.
"Ah, tidak usah dipermasalahkan. Kau tidak perlu membahasnya lagi," Mamoru yang menjawab, "Kami sekarang sudah berbaikan. Semua sudah baik-baik saja,"
"Begitu,ya. Syukurlah," ucap Izumi lega.
Chihaya memandang dua saudari kembar itu. "Anu...sebelumnya aku minta maaf... Aku tak bermaksud menyakiti hati Izumi-senpai,"
Izumi menggeleng. Gadis yang memakai bando biru tua itu kini tersenyum tulus pada Chihaya. "Tak apa. Aku juga sudah melupakannya,"
"Padahal Izumi-senpai suka pada Mamoru-senpai,"
"Memang...aku menyukainya," Izumi melirik Mamoru. "Tapi aku bisa apa kalau dia lebih menyukaimu?"
"Maaf kalau waktu itu aku dan Izumi terkesan menjauhimu," timpal Akemi.
Chihaya menggeleng. "Tak masalah. Aku sudah memaafkan Senpai, kok,"
Kedua saudari kembar itu berpandangan, merasa lega.
"Ngomong-ngomong kalian kemana-mana selalu berdua dan kompak,deh," komentar Mamoru sambil tersenyum.
Izumi dan Akemi tertawa. Mereka berhasil menyelesaikan masalah mereka. Keempatnya kemudian berjalan bersama ke ruang loker.
****
Bel istirahat berbunyi. Chihaya bersama Yuji,Takeru, dan Sachi berjalan ke luar kelas. Mereka berencana untuk makan nasi kare di kantin.
"Jadi, kau sudah berbaikan dengan Mamoru-senpai?" tanya Takeru.
Chihaya mengangguk.
Takeru tersenyum. "Senang mendengarnya. Semoga hubunganmu dengannya baik-baik saja,ya,"
Chihaya mengangguk seraya tersenyum.
Saat mereka sedang mengobrol, mereka mendengar murid-murid heboh membicarakan sesuatu sambil sesekali melihat ponsel.
"Eh? Apa ini benar?"
"Yukio Miyazawa anggota OSIS itu,kan?"
"Dia punya saudara tiri?"
Eh? Pendengaran mereka terusik mendengar nama Yukio Miyazawa disebut.
Saat itu sudah ada beberapa murid yang mengerumuni papan pengumuman. Terdengar beberapa murid berbisik-bisik heboh. Begitu Chihaya dan sahabat-sahabatnya mendekat, mereka terkejut luar biasa saat melihat judul artikel yang tertempel di papan pengumuman itu.
"Terungkap! Sachi Aragaki (10-1) Ternyata Merupakan Adik Tiri dari Yukio Miyazawa (11 IPA 4)!!!"
"Sachi Aragaki Anak Tidak Sah Keluarga Miyazawa?"
Di papan itu tertempel foto Sachi dan Yukio. Foto Sachi disensor di bagian mata.
Sachi terlihat bergetar. Ia menggelengkan kepalanya. Matanya nanar, tak percaya dengan apa yang sudah dilihat dan dibacanya.
"Sachi, kau tidak apa-apa?" Takeru dan Yuji menenangkannya. Sachi tak bisa menjawab. Sementara Chihaya hanya bisa terdiam melihat murid-murid yang mengerumuni papan mading sambil berbisik-bisik.
Mamoru, Raiji, dan Yukio yang berjalan dari arah kantin berhenti sebentar karena penasaran dengan keributan itu. Mereka ternganga saat melihat artikel itu. Yukio yang paling syok. Dia melangkah mundur. Rahangnya mengeras. Tangannya mengepal.
Saat itu pandangannya bertemu dengan Sachi. Pemuda berkacamata itu memandang Sachi dengan dingin, sementara Sachi terlihat ketakutan. Dia kemudian berjalan meninggalkan kedua temannya, menarik tangan Sachi, menyeret gadis berambut cokelat sepunggung itu menjauh dari sana.
"Eh! Tunggu! Senpai!" seru Yuji yang langsung mengejar Yukio dan Sachi, disusul Chihaya dan Takeru.
"Sachi!" panggil Takeru, namun Yukio dan Sachi tak mendengar karena mereka sudah jauh di depan. Dari belakang, Mamoru dan Raiji ikut menyusul mereka.
"Mau ke mana dia membawa Sachi!?" tanya Raiji pada Mamoru. Mamoru mengangkat bahu.
Mereka berlima sampai di atap sekolah. Mereka berhenti saat melihat Sachi berdiri bersandar pada pagar pembatas, sementara Yukio berada di hadapannya. Kedua tangannya berkacak pinggang.
"Sejak awal aku sebenarnya tidak sudi kau berada di sekolah yang sama denganku!" terdengar Yukio membentak Sachi. "Karena aku tahu masalah seperti ini akan terjadi!"
Sachi menggelengkan kepala kuat-kuat. "Aku tak pernah membuka rahasia kita pada siapapun kecuali Yuji dan Takeru, Yukio-niisan!"
Chihaya dan yang lainnya ternganga. Barusan Sachi memanggil Yukio...Onii-san? Kakak?
Lelaki berjaket merah marun yang tengah emosi itu mengepalkan tangannya.
"Yukio!" teriak Mamoru, yang membuat lelaki itu menoleh.
"Hentikan!" Perintah mutlak dari ketua klub Kurotake itu membuat perdebatan mereka berhenti. Yuji, Takeru, dan Chihaya langsung memeluk Sachi yang terlihat kacau. Sementara itu, anggota dan pengurus klub Kurotake yang lain juga datang ke atap sekolah dan melihat pertengkaran itu.
Raiji ikut menenangkan sekretaris 2 klub Kurotake itu. "Kurasa, kita perlu bicarakan masalah ini di ruang klub,"
****
Di ruang klub, Yukio menceritakan semuanya kepada anggota dan pengurus. Terlihat Sachi berdiri di sampingnya.
"Awalnya, kehidupan keluargaku baik-baik saja. Papa menikah dengan Mamaku, sejak awal mereka dijodohkan demi kepentingan bisnis keluarga. Aku lahir setahun setelah pernikahan mereka. Namun saat umurku 12 tahun, Mama meninggal dunia,"
"Dua tahun setelah itu, Papa bertemu dan berkenalan dengan seorang wanita yang berprofesi sebagai seniman. Ia kebetulan datang ke Cibubur untuk menggelar pameran. Sayaka Aragaki. Dia teman Papa saat kuliah di Jepang. Dia punya putri yang mirip dengannya dan usianya lebih muda satu tahun dariku," Yukio melirik Sachi.
"Papa sempat menaruh hati pada Sayaka. Namun pada akhirnya tak pernah mengungkapkan perasaannya. Sayaka menikah dengan orang lain. Sampai ayah kandung Sachi meninggal saat gadis itu berumur 10 tahun,"
Chihaya dan yang lain bersimpati saat mendengar cerita Yukio tentang Sachi.
"Itulah yang Sayaka ceritakan pada Papa. Singkat cerita, Papa memutuskan untuk menikahi Sayaka....Sachi pun menjadi adik tiriku. Hidupku berubah. Tak mudah menerima keberadaan Bibi Sayaka dan Sachi di rumahku... Butuh waktu untuk menerima kenyataan kalau ibu baruku berbeda dengan ibu kandungku...Namun aku merasa canggung setiap kali melihat Sachi. Aku pun menghindarinya. Aku memilih sekolah di tempat yang berbeda dengannya. Namun saat SMA, Papa malah memintaku masuk ke SMA Sakura, bersama dengan Sachi,"
Ternyata, alasan Yukio selama ini tidak pernah hadir di klub Kurotake adalah karena dia merasa tak nyaman saat berada di ruang yang sama dengan Sachi.
Anggota yang lain diam, mencerna cerita Yukio. Sebenarnya cerita itu baru akan diceritakan oleh ayah Yukio dalam konferensi pers yang rencananya akan digelar minggu depan, namun gosip tak enak bahwa Sachi merupakan anak tidak sah keluarga Miyazawa telanjur menyebar.
"Teman-teman, kurasa Yukio bisa membereskan masalah ini nanti," ucap Ryuto tiba-tiba. "Karena kita punya masalah lain,"
"Eh? Apa maksud Ryuto-senpai?" tanya Asa.
Ryuto menunjukkan sesuatu di layar ponselnya kepada semua pengurus dan anggota klub. Layar itu menampilkan postingan dari akun gosip SMA Sakura. Di postingan itu ada foto Hatsuko yang sedang berjalan bersama seorang laki-laki yang wajahnya familiar, disertai judul headline :
"Idol Hatsuko Shinomiya Terlihat Berjalan Bersama Seorang Pria di Mal C"
"Lihat? Selain Sachi dan Yukio, ada orang yang juga berusaha mempermalukan Hatsuko dan aku," kata Ryuto. Lelaki berambut cokelat itu terlihat kesal. "Pria di foto ini aku,"
Semua anggota dan pengurus klub saling berpandangan.
"Bagaimana bisa?" tanya Akemi.
"Padahal Hatsuko dan Ryuto saudara sepupu, lho, bukan pasangan kekasih," jelas Izumi. "Siapa sih, yang menyebarkan berita konyol ini?"
"Tadi Sachi dan Yukio... lalu Hatsuko dan Ryuto," gumam Nozomi. Gadis berambut panjang itu seperti baru menyadari sesuatu.
"Mungkinkah...?"
Ouka memiringkan kepala melihat gelagat Nozomi. "Ada apa, Nozomi?"
"Artikel-artikel di akun gosip ini...dan juga di papan pengumuman itu..." ucap Nozomi. "Mungkinkah ada orang yang berusaha mempermalukan anggota klub Kurotake?"
****