Loading...
Logo TinLit
Read Story - Seharap
MENU
About Us  

Di pagi yang gerimis itu Tisha dan Riana turun di pekarangan sebuah rumah minimalis yang dikelilingi perkebunan. Tak seperti Sabtu lalu, kali ini Tisha tak lagi bermalasan dan sudah mau beraktivitas seperti biasa. Bahkan dia bangun pagi sekali demi mempersiapkan keberangkatan mereka ke rumah Paman yang mengurus tanah peninggalan orang tuanya.

Bibi menyambut dengan hangat. Tisha segera mencium tangannya dan menyerahkan rantang yang dibawa, berisi masakannya. Saat Bibi mengajak masuk, Tisha dan Riana beradu pendapat. Riana setuju untuk masuk, sementara Tisha menolak karena ingin langsung melihat tanamannya.

“Ya udah, enggak apa-apa.” Bibi menengahi sambil mengusap kepala Tisha dengan lembut. “Tisha duluan aja ke kebun. Ada Radi sama temannya, kok, di sana.”

Radi adalah anak Bibi yang seusia dengan Tisha. Meski tidak terlalu akrab, tetapi Tisha cukup nyaman bersamanya karena pemuda itu sangat pendiam dan tak banyak mengusik. Terlebih mereka adalah saudara sepersusuan, jadi tak ada yang mempermasalahkan kedekatan mereka.

Setelah melihat anggukan Riana, Tisha pun pamit dan menyusuri pematang sampai ke bagian kebun yang didekasikan khusus sayuran yang ditanam sendiri oleh dirinya. Sesaat dia terdiam kala mencium aroma tanah yang khas. Sekelabat ingatan muncul menggambarkan kebersamaan dengan orang tuanya di sana. Dulu mereka sering berlarian bersama.

Tisha menggeleng, kembali fokus pada masa sekarang. Akhirnya, dia memutuskan untuk berjongkok mencabuti rumput. Cukup lama dia fokus dengan kegiatan tersebut, sampai suara serak Radi yang jarang terdengar mengusiknya. Tisha menoleh dan melihat sepupunya itu sedang mengobrol dengan seorang laki-laki bertubuh tambun.

“Tisha.”

Tisha tertegun. Bukan Radi yang memanggilnya, melainkan ... Fathan. Lekas saja segala overthinking berkelabat di kepala Tisha. Kenapa pemuda itu ada di sini? Sejak kapan dia mengenal Radi? Radi kan sekolah di SMK, kenapa bisa mereka berteman?

“Kamu kenal kakakku?” Radi memandang sang teman dan Tisha bergantian.

“Kakak?” Fathan tampak mengernyit.

Radi meralat, “Maksudku kakak sepupu. Jadi, gimana kalian kenal?”

“Kami sahabat dari SD.”

“Mantan!” Tisha menyela sambil berdiri. “Mantan sahabat.”

Saat Tisha akan beranjak, Fathan menghadang sambil merentangkan tangan. “Maaf.”

Tisha memalingkan muka.

Fathan melanjutkan, “Aku minta maaf karena enggak bisa jadi sahabat yang baik untuk kamu. Maaf juga atas kesalahanku dulu yang memaksa kamu pergi ke rumahku. Setelah musibah yang menyebabkan orang tua kamu pergi itu, aku sangat ingin mengatakan ini pada kamu, tapi kamu memilih pindah. Aku enggak berani lagi mencari kamu karena terlalu malu, tapi sekarang secara enggak terduga takdir mempertemukan kita lagi. Jadi, aku ingin menyampaikan permohonan maafku.”

Melihat Tisha bergeming, Fathan menurunkan tangan dan bergeser. “Aku enggak memaksa kamu, karena keputusan memaafkan itu sepenuhnya hak kamu, dan kamu bebas untuk enggak memaafkanku. Aku hanya berharap kita bisa lebih lega.” Pandangan Fathan beralih pada Radi. “Aku pamit, ya ....”

“Ya!” Tisha kembali menyela. “Aku memaafkan kamu.”

“Hah?” Bukan hanya Fathan yang terkejut, Radi pun sama herannya. Tak ada yang mengira Tisha akan memaafkan semudah itu. Mereka tahu sesedih apa Tisha dulu meratapi kepergian orang tuanya.

Tisha mengembuskan napas panjang sebelum menghadapkan wajah pada Fathan. “Aku memaafkan kamu, Fathan.”

Sesaat hening. Dalam keheningan itu Tisha mengingat kajian Rohis kemarin. Syaibah memberikan jawaban atas pertanyaan Tisha dengan cukup panjang. Ada penjelasan mengenai kemungkinan saling menyakiti dalam setiap hubungan, apa pun itu, baik disengaja maupun tidak. Namun, yang membedakan adalah adanya penyesalan atau tidak.

Suatu hal yang baru bagi Tisha. Selama ini dia hanya sering mendengar orang-orang mengatakan bahwa tak boleh menyesali masa lalu. Namun, Syaibah malah menerangkan sisi lain, bahwa penyesalan itu tanda seseorang masih hidup hatinya sehingga menyadari telah melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan nilai kebaikan. Penyesalan dapat menjadi pendorong seseorang untuk meminta maaf dan memperbaiki dirinya.

Lalu, tentang maaf, inilah bagian yang paling terasa bagai air sejuk yang menyirami kegersangan hati Tisha. Kata Syaibah, maaf itu bukan hanya akan melegakan yang memintanya, tetapi juga yang memberikannya. Dengan memaafkan, seseorang bisa melepaskan hati dari amarah, dendam, dan perasaan lainnya yang mengotori dan menyesakkan diri. Dengan memaafkan, seseorang bisa kembali membuka jalan hidupnya.

Barusan, saat Fathan mengatakan harapan tentang ‘lega’, Tisha jadi terusik, dan dengan pertimbangan cepat dia pun memutuskan untuk memaafkan. Dia pikir mungkin ini memang waktu yang tepat untuk melegakan hatinya. Sebab, dia sadar, sejauh apa pun dia pergi, ternyata Allah selalu punya cara untuk mempertemukan mereka. Mungkin itu juga pertanda untuk Tisha berdamai dengan masa lalunya. Tisha hanya berharap ke depan hatinya tak akan sesak lagi.

“Terima kasih.” Suara Fathan bergetar sarat keharuan.

Tisha mengangguk. “Aku juga minta maaf atas kesalahanku, apa pun itu.”

“Iya.” Fathan menyahut cepat. “Jadi, kita baikan? Sahabatan lagi, kan?”

Tisha menggeleng. “Maaf, aku baru belajar memaafkan. Belum sepenuhnya melupakan dan menyembuhkan lukaku. Lagipula enggak ada persahabatan antara perempuan dan laki-laki.”

Masih berdasarkan ingatan kajian kemarin. Selesai membahas pertanyaan Tisha, Syaibah kembali meneruskan pembahasan tentang saling mengenal dan berhubungan dengan semuanya. Katanya, lawan jenis hanya boleh berteman atau saling membantu dalam ranah profesional yang memang memiliki urgensi untuk berinteraksi. Namun, tidak boleh lebih dari itu.

Perempuan dan laki-laki tak boleh bersahabat, bukan hanya karena alasan kemungkinan saling menyukai, tetapi juga karena memang ada aturan jelas dalam Islam untuk menjaga pandangan dan batasan. Tentang syariat itu bukan hanya berdasarkan hati merasa, tetapi berdasarkan Allah berkata. Menjadi kewajiban untuk tunduk pada semua peraturan secara utuh tanpa pilih-pilih semaunya.

Fathan berdeham. “Baiklah. Yang penting kita enggak musuhan.”

“Iya. Eh ....” Tisha mengingat sesuatu. “Mari jadi musuh dalam produktivitas. Mari berlawanan dalam lomba kaligrafi sekolah. Masih suka bikin kaligrafi, kan?”

Seketika suasana pun mencair.

***

“Udah semua?” Riana bertanya pada Tisha yang duduk di kursi sebelahnya.

Tisha mengangguk sambil memasang sabuk pengaman. “Satu karung dan dua kardus udah masuk.”

“Good.” Riana menginjak pedal gas dan membawa mobil mereka meninggalkan Rumah Paman.

Tisha menyandarkan kepala ke jendela. Hari ini cukup menguras fisik dan psikisnya.

“Tentang Fathan ....” Riana menggantung perkataannya sambil membelokkan stir.

“Radi cerita sama Teteh?” tanya Tisha masih setia terpejam.

“Bukan. Tadi Fathan datang sendiri ke Teteh. Dia minta maaf. Teteh baru ngeh kalau dia salah satu siswa yang aktif pinjam buku perpus. Penampilannya beda banget sama dulu, ya. Seingat Teteh dulu dia kayak ceking gitu.”

Tak tertahan, Tisha terkekeh dan membuka mata. “Emang, dulu dia kayak lidi. Makanya aku sempat kaget pas kemarin lalu ketemu dia di sekolah, kok pipinya jadi bulat gitu.”

“Astaghfirullah, maaf ya Allah, kami jadi enggak sengaja ngomongin orang, nih.”

Keduanya tertawa, lalu senyap.

Riana berdeham. “Jadi, gimana perasaan kamu?”

Tisha memandang Riana beberapa saat, lalu tersenyum. “Not bad. Cukup lebih ringan buat napas. Aku juga lagi belajar untuk memaafkan diriku sendiri.”

“Iyakah?” Netra Riana berbinar. Itu sesuatu yang menggembirakannya.

“Heem. Aku ingin berdamai secara utuh. Enggak mau menyalahkan siapa pun lagi, termasuk diri aku sendiri.”

“Alhamdulillah.” Riana mengusap kepala Tisha. “Dapat ilham dari mana, sih? Sawala?”

“Uhm ... kajian Rohis.” Tisha tercenung, tak lagi mendengarkan pertaanyaan Riana. Dia sibuk memikirkan sesuatu, tentang Rohis. Dari dua pertemuan saja dia bisa mendapatkan banyak hal yang mengubah pandangannya menjadi lebih baik. Bagaimana jika lebih dari itu? Mungkin ....

Namun, Tisha menggeleng. Minggu depan dia sudah tak akan lagi bersama Sawala. Berarti dia tak akan bisa lagi mendengarkan kajian. Ah, kenapa Tisha jadi gelisah?

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
The Maiden from Doomsday
11550      2949     600     
Fantasy
Hal yang seorang buruh kasar mendapati pesawat kertas yang terus mengikutinya. Setiap kali ia mengambil pesawat kertas itu isinya selalu sama. Sebuah tulisan entah dari siapa yang berisi kata-kata rindu padanya. Ia yakin itu hanya keisengan orang. Sampai ia menemukan tulisan tetangganya yang persis dengan yang ada di surat. Tetangganya, Milly, malah menyalahkan dirinya yang mengirimi surat cin...
Prakerin
9542      3024     14     
Romance
Siapa sih yang nggak kesel kalo gebetan yang udah nempel kaya ketombe —kayanya Anja lupa kalo ketombe bisa aja rontok— dan udah yakin seratus persen sebentar lagi jadi pacar, malah jadian sama orang lain? Kesel kan? Kesel lah! Nah, hal miris inilah yang terjadi sama Anja, si rajin —telat dan bolos— yang nggak mau berangkat prakerin. Alasannya klise, karena takut dapet pembimbing ya...
A Freedom
192      171     1     
Inspirational
Kebebasan adalah hal yang diinginkan setiap orang. Bebas dalam menentukan pilihan pun dalam menjalani kehidupan. Namun sayang kebebasan itu begitu sulit bagi Bestari. Seolah mendapat karma dari dosa sang Ayah dia harus memikul beban yang tak semestinya dia pikul. Mampukah Bestari mendapatkan kebebasan hidup seperti yang diinginkannya?
Wanita Di Sungai Emas (Pendek)
836      600     3     
Fantasy
Beberapa saat kemudian, aku tersandung oleh akar-akar pohon, dan sepertinya Cardy tidak mengetahui itu maka dari itu, dia tetap berlari... bodoh! Akupun mulai menyadari, bahwa ada sungai didekatku, dan aku mulai melihat refleksi diriku disungai. Aku mulai berpikir... mengapa aku harus mengikuti Cardy? Walaupun Cardy adalah teman dekatku... tetapi tidak semestinya aku mengikuti apa saja yang dia...
Premium
Claudia
11952      3604     1     
Fan Fiction
Ternyata kebahagiaan yang fana itu benar adanya. Sialnya, Claudia benar-benar merasakannya!!! Claudia Renase Arditalko tumbuh di keluarga kaya raya yang amat menyayanginya. Tentu saja, ia sangat bahagia. Kedua orang tua dan kakak lelaki Claudia sangat mengayanginya. Hidup yang nyaris sempurna Claudia nikmati dengan senang hati. Tetapi, takdir Tuhan tak ada yang mampu menerka. Kebahagiaan C...
The Arcana : Ace of Wands
234      207     1     
Fantasy
Sejak hilang nya Tobiaz, kota West Montero diserang pasukan berzirah perak yang mengerikan. Zack dan Kay terjebak dalam dunia lain bernama Arcana. Terdiri dari empat Kerajaan, Wands, Swords, Pentacles, dan Cups. Zack harus bertahan dari Nefarion, Ksatria Wands yang ingin merebut pedang api dan membunuhnya. Zack dan Kay berhasil kabur, namun harus berhadapan dengan Pascal, pria aneh yang meminta Z...
Le Papillon
4124      1881     0     
Romance
Victoria Rawles atau biasa di panggil Tory tidak sabar untuk memulai kehidupan perkuliahannya di Franco University, London. Sejak kecil ia bermimpi untuk bisa belajar seni lukis disana. Menjalani hari-hari di kampus ternyata tidak mudah. Apalagi saat saingan Tory adalah putra-putri dari seorang seniman yang sangat terkenal dan kaya raya. Sampai akhirnya Tory bertemu dengan Juno, senior yang terli...
Kanvas Putih
190      168     1     
Humor
Namaku adalah Hasywa Engkak, yang berarti pengisi kehampaan dan burung hitam kecil. Nama yang memang sangat cocok untuk kehidupanku, hampa dan kecil. Kehidupanku sangat hampa, kosong seperti tidak ada isinya. Meskipun masa depanku terlihat sangat tertata, aku tidak merasakannya. Aku tidak bahagia. Wajahku tersenyum, tetapi hatiku tidak. Aku hidup dalam kebohongan. Berbohong untuk bertahan...
Depaysement (Sudah Terbit / Open PO)
6281      3302     2     
Mystery
Aniara Indramayu adalah pemuda biasa; baru lulus kuliah dan sibuk dengan pekerjaan sebagai ilustrator 'freelance' yang pendapatannya tidak stabil. Jalan hidupnya terjungkir balik ketika sahabatnya mengajaknya pergi ke sebuah pameran lukisan. Entah kenapa, setelah melihat salah satu lukisan yang dipamerkan, pikiran Aniara dirundung adegan-adegan misterius yang tidak berasal dari memorinya. Tid...
ASA
7262      3168     0     
Romance
Ketika Rachel membuka mata, betapa terkejutnya ia mendapati kenyataan di hadapannya berubah drastis. Kerinduannya hanya satu, yaitu bertemu dengan orang-orang yang ia sayangi. Namun, Rachel hanya diberi kesempatan selama 40 hari untuk memilih. Rachel harus bisa memilih antara Cinta atau Kebencian. Ini keputusan sulit yang harus dipilihnya. Mampukah Rachel memilih salah satunya sebelum waktunya ha...