Loading...
Logo TinLit
Read Story - Seharap
MENU
About Us  

“Lha, masih tidur-tiduran.” Riana menggeleng-geleng melihat sang adik yang asyik merebahkan tubuh di sofa ruang keluarga. Padahal di luar sana matahari sudah cukup tinggi menampakkan diri.

“Heum ....” Tisha hanya menggeliat sedikit dan makin mengeratkan pelukan pada bantal sofa. Meski memang tidak sedang terlelap, tetapi netranya masih setia menutup.

“Bangun, hei!” Riana mengguncang bahu Tisha tidak santai.

Tisha berdecak, lantas membuka mata malas dan menyahut sewot. “Apa, sih? Ganggu banget.”

Riana menunjuk jam di dinding. “Udah lewat pukul delapan, tuh.  Ayo berangkat!”

Tisha berguling, mengubah posisi, menghadap sandaran sofa, membelakangi Riana. “Aku enggak ikut hari ini!”

“Tumben?” Riana mengernyit. “Enggak kangen sayuranmu?” Dia heran. Aneh sekali baginya mendengar sang adik menolak ajakan pergi ke desa sebelah untuk mengunjungi kebun peninggalan orang tua mereka yang dikelola paman dan bibi. Sebab, biasanya jika akhir pekan atau hari libur tiba, Tisha akan selalu dengan semangat mempersiapkan keberangkatan demi melihat berbagai sayuran yang telah ditanam tangan dinginnya.

Meskipun bukan termasuk keluarga kaya raya dengan harta berlimpah, tetapi kehidupan mereka berkecukupan. Selain dari tabungan dan asuransi orang tua, hasil kebun itulah yang menjadi penopang hidup dua saudari itu.

“Teteh kan bisa bantu fotokan,” gumam Tisha kurang jelas karena wajahnya kian menelusup pada bantal.

Riana merotasikan bola mata. “Teteh juga punya perasaan malas kali, Sha. Apalagi seminggu ini kegiatan Teteh padat, tiap hari pulang malam, capek sebenarnya.”

“Ya udah, enggak usah pergi. Mari tiduran bareng di sini.”

“Enggak gitu, Tisha!” Riana menggeram dengan kedua tangan terkepal erat. “Maksud Teteh, kalau mau ngikutin malas mah jelas mendingan enggak usah ke mana-mana, tapi kan malas bukan untuk dituruti, justru harus dilawan.”

“Iya, iya, aku bakal lawan, tapi nanti. Kalau sekarang aku udah enggak ada tenaga banget.”

Riana memindahkan telapak tangan ke kening Tisha. “Enggak hangat, kok.”

Tisha menepisnya, lalu duduk bersandar menghadap Riana. “Bukan fisik aku yang enggak baik-baik aja, tapi batinku.”

“Kenapa?”

Tisha menghela napas. “Ternyata menjalani tantangan dari Teteh benar-benar menguras energi.”

Riana membulatkan mulut. Oh, itu ternyata masalahnya. Dia duduk di sofa seberang Tisha sambil mengulum senyum. “Tapi sepadan kan dengan hadiahnya? Katanya kamu mau minta hadiah yang besar dari Teteh?”

Tisha mengacak rambut. “Tapi aku enggak nyangka akan seberat ini.”

“Jadi?” Riana menyangga dagu dengan sebelah tangan. “Mau mundur aja, nih? Udah sampai setengah jalan padahal.”

“Ya ... ya ....” Ah, Tisha tidak tahu harus bagaimana. Dia dilema.

Riana berdeham. “Emang ada apa, sih? Sawala ngapain kamu lagi?”

Tisha memelas. “Tolong, Teh, bisa enggak sehari aja aku enggak dengar nama itu?”

Netra Riana menyipit. “Lho?”

“Aku terguncang karena dia, Teh!”

Riana memandang Tisha penuh selidik. “Tolong jelaskan dengan benar. Apa yang terjadi?”

Sesaat Tisha mempersiapkan diri, menarik napas dalam-dalam. “Teteh ingat aku pernah ngira kalau Kak Sawala itu gila karena banyak menolong orang dan melakukan berbagai kegiatan baik lainnya?”

Riana mengangguk. Dia tidak mungkin lupa, itu adalah kesan pertama perjumpaan sang adik dengan orang pilihannya. “Terus?”

Tisha mendongak. “Ternyata itu salah, Teh. Kak Sawala enggak gila. Dia ... justru lagi otw jadi sebaik-baiknya manusia.”

Alis Riana bertaut. “Gimana?”

Tisha menegakkan punggung. “Kemarin dia bawa aku ke kumpulan Rohis. Di sana ada kegiatan semacam ceramah gitu. Terus pematerinya bahas kalau salah satu cara untuk bahagia adalah menjadi sebaik-baiknya manusia. Nah, contoh kegiatannya adalah melakukan apa saja yang memberikan kebermanfaatan, dan ... itu semua sesuai dengan apa yang Kak Sawala lakukan.”

Riana manggut-manggut, kemudian tersenyum. “Ya, berarti bagus dong, dia bukan sedang melakukan hal yang dilarang.”

“Tapi, Teh ....”

“Apa lagi, sih, Sha?” Riana memotong gemas. Tidak mau mendengarkan alasan ataupun asumsi sang adik yang terlalu memutar-mutar.

Tisha kicep. Matanya sayu. Ah, memang salah bercerita pada sang kakak yang punya cara pandang berbeda. Seharusnya Tisha cukup memendam semua perasaan yang dia alami dalam diam. Tidak perlu melibatkan orang lain atas segala pemikirannya. Memang baiknya Tisha tetap sendirian.

“Gini, deh.” Riana menepuk paha. “Tadi itu kan yang kamu bilang baru asumsi, ya? Masih belum jelas yang sebenarnya bagaimana. Enggak menutup kemungkinan kalau bisa aja ada teori konspirasi di balik semua tingkah Sawala.” Dia menahan mual karena berasa membual.

Tisha tak bereaksi.

Riana mencondongkan tubuh mendekati Tisha. “Gimana kalau kamu coba membuktikan kebenarannya?”

Kening Tisha mengerut. “Hah?”

Riana menjentikkan jari. “Teteh tambah tantangannya. Kalau sebelumnya cuma menyuruh kamu berdekatan dengan dia, sekarang Teteh minta kamu ikut melakukan apa yang dia lakukan, terus cari tahu alasan sebenarnya dari semua yang dia lakukan. Nanti Teteh kasih dua hadiah lagi.”

Tisha mengusap dagu. Untuk urusan mengikuti apa yang Sawala lakukan, mungkin dia tidak akan ada masalah, toh selama seminggu ini memang sudah sedikit melakukannya tanpa sengaja. Namun, untuk urusan mencari tahu alasanya ... Tisha bingung. “Caranya?”

“Ya, tanya-tanya dia, lah! Deep talk gitu.”

Tisha menggeleng lemah. “Enggak akan bisa.”

“Kenapa?”

Jemari Tisha bertautan. Dalam kepalanya terbayang lagi kejadian kemarin lalu saat Sawala banyak mendiaminya. “Kak Sawala itu udah jenuh sama aku. Kayaknya dia bakal menghentikan kebersamaan kami, deh.”

Riana memundurkan kaki dan menepuk kening sendiri. “Hadeuh, berasumsi lagi.”

“Bukan gitu, Teh!” Refleks Tisha menggebrak meja yang membatasi mereka. “Pemikiran ini enggak mengada-ada. Aku bicara berdasarkan fakta yang terjadi akhir-akhir ini. Dia itu berubah jadi ... pendiam, enggak kayak pas awal-awal. Kemarin dia enggak lagi banyak memulai pembicaraan, dan kalau aku tanya pun jawabannya singkat-singkat. Menunjukkan kalau dia memang udah bosen sama aku.”

Itu tuh asumsi, Sha! Kalimat itu tertahan di tenggorokan Riana. Dia hanya sanggup meneriakkan dalam hati. Mengingat di usia Tisha itu memang biasanya cukup keras kepala dan merasa benar sendiri, maka Riana tidak mau memantik konflik dengan terus menerus mendebat apalagi sampai terkesan menggurui. Riana akan memilih jalan lembut saja untuk menggiring sang adik pada arah yang dia harapkan.

“Ya sudah, Teteh akan coba cari tahu tentang itu.” Riana bangkit. “Kalau nanti ternyata perkiraan kamu enggak benar dan Sawala masih mau bersama dengan kamu, maka kamu harus melakukan tantangan tambahannya.”

Tisha sudah membuka mulut untuk menyela, tetapi Riana memajukan telapak tangan sebagai isyarat melarang penyanggahan. “Enggak ada nego. Pokoknya kerjakan. Nanti Teteh akan tambah dua reward-nya. Jadi, nanti kamu boleh minta tiga hadiah.”

Bola mata Tisha berbinar. Kepalanya mulai bercabang, memikirkan hal-hal menyenangkan yang diinginkan.

“Sekarang Teteh mau berangkat. Kamu tetap enggak mau ikut, nih?”

“Enggak.” Tisha kembali berbaring. “Mau boboan. Titip salam dan permintaan maaf saja untuk Mamang dan Bibi.”

“Huh, baiklah.” Sesaat sebelum melangkah, Riana menajamkan mata dan mengangkat telunjuk tangan kiri. “Awas jangan kebablasan. Pokoknya harus tetap makan dan mandi.”

Tisha mengerang. Padahal dia berencana untuk libur mandi seharian ini.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
The Skylarked Fate
10125      3802     0     
Fantasy
Gilbert tidak pernah menerima takdir yang diberikan Eros padanya. Bagaimanapun usaha Patricia, Gilbert tidak pernah bisa membalas perasaannya. Seperti itu terus pada reinkarnasi ketujuh. Namun, sebuah fakta meluluhlantakkan perasaan Gilbert. Pada akhirnya, ia diberi kesempatan baru untuk berusaha memperbaiki hubungannya dengan Patricia.
Miracle of Marble Box
4328      2139     2     
Fantasy
Sebuah kotak ajaib yang berkilau ditemukan di antara rerumputan dan semak-semak. Alsa, Indira dan Ovi harus menyelesaikan misi yang muncul dari kotak tersebut jika mereka ingin salah satu temannya kembali. Mereka harus mengalahkan ego masing-masing dan menggunakan keahlian yang dimiliki untuk mencari jawaban dari petunjuk yang diberikan oleh kotak ajaib. Setiap tantangan membawa mereka ke nega...
Kiara - Sebuah Perjalanan Untuk Pulang
4407      1907     2     
Romance
Tentang sebuah petualangan mencari Keberanian, ke-ikhlasan juga arti dari sebuah cinta dan persahabatan yang tulus. 3 Orang yang saling mencintai dengan cara yang berbeda di tempat dan situasi yang berbeda pula. mereka hanya seorang manusia yang memiliki hati besar untuk menerima. Kiara, seorang perempuan jawa ayu yang menjalin persahabatan sejak kecil dengan Ardy dan klisenya mereka saling me...
ASA
7064      2978     0     
Romance
Ketika Rachel membuka mata, betapa terkejutnya ia mendapati kenyataan di hadapannya berubah drastis. Kerinduannya hanya satu, yaitu bertemu dengan orang-orang yang ia sayangi. Namun, Rachel hanya diberi kesempatan selama 40 hari untuk memilih. Rachel harus bisa memilih antara Cinta atau Kebencian. Ini keputusan sulit yang harus dipilihnya. Mampukah Rachel memilih salah satunya sebelum waktunya ha...
Teman Berakhir (Pacar) Musuhan
1096      727     0     
Romance
Bencana! Ini benar-benar bencana sebagaimana invasi alien ke bumi. Selvi, ya Selvi, sepupu Meka yang centil dan sok imut itu akan tinggal di rumahnya? OH NO! Nyebelin banget sih! Mendengar berita itu Albi sobat kecil Meka malah senyum-senyum senang. Kacau nih! Pokoknya Selvi tidak boleh tinggal lama di rumahnya. Berbagai upaya buat mengusir Selvi pun dilakukan. Kira-kira sukses nggak ya, usa...
Wanita Di Sungai Emas (Pendek)
819      583     3     
Fantasy
Beberapa saat kemudian, aku tersandung oleh akar-akar pohon, dan sepertinya Cardy tidak mengetahui itu maka dari itu, dia tetap berlari... bodoh! Akupun mulai menyadari, bahwa ada sungai didekatku, dan aku mulai melihat refleksi diriku disungai. Aku mulai berpikir... mengapa aku harus mengikuti Cardy? Walaupun Cardy adalah teman dekatku... tetapi tidak semestinya aku mengikuti apa saja yang dia...
EPHEMERAL
176      162     2     
Romance
EPHEMERAL berarti tidak ada yang kekal, walaupun begitu akan tetap kubuktikan bahwa janji kita dan cinta kita akan kekal selamanya walaupun nanti kita dipisahkan oleh takdir. Aku paling benci perpisahan tetapi tanpa perpisahan tidak akan pernah adanya pertemuan. Aku dan kamu selamanya.
Teman Hidup
8778      3335     1     
Romance
Dhisti harus bersaing dengan saudara tirinya, Laras, untuk mendapatkan hati Damian, si pemilik kafe A Latte. Dhisti tahu kesempatannya sangat kecil apalagi Damian sangat mencintai Laras. Dhisti tidak menyerah karena ia selalu bertemu Damian di kafe. Dhisti percaya kalau cinta yang menjadi miliknya tidak akan ke mana. Seiring waktu berjalan, rasa cinta Damian bertambah besar pada Laras walau wan...
Le Papillon
4047      1812     0     
Romance
Victoria Rawles atau biasa di panggil Tory tidak sabar untuk memulai kehidupan perkuliahannya di Franco University, London. Sejak kecil ia bermimpi untuk bisa belajar seni lukis disana. Menjalani hari-hari di kampus ternyata tidak mudah. Apalagi saat saingan Tory adalah putra-putri dari seorang seniman yang sangat terkenal dan kaya raya. Sampai akhirnya Tory bertemu dengan Juno, senior yang terli...
Gunay and His Broken Life
11914      4527     0     
Romance
Hidup Gunay adalah kakaknya. Kakaknya adalah hidup Gunay. Pemuda malang ini telah ditinggal ibunya sejak kecil yang membuatnya secara naluri menganggap kakaknya adalah pengganti sosok ibu baginya. Hidupnya begitu bergantung pada gadis itu. Mulai dari ia bangun tidur, hingga kembali lagi ke tempat tidur yang keluar dari mulutnya hanyalah "kakak, kakak, dan kakak" Sampai memberi makan ikan...