Loading...
Logo TinLit
Read Story - Seharap
MENU
About Us  

“Ayo, dong!” ajak seorang anak perempuan berusia delapan tahun. Itu adalah Tisha kecil yang sedang merengek pada kedua orang tuanya yang duduk di kedua sisinya. Hari itu Minggu, tetapi bukannya bersantai bersama keluarga seperti hari biasanya, Tisha malah minta diantarkan ke rumah temannya yang kemarin tidak masuk sekolah.

“Tapi di luar hujan, Nak.” Bunda mengusap kepala Tisha. “Lagian orang sakit itu, apalagi yang baru satu hari, enggak perlu dijenguk. Biarkan dia istirahat dulu.”

Tisha mencebik. “Tapi tadi Fathan SMS kalau kemarin dia cuman sakit leher karena salah bantal. Sekarang dia udah sembuh, makanya minta tolong ke aku buat lihat catatan tugas soalnya besok dia mau sekolah, takut ketinggalan katanya. Lagian kan kita naik mobil, enggak akan kehujanan, Bun.”

“Tapi ....”

“Ya udah.” Ayah memotong ucapan Bunda. “Ayo Ayah antar.”

“Yeay!” Tisha berjingkrak, segera mengambil peralatan belajarnya.

“Bunda ikut.” Bunda tiba-tiba menyusul ke garasi.

Tisha makin kegirangan.

Begitu mobil bergerak meninggalkan pekarangan rumah, Ayah melirik Bunda yang memangku Tisha. “Eh, tapi nanti yang antar sayur gimana?”

Orang tua Tisha memiliki usaha perkebunan. Setiap akhir pekan pegawainya melakukan penyetoran ke rumah mereka.

“Kita langsung pulang aja setelah antar Tisha.” Bunda menoel pipi si bungsu. “Lagian kamu pasti mau main kan di sana?”

Tisha menyengir.

“Nanti dijemput Teteh, ya?”

Tisha menggeleng. “Mau sama Ayah dan Bunda lagi.”

Bunda menghela napas. “Tapi kami enggak bisa, Nak.”

“Oh, mau urus sayur, ya?” Tisha diam sesaat, lalu tersenyum, “Oke, deh, sama Teh Riana aja.”

Akhirnya, Tisha diturunkan di depan rumah temannya yang berada di pinggiran persawahan. Karena hujan, Tisha disuruh langsung berlari ke terasnya tanpa menunggu mobil orang tuanya parkir.

Tisha menurut. Dia hendak mengetuk pintunya, tetapi suara benturan dan jeritan, membuatnya tersentak. Dia menoleh, dan melihat mobil yang dikendarai ayahnya dalam posisi miring, salah satu bannya tergelincir jatuh ke sawah yang letaknya beberapa meter lebih rendah dari jalanan.

Tisha berlari sambil memanggil-manggil orang tuanya. Namun, langkahnya tertahan oleh warga yang memintanya tak mendekat karena akan melakukan evakuasi.

Tak sampai dua jam mereka berhasil dievakuasi. Namun, Tisha dibuat histeris karena hasilnya. Raga orang tuanya memang terlihat baik, hanya baret dan berdarah di beberapa bagian, tetapi ternyata jiwa mereka sudah tidak ada lagi di sana.

“Huh!” Tisha mengerjap dengan deru napas memburu. Lagi-lagi kenangan itu mengusik mimpinya. Sudah bertahun-tahun orang tuanya pergi, tetapi mimpi itu selalu menghantuinya. Membuat lukanya makin menganga. Sakit.

Tisha sangat merindukan bunda dan ayahnya. Namun, perasaan bersalahnya lebih besar. Dia menyesali niatnya membantu sang teman. Itu sebabnya dia tidak mau bertemu lagi dengan Fathan, bahkan setelah masa berkabung selesai, Tisha langsung meminta pada Riana untuk pindah sekolah dan memulai hidup baru sebagai sosok apatis.

Tisha bangkit dan mengusap wajah kasar. Dia butuh pengalihan, tetapi dia tidak tahu harus melakukan apa. Sampai beberapa saat berlalu, tidak ada satu pun ide yang melintas di kepalanya. Yang muncul malah suara nyaring khas lambung minta diisi. “Hadeuh, malah lapar,” keluhnya sembari mengusap-usap perut.

Akhirnya, Tisha turun dari ranjang dan keluar dari kamar. Tiba di ambang dapur, suasana gelap menyapa netra Tisha. Tanpa berniat menyalakan lampu, gadis itu melangkah menuju sudut ruangan itu. Sejak kecelakaan itu Tisha sudah bertekad untuk menjadi pemberani. Baginya bukan masalah harus menerobos kegelapan ataupun kesunyian, asalkan sendirian.

Berbeda jika dia harus melaluinya dengan orang lain, itu malah tak mengenakkan, dan Tisha tidak sedang dalam suasana hati baik untuk memikirkannya. Skip saja. Intinya dia merasa bukan sosok penakut.

Kaki Tisha berhenti tepat di depan tempat mencuci piring. Tangan kanannya terulur untuk memutar keran. Begitu airnya keluar, ragu-ragu dia menengadahkan telapak tangan ke air. Tisha bergidik. Dingin.

Akhirnya Tisha mengurungkan niatnya untuk membasuh muka. Memilih membalikkan badan sembari mengusapkan sedikit air yang tertinggal di jemarinya ke sudut-sudut mata, mengurangi kotoran-kotoran di sana.

Terlihat sedikit–atau mungkin sangat–jorok memang. Namun, memangnya siapa yang mau repot-repot bersentuhan dengan air di waktu buta seperti itu? Di saat seharusnya masih lelap menikmati mimpi.

Ah, apa pun keanehannya, biarkan saja Tisha. Toh dia juga tidak sedang mengusik orang lain. Maka, Tisha harap yang lain pun tidak mengusiknya.

“Mau ngapain?”

Baru juga Tisha akan membuka lemari makanan, ruangan malah jadi benderang. Saat menoleh, dia melihat Riana berdiri di ambang pintu dengan tangan di dekat sakelar lampu.

“Makan,” sahut Tisha ogah-ogahan dengan tangan yang meraba-raba wadah roti. Melihat semuanya berasa kacang, seketika mengingatkannya pada Sawala. Tisha menggeleng, berusaha mengusir nama yang sudah membuatnya tidur larut.   

Semalam Tisha sempat kesulitan tidur. Kepalanya terlalu penuh. Otaknya mumet memikirkan kelanjutan pemenuhan tantangannya. Tisha dilema, sedikit banyak mulai terpikir untuk mundur saja. Sebab, dia tidak mau lagi menerima perhatian Sawala. Tingkah Sawala yang begitu ramah dan penuh perhatian membuat Tisha ketakutan. Tisha takut akan terlena dan menyukainya.

Namun, jika memilih berhenti ... rasanya kok sayang, ya? Tidak, Tisha tidak mungkin sayang Sawala! Seberapa baik pun gadis itu, bagi Tisha Sawala tetap pengganggu. Tisha tidak tergiur untuk memberikan afeksi. Dia hanya sayang dengan tenaganya sendiri yang sudah dikerahkan selama tiga hari kemarin.

Bukan hal mudah menghadapi segala basa-basi Sawala. Tisha harus selalu memeras tenggorokan dan memutar keras otak dengan intensitas yang membuatnya sangat kelelahan. Tisha akan merasa rugi jika hanya sampai sini, lalu berhenti.

“Sahur?” Riana yang sedang menuangkan air putih, membuyarkan lamunan Tisha.

Tisha berdecak. “Enggaklah!” Ini bukan bulan Ramadan, dan Tisha juga sudah tidak punya hutang qadha.

Riana mengusap bibir setelah menegak air. “Yakin?”

Tisha mendengkus. “Aku lapar, makanya makan! Udah, enggak ada alasan lain!”

“Dih, sewot. Padahal kan Teteh cuma penasaran, siapa tahu kamu mau puasa sunah Kamis juga.”

Juga? batin Tisha. “Teteh mau puasa?”

Riana mengangguk, mendekati Tisha untuk ikut melongok pada isi lemari. “Ini mau sahur.”

Seketika Tisha mendorong Riana dan mengembalikan roti yang sempat diambilnya ke tempat semula. “Aku masakin,” putusnya dengan tangan yang sibuk membuka kulkas dan memilah-milah isi wadah sayuran.

Senyum Riana mengembang. “Makasih, Chef.”

”Heem,” sahut Tisha sekenanya. Dia terlalu sibuk memindahkan bahan-bahan masakan ke tempat memotong.

“Perlu Teteh bantu, enggak?” Riana mengekori sang adik.

Tisha menggeleng tak santai. “Enggak perlu,” tolaknya gusar. Membiarkan Riana berkutat dengan alat masak adalah hal yang cukup meresahkan untuknya. Kakaknya itu suka barbar. “Udah sana duduk aja.”

“Oh, oke.” Akhirnya Riana menurut. Lagipula yang tadi itu hanya basa-basi. Dia tahu jelas bagaimana kapasitasnya.

***

“Eh, ini aja?”

Tisha melihat kembali hasil karya tangannya. Ada tumis kangkung, tempe goreng, dan telur dadar. “Iya. Atau masih ada yang Teteh mau? Apa? Aku buatkan sekarang.”

“Bukan itu.”

Tisha mengangkat alis kanan. “Terus?”

“Ini dikit banget, kayaknya sekali makan kita sekarang bakal langsung habis, deh.”

“Emang sengaja bikin segitu.”

“Kok? Enggak nyiapin sekalian buat bekal ke sekolah?” Riana mengusap dagu. “Eh, kemarin juga kayaknya Teteh enggak lihat kamu siapin bekal. Kenapa?”

Tisha duduk, kemudian mengisikan nasi untuk Riana. “Dua minggu ini libur dulu. Gara-gara tantangan dari Teteh aku enggak ada waktu buat makan di sekolah.”

“Lha, kenapa?”

“Waktu istirahat habis di perpustakaan bareng Kak Sawala yang selalu mepet aku, jadi enggak akan sempat buat makan bekal.”

Setelah membuat bekalnya di hari Senin lalu menjadi sia-sia karena kebersamaannya dengan Sawala, Tisha memutuskan untuk libur dulu membawa bekal makanan berat. Dia menggantinya dengan susu kotak yang bisa diminum cepat sebelum pergi ke perpustakaan.

Riana mengernyit. “Emang Sawala melarang kamu makan?”

“Enggak, sih.” Tisha menghela napas. “Dia malah suka ngajak makan bareng.” Suaranya memelan di akhir.

“Jadi, masalahnya?”

“Itu ....” Tisha menggigit bibir bawah. “Aku bingung aja kalau tetap bawa bekal, gimana cara makannya di dekat Kak Sawala.”

“Gitu aja bingung.” Riana tertawa. “Ya, tinggal serok pake sendok terus masukin ke mulut.” Sambil itu dia mempraktikannya dan mulai makan.

Tisha berdecak. Bahkan bayi sekalipun pasti tahu cara makan memang begitu. “Tapi bukan itu masalahnya. Aku ... cuma bingung aja kalau makan sendirian. Gimana, ya, males enggak enak gitu sama Kak Sawala.”

“Oh, segan? Ya udah, tinggal tawarin aja. Toh, Teteh juga yakin dia enggak mungkin langsung nyerobot minta makananmu.”

Tisha mengeratkan pegangan pada sendok. Ah, sudahlah. Memang tidak cocok membahas yang seperti ini dengan sang kakak. Sebab, Riana tidak mungkin mengerti perasaannya yang selalu diliputi ketidaknyamanan saat harus berusaha berbagi dengan orang lain, walau hanya berembel basa-basi.

Akhirnya hening, kakak dan adik itu sibuk menyantap makanan. Setelah semua piring kosong, Riana kembali bersuara. “Eh, baru ingat, Sawala titip pesan buat kamu, katanya hari ini berangkatnya agak pagian.”

Tisha yang sedang menumpuk piring memandang lurus Riana. “Kapan Teteh ketemu dia?”

“Enggak ketemu, tapi dia ada nge-chat tadi.”

“Tadi malam?”

“Bukan, tadi pagi, eh dini, eh apa, sih, itu? Pokoknya tadi, sekitar beberapa menit lalu, sebelum Teteh ke dapur.”

Tisha membatin. Jadi, ternyata bukan hanya Tisha yang bangun di jam dini begini. Riana dan Sawala juga melakukan hal yang sama. Namun, apa alasan mereka? Mungkinkah mereka juga memimpikan sesuatu menyesakkan seperti dirinya hingga enggan kembali memejamkan mata?

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
KELANA [Kenzie - Elea - Naresh]
6936      2559     0     
Fan Fiction
Kenzie, Elea, Naresh, tiga sahabat yang ditakdirkan menjadi seorang bintang. Elea begitu mengagumi Naresh secara diam-diam, hingga dia amat sangat peduli terhadap Naresh. Naresh yang belakangan ini sering masuk lambe turah karena dicap sebagai playboy. Bukan tanpa sebab Naresh begitu, laki-laki itu memiliki alasan dibalik kelakuannya. Dibantu dengan Kenzie, Elea berusaha sekuat tenaga menyadarka...
MAMPU
10619      3646     0     
Romance
Cerita ini didedikasikan untuk kalian yang pernah punya teman di masa kecil dan tinggalnya bertetanggaan. Itulah yang dialami oleh Andira, dia punya teman masa kecil yang bernama Anandra. Suatu hari mereka berpisah, tapi kemudian bertemu lagi setelah bertahun-tahun terlewat begitu saja. Mereka bisa saling mengungkapkan rasa rindu, tapi sayang. Anandra salah paham dan menganggap kalau Andira punya...
Dandelion
9461      3123     0     
Romance
Kuat, Cantik dan Penuh Makna. Tumbuh liar dan bebas. Meskipun sederhana, ia selalu setia di antara ilalang. Seorang pemuda yang kabur dari rumah dan memilih untuk belajar hidup mandiri. Taehyung bertemu dengan Haewon, seorang gadis galak yang menyimpan banyak masalah hidup.
A.P.I (A Perfect Imaginer)
243      211     1     
Fantasy
Seorang pelajar biasa dan pemalas, Robert, diharuskan melakukan petualangan diluar nalarnya ketika seseorang datang ke kamarnya dan mengatakan dia adalah penduduk Dunia Antarklan yang menjemput Robert untuk kembali ke dunia asli Robert. Misi penjemputan ini bersamaan dengan rencana Si Jubah Hitam, sang penguasa Klan Kegelapan, yang akan mencuri sebuah bongkahan dari Klan Api.
Edelweiss: The One That Stays
3306      1714     1     
Mystery
Seperti mimpi buruk, Aura mendadak dihadapkan dengan kepala sekolah dan seorang detektif bodoh yang menginterogasinya sebagai saksi akan misteri kematian guru baru di sekolah mereka. Apa pasalnya? Gadis itu terekam berada di tempat kejadian perkara persis ketika guru itu tewas. Penyelidikan dimulai. Sesuai pernyataan Aura yang mengatakan adanya saksi baru, Reza Aldebra, mereka mencari keberada...
ALTHEA
188      161     0     
Romance
Ini adalah kisah seorang perempuan riang yang memiliki perasaan lebih ke manusia es batu, manusia cuek yang telah menyukai seorang perempuan lain di sekolahnya. Walaupun ia tahu bahwa laki laki itu bukan menyukai dirinya, tetap saja ia tak akan kunjung lelah untuk mendapatkan perhatian dan hati laki laki itu. Akankah ia berhasil mendapatkan yang dia mau? "Dasar jamet, bales chat nya si...
Lebih dari Cinta Rahwana kepada Sinta
7382      3115     2     
Romance
Pernahkan mendengarkan kisah Ramayana? Jika pernah mendengarnya, cerita ini hampir memiliki kisah yang sama dengan romansa dua sejoli ini. Namun, bukan cerita Rama dan Sinta yang akan diceritakan. Namun keagungan cinta Rahwana kepada Sinta yang akan diulas dalam cerita ini. Betapa agung dan hormatnya Rahwana, raksasa yang merajai Alengka dengan segala kemewahan dan kekuasaannya yang luas. Raksas...
DI ANTARA DOEA HATI
1968      1062     1     
Romance
Setelah peristiwa penembakan yang menewaskan Sang mantan kekasih, membuat Kanaya Larasati diliputi kecemasan. Bayang-bayang masa lalu terus menghantuinya. "Siapapun yang akan menjadi pasanganmu akan berakgir tragis," ucap seorang cenayang. Hal tersebut membuat sahabat kecilnya Reyhan, seorang perwira tinggi Angkatan Darat begitu mengkhawatirkannya. Dia berencana untuk menikahi gadis itu. Disaa...
Prakerin
9321      2834     14     
Romance
Siapa sih yang nggak kesel kalo gebetan yang udah nempel kaya ketombe —kayanya Anja lupa kalo ketombe bisa aja rontok— dan udah yakin seratus persen sebentar lagi jadi pacar, malah jadian sama orang lain? Kesel kan? Kesel lah! Nah, hal miris inilah yang terjadi sama Anja, si rajin —telat dan bolos— yang nggak mau berangkat prakerin. Alasannya klise, karena takut dapet pembimbing ya...
Drifting Away In Simple Conversation
552      398     0     
Romance
Rendra adalah seorang pria kaya yang memiliki segalanya, kecuali kebahagiaan. Dia merasa bosan dan kesepian dengan hidupnya yang monoton dan penuh tekanan. Aira adalah seorang wanita miskin yang berjuang untuk membayar hutang pinjaman online yang menjeratnya. Dia harus bekerja keras di berbagai pekerjaan sambil menanggung beban keluarganya. Mereka adalah dua orang asing yang tidak pernah berpi...