Loading...
Logo TinLit
Read Story - Nyanyian Burung di Ufuk Senja
MENU
About Us  

Sepagi ini aku sudah mematut di depan kaca mengenakan kebaya berwarna cokelat muda. Aku mengambil toga yang ada di atas meja belajar dan mencoba memakainya. Ya, aku sebentar lagi akan wisuda. Akhirnya setelah melewati KKN, skripsi, dan sidang, aku bisa mencicipi hasil itu semua. Jerih payah selama setahun lebih, penuh perjuangan dan air mata. 

Terdengar Kak Salsa memanggilku untuk segera berangkat. Sambil menggendong Aisyah kecil, dia merapikan jilbabku. 

Kami segera berangkat menuju Universitas Pemuda Bangsa. Beberapa kali ponselku berdering. Siapa lagi kalau bukan Karin yang memintaku untuk cepat datang ke kampus. Sedari malam dia sibuk meneleponku untuk rencana wisuda nanti. Apalagi dia mengatakan bahwa Kak Bastian juga akan datang. Aku turut bahagia dengan mereka, semoga segera ada kabar baik.

Setelah sampai di kampus, aku berpisah dengan Kak Salsa dan Bang Aldi, karena aku harus masuk ke dalam barisan wisudawan. Aku mencium Aisyah kecil dan mencubit pipinya. Rasanya senang sekali mempunyai keponakan yang sangat lucu. Setiap pulang kuliah, aku selalu bermain dengannya. Terkadang rasanya malas pergi kuliah dan ingin bermain seharian bersama Aisyah.

Aku memasuki aula kampus melalui pintu samping yang tembus ke belakang panggung. Mencari sosok Karin yang ternyata sangat mudah ditemukan. Hanya tinggal mendengar suara teriakannya saja, maka di situlah posisinya. Dia sudah heboh berfoto ria bersama teman-teman angkatan kami. Ketika dia melihatku, dia langsung menarikku untuk foto bersama.

***

Aku menikmati setiap detik acara wisuda. Beberapa tahun kemudian, hari ini bakal menjadi kenangan yang sangat manis. Menorehkan sejarah di hidupku yang berhasil bangkit dari keterpurukan. Aku benar-benar bisa fokus belajar dan mendapatkan pengalaman banyak dari berorganisasi. Tidak seperti ketika SMA yang tak jarang aku belajar sembari berurai air mata. Namun semua berhasil kulalui dan bisa lulus di universitas terbaik di Jakarta.

Seusai acara, kami mengadakan sesi perfotoan. Aku sangat lelah, tapi apa boleh buat. Ini untuk terakhir kalinya mengabadikan momen-momen bersama di kampus. Setelah itu aku berpoto dengan Kak Salsa dan Bang Aldi. Karin memarahiku yang awalnya malas untuk banyak berfoto lagi. Setelah itu, Kak Salsa dan Bang Aldi ingin pulang terlebih dahulu, karena Aisyah sudah rewel. Begitu pun orangtua Karin yang pulang terlebih dahulu, karena kami masih ada sesi perfotoan lagi. 

Ketika kami sedang duduk di kursi tamu yang sudah banyak meninggalkan aula, Kak Bastian datang menghampiri kami. Ternyata dia tak sendirian, ada Kak Hendra di sampingnya. Terlihat senyuman jailnya saat menghampiri kami. Aku hanya mencibir.

“Salma begitu ya. Padahal sudah lama nggak ketemu. Saya jauh-jauh datang demi ketemu kamu untuk ngasih hadiah,” kata Kak Hendra sambil menyodorkanku sebuah tas jinjing. Ternyata isinya novel.

“Makasih ya, Kak,” ujarku.

Setelah itu, kami berfoto bersama dan mengobrol. Aku masih tak percaya bisa dekat dengan mereka. Kalau bukan karena Karin, mana mungkin aku bisa akrab dengan mereka.

“Oh iya, Kak Adit mana? Nggak dateng ya?” tanya Karin.

“Ibunya Adit meninggal nggak lama sehabis wisuda tahun lalu. Jadinya dia sibuk dengan keluarganya semenjak itu. Kita aja udah jarang ketemu,” jawab Kak Bastian.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un,” kataku dan Karin serempak.

Aku hanya bisa berdoa yang terbaik untuk Kak Adit dan keluarganya. Bagaimanapun dia sudah seperti sosok kakak laki-laki bagiku. Sebenarnya aku tak pernah mengharap lebih dari itu. Aku juga tidak pernah benar-benar punya perasaan yang menggebu-gebu terhadapnya. Namun itu semua hanya karena dorongan dari Kak Hendra. Wanita mana yang tidak tersipu jika ada yang mengatakan lelaki sekeren Kak Adit menaruh perasaan kepadanya?

“Salsabila!” teriak Bagas yang melambaikan tangan kepadaku.

Dia menghampiriku yang sedang asyik berbicara dengan Karin, Kak Bastian, dan Kak Hendra. Dan teriakan Bagas membuat semuanya melihat ke arahku.

“Maaf mengganggu. Saya pinjam Salmanya sebentar ya,” ujarnya dan melirikkan bola matanya untuk mengikutinya.

Aku hanya pasrah dan mengikutinya. Aku merasa tak enak jika menolaknya. Ternyata dia membawaku kepada Gilang dan Ezra. Terlihat Ezra sedang memegang kamera.

“Bro, potoin kita berdua ya. Background-nya panggung ya biar kelihatan. Ayo, Salsabila, kamu pakai toganya,” kata Bagas dengan semangat. 

“Tapi, Gas, aku nggak enak kalau berduaan aja fotonya. Gimana kalau sama yang lain?” pintaku.

“Plis, ini untuk kenangan terakhir kita di sini. Aku bakal kecewa kalau nggak ada kenangan denganmu.” 

Akhirnya aku mengalah. Meskipun kami foto dengan jarak yang berjauhan dan aku yang tersenyum canggung. Gilang dan Ezra tak henti-hentinya tersenyum dan menggoda kami berdua. Setelah itu Bagas mengisyaratkan mereka untuk menjauh. Dia merogohkan tangannya ke dalam saku dan mengeluarkan sebuah gantungan kunci.

“Ini hadiah buat kamu. Selamat ya sudah lulus. Aku nitip ini sama saudaraku yang pergi ke Paris. Aku ingat kamu sangat ingin ke sana,” ujarnya.

Pipiku memanas dan aku tak bisa menyembunyikannya. Aku mengucapkan terima kasih dengan terbata-bata. Sangat memalukan. Hanya Bagas yang bisa membuatku kikuk. Tak lama kemudian, dia memberiku kertas yang dilipat kecil.

“Ini nanti dibacanya kalau udah sampai rumah ya. Aku pamit dulu. Semoga kita bertemu lagi,” katanya tersenyum.

Setelah Bagas meninggalkanku, tiba-tiba Karin menepuk pundakku. “Ayo, pulang. Kak Bastian dan Kak Hendra ngajak kita makan bareng. Eh, lu nangis kenapa?” 

“Nggak, gue nggak nangis,” jawabku sambil cepat-cepat menyeka kedua mataku.

“Aduh, lu diapain lagi sih sama pujangga playboy itu?!” 

Aku mencubit kecil lengannya dan menariknya untuk pergi. Ketika kami berada di parkiran kampus, Bram terlihat datang menghampiriku. Dia menyodorkan satu rangkaian mawar putih ke hadapanku.

Happy Graduation. Maaf aku telat,” katanya sambil tersenyum.

Bram tidak bisa mengikuti wisuda tahun ini, karena masih ada beberapa mata kuliah yang tertinggal. Dulu dia memang jarang masuk kuliah, jadinya dia sekarang sedang memperbaiki dosa-dosanya di masa lalu.

Thank’s, Bram.” 

“Oh iya, Bang Aldi udah ngabarin sesuatu nggak tentang aku?” 

“Emm… ngabarin apa? Belum tuh.” 

“Oh gitu. Ya sudah nanti nunggu Bang Aldi yang bilang ke kamu.” 

Aku berpamitan dengan Bram dan menuju ke restoran. Di perjalanan, Kak Hendra sibuk meledekku.

“Ternyata Salma banyak banget penggemarnya. Tapi saya yakin sih, saya bakal menangin hati kamu,” ujarnya dan mengedipkan sebelah matanya.

Kak Bastian meninju lengannya, sebelum Karin meledak-ledak. Aku hanya tertawa saja melihat mereka. 

Ah, rasanya ingin cepat pulang ke rumah dan melihat isi kertas yang diberikan Bagas. Kira-kira isinya apa ya? Aku penasaran. Tiba-tiba pipiku memanas lagi mengingat kejadian tadi. Aku menyimpan hasil foto tadi. Kebetulan tadi kami dipotret dengan kamera polaroid, jadi langsung mendapatkan hasilnya. 

Setelah puas makan bersama dan tertawa-tawa sampai mata berair, kami pun pulang. Seandainya Kak Adit bisa ikut, aku rindu dengan kehadirannya. Semoga dia baik-baik saja. 

***

“Bang, aku mau nanya, tadi Bram bilang kalau Bang Aldi udah ngasih tahu sesuatu belum, gitu,” kataku.

Bang Aldi dan Kak Salsa saling berpandangan satu sama lain. 

“Sebaiknya kita ngobrol sambil duduk. Ada yang Kakak sama Abang mau sampaikan,” kata Kak Salsa.

Aku pun ikut duduk di samping mereka dan melihat gelagat yang mencurigakan. Sepertinya ada hal yang sangat serius. 

“Jadi gini, kemarin Bram mengirimi e-mail isinya proposal ta’aruf untuk kamu. Katanya minggu depan, dia bakal datang bersama orang tuanya untuk melamar kamu,” kata Bang Aldi pelan.

Aku terkejut. Tiba-tiba keringat dingin menjalar di sekujur tubuhku. Aku hanya terdiam dan tidak mengatakan sepatah kata pun.

“Ma, jawaban lamarannya kita bakal serahin ke kamu, tapi kamu bersedia nggak kalau Bram bakal datang melamar kamu bersama kedua orangtuanya?” tanya Kak Salsa.

“Aku nggak mungkin melarang orang datang dan mempunyai niatan baik. Kalau Bram ingin datang melamarku, aku persilakan, tapi aku nggak bisa menjamin punya jawaban secepatnya.” 

“Ya udah, nanti Abang bilang ke Bram untuk mempersilakan melamar kamu. Cuma untuk jawabannya kita serahkan semuanya ke kamu,” kata Bang Aldi.

“Banyak-banyak salat istikharah,” pesan Kak Salsa.

Aku menganggukkan kepala dan setelah itu masuk ke dalam kamar. Aku duduk termenung di kursi depan meja belajar. Terlihat fotoku bersama Bagas tergeletak dan di sampingnya ada kertas darinya yang belum kubuka. Sudah kuduga, isinya sebuah puisi.

 

Untuk Perempuan Pengagum Senja

 

Senja memukau setiap insan.

Hujan menyejukkan hati yang gundah.

Bangunan tua yang menyimpan sejarah.

Tetapi keindahan hanya milikmu.

Keindahan senyuman elokmu.

Gadis manis, kenangan ini hanya milik kita.

Terpahat oleh aksara abadi.

Zaman memakan usia.

Tapi bukan kenangan kita. 

 

Tanpa aba-aba, air mata turun dengan derasnya. Aku menangis dengan pilu. Teringat perbicangan dengan Karin tempo dulu, tentang bayangan menakutkan ini. Dengan bijaknya aku menjawab semua itu. Pada praktiknya, aku hanyalah manusia lemah. Aku bukan wanita bijak yang selalu berpikir dengan logika. Aku menatap foto Bagas. Apa yang harus aku lakukan, Gas?

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
A Freedom
188      167     1     
Inspirational
Kebebasan adalah hal yang diinginkan setiap orang. Bebas dalam menentukan pilihan pun dalam menjalani kehidupan. Namun sayang kebebasan itu begitu sulit bagi Bestari. Seolah mendapat karma dari dosa sang Ayah dia harus memikul beban yang tak semestinya dia pikul. Mampukah Bestari mendapatkan kebebasan hidup seperti yang diinginkannya?
Marry
2302      1092     0     
Fantasy
Orang-orang terdekat menghilang, mimpi yang sama datang berulang-ulang, Marry sempat dibuat berlalu lalang mencari kebenaran. Max yang dikenal sebagai badut gratis sekaligus menambatkan hatinya hanya pada Orwell memberi tahu bahwa sudah saatnya Marry mengetahui sesuatu. Sesuatu tentang dirinya sendiri dan Henry.
Asoy Geboy
7450      2527     2     
Inspirational
Namanya Geboy, motonya Asoy, tapi hidupnya? Mlehoy! Nggak lengkap rasanya kalau Boy belum dibandingkan dengan Randu, sepupu sekaligus musuh bebuyutannya dari kecil. Setiap hari, ada saja kelebihan cowok itu yang dibicarakan papanya di meja makan. Satu-satunya hal yang bisa Boy banggakan adalah kedudukannya sebagai Ketua Geng Senter. Tapi, siapa sangka? Lomba Kompetensi Siswa yang menjadi p...
Kisah Kemarin
9882      2489     2     
Romance
Ini kisah tentang Alfred dan Zoe. Kemarin Alfred baru putus dengan pacarnya, kemarin juga Zoe tidak tertarik dengan yang namanya pacaran. Tidak butuh waktu lama untuk Alfred dan Zoe bersama. Sampai suatu waktu, karena impian, jarak membentang di antara keduanya. Di sana, ada lelaki yang lebih perhatian kepada Zoe. Di sini, ada perempuan yang selalu hadir untuk Alfred. Zoe berpikir, kemarin wak...
The Alpha
2496      1193     0     
Romance
Winda hanya anak baru kelas dua belas biasa yang tidak menarik perhatian. Satu-satunya alasan mengapa semua orang bisa mengenalinya karena Reza--teman masa kecil dan juga tetangganya yang ternyata jadi cowok populer di sekolah. Meski begitu, Winda tidak pernah ambil pusing dengan status Reza di sekolah. Tapi pada akhirnya masalah demi masalah menghampiri Winda. Ia tidak menyangka harus terjebak d...
Kiara - Sebuah Perjalanan Untuk Pulang
4192      1789     2     
Romance
Tentang sebuah petualangan mencari Keberanian, ke-ikhlasan juga arti dari sebuah cinta dan persahabatan yang tulus. 3 Orang yang saling mencintai dengan cara yang berbeda di tempat dan situasi yang berbeda pula. mereka hanya seorang manusia yang memiliki hati besar untuk menerima. Kiara, seorang perempuan jawa ayu yang menjalin persahabatan sejak kecil dengan Ardy dan klisenya mereka saling me...
Cinta di Sepertiga Malam Terakhir
9075      2558     1     
Romance
Seorang wanita berdarah Sunda memiliki wajah yang memikat siapapun yang melihatnya. Ia harus menerima banyak kenyataan yang mau tak mau harus diterimanya. Mulai dari pesantren, pengorbanan, dan lain hal tak terduga lainnya. Banyak pria yang datang melamarnya, namun semuanya ditolak. Bukan karena ia penyuka sesama jenis! Tetapi karena ia sedang menunggu orang yang namanya sudah terlukis indah diha...
Lebih dari Cinta Rahwana kepada Sinta
7317      3078     2     
Romance
Pernahkan mendengarkan kisah Ramayana? Jika pernah mendengarnya, cerita ini hampir memiliki kisah yang sama dengan romansa dua sejoli ini. Namun, bukan cerita Rama dan Sinta yang akan diceritakan. Namun keagungan cinta Rahwana kepada Sinta yang akan diulas dalam cerita ini. Betapa agung dan hormatnya Rahwana, raksasa yang merajai Alengka dengan segala kemewahan dan kekuasaannya yang luas. Raksas...
Acropolis Athens
6483      2560     5     
Romance
Adelar Devano Harchie Kepribadian berubah setelah Ia mengetahui alasan mendiang Ibunya meninggal. Menjadi Prefeksionis untuk mengendalikan traumanya. Disisi lain, Aram Mahasiswi pindahan dari Melbourne yang lamban laun terkoneksi dengan Adelar. Banyak alasan untuk tidak bersama Aram, namun Adelar terus mencoba hingga keduanya dihadapkan dengan kenyataan yang ada.
Romance is the Hook
6253      2430     1     
Romance
Tidak ada hal lain yang ia butuhkan dalam hidupnya selain kebebasan dan balas dendam. Almira Garcia Pradnyani memulai pekerjaannya sebagai editor di Gautama Books dengan satu tujuan besar untuk membuktikan kemampuannya sendiri pada keluarga ibunya. Namun jalan menuju keberhasilan tidaklah mudah. Berawal dari satu kotak cinnamon rolls dan keisengan Reynaldo Pramana membuat Almira menambah satu ...