"Kamu kenapa?" Pria itu menatap Farah yang duduk dihadapannya.
Hari ini terakhir kali Abhi mengajarinya Bahasa Arab, sesuai dengan waktu yang ditentukan. Berkat Abhi juga kini Farah sudah bisa berbahasa Arab walau masih tersendat-sendat.
Farah mendongakkan kepalanya, "Kenapa apanya?" Dia balik bertanya.
"Kamu tau apa yang buat penglihatan aku ga nyaman?"
Farah mengernyit. "Apa?"
"Liat kamu diemin aku gini," kata Abhi.
Farah tersenyum tipis kemudian menggelengkan kepalanya. Kenapa mendadak Abhi jadi bersikap seperti itu? Farah hendak tertawa sebenarnya, kalau saja ia tidak mengingat ancaman Haura pasti ia sudah melakukannya daritadi. Tapi ini bukan karena takut dengan ancaman Haura, tapi Farah tidak ingin mencari masalah dengan siapapun.
Melihat Farah yang kembali menulis dibuku catatannya membuat Abhi tampak bingung harus bagaimana. Pria itu merasa aneh jika berhadapan dengan Farah yang biasanya selalu menggodanya sekarang jadi pendiam.
"Aku ada salah?" tanya Abhi yang hanya mendapat gelengan kepala dari Farah. Abhi menghela nafas pelan.
"Kita ga usah adain praktek lagi ya, aku rasa udah cukup." Abhi masih menatap Farah lekat.
"Iya," jawab Farah singkat. Bahkan gadis itu tidak menatap Abhi sedikitpun.
Dari awal hingga di akhir pembelajaran, hanya itu obrolan mereka selain penjelasan materi dari Abhi. Biasanya saat Abhi menjelaskan Farah selalu bertanya dan bercanda hingga tak jarang membuat Abhi kesal. Tapi hari ini gadis itu lebih banyak diam dan memperhatikan.
"Assalamu'alaikum,"
Suara itu membuat Farah dan Abhi menoleh pada seseorang yang berjalan menghampiri mereka. Tampak Cut yang memakai hijab syar'i berwarna peach sedang berjalan sedikit cepat kearah Farah.
"Wa'alaikumussalam," jawab keduanya bersamaan.
"Afwan ganggu, tapi ada yang jenguk Farah dan mereka udah nunggu di pondok pesantren."
Perkataan Cut membuat Farah membulatkan matanya, gadis itu rasanya ingin loncat dan segera pergi menemui keluarganya itu. Tapi ia tidak bisa melakukan itu jika belum mendapat persetujuan dari Abhi, mengingat waktu belajar masih ada sekitar lima menit lagi.
"Boleh pergi sekarang?" tanya Farah ragu.
"Tunggu sampai jam belajar selesai," kata Abhi sambil membaca buku ditangannya kembali.
"Tapi ini kan tinggal lima menit lagi, pelajarannya juga udah selesai. Kenapa aku ga boleh pergi sekarang?"
Abhi menghela nafas, menutup bukunya, kemudian menatap Farah.
"Pergilah," katanya pelan.
Senyuman diwajah Farah mengembang, daritadi kata itu yang ia tunggu dari Abhi. Farah langsung membereskan buku-bukunya, mengucap salam kemudian langsung pergi darisana.
Abhi menjawab salam setelah Farah sudah berlalu dari hadapannya, tanpa sadar pria itu ikut tersenyum melihat Farah yang tersenyum bahagia seperti tadi. Mau bagaimana juga Abhi tau rasanya bahagia mendapat kunjungan dari keluarga saat di pesantren.
"Pergi, namun jangan lupa kembali," lirih Abhi hampir tidak terdengar.
Andai gadis itu tau bahwa sebenarnya Abhi tak ingin kehilangan lima menit terakhir untuk bersamanya, namun Abhi juga tidak bisa melarangnya untuk pergi darisana.
Abhi segera membereskan buku-bukunya, langkahnya segera keluar dari Masjid. Abhi harus meletakkan bukunya di asrama terlebih dahulu baru setelah itu dia akan mengajar tilawah lagi di Masjid sembari menunggu waktu Maghrib tiba.
"Dia kangen tau sama kamu, Farah!"
Abhi menoleh ke sumber suara. Tampak Farah bersama beberapa orang yang diduga adalah teman-temannya. Ada sebersit rasa aneh saat melihat Farah tertawa lepas bercanda dengan teman lelakinya. Abhi mempercepat langkahnya menuju asrama.
Farah yang melihat Abhi berlalu dihadapannya segera memalingkan wajahnya menatap kearah lain. Farah tidak mau jika terciduk sedang memperhatikan pria itu.
"Kenapa sore kali datangnya?" tanya Farah saat mereka sedang memakan bakwan jagung buatan Bunda Nida.
Awalnya Farah mengira keluarganya yang datang menjenguk, ternyata dugaannya salah. Malah orang-orang terdekatnya di sekolah dulu yang datang, tapi Farah merasa senang mendapat kunjungan pertama dari teman-temannya.
"Nunggu pulang sekolah dulu tadi baru siap-siap kesini." Tika mengambil bakwan jagung dihadapannya.
Farah mengangguk sambil mengunyah bakwannya. "Terus tau aku disini dari siapa?" tanyanya penasaran.
"Kamu lupa bundaku kepala sekolahnya?" Fathur meneguk minum dibotol yang mereka bawa.
"Lagian kamu sih kenapa mau pindah ga bilang-bilang?" Ghali berkomentar. Farah hanya tersenyum simpul menjawab pertanyaan Ghali barusan.
"Bunda Nida kenapa ga ikut?" tanya Farah.
"Biasalah dia sibuk," jawab Bang Fathur.
"Oh iya tadi Akbar kirim salam ke kamu, dia ga bisa ikut karna bundanya lagi sakit." Tika menatap Farah.
Tangan Farah yang hendak memasukkan bakwan kedalam mulutnya terhenti, matanya membulat mendengar penuturan Tika barusan.
"Bundanya Akbar sakit apa? Semoga cepet sembuh yaa, maaf banget aku ga bisa jenguk," kata Farah sedikit cemas.
"Ga tau sakit apa," jawab Tika singkat.
"Bang Fatih ga ikut?" tanya Farah lagi setelah sadar bahwa mantan ketua OSIM-nya itu tidak ada disana.
"Yaelah masih nyariin Fatih aja nih anak!" Bang Fathur menggelengkan kepalanya, tertawa kecil.
Farah hanya menunjukkan deretan giginya. Bukannya apa, mengingat bahwa Bang Fathur dan Bang Fatih itu sangat dekat dan selalu tak ingin kelewatan jika bertemu dengan Farah.
"Dia lagi sibuk sama ujian akhirnya, bentar lagi kan kami tamat."
"Lah, Abang kenapa ga sibuk mau ujian juga?" tanya Farah bingung.
Fathur tertawa, "Aman itu," katanya.
Tika dan Ghali menggelengkan kepala melihat abangan kelas yang satu itu. Bang Fathur sudah tidak segarang dulu, mungkin karena urusan keluarganya sudah selesai, yang Farah tau sekarang Bang Fathur, Bunda Nida, Tante Maya dan Bang Galu sudah berdamai dan hidup rukun aman sejahtera selamanya, tamat.
"Pulanglah kita yok udah sore kali, nih." Bang Fathur menatap keatas, melihat langit senja yang mulai menggelap.
Ghali dan Tika mengangguk, mereka berpamitan. Tapi Bang Fathur meminta Ghali dan Tika ke mobil lebih dulu, mereka hanya mengikuti arahan dari supirnya itu sambil menenteng tempat bekal dan botol air yang mereka bawa tadi.
"Aku cuma mau bilang, soal perasaan aku kemarin, ga usah terlalu dipikirin, ya. Sekarang aku udah ga berharap lebih, cuma mau bilang terimakasih udah buat aku berubah dan hidup normal dengan keluarga yang damai kayak orang-orang. Kamu bener, masalah itu pusatnya dari aku dan sekarang semuanya udah selesai. Makasih, ya."
Farah seolah terhipnotis dengan kata-kata Bang Fathur barusan. Dari kata-katanya yang berubah 360° dari awal bertemu, jelas terlihat Bang Fathur lebih bahagia sekarang. Farah hanya mengangguk pelan dengan wajah lugunya menatap pria yang tersenyum padanya, Bang Fathur langsung berbalik dan sedikit berlari meninggalkannya menuju parkiran pesantren.
♡♡♡