Cinta harus dikatakan memiliki banyak sisi dan berada dalam banyak dimensi kehidupan manusia. Bahwasanya, cinta itu penting, cinta itu vital, cinta itu tidak boleh disisihkan dari kehidupan, cinta itu sumber dari perdamaian dan harmoni dunia, cinta itu suatu bentuk relasi yang paling luhur dalam kehidupan sosial manusia, cinta itu bahkan tidak hanya berdimensi vertikal dan horizontal, dalam arti berhubungan dengan sesama dan alam semesta saja, tetapi juga berhubungan dengan wilayah ke-Tuhan-an. Bahwasanya, cinta telah diteliti dan dikaji oleh para pakar kondang dari berbagai bidang; semua itu benar-benar telah dilakukan oleh mereka. Namun, apakah cinta itu sebenarnya? Jika kita masuk lebih ke dalam, kita akan menemukan banyak sekali hal-hal yang begitu luas dan sangat sulit untuk diuraikan dalam keberadaannya. Sangat luar biasa kehadirannya dan sangat luas penjabarannya!
Cinta memang unik, meskipun belum terdefinisikan secara pasti dan disepakati Bersama. Cinta diakui eksistensinya oleh semua bangsa di dunia ini. Mendefinisikan cinta dengan kalimat dan kata-kata yang disepakati semua orang, agaknya tidak mudah menggambarkannya.
Lantas, apakah dengan demikian, dalam cinta, peran akal menjadi terpinggirkan karena perasaan subyektif dan emosi yang dinomorsatukan?
Meskipun cinta cenderung bersifat subyektif dan emosional, di mana tentunya perasaan dan emosi subyektiflah yang mendominasi dalam perwujudannya, tetapi meniadakan sama sekali peran akal tidaklah dapat dibenarkan. Barangkali, lebih tepat dikatakan, bahwasanya antara akal dan rasa dalam cinta, haruslah seimbang, haruslah memiliki keselarasannya. Cinta yang hanya mengandalkan rasa hanya akan menimbulkan sikap emosional, karena segenap waktu dan energi diarahkan demi pemenuhan hasrat pribadi, sehingga sifatnya sangat egois. Padahal, egoisme adalah sesuatu yang terlarang dalam cinta. Namun, bukan berarti bahwa emosi atau rasa itu tidak perlu, karena tanpa adanya mereka, cinta hanya sekedar aktivitas formal yang hampa dan tidak memiliki keindahannya.
Secara psikologis, cinta adalah suatu kerinduan, sebuah perilaku emosional seseorang terhadap rangsangan tertentu. Dalam hal ini, cinta dipengaruhi oleh interaksi antara pencinta tersebut, serta tipe dan kekuatan unsur pendorongnya. Namun secara filosofis tidaklah sesederhana itu, karena agaknya masih banyak hal yang bisa dikatakan, selain pada akhirnya bahwa cinta itu adalah suatu kerinduan dan sebuah perilaku manusia.
Cinta yang paling tinggi, adalah cinta yang tanpa syarat, cinta yang tulus – juga merupakan alasan mengapa cinta tidak dimasukkan saja dalam ranah etis maupun teologis dari filsafat.
Akhirnya, cinta akan tetap berurusan dengan dimensi etis atau moral dan dimensi teologis atau agama.