Meskipun operasi pengangkatan tumor ganas telah dilakukan, kemoterapi tetap harus berjalan untuk meningkatkan harapan hidup pasien. Namun, kanker otak yang dideritanya membuat wanita itu kehilangan kemampuan bergerak. Selain menelan obat-obatan dan aneka suntikan untuk membunuh sel kanker, Maya harus melakukan fisioterapi untuk mengembalikan kemampuan motoriknya.
Aran yang akan segera berangkat magang ke Jerman, memutuskan untuk datang ke rumah sakit setelah beberapa hari sibuk mengurus persiapan keberangkatan. Perlahan-lahan, ia membantu Maya yang baru selesai fisioterapi untuk berbaring. Mereka melanjutkan obrolan basa-basi seputar perkuliahannya. Hingga pada akhirnya Aran mengatakan isi hatinya dengan tegas.
“Bu, saya serius dengan Raisa.”
Maya tersenyum lembut. “Berapa usia kamu sekarang?”
“21.” Aran mengernyitkan dahi. “Kenapa emang, Bu?”
“Di usia itu, saya juga cinta buta dengan seorang laki-laki. Saya merasa seakan-akan nggak ada lelaki lain yang bisa menggantikan dia. Sebesar itulah perasaan saya.” Kedua mata Maya menerawang, mengingat-ingat kejadian masa lalu. “Tepatnya di usia saya yang ke 23 tahun, saya terpaksa berhenti kuliah. Ayah saya masuk penjara akibat narkoba, lalu overdosis. Saya bukan hanya kehilangan uang, tapi kehilangan kepercayaan diri. Semua orang mencemooh saya yang hanya anak seorang bandar. Lalu, laki-laki itu berkata sama persis seperti kamu. Dia meyakinkan saya bahwa dia sangat serius. Di kondisi saya yang sangat terpukul, ada seseorang yang mau mengulurkan tangan. Bagaimana bisa saya tidak terpedaya?
“Tapi, kamu tahu? Baru tiga tahun dia menikahi saya, dia sudah kehilangan kepercayaannya. Saya hengkang dari rumah. Saya mengurus anak saya yang masih bayi dengan terluntang-lantung di jalanan. Belasan tahun saya berpisah dengan anak pertama saya. Apakah saya kecewa dengannya? Ya, saya sangat kecewa dan marah. Tapi, saya lebih marah kepada diri saya sendiri. Mengapa saat saya jatuh, alih-alih saya berdiri dengan kaki sendiri, saya justru ketergantungan dengan orang lain? Itulah yang saya sesalkan.”
Mendengar penjelasan Maya yang panjang lebar, Aran hanya bisa tertunduk.
“Saya bukan meragukan perkataan kamu. Namun, terlalu dini rasanya kamu memutuskan untuk serius dengan anak saya. Raisa saat ini sangat terpukul dan membutuhkan kamu di sisinya. Saya tahu itu. Tapi, saya tidak mau anak saya ketergantungan kepada siapapun.” Maya menatap Aran lekat-lekat. “Saya harap kamu mengerti kenapa pada akhirnya tidak mudah bagi saya untuk percaya perkataan laki-laki.”
Aran mengangguk paham. “Baik, Bu. Saya ngerti.”
Maya menepuk bahu Aran pelan. “Saya suka keputusan kamu untuk magang di luar negeri. Selamat berjuang, ya. Semoga kamu bisa belajar dengan baik.” Maya tersenyum hangat. “Raisa pasti sangat bangga anak lelakinya tumbuh dengan baik seperti ini.”
Senyum tipis terlukis di bibir Aran. Mendengar nama ‘Raisa’ saja sudah cukup membuat hatinya hangat. Baik Ibunya maupun kekasihnya, keduanya adalah sosok wanita yang sangat ia kagumi.
***
Ketiganya hanya diam membisu di dalam mobil. Keisha sibuk menyetir sembari fokus memperhatikan jalan. Aran yang duduk di sebelahnya sesekali melirik gadis itu, kemudian menjatuhkan tatapan pada sosok perempuan di belakangnya.
Raisa yang duduk di belakang hanya bisa tertunduk sembari mencengkeram jari jemarinya. Gadis itu mengingat kejadian beberapa saat yang lalu, ketika Raisa meminta ijin kepada Joseph untuk dipinjamkan mobil, kemudian bersiap-siap melangkah menuju pintu keluar.
“Mau nganter Aran?” tanya Keisha yang tiba-tiba muncul berpenampilan modis khasnya.
Raisa mengangguk. Namun tak menyurutkan tatapan herannya. Selama mereka tinggal bersama di rumah, Keisha memang tidak mengganggunya. Namun, sikap gadis itu masih jauh dari kata bersahabat.
“Ayo! Biar aku yang antar.”
Raisa masih sangat bingung. Keisha memang tak pernah lagi merecoki hubungannya bersama Aran. Namun, apakah gadis itu masih terobsesi seperti sebelumnya?
“Aku tahu kalian sering ketemu diem-diem di luar.” Ujar Keisha tepat setelah mematikan mesin mobilnya. “Kenapa?”
Keisha menatap Aran dengan mata yang berkaca-kaca. “Aku sejahat itukah di mata kamu? Sampe kamu bahkan nggak mau jemput dia ke rumah kalau mau kencan?”
Baik Aran maupun Raisa, keduanya terperangah.
“Raisa!” Keisha menyeru namanya keras. “Selama kamu di rumah, apakah pernah kamu aku ganggu?” Raisa hanya merespon dengan gelengan. “Sulit bagi aku menerima kamu. Aku akui itu. Tapi, kenapa kalian masih berpikir aku orang jahat?!”
Aran menyentuh bahu Keisha pelan. “Kei, aku minta maaf kalau apa yang kami lakukan membuat kamu merasa seperti itu.”
“Aku cuma pengen dipandang sebagai manusia normal, Ran. Bisa, kan?” Gadis itu menyeka air matanya yang nyaris jatuh.
“Dan satu lagi, asal kamu tau!” Keisha melirik Aran dengan tatapan yang sulit diartikan. “Aku nggak pernah menganggap kamu barang. Perasaan aku ke kamu itu nyata. Aku....” Gadis itu mulai terisak. “Aku cuma nggaktau cara menunjukkannya.” Keisha menunjuk Raisa di belakangnya. “Aku nggak bisa kayak dia!”
Seperti tersambar petir, Raisa hanya menegang kaku. Hatinya tersayat-sayat menyaksikan Keisha yang menangis lepas di belakang kemudi. Entah mengapa, sisi dirinya yang lain mengatakan bahwa dialah penjahat yang merebut ‘teman baik’ kakaknya.
Entah kapan tiba saatnya mereka bisa menerima satu sama lain. Namun, melihat Keisha sama sekali tak pernah mencoba bersahabat padanya. Ditambah dengan kejadian hari ini, Raisa merasa memiliki Keisha sebagai kakak seutuhnya adalah hal yang jauh dari kata mudah.
***
Kadang waktu berjalan begitu cepat tanpa disadari bahwa kita telah menghabiskan waktu sehari, sebulan, bahkan setahun. Namun, terkadang waktu berjalan begitu lambat. Seperti saat ini, ketika Raisa dan Keisha duduk bersebelahan di dalam mobil yang melesat membawa mereka menuju ke rumah sakit dari bandara Soekarno-Hatta.
Dengan sisa-sisa air mata yang mengering, Keisha membisu. Raisa cukup bersyukur bahwa gadis itu mampu membawa mobil dengan tenang kendati baru saja ia menangis sesenggukan di bandara.
“Aku sudah menerima kamu sebagai kakak. Aku pun sudah melupakan kejadian yang dulu-dulu.” Raisa membuka pembicaraan.
“Mudah bagi kamu karena kamu normal!” Keisha menjawab dengan nada tinggi. “Tapi, nggak akan mudah bagi aku.”
Raisa memutuskan menyudahi pembicaraan yang hanya akan menimbulkan perang. Ia menghembuskan napas panjang. Mencoba meredam emosi yang tiba-tiba naik ke ubun-ubun.
“Kamu inget nggak waktu kita sekelas di mata kuliah neraca massa?” tanya Keisha. Raisa hanya mengangguk sembari mendelik bingung. “Aku benar-benar merasa punya teman saat itu.”
Memori Raisa kembali terlempar ke masa lalu. Dimana saat itu, Keisha sangat baik padanya. Gadis itu rutin meminta dirinya untuk menjelaskan ulang setelah kuliah usai. Bahkan, ketika Kartu Hasil Studi keluar, Keisha terang-terangan mentraktirnya makan steak mahal. Tak sampai disana, Keisha dengan mudahnya menceritakan masalahnya, meski sedikit dan tidak tuntas. Hubungan mereka hanya membaik pada saat itu.
“Aku pikir sekarang. Apakah itu naluri seorang kakak yang muncul di alam bawah sadar?” Keisha tertawa getir. “Tapi, naluri itu hilang akibat aku terlalu sering marah.”
“Aku nggaktahu mau merespon apa. Tapi....” Raisa tersenyum tipis. “Makasih sudah membela aku depan Mama Elsa waktu itu.”
***
Aktivitas perkuliahan Raisa yang padat, ditambah lagi dengan jadwal praktikum dan laporan yang gila-gilaan, membuat Maya menyuruh Raisa untuk tidak terlalu sering ke rumah sakit. Raisa lebih banyak menghabiskan waktu di kampus dan di rumah. Ketika urusan tugas-tugas kuliahnya kelar, Raisa baru bergegas mengunjungi Ibunya.
Keisha yang tak punya aktivitas apapun, tak pernah absen pergi ke rumah sakit dan menemani Maya seharian. Wanita itu tidak menyangka, dibalik kepribadian Keisha yang cenderung abnormal, gadis itu dengan sabar dan telaten membantu Maya naik-turun kursi roda. Keisha membersamai dirinya dalam melakukan kemoterapi dan fisioterapi.
Sore ini, Keisha mendorong kursi roda Maya menuju taman belakang rumah sakit. Rerumputan, tanaman warna-warni, dan beraneka pohon yang rindang menjadi destinasi favorit bagi setiap pasien rumah sakit yang muak melihat kamar rawat inap dan mencium aroma obat-obatan.
Keisha memberhentikan dorongannya tepat di sebelah tempat duduk yang terbuat dari batu. Gadis itu mengambil tempat duduk di sebelah Maya. Helai demi helai rambut Maya yang rontok akibat kemoterapi kembali mengotori tangan gadis itu.
Keisha melirik rambut Ibunya—yang semakin lama semakin menipis—dengan tatapan sedih.
“Kei, kalau Ibu udah nggak kemoterapi lagi. Kamu ajarin Ibu perawatan rambut, ya?” Maya menyentuh rambut Keisha yang bergelombang. “Ibu suka rambut kamu.”
Keisha mengangguk. “Aku juga bakal permak rambut Raisa. Aku nggak suka liatnya.”
Maya tertawa lepas mendengar ucapan Keisha. Kata-kata singkat itu saja mampu membuat hatinya menghangat. Entah sudah berapa malam Maya merapalkan doa agar kedua putrinya bisa hidup dengan akur layaknya kakak-beradik. Melihat progres dari Keisha meski hanya sedikit, Maya mengucap syukur berkali-kali di dalam hati.
“Kei, ada sesuatu yang ingin kamu lakukan? Apa rencana kamu ke depan?” tanya Maya sembari menatap Keisha lekat-lekat.
Gadis itu bergeming. Entah mengapa, pertanyaan mengenai ‘rencana masa depan’ sangat menyeramkan baginya. Ia tidak tahu apa keinginannya. Gadis itu tak mampu merencanakan apapun.
“Aku cuma mau jadi normal.” Keisha menjawab penuh kejujuran. “Saat marah, aku bisa tahan. Saat kecewa, aku nggak perlu depresi. Saat cemburu, aku nggak perlu hilang akal.”
Sebisa mungkin, Maya menahan air matanya yang hendak meniti. Ucapan Keisha menghunus jantungnya. Anak gadisnya tak punya ambisi, apalagi rencana. Ia hanya ingin hidup dengan tenang.
“Nggakpapa, Sayang. Nanti Ibu bantu kamu jadi normal. Ibu berjuang buat hidup demi kamu.” Maya mengusap rambut Keisha pelan. “Pertama-tama, kamu harus terbuka dulu sama Ibu. Kalau kamu marah, sedih, kecewa, trauma, atau luka, kamu harus berani cerita ke Ibu.”
Mata Keisha mulai basah. Perkataan Maya mengingatkannya pada trauma yang belum bisa ia lupakan. Namun, meski ia berusaha menepisnya dan menganggapnya tak pernah terjadi, mimpi buruk itu selalu hadir.
Maya merasakan wajah Keisha memucat. “Kei, kenapa? Kamu sakit?”
Keisha mengangkat wajahnya. Kemudian menggeleng. “Nggak.”
Maya menggenggam kedua tangan Keisha yang sontak berkeringat dingin dan gemetaran. “Kei, kamu nggak bisa bohong sama Ibu! Ada apa?”
Tangis Keisha seketika pecah. Ia langsung memeluk Maya kuat-kuat. Bayang-bayang kejadian hari itu kembali tiba di memorinya, membuatnya hilang kendali.
“Ibu....” Keisha terisak. “Aku takut.”