Loading...
Logo TinLit
Read Story - Campus Love Story
MENU
About Us  

Henan yang rencananya akan pulang bersama saudara kembar berakhir pupus. Dikarenakan Jeon yang mendapat kelas tambahan mendadak, sedangkan Nanda yang notabenenya anak itu memang punya kelas yang super duper sibuk tidak ketulungan. Berakhir tinggal dirinya yang mendesah berat putus asa menunggu di parkiran.

"Kenapa juga gue doyan ajak mereka pulang bareng? Sudah tahu mereka sibuk, haduh," monolognya. Mungkin sudah jadi kebiasaan Henan berbicara sendiri.

Daripada terlihat seperti pria kasihan layaknya habis putus cinta, Henan akhirnya menyalakan mesin motornya untuk bergegas pulang. Baru saat ingin menarik gas secara kebetulan matanya mendapat Gina yang baru saja lewat tidak jauh di depan. Cukup penasaran dengan anak gadis itu yang mana tengah berjalan sembari menatap ponsel. Lantas Henan melajukan motornya untuk mendekati Gina.

"Woi!"

"Anak monyet!" kaget Gina. Masih baik ponsel dalam genggamannya tidak terbang bebas di udara. Kepalanya lantas mendelik dengan cepat ke arah Henan. Mana anak itu hanya tertawa cekikikan layaknya tanpa dosa.

"Kaget, Henan!" serunya seraya mengelus dada.

Masih dengan cengirannya. "Baru pulang lo?" tanya Henan. Mematikan suara mesin motornya. Hanya dengan posisi duduk santai di atas motor dengan kedua kakinya yang dijadikan sebagai penopang agar motornya tetap tegak.

"Iya. Kenapa?"

"Lo setiap gue tanya pasti jawabnya ada kenapa terus. Sensi banget ya, sama gue?"

Gina menatapnya dengan sebelah alis terangkat. "Baru sadar? Atau perlu gue kasih sadar?"

Henan hanya memberinya decakan singkat sebelum mereka kembali dalam keterdiaman. Tidak ada yang membuka suara sebelum Henan menyadari kalau gadis ini tidak membawa motornya ke kampus.

"Lah? Motor lo mana? Gak naik motor lo ini hari?"

Gina mengangguk. "Motor gue dipinjam sama teman indekos buat keluar kota."

"Dih? Gak tahu diri banget. Terus lo pulang naik apa kalau gak ada motor?"

"Taksi diciptakan untuk apa? Bus? Ojek?" Dan di akhir Gina hanya merotasikan matanya benar-benar malas melihat Henan.

"Iya, tahu. Tapi kan, borosnya malah dapat di lo. Bagaimana, sih?"

Gina memilih diam tak menjawab dan fokus pada ponselnya. Kali saja teman lain di indekosnya bisa datang untuk menjemput. Ingin naik taksi sebenarnya dia malas untuk mengeluarkan uang. Salahnya terlalu rendah hati untuk meminjamkan motornya tanpa berpikir dua kali.

Tapi sepertinya hari ini takdir untuk mengeluarkan uang berpihak padanya. Beberapa teman indekosnya tidak aktif dihubungi, sisanya mereka benar-benar punya kesibukan masing-masing. Gina mendesah dalam hati. Kebiasaan sekali mereka pasang berbagai alasan. Giliran saat mereka meminta tolong bicaranya diberi bubuk pemanis sampai ingin dibuat muntah. Saat sekarang mana ada yang ingin peduli.

Menghubungi Sela, anak itu juga hari ini tidak bawa motor. Orang yang sudah punya pacar mana keseringan untuk bawa motor, hampir tiap hari diantar jemput. Hari ini juga, Gina punya jadwal kelas yang berbeda dengan teman gadisnya itu. Menyebabkan dirinya lebih cepat pulang dibandingkan hari biasanya.

Gina kembali mendesah berat. Tidak ada pilihan lain selain dirinya benar-benar harus pulang dengan menggunakan taksi. Terpaksa harus mengeluarkan uang yang terbilang lumayan memberatkan.

"Jadi, bagaimana caranya lo pulang?" Tubuh Henan yang dicondongkan ke depan untuk menyamankan posisinya di atas motor. Kedua tangan dijadikan simpuhan pada atas kepala sang roda dua.

Gina menoleh. "Gak tahu. Taksi yang jelas."

"Sela? Teman indekos?"

Kepalaya menggeleng. "Sela masih ada kelas. Teman indekos pada sibuk semua," jawabnya. Menaruh ponsel dalam saku celana dan beralih membuka dompet. Setidaknya Gina menemukan uang pecahan yang pas untuk digunakan nanti.

"Itu sih, alasan teman indekos lo doang," sahut Henan. Mesin motornya kembali dinyalakan. "Sudah naik. Gue antar pulang," ucapnya.

Gina menoleh. Mimik wajahnya rada kurang yakin sama tawaran Henan. Secara, mereka berdua adalah sepasang manusia yang sangat susah untuk akur. Meskipun jarang ketemu, tapi sekalinya dapat malah suka menimbulkan ribut.

"Gak usah lihat gue kayak begitu. Buru naik," titah Henan.

"Lo gak ada niat lain dibalik lo antar gue pulang, kan?" selidik gadis berambut sebahu lebih itu.

Henan memejamkan matanya mencoba untuk sabar. "Kalau gue sudah gak tahan, sudah gue pikir buat jual lo ke om-om belang," pukasnya yang mendapat rautan kesal dari Gina. "Naik saja, sih. Apa susahnya?"

"Kok, maksa?"

"Gak mau, nih? Yaudah. Ada baiknya gue kasih tumpangan biar lo gak keluarkan duit," jelas Henan.

Mulut Gina menekuk mendengar titahan Henan. Dia mau naik sebenarnya tapi masih rada belum ada rasa percaya sama anak itu. Tapi betul yang dibilang Henan, cuman dia kayaknya yang kasih tumpangan agar bisa pulang hari ini.

Kala ketika Henan sudah ingin menancap gas, Gina memberhentikannya dengan merentangkan tangan kiri. Dirinya mengangguk sambil tetap memberi peringatan sama Henan agar tidak macam-macam di jalan. Dibalas iya dengan nada tegas dari anak itu.

"Hen, mau balik?"

Baru juga ingin tancap gas betul-betul, muncul lagi perkara yang buat mereka berhenti. Keduanya menoleh, mendapati Mavi yang berdiri dengan kumpulan buku dalam pelukannya.

"Sudah lihat gue di atas motor malah bertanya lo," jawab Henan. "Ada apa, nih?" tanyanya. Dia sudah keincar ingin pulang cepat tapi malah dapat uluran waktu terus.

Mavi malah menoleh ke arah Gina yang duduk di belakang Henan. "Pulang bareng? Padahal gue mau minta tolong sama Henan," katanya.

"Lo mau pulang bareng gue juga?"

Mavi menoleh dan menggeleng. "Bukan. Minta tolong lo ke toko buku di pertigaan lampu merah. Gue ada perlu satu buku. Cuman lo kayaknya mau antar Gina pulang jadi ya, lain kali sajalah gue yang beli," jelasnya.

Henan menutup mulutnya rapat. Menatap Gina dan Mavi secara bergantian. "Kalian berdua saling kenal memang?" Mendapat anggukan dari kedua anak itu. "Sejak kapan? Kok, gue baru tahu?"

"Memangnya buat apa lo tahu? Gue kenal Kak Mavi karena memang satu fakultas, bego," jawab gadis di belakang Henan dengan sedikit nada sensi.

"Gak usah pakai ngatain gue bego juga kali. Gue turunin di tengah jalan baru tahu rasa lo," kesal Henan. Sedangkan Mavi yang melihat interaksi keduanya hanya bisa menatap dalam diam.

"Yaudah, apa judul bukunya? Nanti gue singgah lepas antar pulang cucu kuntilanak ini."

Selepasnya mengucapkan itu, Henan dengan tiba-tiba mendapat pukulan keras pada helmnya. Meskipun tidak pada kepala langsung, tapi getaran yang timbul sukses menghantarkan rasa sakit. Bahkan dirinya sempat kaget mendapat pukulan mendadak itu. Tahu saja wajah Gina pas dengar dirinya dibilang cucu kuntilanak.

"Gak usah. Nanti lain kali saja gue carinya sendiri," tolak Mavi.

"Sudah buru, kayak minta tolong sama siapa saja."

Gina menatap Mavi. "Yaudah, kebetulan gue juga mau cari novel, nih. Sekalian saja, Kak," sahutnya.

"Nah, itu."

Mavi menggaruk pangkal kepalanya. "Oke, deh." Lepas menyebut nama judul buku yang dimaksud, keduanya lantas bergegas menuju lokasi sebelum hari menjelang gelap.

🎗

Gina tidak berbohong pasal mencari novel. Berhubung Mavi juga menitipkan untuk dicarikan buku, jadi dirinya sekalian saja ikut mencari. Di toko buku milik tantenya tidak dapat stok hari ini, makanya dia mencari novel itu di sini. Kali saja dapat dalam harapnya.

Sementara Henan mencari buku punya Mavi, Gina berada di rak lain untuk mencari novelnya. Saking bingungnya karena deretan novel yang tertera di depan berjejer sangat banyak. Memberi pancingan untuk ikut di beli juga. Nasib penyuka novel, apa yang di cari ada-ada saja anaknya ikut mengekori.

"Sudah dapat belum? Keburu gelap lo pulang," sahut Henan. Entah sejak kapan anak itu sudah berdiri di sampingnya. Buku yang dimaksud Mavi juga sepertinya sudah dia dapat. Terbukti dengan satu tangan Henan yang memegang buku bersampul biru gelap.

"Gue bingung, Hen. Ini novel kayaknya bagus semua. Gue beli sajakah?" bimbangnya. Kedua tangannya sudah memegang berbagai macam buku novel, bahkan diganti-ganti. Hanya dengan membaca blurb pada novel sudah membuat Gina merasa penasaran.

"Serah lo. Kan, lo yang mau beli," jawab Henan.

Gina bergumam sejenak sebelum akhirnya menentukan novel yang akan dibeli. Melupakan novel keluaran terbaru yang diincarkan. Nanti akan dia beli lain waktu. Sebuah kelabilan yang luar biasa.

Mereka berdua akhirnya menuju kasir untuk melakukan pembayaran. Beranjak keluar dan segera bergegas untuk pulang. Gina nampak sumringah dengan novel baru yang dibelinya. Bahkan ketika berjalan pun mengeluarkan suara-suara aneh saking senangnya. Henan sampai dibuat heran dengan kelakuan anak gadis yang lebih pendek darinya itu. Untung saja area tempat mereka sepi akan orang-orang. Begini keduanya mendapat tatapan aneh tanpa diminta cuman karena sikap aneh Gina.

"Lo lapar gak?" sahut Henan tiba-tiba. Sudah duduk di atas motor dan memakai helm.

"Hmm, lumayan," jawab Gina.

"Mie ayam, mau?" tawar lelaki tan itu.

"Yang enak di mana?"

"Ada tempat gue." Mendapat anggukan dari Gina dan segera ikut naik di motornya. "Lain kali, lo sedia bawa helm. Biar pun lo gak bawa motor, tetap sedia buat jaga-jaga. Untung hari ini gak ada yang bertugas buat tilang. Begini lo gue turunin di tengah jalan," omel Henan. Sudah mirip seperti seorang Ayah yang memberi nasihat.

"Iyaaa," jawab Gina. Dan Henan tanpa sadarannya menciptakan seulas senyum simpul. Berbanding terbalik dengan Gina yang tersenyum tidak sabar karena menantikan cerita novel barunya.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
A Perfect Clues
7347      2413     6     
Mystery
Dalam petualangan mencari ibu kandung mereka, si kembar Chester-Cheryl menemukan sebuah rumah tua beserta sosok unik penghuninya. Dialah Christevan, yang menceritakan utuh kisah ini dari sudut pandangnya sendiri, kecuali part Prelude. Siapa sangka, berbagai kejutan tak terduga menyambut si kembar Cherlone, dan menunggu untuk diungkap Christevan. Termasuk keberadaan dan aksi pasangan kembar yang ...
Satu Nama untuk Ayahku
10714      2955     17     
Inspirational
Ayah...... Suatu saat nanti, jikapun kau tidak lagi dapat kulihat, semua akan baik-baik saja. Semua yang pernah baik-baik saja, akan kembali baik-baik saja. Dan aku akan baik-baik saja meski tanpamu.
The Investigator : Jiwa yang Kembali
2396      1100     5     
Horror
Mencari kebenaran atas semuanya. Juan Albert William sang penyidik senior di umurnya yang masih 23 tahun. Ia harus terbelenggu di sebuah gedung perpustakaan Universitas ternama di kota London. Gadis yang ceria, lugu mulai masuk kesebuah Universitas yang sangat di impikannya. Namun, Profesor Louis sang paman sempat melarangnya untuk masuk Universitas itu. Tapi Rose tetaplah Rose, akhirnya ia d...
Be Yourself
611      427     0     
Short Story
be yourself, and your life is feel better
Secret Melody
2508      998     3     
Romance
Adrian, sangat penasaran dengan Melody. Ia rela menjadi penguntit demi gadis itu. Dan Adrian rela melakukan apapun hanya untuk dekat dengan Melody. Create: 25 January 2019
Tanpa Kamu, Aku Bisa Apa?
160      131     0     
Romance
Tidak ada yang pernah tahu bahwa pertemuan Anne dan Izyan hari itu adalah hal yang terbaik bagi kehidupan mereka berdua. Anne tak pernah menyangka bahwa ia akan bersama dengan seorang manager band indie dan merubah kehidupannya yang selalu menyendiri menjadi penuh warna. Sebuah rumah sederhana milik Anne menjadi saksi tangis dan canda mereka untuk merintis 'Karya Tuhan' hingga sukses mendunia. ...
ADA SU/SW-ARA
3937      1398     1     
Romance
Ada suara yang terdengar dari lubuknya Ada Swara....
Perjalanan Move On Tata
619      450     0     
Short Story
Cinta, apasih yang bisa kita katakan tentang cinta. Cinta selalu menimbulkan rasa sakit, dan bisa juga bahagia. Kebanyakan penyakit remaja sekarang yaitu cinta, walaupun sudah pernah merasakan sakit karena cinta, para remaja tidak akan menghilangkan bahkan berhenti untuk bermain cinta. Itulan cinta yang bisa membuat gila remaja.
Pasha
1423      687     3     
Romance
Akankah ada asa yang tersisa? Apakah semuanya akan membaik?
Katamu
3401      1435     40     
Romance
Cerita bermula dari seorang cewek Jakarta bernama Fulangi Janya yang begitu ceroboh sehingga sering kali melukai dirinya sendiri tanpa sengaja, sering menumpahkan minuman, sering terjatuh, sering terluka karena kecerobohannya sendiri. Saat itu, tahun 2016 Fulangi Janya secara tidak sengaja menubruk seorang cowok jangkung ketika berada di sebuah restoran di Jakarta sebelum dirinya mengambil beasis...