"Gue jadian sama Mara." kataku memberi pengumuman pada Aksa dan Ethan saat baru datang di kantin FISIP.
Di dunia ini, mungkin aku salah satu dari sekian banyak orang yang tidak bersyukur. Kehilangan keluarga sejak kecil membuatku trauma pada sebuah hubungan. Membuatku sering mengisolasi diri dan menjauh dari sebuah komitmen yang merepotkan. Meskipun di sini, "kehilangan" versiku punya makna berbeda.
Kedua orang tuaku masih ada, tetapi aku tak pernah merasakan kehadiran mereka. Kehadiran keluarga.
Aku sangat bahagia Oma menyayangiku, ditambah dua sahabat yang selalu menemaniku. Dan ada juga Mara, satu-satunya perempuan yang berani melangkah maju lebih dulu untuk mencoba memahamiku.
Mara terus-menerus memberikan perhatian. Meski kadang aku tak menggubris kehadirannya, atau hanya menganggap dia sebagai teman dekat biasa. Akan tetapi, gadis itu tak pernah menyerah. Hal itu yang membuat ia punya nilai plus dibandingkan wanita lainnya.
Setidaknya itu dulu. Sampai ketika ia memelukku di hari meninggalnya Oma. Perasaanku berubah. Aku merasa hangat, merasa disayang, dan merasa tidak ditinggalkan.
Mara membuatku sadar bahwa aku butuh orang lain. Seseorang yang lebih dari teman, lebih dari sahabat. Dan aku ingin mencoba mulai "berkomitmen" dengannya. Meskipun belum benar-benar yakin dengan apa yang aku rasakan sekarang, aku berharap, suatu saat nanti bisa membalas kasih sayang yang lebih besar untuk Mara.
Aku sadar. Aku hanya perlu waktu untuk itu.
"Ape gue bilang!" Aksa menepuk pundak kananku lumayan kencang dan kulitku terasa pedas. Seperti yang diharapkan, respons kedua sahabatku tidak pernah mengecewakan. "Bocah sok cool kayak lo ini ... kalau dihujani perhatian juga jadi meleleh es-nya."
Ethan terkekeh sendiri. "Yoi! Anjayyyy .... pecah telor juga lo. Akhirnya punya pacar setelah jomlo dari orok."
"HAHAHAHA. Thank you! Bentar lagi giliran elu deh kayaknya, Than."
"Gue?" Ethan menunjuk ibu jari ke arah wajahnya. "Sama siapa anjir?"
"Yaelah pake ngeles lagi. Si Gisel?" kataku dengan nada kesal. Si Ethan ini emang goblok, apa pura-pura goblok, sih? Padahal Gisel sudah terang-terangan ngejer dia.
"Nggak dulu deh. Cewek kayak Gisel itu kalau udah jadi pacar pasti banyak nuntut ini, itu. Udah hapal gue modelan cewek kayak dia."
"Sotoy, lu!" timpal Aksa melempar bekas tisu bekas. "Jalanin aja belum. Sok Si Paling Tahu aja."
"Seriusan gue! Gisel itu perfeksionis dan nyaris sempurna. Pastilah ... dia mau punya pasangan yang sepadan. At least berprestasi dan punya cara pandang yang sama. Kemarin aja gue di suruh ikut kepanitiaan. Gisel bilang itu bagus buat cari pengalaman dan nulis CV. Kalau jadi pacar bisa-bisa gue disuruh ikutan lomba debat kayak dia lagi."
"Itu nama build healthy relationship, Than. Kan bagus bisa ngasih lo arahan supaya lebih baik. Lagi pula yang diomongin Gisel itu bener, Njir!" Berbeda denganku, Aksa memberi respons yang positif. Seperti biasa, di antara kami, dia yang paling punya pemikiran dewasa dan bijak.
"Nah ini ... Gisel tuh cocok sama cowok modelan kayak lo, Sa. Ini kayaknya kalau kalian pacaran, lulus kuliah udah pasti nyaleg bareng, sih."
Aku tertawa terbahak sampai geleng-geleng kepala. Sementara Aksa bersiap menghujani bisep Ethan dengan pukulan.
"Terus kalau Gisel sama Aksa, lo sama siapa dong?"
"Aduuuuuh. Gue belum kepikiran kepengen punya cewek sih. Santai aja gitu," jawab Ethan netral. "Kalau di tanya sama siapa? Ya gue pengennya pacarin cewek yang gue suka. Atau kalau nanti nggak ketemu ... sama Mentari juga boleh."
"Anak anjing!" Aksa kembali memukul bisep milik Ethan, sementara kami tertawa. "Gak ada yaaa lo semua pacarin adek gue. Kita bertiga udah kayak saudara. Gue nggak mau suatu saat hubungan kita jadi jelek."
"Lha?" kataku bingung. "Kok jelek sih. Bukannya makin erat? Kan nanti jadi ipar?"
"Ya kalau beneran jadi ipar, Nyet! Nah ... kalau putus gimana?" ujar Aksa menggebu-gebu, seolah-olah "pengandaian" ini suatu saat akan terjadi. "Apalagi kalau sampai gue tahu kalau kalian nyakitin hati adek gue dan bikin dia nangis ... gue sunat burung lo semua sampe abis kagak nyisa!"
"Bangsat, serem amat!" ujar Ethan tertawa memegang resletingnya. "Jangan dong, Bro. Ini aset negara. Nanti kagak bisa bikin Ethan junior. Sayang kalau kegantengan gue ini nggak ada yang nerusin."
"Najis!" ujarku dan Aksa serempak.
***
Begini kalau punya pacar famous dan aktif ikut banyak kegiatan. Bagi waktu pacarannya jadi susah.
Kemarin-kemarin aku sibuk latihan Band buat perform di kafe Let It Be. Itung-itung kabur dari rasa sedih. Kalau stay di rumah nggak nyaman soalnya cuma ada Tante Asih. Meskipun hubungan kami lumayan dekat, tetapi kadang-kadang juga berubah jadi canggung. Bingung mau ngobrolin apa kalau Oma udah nggak ada.
Nah, pas giliran aku ada waktu senggang, eh Mara malah ada rapat dadakan buat acara FRSD fest.
Ya ... daripada nggak jadi jalan lagi, mending nungguin dia aja sebentar. Rencananya hari ini kita mau nonton film di bisokop.
"Bang rokok malboro sebungkus, ya!" pintaku pada seorang penjual rokok di kantin FRSD.
"Oke, Mas. Bentar, saya mau ke depan tuker kembalian dulu," balas Abang-abang itu.
Aku mengacungkan jempol, lalu mengeluarkan ponsel di saku.
Anak FRSD memang terkenal nyentrik masalah fashion. Ya bagus, sih. Kesannya jadi unik dan orginal aja. Mungkin hal itu juga bagian dari cara mereka mengekspresikan identitas mereka.
Bruk....
"Awwwwwwww...."
Suara kencang itu mengalihkan perhatianku. Seorang wanita terjatuh ke lantai dengan mangkok pecah dan kuah bakso yang berserakan di depannya. Bukannya menolong, orang-orang yang duduk di sekitar wanita itu malah tertawa dan cekikikan.
"Upsie. Sowwwy!" kata salah satu cewek berambut pink campur blonde itu sok imut. "Eung ... sengaja, aja."
Kemudian diikuti oleh gelak tawa orang-orang di sana. Tidak ada yang berani mengecam perbuatan wanita berambut pink itu. Tidak ada orang yang terkejut juga. Seolah-olah hal itu lumrah dan sering dilakukan.
"Makanya kalau jalan pakai mata. Masa nggak liat ada kaki gue di situ," katanya lagi. "Aduhhhhhh sepatu Gucci gue jadi lecet deh!" Nada wanita berambut pink itu makin terdengar menyebalkan.
Masih aja ada bullying di zaman gampang viral ini. Bangsat bener dah itu orang, kataku dalam hati.
Tadinya aku tak berniat ikut campur. Mengingat ini bukan wilayahku dan aku tak mau sok jadi pahlawan. Namun, aku urungkan niatku setelah melihat wajah wanita yang jatuh tadi.
Mentari?
"Ma-aaf," ujarnya lirih tanpa berani menoleh ke kanan dan kiri. Tidak salah lagi. Itu benar suara Mentari.
Mentari bangkit, lalu mengumpulkan pecahan mangkok yang berserakan ke nampan. Buru-buru aku bangit menghampirinya, lalu menahan tangan gadis itu lembut.
Mentari tampak terkejut saat melihatku. Melihat matanya yang berkaca-kaca menahan tangis, membuat aku sangat marah. Marah sekali.
Bagaimana bisa gadis baik seperti Mentari diperlakukan seperti ini? Aku jadi teringat wajah Babeh, Ibu, dan Aksa. Apa reaksi mereka kalau tahu kalau Mentari diperlakukan seperti ini?
Dengan napas memburu, aku gebrak meja wanita berambut pink dengan kawanannya tadi. Aku membentaknya. "Minta maaf nggak lo!"
"Lo sokap?" katanya dengan mimik wajah yang super menyebalkan.
"Kayaknya bukan anak sini deh?"
"Iya ... kita-kita nggak pernah lihat lo."
"Minta maaf nggak sekarang!" Nadaku makin meninggi, terpancing emosi ketika melihat wajah wanita-wanita belagu itu.
"Nggak usah ikut campur! Mau jadi pahlawan kesiangan lo?!"
"Minta maaf atau gue sebarin video sama suara rekaman ini?!" Aku mengangkat ponselku. Ya ... aku sengaja berbohong tentang video untuk menggeretak. Namun, aku sungguh-sungguh merekam semua percakapan kejadian di sini.
"Shit!" umpat wanita berambut pink itu. Ia terlihat sangat marah sekali. "Anjing lo!"
Dia dan ketiga temannya itu pun bangkit dari kursi dan mendekati Tari. "Gue?" Jari gadis itu mengarah ke wajahnya. "Minta maaf sama lo? Jangan mimpi!" kata gadis berwarna pink itu, lalu pergi meninggalkan kantin.