Loading...
Logo TinLit
Read Story - Si 'Pemain' Basket
MENU
About Us  

Seperti jawaban atas ucapan Dira waktu itu, Marvin kembali sibuk dengan dunianya. Melupakan Dira yang dulu begitu berharga baginya. Tidak ada pesan singkat yang Marvin kirimkan, bertemu di sekolah saja hanya sekilas. Marvin, terlalu fokus pada latihannya.

 

Dira menahan wajahnya di ambang jendela kelas, memperhatikan Marvin yang tengah latihan di lapangan. Pria itu terlihat asyik bermain basket bahkan di saat jam kosong seperti ini. Biasanya, mereka akan pergi ke kantin untuk mengisi waktu luang. Namun, Marvin malah kembali latihan bahkan hingga pulang sekolah.

 

"Hati-hati pulangnya, Dir," ucap Santi sembari melambaikan tangan. Dia dan Dira berpisah di depan gerbang sekolah, Santi segera masuk ke dalam mobil yang menjemputnya dan Dira berjalan pergi ke rumahnya. Begitulah hari-hari Dira sekarang, Jalan kaki setiap pulang sekolah seperti biasanya.

 

Di tengah perjalanan, Dira yang tengah kehabisan daya ponsel merasa tengah diikuti. Biasanya, dia mengenakan earphone dan mengabaikan segala gangguan di jalan. Namun kali ini tidak, perempuan itu benar-benar yakin ada yang tengah mengikutinya.

 

Beberapa kali Dira menoleh ke belakang, sayangnya tidak ada yang mencurigakan. Hanya ada beberapa orang yang juga tengah berjalan sama sepertinya. Saat Dira menghentikan langkah, mereka tetap berjalan yang berarti mereka tidak mengikuti Dira.

 

Karena tidak mau berpikir yang aneh-aneh, Dira berjalan cepat hingga ke rumahnya.

 

Saat sudah masuk ke dalam pagar, Dira menghembuskan napasnya kasar. Dadanya naik-turun karena kehabisan napas.

 

"Kamu kenapa, Nak?" tanya Fani yang tiba-tiba datang dari belakang Dira dan mengejutkan perempuan itu.

 

"Astaga Ibu, ngagetin aja sih!"

 

Fani tersenyum kecil melihat reaksi anaknya. "Apaan sih kamu, kaya lagi dikejar setan aja," ucap perempuan paruh baya itu sebelum berlalu meninggalkan Dira yang tersenyum kecut mendengar ucapan ibunya.

 

Ini lebih serem dari dikejar setan, ucap Dira di dalam hati. Setelah merasa baikan, perempuan itu masuk ke dalam rumah dan menemukan kedua adik kembarnya tengah belajar di ruang tamu.

 

Keduanya kompak menengadah menatap sang kakak yang terdiam. "Kenapa?" tanya Dira karena merasa aneh dengan sikap adiknya.

 

Sebelum menjawab, keduanya terlihat mencari-cari sesuatu di belakang Dira. "Kak Marvin nggak ke sini lagi ya?" tanya Yoga.

 

Tidak ingin membuat kedua adiknya sedih, Dira mencoba untuk menenangkan keduanya. "Hmm, Kak Marvin masih sibuk. Jadi belum bisa kesini."

 

Dira tau kedua adiknya tidak bisa dibohongi, sehingga dia harus terus terang pada mereka. Sejak awal, Dira sudah menjelaskan kepada adik-adiknya. Namun, Marvin sudah terlalu lama tidak datang ke rumahnya. Yoga dan Yogi pasti merasa rindu pada pria tersebut.

 

Wajah Yoga kembali tertunduk setelah mendengar ucapan Dira. Sama seperti Yoga, Yogi juga mengalihkan perhatiannya.

 

Dira menghela napas dengan pelan, sebelum pamit untuk pergi. "Kakak ke kamar dulu ya, kalau butuh apa-apa panggil kakak aja."

 

Keduanya kompak mengangguk tanpa menatap wajah Dira. Perempuan itu yakin, kedua adiknya tengah merasa sedih. Namun, tidak ada yang bisa dia lakukan sekarang.

 

Sesampai di kamar, Dira langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Dia masih kepikiran dengan orang yang tengah mengikutinya, tapi siapa? Itu pikirnya. Karena selama ini, dia tidak pernah merasa diikuti.

 

Menjelang malam, keluarga Dira makan bersama seperti biasanya. Mereka asyik berbincang tentang banyak hal. Memang, Dira sangat suka bercerita pada orang tuanya terutama ayahnya yang begitu tertarik pada semua ucapan sang putri.

 

Setelah selesai membantu Fani bersih-bersih, Dira kembali masuk ke dalam kamarnya untuk mengerjakan tugas dan belajar. Perhatiannya kemudian teralihkan pada lampu notifikasi yang menyala di ponselnya pertanda ada sebuah pesan masuk.

 

Sebelum duduk di kursi meja belajar, Dira duduk di atas kasur dan membuka pesan yang baru saja masuk.

 

+62 8776 **** ****

 

Aku akan mengejar dan menggapaimu.

 

Pesan singkat yang benar-benar singkat itu membuat Dira mengerutkan dahinya, dia bingung dengan pesan yang entah dikirim dari siapa itu. Apaan sih, nggak jelas banget.

 

Dira mengabaikan pesan itu dan bergegas untuk pergi ke meja belajar. Dia kembali meninggalkan ponselnya di atas kasur agar tidak menggangu waktu belajarnya.

 

Pesan singkat kembali masuk pagi harinya sebelum Dira pergi ke sekolah. Lagi-lagi pesan yang dikirim membuat Dira kebingungan.

 

+62 8776 **** ****

 

Akan kujaga kamu dari belakang

 

Tiba-tiba Dira memahami maksud pesan yang baru masuk. Apa jangan-jangan dia lagi yang ngikutin aku kemarin, ucap Dira di dalam hati mengira-ngira.

 

Tentu orang yang mengirim pesan pada Dira mengetahui tentang perempuan itu sehingga besar kemungkinan, dia-lah yang mengikuti Dira kemarin.

 

Seperti sebelumnya, dia mengabaikan pesan itu dan pergi ke sekolah begitu saja. Walau penasaran dengan orang yang mengiriminya pesan. Namun, Dira tidak tertarik untuk meladeninya apalagi sekarang perempuan itu tengah sibuk belajar untuk kenaikan kelas.

 

Sesampai di gerbang sekolah, Dira tak sengaja bertemu dengan Bagas yang langsung tersenyum saat menatapnya. Dira yang masih takut pada pria itu kemudian mengabaikannya dan bergegas pergi ke kelas. Namun, langkahnya tertahan saat Bagas tiba-tiba menarik tangannya.

 

"Dir," panggil Bagas yang semakin membuat perasaan Dira tidak tenang. Mata perempuan itu menjelajah mencari bantuan. Sayangnya, tidak ada orang yang dia kenal walau sudah cukup banyak orang datang ke sekolah.

 

"Kalau Kakak nggak lepasin tangan saya, saya bakal teriak," ancam Dira dengan pelan yang membuat Bagas ikut memperhatikan sekitar.

 

Di depan gerbang, masih ada seorang guru yang bertugas untuk memperhatikan siswa yang datang dan jika Dira teriak, pasti akan membuat masalah yang cukup besar.

 

"Oke, saya bakal lepasin. Tapi, saya pengen bicara sama kamu pulang sekolah nanti," ucap Bagas dengan nada memohon.

 

Genggaman tangan Bagas melonggar yang membuat Dira berhasil pergi darinya. "Saya nggak bisa janji, Kak," ucapnya sebelum berlari ke kelas dengan sekuat tenaga.

 

Sesampai di kelas, dada Dira naik turun. Meraup penuh oksigen yang dia butuhkan. Selama perjalanan, perempuan itu mengabaikan semua orang. Yang penting, dia harus sampai di kelas secepat mungkin.

 

"Kamu kenapa?" tanya Santi setelah melihat sikap Dira yang sedikit aneh. Matanya menjelajah wajah teman sebangkunya itu yang dipenuhi dengan keringat.

 

Perlahan wajah Dira menoleh dan setelah menghembuskan napas kasar, perempuan itu pun menjawab, "nggak pa-pa kok, aku nggak pa-pa."

 

Dira sadar bahwa masalahnya tidak perlu untuk dibesarkan, apalagi Bagas bukan siswa sembarangan. Dia terkenal aktif juga pintar. Mungkin, saat itu ada sesuatu yang mengganggu pikirannya sehingga membuat Dira ketakutan.

 

Sepanjang kelas, Dira tidak memiliki semangat untuk belajar. Beberapa kali perempuan itu memperhatikan lapangan yang biasa Marvin gunakan untuk latihan.

 

Santi yang duduk di sisinya, kemudian memperhatikan perempuan itu sembari ikut menatap apa yang dilihat oleh Dira. "Kamu kangen sama Kak Marvin?" tanya Santi yang membuat Dira langsung menoleh ke arahnya.

 

"Apaan sih kamu."

 

Semu di wajah Dira sudah menjelaskan bagaimana dia malu saat mendengar nama Marvin. Sayangnya, hal itu tidak bertahan lama karena dia menyadari bahwa dia tidak memiliki hubungan apa-apa dengan kapten ekskul basket tersebut.

 

***

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (1)
  • aiana

    seru ni, menatikan playboy kena karma. wkakakka

    ada yang tulisannya Dio dan Deo,
    mau berteman dan saling support denganku?

    Comment on chapter Chapter 1
Similar Tags
She Is Falling in Love
575      371     1     
Romance
Irene membenci lelaki yang mengelus kepalanya, memanggil nama depannya, ataupun menatapnya tapat di mata. Namun Irene lebih membenci lelaki yang mencium kelopak matanya ketika ia menangis. Namun, ketika Senan yang melakukannya, Irene tak tahu harus melarang Senan atau menyuruhnya melakukan hal itu lagi. Karena sialnya, Irene justru senang Senan melakukan hal itu padanya.
Invisible
910      596     0     
Romance
Dia abu-abu. Hidup dengan penuh bayangan tanpa kenyataan membuat dia merasa terasingkan.Kematian saudara kembarnya membuat sang orang tua menekan keras kehendak mereka.Demi menutupi hal yang tidak diinginkan mereka memintanya untuk menjadi sosok saudara kembar yang telah tiada. Ia tertekan? They already know the answer. She said."I'm visible or invisible in my life!"
Manuskrip Tanda Tanya
6998      2435     1     
Romance
Setelah berhasil menerbitkan karya terbaru dari Bara Adiguna yang melejit di pasaran, Katya merasa dirinya berada di atas angin; kebanggaan tersendiri yang mampu membawa kesuksesan seorang pengarang melalui karya yang diasuh sedemikian rupa agar menjadi sempurna. Sayangnya, rasa gembira itu mendadak berubah menjadi serba salah ketika Bu Maya menugaskan Katya untuk mengurus tulisan pengarang t...
Imajinasi si Anak Tengah
12169      6933     16     
Inspirational
Sebagai anak tengah, Tara terbiasa berada di posisi "di antara" Di antara sorotan dan pujian untuk kakaknya. Dan, di antara perhatian untuk adiknya yang selalu dimanjakan. Ia disayang. Dipedulikan. Tapi ada ruang sunyi dalam dirinya yang tak terjamah. Ruang yang sering bertanya, "Kenapa aku merasa sedikit berbeda?" Di usia dua puluh, Tara berhadapan dengan kecemasan yang tak bisa ia jel...
Crashing Dreams
342      289     1     
Short Story
Terdengar suara ranting patah di dekat mereka. Seseorang muncul dari balik pohon besar di seberang mereka. Sosok itu mengenakan kimono dan menyembunyikan wajahnya dengan topeng kitsune. Tiba-tiba sosok itu mengeluarkan tantou dari balik jubahnya. Tanpa pasangan itu sadari, sosok itu berlari kearah mereka dengan cepat. Dengan berani, laki-laki itu melindungi gadinya dibelakangnya. Namun sosok itu...
Dunia Alen
8781      2925     2     
Romance
Alena Marissa baru berusia 17 belas tahun, tapi otaknya mampu memproduksi cerita-cerita menarik yang sering membuatnya tenggelam dan berbicara sendiri. Semua orang yakin Alen gila, tapi gadis itu merasa sangat sehat secara mental. Suatu hari ia bertemu dengan Galen, pemuda misterius yang sedikit demi sedikit mengubah hidupnya. Banyak hal yang menjadi lebih baik bersama Galen, namun perlahan ba...
Mistress
3544      1903     2     
Romance
Pernahkah kau terpikir untuk menjadi seorang istri diusiamu yang baru menginjak 18 tahun? Terkadang memang sulit untuk dicerna, dua orang remaja yang sama-sama masih berseragam abu-abu harus terikat dalam hubungan tak semestinya, karena perjodohan yang tak masuk akal. Inilah kisah perjalanan Keyra Egy Pillanatra dan Mohamed Atlas AlFateh yang terpaksa harus hidup satu rumah sebagai sepasang su...
RUANGKASA
71      65     0     
Romance
Hujan mengantarkan ku padanya, seseorang dengan rambut cepak, mata cekung yang disamarkan oleh bingkai kacamata hitam, hidung mancung dengan rona kemerahan, dingin membuatnya berkali-kali memencet hidung menimbulkan rona kemerahan yang manis. Tahi lalat di atas bibir, dengan senyum tipis yang menambah karismanya semakin tajam. "Bisa tidak jadi anak jangan bandel, kalo hujan neduh bukan- ma...
My Doctor My Soulmate
197      178     1     
Romance
Fazillah Humaira seorang perawat yang bekerja disalah satu rumah sakit di kawasan Jakarta Selatan. Fazillah atau akrab disapa Zilla merupakan seorang anak dari Kyai di Pondok Pesantren yang ada di Purwakarta. Zilla bertugas diruang operasi dan mengharuskan dirinya bertemu oleh salah satu dokter tampan yang ia kagumi. Sayangnya dokter tersebut sudah memiliki calon. Berhasilkan Fazillah menaklukkan...
Unending Love (End)
19502      3958     9     
Fantasy
Berawal dari hutang-hutang ayahnya, Elena Taylor dipaksa bekerja sebagai wanita penghibur. Disanalah ia bertemua makhluk buas yang seharusnya ada sebagai fantasi semata. Tanpa disangka makhluk buas itu menyelematkan Elena dari tempat terkutuk. Ia hanya melepaskan Elena kemudian ia tangkap kembali agar masuk dalam kehidupan makhluk buas tersebut. Lalu bagaimana kehidupan Elena di dalam dunia tanpa...