Kata orang, bermimpilah setinggi langit. Kata orang, jangan bermimpi terlalu tinggi.
“Selamat datang di kedai kopi kami. Anda ingin pesan apa?”
Kau memesan kopi favoritmu, kemudian duduk di salah satu meja di dekat jendela. Kau menatap ke luar jendela dengan wajah datar. Sesekali kau mengetuk-ngetukkan jarimu ke meja, sementara kedua matamu menatap jendela lurus-lurus, mengamati langit malam dan air hujan yang membasahi permukaan luar jendela.
Kau menghela napas. Kau tampak bosan.
Kopi pesananmu datang lima belas menit kemudian. Kau mengucapkan terima kasih sambil tersenyum tipis, kemudian menggenggam cangkir kopimu dengan kedua tangan, membiarkan kehangatannya menjalar perlahan ke seluruh tubuhmu. Kau menyesap kopimu yang masih mengepulkan uap panas, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling kedai kopi mungil yang hampir seluruh interiornya terbuat dari kayu. Walaupun suara grinder terus-menerus bernyanyi melayani pelanggan yang datang dan pergi sejak tadi, hanya ada beberapa orang yang duduk dengan kopi dan camilan mereka, membuat kedai kopi ini tampak nyaman dan menyenangkan di malam hari.
“Oh? Hai!”
Kau baru saja akan menyesap kopimu lagi ketika sebuah suara menyapamu. Seorang laki-laki yang kelihatannya berusia awal dua puluhan kini berdiri di hadapanmu, menatapmu sambil tersenyum lebar.
Kau menatapnya dengan dahi berkerut, sepertinya berusaha memancing ingatan apa saja yang mungkin berkaitan dengan laki-laki itu. Kau terdiam selama tiga detik sebelum akhirnya mengerjapkan mata.
Ah, orang ini.
“Kau sendirian?” tanyanya, membuatmu harus menghentikan laju roda pikiranmu yang berputar cepat dengan paksa.
“Ah, ya. Hai,” sahutmu kikuk.
“Apa aku boleh duduk di sini?”
Kau mengerjapkan mata beberapa kali sebelum akhirnya berujar pelan, “Silakan.”
Laki-laki itu pun menggeser kursi yang ada di hadapanmu dan duduk di sana. Kau menyesap kopimu, sementara keheningan yang sepertinya terasa canggung mulai menyelinap di antara kalian.
Kau menatapnya tanpa berkedip. Ah, ia masih sama saja.
Namanya William. Ia cinta pertamamu.
Kau meletakkan cangkirmu di meja, masih sambil menatapnya tanpa berkedip. Ah, ia masih sama saja. Kulit kecokelatannya masih sama. Rambut ikalnya masih sama. Matanya yang selalu bersinar-sinar cerdas dari balik kacamatanya masih sama. Caranya menatapmu masih sama. Caranya tersenyum pun masih sama. Ia hanya … sedikit lebih gemuk dari delapan tahun lalu—terlihat dari pipinya yang sedikit mengembang saat tersenyum tadi—dan tubuhnya jauh lebih tinggi.
Ia masih sama saja.
Sepertinya, ia makan dengan baik.
“Mengapa kau menatapku seperti itu?” William menatapmu lurus-lurus, memecah gelembung keheningan itu.
“Apa maksudmu?” tanyamu dengan dahi berkerut.
“Kau menatapku dengan tatapan yang seolah-olah akan melahapku saat ini juga.”
Mendengar itu, kau mengerjapkan mata sekali. “Ah,” desahmu pelan, sementara roda pikiranmu kembali berputar cepat, mencoba memikirkan alasan apa pun yang terdengar masuk akal. “Aku hanya merasa sedikit aneh bertemu lagi denganmu setelah delapan tahun. Rupanya kau masih hidup. Kukira kau sudah mati.”
Laki-laki itu menatapmu dengan mata melebar. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. “Aku masih hidup,” katanya sambil tertawa kecil.
Kau hanya mengangguk sebagai jawaban.
“Bagaimana kabarmu?” tanyanya lagi.
Kau mengangkat bahu acuh tak acuh. “Aku? Seperti yang terlihat.”
Matanya tertuju pada cangkir kopimu yang masih setengah penuh. “Sepertinya kau masih sama saja. Kopi bisa merusak lidahmu, kau tahu?”
Kau hanya tertawa, setengah mendengus. “Mungkin.” Kau menyesap kopimu sedikit, lalu bertanya, “Kau sendiri? Bagaimana kabarmu?”
“Yah, hanya begitu-begitu saja,” sahutnya datar. “Terus tidur larut malam karena pekerjaanku selama belum mati.”
Kau mengangguk lagi sebagai jawaban. Sesekali, kau mengaduk-aduk kopimu dengan dahi berkerut.
Ah, sangat canggung.
“Kau masih suka menulis?” tanya laki-laki itu tiba-tiba.
Kau menoleh dari cangkirmu. Bukannya menjawab, kau malah balik bertanya, “Mengapa kau bertanya? Kau ingin membaca tulisanku?”
“Aku bertanya karena aku tahu dulu kau menyukainya. Aku bahkan ingat kau ingin memiliki rumah dengan sebuah perpustakaan pribadi karena kau sangat menyukai buku.”
Salah satu sudut bibirmu kembali terangkat sedikit. Sebagai seseorang yang tidak menyukaimu, rupanya ia mengingat detail tentangmu dengan baik.
Melihatmu tidak menjawab, ia bertanya lagi, “Apa kau masih ingin kuliah di luar negeri?”
Kau tampak berpikir-pikir sejenak sebelum akhirnya menjawab, “Masih.”
“Kau tidak melakukannya?”
“Aku ingin, tetapi sepertinya sulit,” jawabmu. “Seseorang yang kukenal berkata padaku untuk tidak bermimpi terlalu tinggi.”
“Apa yang salah dengan bermimpi besar?”
Kau tertawa, sedikit mendengus. “Entahlah, rasanya berpikir realistis lebih baik daripada mengkhayal, melihat kondisiku sekarang.”
William hanya diam, tetapi ia mencondongkan tubuhnya ke arahmu. Jadi, kau pun melanjutkan, “Seseorang yang kukenal berkata padaku untuk tidak bermimpi terlalu tinggi agar tidak terjatuh dan lalu kecewa.” Kau menyesap kopimu lagi sebelum kembali melanjutkan, “Lagi pula, melihat kondisiku sekarang, sepertinya itu mustahil. Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan. Jadi, untuk sekarang aku hanya bisa melihat orang lain.”
William masih terdiam, kali ini ia tampak berpikir-pikir sebelum akhirnya berujar, “Terlepas dari apa pun kondisi yang sedang kaualami, bukankah segala hal memang terasa mustahil pada awalnya sampai kita benar-benar mendapatkannya?”
Kali ini kau terdiam, sepertinya sedang berusaha mencerna apa yang baru saja ia katakan.
“Mungkin hidup terlihat menyebalkan dalam beberapa hal, tetapi kurasa kau harus tetap bertahan untuk mencapai impianmu.”
Kau akhirnya kembali buka suara. “Impianku terlalu besar.”
William tertawa mendengar jawabanmu. “Kau memang tipikal orang yang bermimpi besar.” Ia menatapmu tepat di mata dan berujar, “Namun, sebesar atau sekecil apa pun impianmu, itu tetaplah sebuah impian dan tetap layak untuk diperjuangkan. Mungkin kau tidak menyadarinya, tetapi sebuah impian kecil mampu membuat seseorang tetap bertahan hidup.”
“Jadi?”
“Tidak ada impian yang terlalu kecil, terlalu remeh, atau terlalu besar. Itu semua bergantung dari bagaimana kau melihatnya.”
“Sepertinya seseorang baru saja mengatakan bahwa aku tipikal orang yang bermimpi besar,” katamu dengan dahi berkerut. “Bukankah itu berarti kau juga berpikir impianku terlalu besar untuk dicapai?”
“Aku hanya melihatmu sebagai tipikal orang yang seperti itu. Aku tidak pernah berpikir impianmu terlalu besar.”
Kau kembali terdiam. Kerutan di dahimu semakin dalam. Sepertinya kau benar-benar tidak mengerti apa yang ia pikirkan.
Ah, ia masih sama saja.
Melihat ekspresimu, William kembali buka suara. “Tidak ada yang mustahil di bumi ini. Kau bisa melakukan apa pun selama kau masih hidup.” Ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. “Lagi pula, kau tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi besok, bukan? Kau tidak akan pernah tahu impian yang mana yang akan tercapai di masa depan.” Ia terdiam sejenak sebelum akhirnya melanjutkan, “Jadi, jangan membuat kesimpulan sendiri tentang seberapa besar impianmu dan cukup lakukan bagianmu untuk mencapainya.”
Kau tertawa pelan seraya mengangguk kecil.
Ah, ia masih sama saja. Kau masih sama saja.
William menatapmu tepat di mata tanpa berkedip. “Bertahanlah. Mungkin mimpimu terlihat sulit. Namun, bertahanlah untuk mencapainya.”
Kau membalas tatapannya sambil tersenyum tipis. “Aku ingin tahu apa yang membuatmu bisa memikirkan semua itu.”
“Semua manusia memiliki caranya sendiri untuk berkembang,” sahutnya santai. “Aku hanya banyak mengamati setiap orang yang kutemui.”
Kau hanya mengangguk pelan, menyesap kopimu yang ternyata sudah dingin hingga habis, lalu menatapnya seraya bertopang dagu.
“William, apa impianmu?”