Loading...
Logo TinLit
Read Story - Your Moments
MENU
About Us  

“Apa pun yang kau pikirkan, itulah jawabannya.”

Jonatan menatapku dengan dahi berkerut. “Jawabanmu itu ambigu,” ujarnya. “Katakan dengan benar. Kau menyukainya atau tidak?”

Aku hanya diam dan mengangkat bahuku acuh tak acuh.

Melihat reaksiku, lelaki itu bergumam, “Kau menyukainya.” Ia mengusap dahinya yang basah oleh keringat, menyandarkan punggungnya ke sandaran bangku, dan berkata, “Tapi dia tidak menyukaimu,” ujarnya. “Kau tahu, kau itu erotomania. Kau memang menyukainya—jangan membantahnya—dan kau mengira ia menyukaimu, padahal tidak sama sekali. Ia hanya memanfaatkanmu,” katanya lagi. Ia menghela napas sebelum akhirnya melanjutkan, “Kau bisa percaya padaku, Eirene. Kau tahu itu, bukan?”

Aku hanya diam, mencoba untuk mencerna kata-katanya. Ia juga diam, sibuk dengan pikirannya sendiri, dan keheningan pun menyusup dengan leluasa di antara kami. Keheningan yang nyaman dan menenangkan.

“Jo,” aku memanggil sahabatku itu.

Ia hanya melirikku. Aku pun melanjutkan, “Apa aku harus melupakannya?”

“Terserah kau saja.”

Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba memenuhi paru-paruku dengan udara segar di sore hari ini, dan mengembuskannya pelan. “Apa yang spesial dalam dirinya?”

“Kenapa kau bertanya padaku? Seharusnya kau lebih tahu perasaanmu sendiri,” ujarnya datar. Matanya menatap lurus-lurus ke arah danau yang ada di depan kami.

 Aku hanya mengangkat bahu, sama sekali tidak ingin merespon kata-katanya. Melihatku yang hanya diam, Jonatan menoleh dan menatapku. “Sebenarnya, aku sangat penasaran,” katanya. Ia terdiam sejenak sebelum akhirnya melanjutkan, “Apa yang begitu spesial dalam dirinya, sehingga kau begitu menyukainya seolah tak bisa—atau tak ingin—melihat siapa pun lagi?”

Aku menatap danau yang ada di depan kami lurus-lurus, mengangkat bahuku acuh tak acuh, dan berkata, “Apa pun yang kau pikirkan, itulah jawabannya.”

 

***

Siapakah teman terbaik yang pernah kau miliki dalam hidupmu?

Jika kau bertanya siapa teman terbaik yang pernah kumiliki, maka kesepian adalah jawabannya.

Ya, aku tahu, ini memang terlihat aneh. Tak ada satu pun manusia di dunia ini yang ingin berteman dengan kesepian, bahkan jika diberikan miliaran uang sebagai imbalannya. Tapi nyatanya aku telah berteman, bersahabat karib dengannya selama hampir empat tahun.

Aku bertopang dagu angkuh, menatap langit malam dari jendela kamarku, sama sekali tak peduli dengan dinginnya angin musim gugur yang seakan mencoba menggelitik wajahku. Sesekali aku menghela napas, lalu mengembuskannya perlahan. Kata-kata Jonatan, sahabatku, masih terus terngiang-ngiang di telingaku sejak sore tadi. Harus kuakui, Jonatan memang benar. Tapi, mau bagaimana lagi? Aku benar-benar menyayanginya—laki-laki itu. Mencintainya. Bahkan walaupun ia hanya melihatku ketika ia membutuhkanku. Walaupun—menurutku—itu bahkan jauh lebih menyakitkan daripada tak pernah dilihat sama sekali.

Kata orang, sangat sulit untuk melupakan cinta pertamamu. Ya, laki-laki itu adalah cinta pertamaku. Katakan saja aku ini bodoh. Aku memang bodoh, aku tahu. Terlalu bodoh karena menjadikan orang sepertinya sebagai cinta pertama. Terlalu bodoh untuk mengharapkannya tetap ada di sampingku di saat ia mencintai gadis lain.

Ah, dasar. Cinta memang mampu membuat seseorang buta, bukan?

Aku tersadar dari lamunanku ketika tiba-tiba ponselku berdering. Jonatan.

“Kau belum tidur?”

“Belum,” gumamku, tetap memandang langit malam di depanku dengan tatapan kosong.

“Biar kutebak, sekarang kau pasti sedang berdiri di depan jendela kamarmu dan memandang langit malam, bukan?” sahutnya dari seberang sana. “Katakan jika aku salah.”

Tanpa kusadari, seulas senyum tersungging di bibirku. Ia mengenalku dengan sangat baik. Bisa kubayangkan ia mengatakannya sambil tersenyum jenaka.

“Eirene, apa kau masih di sana?” suaranya kembali terdengar, menyadarkanku dari lamunan.

“Ah, ya,” gumamku

“Apa yang sedang kau pikirkan, hm?”

Aku menggeleng, masih dengan seulas senyum di bibirku.

“Eirene?”

“Ah,” gumamku, tersadar bahwa ia tak mungkin bisa melihat gelenganku. “Bukan apa-apa.”

Kudengar Jonatan mendesah perlahan sebelum akhirnya berkata, “Jangan pikirkan dia,” ujarnya. “Buang-buang waktu saja.”

Aku mengerjap beberapa kali, lalu melangkah ke tempat tidurku, dan duduk di sana sambil memeluk guling dengan tangan kiri—masih dengan ponsel di tangan kanan. “Aku tidak memikirkannya.”

Kali ini Jonatan mendesah keras. “Sampai kapan kau mau terus berbohong padaku?” ujarnya. Ia terdiam sejenak sebelum akhirnya melanjutkan, “jangan memikirkannya lagi. Buang-buang waktu. Tidak ada gunanya. Kau juga tahu dia hanya memanfaatkanmu, bukan?” Ia kembali terdiam sejenak sebelum akhirnya melanjutkan dengan serius, “akan ada seseorang yang menyayangimu sama seperti rasa sayangmu padanya, bahkan mungkin lebih dari itu,” katanya. “Jadi, hentikanlah.”

Aku hanya diam, mencoba mencerna semua perkataannya.

 “Tak usah terlalu memikirkan kata-kataku,” Jonatan kembali buka suara. “Istirahatlah. Jangan terlalu sering melihat langit malam dari jendela. Udara malam tidak baik untuk kesehatanmu.”

Aku hanya menggumam sebagai jawaban, kemudian ia berujar, “Aku akan menutup telepon, oke? Selamat malam.”

Aku meletakkan ponselku di nakas samping tempat tidurku. Kupeluk gulingku lebih erat dari sebelumnya, kupejamkan mataku perlahan, lalu mendesah. Aku benar-benar tidak tahan untuk tidak memikirkan kata-kata sahabatku tadi.

Yah, sebenarnya aku benci—bahkan sangat benci—untuk mengakui ini, tapi nyatanya lagi-lagi aku harus mengakui kalau dia benar. Tak ada gunanya. Buang-buang waktu. Tapi tetap saja, aku tahu hatiku memberontak terhadap kata-katanya.

Ah, dia datang lagi. Aku tahu dia pasti akan datang, terutama di saat-saat seperti ini. Layaknya angin, kehadiran sahabat baikku itu dapat kurasakan dengan mudah meskipun ia tidak tampak. Mungkin itu karena pertemanan kami yang sudah terjalin cukup lama. Dan kini, salah satu sudut bibirku terangkat ke atas, seolah menyambutnya dengan senang hati.

Aku tahu, aku dikelilingi banyak orang yang menyayangiku dengan tulus. Aku mengetahui fakta itu dengan baik, dan aku menghargainya. Namun tetap saja, rasanya percuma saja berinteraksi dengan mereka. Aku tidak pernah bisa mengusir rasa sepiku, bahkan ketika aku hanya sekadar mengobrol dengan salah satu dari mereka. Atau malah mungkin aku tidak ingin mengusirnya? Entahlah, aku tidak tahu. Aku hanya mengetahui satu hal: rasa sepi itu tetap ada dan takkan pernah pergi meninggalkanku, dan tak ada satu orang pun yang mampu mengusirnya. Kecuali dia.

Hanya dia yang mampu mengusir rasa sepiku tanpa bekas. Aku benar-benar merindukannya, sungguh. Kehadirannya sudah lebih dari cukup untukku. Namun, kerinduanku padanya sepertinya tak akan pernah terkatakan.

Meski begitu, aku hanya ingin bersamanya. Laki-laki itu.

Heaven Christie.

 

***

“Lama sekali dia,” gerutuku pelan seraya membalik halaman novel yang sedang kubaca.

“Roti cokelat kesukaanmu.”

Aku tertegun, menatap sebungkus roti cokelat yang terletak tepat di sebelah kakiku. Aku pun mendongak, dan kulihat dia berdiri di depanku.

Jonatan Williams.

Aku mendengus, kemudian berkata, “Kenapa kau lama sekali, huh?”

Jonatan tidak menjawab, hanya menyunggingkan seulas senyum sebagai permintaan maaf. Ia lalu duduk di bawah pohon yang sama dengan gadis itu, di sisi yang berlawanan.

“Ah, aku selalu suka tempat ini,” desah Jonatan ketika melihat apa yang ada di sekitarnya. Taman yang luas dan dipenuhi dengan rerumputan, jalan-jalan setapak, dan pohon-pohon yang besar dan teduh. Suasana taman di sore hari ini tidak terlalu ramai. Selain mereka berdua, hanya ada beberapa orang yang bersepeda dan jogging di jalan setapak, dan ada juga yang duduk-duduk santai di tengah rerumputan, entah itu berpiknik atau memanggang barbeque.

“Apa yang kau baca, hm?” tanya Jonatan. Matanya masih terus memandang ke depan. “Apa yang begitu asyik di dalam buku itu sampai-sampai kau seakan lupa bahwa aku ada di sini?”

“Ini novel. Kau tidak akan mengerti apa yang asyik dari ini,” sahutku, masih fokus dengan novelku. “Bacaanmu hanya komik detektif yang membosankan itu, kau tahu?”

Diam-diam, Jonatan tersenyum. Ia selalu senang menggoda Eirene di saat gadis itu sedang membaca novel seperti sekarang. Menurutnya, Eirene terlihat begitu menggemaskan ketika digoda.

“Berhentilah membaca,” kata Jonatan lagi. “Temani aku, sebentar saja.”

“Kau bisa menunggu. Aku sudah sampai di pertengahan cerita, dan ini benar-benar seru,” kataku ringan, masih terus membaca.

“Novel tentang apa?” tanya Jonatan lagi, merasa penasaran.

“Apa, ya?” aku berpikir-pikir. “Cinta tak terbalas.”

Mendengar jawaban sahabatnya itu, Jonatan terdiam. Keheningan pun menyusup di antara mereka. Bagi Eirene, itu adalah keheningan yang nyaman, namun tidak bagi Jonatan. Ia teringat dengan percakapannya dengan Eirene semalam.

“Eirene.”

“Apa?” sahutku seraya menyelipkan pembatas buku di halaman terakhir yang kubaca, menutup novelku, dan beralih ke sebungkus roti cokelat dari Jonatan. Aku benar-benar lapar, sungguh.

“Kau.. apa kau masih sering memikirkannya?” tanya Jonatan ragu.

Aku tertegun sejenak, lalu akhirnya buka suara, “Kenapa kau bertanya?”

“Hanya ingin tahu saja,” sahut Jonatan ringan, padahal ia tahu hatinya dipenuhi rasa penasaran yang teramat sangat.

 “Kau juga tahu kalau dia masih memiliki tempat di hatiku, Jo,” sahutku. Seketika rasa sakit kembali menyeruak masuk dan menggores hatiku.

Jonatan mengembuskan napas pelan, menyandarkan kepalanya di batang pohon, lalu memejamkan matanya. Sampai kapan kau akan seperti ini?

“Kapan kau akan melihatku?” tanya Jonatan lirih.

Aku mengernyitkan dahi, tak mengerti dengan maksud ucapannya. “Aku selalu melihatmu."

Jonatan bangkit dari duduknya, lalu menghampiriku. Ia duduk di depanku dan berkata, “Kapan kau akan melihatku?” ulangnya—kali ini dengan penekanan di setiap kata—sambil menatap mataku dengan sangat serius.

Aku menatapnya dengan tatapan bingung. Aku benar-benar bingung, sungguh. Mengapa ia masih bertanya kapan aku akan melihatnya ketika ia bahkan sudah berada tepat di depanku?

Jonatan menghela napas. “Eirene, dengarkan aku baik-baik,” ia terdiam sejenak sebelum akhirnya melanjutkan, “kau selalu melihat laki-laki itu. Kau selalu menunggunya, merindukannya, dan mengharapkannya,” ujarnya. “Tapi, kenapa kau tidak pernah, tak pernah sekali pun melihatku?”

Seakan baru tersadar akan sesuatu, mataku melebar ketika mendengar kata-katanya. Aku baru saja hendak mengatakan sesuatu ketika ia kembali buka suara, “Aku selalu melihatmu, Eirene. Aku selalu menunggumu. Tapi, selama ini yang kau lihat hanyalah dia, dia, dan dia. Heaven Christie,” katanya. “Kau tak pernah sekali pun memalingkan wajahmu darinya. Kau selalu merasa terluka, tapi kau terus melihatnya. Sampai kapan kau mau terus-menerus seperti ini, Eirene? Kapan kau akan melihatku?”

“Jonatan,” gumamku, tak tahu apa yang harus kukatakan.

Jonatan menatap mataku dalam, lalu berkata, “Izinkan aku mengobati lukamu, Eirene. Aku tidak ingin melihatmu terluka lebih lama lagi. Biarkan aku mengobati lukamu. Aku ingin selalu bersamamu, menemanimu, menjagamu, dan melindungimu,” katanya dalam satu tarikan napas. “Jadi, apa kau mau?”

Aku hanya diam, tak merespons kata-katanya. Kutatap mata lelaki itu, dan ia membalas tatapanku dengan tatapannya yang dalam dan menenangkan.

Baru kusadari, lelaki inilah yang selalu ada di sampingku. Ia selalu berusaha membuatku tertawa, menjadi pendengar yang baik, dan selalu siap untuk meminjamkan pundaknya, ketika aku ingin menangis. Ia selalu berusaha menjagaku dan melindungiku dengan caranya sendiri. Di sampingnyalah aku selalu merasa aman dan nyaman. Kuingat lagi pelukannya yang hangat dan menenangkan, yang seolah selalu ingin mengatakan, “Semuanya akan baik-baik saja, dan akan selalu baik-baik saja.” Dan selama ini, aku selalu menutup mataku akan kehadirannya, dan justru mengharapkan seseorang yang bahkan tak bisa diharapkan.

Kenapa aku baru menyadarinya sekarang? Aku terlalu sibuk dengan Heaven dan sedih karenanya, sementara ada seseorang yang juga merasa sedih karena aku. Aku tak pernah melihat apa yang ada di dekatku, dan malah melihat apa yang tak bisa kugapai. Kenapa aku baru menyadarinya?

Kulihat Jonatan masih menatapku dengan tatapannya yang dalam dan menenangkan itu. Ia terlihat begitu tenang, namun aku tahu, ada banyak hal tersembunyi di dalam hatinya. Persahabatan kami selama tujuh tahun lebih dari cukup untuk membuatku mengetahui bahwa ada sesuatu yang selama ini selalu ia tahan, dan kini ia tak sanggup menahannya lagi.

Aku memeluknya erat. Mendadak aku merasa ingin menangis, dan seketika air mataku mengalir deras dan membasahi baju laki-laki itu. Kurasakan tubuh laki-laki itu menegang karena kaget, namun aku tak peduli. Aku justru memeluknya semakin erat, seolah tak ingin ia terlepas dari genggamanku.

Aku melepaskan pelukanku. Jonatan menatapku lembut dan berkata, “Aku tahu, aku memang bukan dia. Aku mungkin tidak bisa menjadi sepertinya. Tapi, aku akan berusaha menjagamu dengan caraku sendiri,” ia menghela napas dan mengembuskannya perlahan sebelum akhirnya melanjutkan, “Kau bisa percaya padaku, Eirene. Kau juga tahu itu, bukan?”

Aku mengangguk, dan Jonatan kembali menarikku ke dalam pelukannya. Bisa kudengar dengan jelas suara detak jantungnya. Benar-benar hangat, nyaman, dan menenangkan.

“Jangan menangis lagi. Kau terlihat sangat jelek ketika menangis,” ujarnya lembut. Aku pun mengangguk dalam pelukannya sebagai jawaban.

 “Aku menyayangimu. Aku sangat mencintaimu, Eirene Gabriella.”

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Alfazair Dan Alkana
322      268     0     
Romance
Ini hanyalah kisah dari remaja SMA yang suka bilang "Cieee Cieee," kalau lagi ada teman sekelasnya deket. Hanya ada konflik ringan, konflik yang memang pernah terjadi ketika SMA. Alkana tak menyangka, bahwa dirinya akan terjebak didalam sebuah perasaan karena awalnya dia hanya bermain Riddle bersama teman laki-laki dikelasnya. Berawal dari Alkana yang sering kali memberi pertanyaan t...
Tiba Tiba Cinta Datang
525      370     0     
Short Story
Cerita tersebut menceritakan tentang seorang lelaki yang jatuh cinta pada seorang gadis manis yang suka pada bunga mawar. Lelaki itu banyak belajar tentang cinta dan segala hal dari gadis dan bunga mawar
Deepest
1278      796     0     
Romance
Jika Ririn adalah orang yang santai di kelasnya, maka Ravin adalah sebaliknya. Ririn hanya mengikuti eskul jurnalistik sedangkan Ravin adalah kapten futsal. Ravin dan Ririn bertemu disaat yang tak terduga. Dimana pertemuan pertama itu Ravin mengetahui sesuatu yang membuat hatinya meringis.
Di Bawah Langit Bumi
6419      3666     87     
Romance
Awal 2000-an. Era pre-medsos. Nama buruk menyebar bukan lewat unggahan tapi lewat mulut ke mulut, dan Bumi tahu betul rasanya jadi legenda yang tak diinginkan. Saat masuk SMA, ia hanya punya satu misi: jangan bikin masalah. Satu janji pada ibunya dan satu-satunya cara agar ia tak dipindahkan lagi, seperti saat SMP dulu, ketika sebuah insiden membuatnya dicap berbahaya. Tapi sekolah barunya...
Are We Friends?
5218      1986     0     
Inspirational
Dinda hidup dengan tenang tanpa gangguan. Dia berjalan mengikuti ke mana pun arus menyeretnya. Tidak! Lebih tepatnya, dia mengikuti ke mana pun Ryo, sahabat karibnya, membawanya. Namun, ketenangan itu terusik ketika Levi, seseorang yang tidak dia kenal sama sekali hadir dan berkata akan membuat Dinda mengingat Levi sampai ke titik paling kecil. Bukan hanya Levi membuat Dinda bingung, cowok it...
Meet You After Wound
305      259     0     
Romance
"Hesa, lihatlah aku juga."
Antara Rasa
2      2     1     
Mystery
P.S: Edisi buku cetak bisa Pre-Order via One Peach Bookstore (Shopee & Tokopedia). Tersedia juga di Google Play Books. Kunjungi blog penulis untuk informasi selengkapnya https://keeferd.wordpress.com/ Menjelang hari pertunangan, Athifa meratap sedih telah kehilangan kekasihnya yang tewas tertabrak mobil. Namun jiwa Rafli tetap hidup dan terperangkap di alam gaib. Sebelum Grim Reaper akan memba...
Tasbih Cinta dari Anatolia
84      75     0     
Romance
Di antara doa dan takdir, ada perjalanan hati yang tak terduga Ayra Safiyyah, seorang akademisi muda dari Indonesia, datang ke Turki bukan hanya untuk penelitian, tetapi juga untuk menemukan jawaban atas kegelisahan hatinya. Di Kayseri, ia bertemu dengan Mustafa Ghaziy, seorang pengrajin tasbih yang menjalani hidup dengan kesederhanaan dan ketulusan. Di balik butiran tasbih yang diukirnya, ...
Musyaffa
174      153     0     
Romance
Ya, nama pemuda itu bernama Argya Musyaffa. Semenjak kecil, ia memiliki cita-cita ingin menjadi seorang manga artist profesional dan ingin mewujudkannya walau profesi yang ditekuninya itu terbilang sangat susah, terbilang dari kata cukup. Ia bekerja paruh waktu menjadi penjaga warnet di sebuah warnet di kotanya. Acap kali diejek oleh keluarganya sendiri namun diam-diam mencoba melamar pekerjaan s...
Ignis Fatuus
2333      994     1     
Fantasy
Keenan and Lucille are different, at least from every other people within a million hectare. The kind of difference that, even though the opposite of each other, makes them inseparable... Or that's what Keenan thought, until middle school is over and all of the sudden, came Greyson--Lucille's umpteenth prince charming (from the same bloodline, to boot!). All of the sudden, Lucille is no longer t...