Duduk dibawah pohon rindang memang memiliki sensasi tersendiri. Dengan semilir anginnya yang menyejukkan tubuh, serta pemandangan yang membuat hati kecilku menghangat, membuatku memandang dunia dari perspektif yang berbeda. Sudut ini adalah tempat favoritku. Sudut dimana aku dapat dengan mudah memperhatikan orang yang kusukai memasukan bola basket ke dalam ring basket. Aku tahu jika ucapan ini terdengar aneh, tapi itu nyata jika keringat yang mengalir dari kening ke rahang tegasnya seperti pelepas dahaga untukku. Ingin sekali aku membantunya mengelap keringat itu. Namun apalah dayaku, dia justru sibuk berlari ke tempat duduk yang berada disudut lapangan satunya. Tempat dimana Vera berada. Aku iri. Padahal Vera hanya mengulurkan tangannya, tapi dari jarak yang cukup jauh Kay berlari dengan senyuman yang mengembang sembari meraih tangan Vera.
“Masih mikirin Kay?” Seseorang mengejutkanku dari khayalan yang lebih seperti bualan belaka. Laki-laki bertubuh tinggi dan putih dengan sepasang kacamata tanpa kaca itu mendudukkan diri disampingku. Seperti biasa, selalu saja laki-laki itu yang mengingatkanku akan kenyataan yang cukup pahit mengenai kegagalan cinta pertamaku itu.
Aku berdiri, lalu berjalan sedikit untuk menemui sinar matahari. Aku menengadahkan kepalaku, menatap langit yang sangat cerah di siang itu. Dan seperti biasa, dengan sigap Rhega menaruh telapak tangannya diatas wajahku. Membiarkan bayangan tangannya sebagai payung pelindung untukku. Aku tersenyum hangat, ternyata laki-laki itu masih saja perduli padaku. Tapi meskipun begitu, tetap saja dihatiku hanya ada nama Arkay Narendra Retro. Yah, dia Kay yang sedari tadi tengah aku perhatikan di lapangan basket.
“Katanya menunggu ada masa kadaluarsanya” Sindirku. Berusaha mengingatkan tentang ucapannya yang kemarin.
Rhega menarik tangannya dari wajahku, lalu dia membenarkan kepalaku agar tak menatap ke arah langit lagi.
“Masih dalam proses” Ucapnya sembari menarikku ke tempat teduh.
“Kamu sayangin diri sendiri dong! biar saya nggak perlu sayangin kamu lagi. Kamu ingetkan kalau Aquagenic Urticaria kamu kambuh kayak apa sakitnya? jadi jangan cari masalah deh.” Gerutunya saat kami sudah memasuki ruang kelas.
Aku memang mengidap Aquagenic Urticaria sejak lahir, atau yang biasa dikenal dengan alergi air. Kasus ini memang jarang terjadi, namun aku adalah salah satu pengidapnya. Aku tidak menyesalinya, karena aku yakin jika Allah memiliki maksud tersendiri. Dan untungnya aku hanya alergi terhadap air yang bersuhu tinggi, jadi aku masih akan baik-baik saja jika terkena air dingin. Tapi sebenarnya hal ini belum bisa dikatakan beruntung juga sih, karena aku tidak boleh mengeluarkan air mata, keringat, ataupun meminum minuman hangat sekalipun. Dan jika aku melanggar hal tersebut, maka tubuhku langsung bereaksi dengan munculnya benjolan-benjolan pada kulit,bengkak, ruam kemerahan, sesak nafas, dan yang paling parah alergi ini bisa mengakibatkan kematian.
“Makasih Ga” Ucapku tulus. Perhatian Rhega padaku memang tidak bisa dibandingkan dengan siapapun, tapi meskipun begitu entah mengapa hatiku sama sekali tak ingin tergerak untuknya.
Biar kuceritakan sedikit tentang Rhega. Namanya Audy Rhega Aufar Agyansyah, sering dipanggil Audy oleh teman-teman yang lain. Tapi karena aku ingin yang spesial, jadi aku memutuskan untuk memanggilnya Rhega. Dan alasan lain aku memanggil dia Rhega adalah karena menurutku nama Rhega terkesan seperti image laki-laki dingin yang angkuh. Jujur saja aku memang terobsesi pada tipe cowok tsundere atau yang mengusung tema cold outside warm inside, tapi sayangnya Rhega jauh dari kata itu. Dia tinggi, putih, stylist, primadona SMA kami, memiliki lesung pipi yang mempermanis senyumnya, memiliki gummy smile, dan masih banyak keunggulan lainnya. Bisa dibilang dia tipe pacar idaman bagi para wanita...tapi bukan aku.
“Apasih bagusnya Kay dimata kamu? sampe kamu betah banget nyukain dia padahal dia udah punya doi”
Aku menghela nafas cukup panjang, lalu menatapnya sinis. Aku nggak tahu Rhega sadar atau nggak kalau dia udah nyakitin perasaanku secara nggak langsung.
“Yang pertama, dia satu kepercayaan. Kedua, karena dia itu tipe yang dingin-dingin gimana gitu. Ngga ganjen sama cewek. Dan yang terakhir, dia gantengnya indonesia banget. Alis tebel, kulit sawo matang, rahang tegas, jago main basket” tuturku.
“Masalah kepercayaan, saya emang nggak bisa bantah itu. Tapi kalo tipe dingin saya juga bisa kok”
Aku memutar mata malasku “Kamu terlalu ramah ke semua cewek Ga, jadi ngga ada kharismanya”
“Ya ramah itu bentuk dari sopan santun Rel. Saya ganteng, tinggi, jago main basket juga, coba sebutin kurang apa saya ini hmm?”
“Ya tapi kamu gantengnya nggak manusiawi, saya minder” Aku menjawab seperti ini sebenarnya hanyalah alasan belaka agar perasaan Rhega tidak menggebu-gebu. Tapi ada benarnya juga kalau dia gantengnya nggak manusiawi, dia keturunan Tionghoa yang kebetulan memiliki kelopak mata ganda.
“Berarti kamu ngakuin saya ganteng dong, berarti tinggal ubah sikap saya jadi dingin aja kan?”
“Jangan berubah untuk saya, jadi diri kamu sendiri aja. Saya belum se-spesial itu untuk bikin kamu harus berubah”
“Yaudah kalo gitu udah clear dong masalahnya. Tinggal nembak aja kan sekarang?. Aurelia Zoya Zonata, kamu mau nggak jadi pac-”
Sebelum Rhega menyelesaikan ucapannya, aku terburu-buru menempelkan telunjukku pada bibirnya agar dia berhenti berbicara.
“Nanti aja. Saya belum punya rasa apa-apa kalo sekarang” Ucapku yang setelah itu berlalu pergi meninggalkannya.
Dari kejauhan aku mendengar Rhega mengatakan “Gue cowok dingin, jadi gue ngga mau nyapa cewek balik.” Aku hanya bisa tersenyum, konsep dingin yang Rhega maksud justru membuatnya terlihat lucu.
dinybesmile








