Loading...
Logo TinLit
Read Story - Sadness in the rain
MENU
About Us  

Embun di pagi hari membuat kabut di sekeliling rumahku, jarak pandang yang buram udara dingin yang masih berhembus kencang firasatku mengatakan akan turun hujan yang deras. Gumpalan awan hitam yang memenuhi langit seolah berkata langit sedang bersedih sang awan pun menyembunyikan senyum sang mentari, saatku mulai menatap jendela firasatku pun benar hujan turun dengan derasnya, tetesan air hujan membasahi jendela kamarku. Jika boleh jujur sebenarnya aku benci hujan. Aku membenci hujan bukan tanpa sebab, hujan yang turun selalu mengingatkanku akan janji yang tak pernah ia tepati. Sebenarnya aku sadar betul dengan janji yang ia buat hanya untuk menghiburku saat ia hendak pergi untuk meninggalkanku selamanya. Oh...tuhan betapa menyedihkannya diriku yang tidak pernah rela melepas kepergiannya. semakinku mengingat dirinya semakin sakit hati ini karena merindukannya, aku mulai memalingkan wajahku dari jendela mataku terpaku pada kalender di kamarku, oh... ternyata besok hari itu. Hari dimana ia pergi, dengan membawa janji palsunya. Sambil meletakkan kalender aku menghelanafas sebenarnya aku bisa saja menemuinya akan tetapi aku tidak siap untuk mengiklaskannya pergi, meski waktu sudah berlalu lama tapi ingatan tentang dirinya masih sangat terasa. Aku kasihan pada dirinya yang tak bisa pergi dengan tenang karna diriku. Aku pun hanya termenung melihat hujan sambil berpikir mungkin inilah waktunya untuk mengiklaskannya pergi besok aku harus menemuinya untuk menyampaikan selamat tinggal. Hari pun berlalu, matahari bersinar samar, ia tampak malu karna tertutup gumpalan awan hitam rintik hujan berjatuhan. Aku beranjak keluar dari rumah mempersiapkan diri untuk bertemu dengannya yang terakhir kali, walau ragu aku terus melangkah menuju tempatnya beristirahat tak lupa aku membeli sebuah rangkaian bunga di dekat rumahku. Sesampainya di sana aku masih tidak percaya dengan apa yang aku lihat aku terus meracuni pikiranku sendiri mengatakan bahwa dia masih hidup walau kenyataan sudah terlihat jelas bahwa ia telah pergi untuk selama-lamanya. Dengan berat hati Aku memberikan rangkaian bunga di atas nisannya sambil berkata "Hai, maafkan aku baru datang. Pasti kamu sedih karna aku tak pernah datang, maafkan aku karena tak sanggup menerima kenyataan bahwa kau telah pergi dariku. Aku pun kecewa karena kau tak menepati janjimu kalau kau akan sembuh dari penyakitmu dan akan terus bersamaku, tapi sekarang aku sadar aku harus mulai mengiklaskan dirimu pergi, maafkan aku yang selalu menuntut agar kau selalu bersamaku. Semoga kamu tenang disana." Aku pun berlalu pergi dengan mata yang sedikit sebab, saat aku berjalan dari belakang ada yang menepuk pundakku. Seorang pria yang memakai payung wajahnya tertutup oleh pagung. "Jangan menangis. Kalau kamu masih menangis aku akan datang membawa hujan untukmu jika kamu tersenyum matahari akan bersinar menerangi langkah kakimu yang baru." Kata pria itu Sambil memberiku sebuah coklat yang di atasnya bertuliskan tersenyumlah dari Key. Aku yang tak percaya dengan apa yang ku terima, siapakah pria ini? Tidak mungkin dia Key. Key sudah meninggal lalu siapa pria itu?. Aku pun tersentak dan mencari pria itu, dia hilang bersama dengan hembusan angin mungkinkah benar pria itu adalah Key yang ingin memeberi salam terakhir padaku?. Aku hanya bisa menangis sendu mungkin benar aku harus merelakannya pergi supaya dia bisa tenang disana.

Tags: FFWC2

How do you feel about this chapter?

1 0 0 2 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Mrs. Late
551      398     1     
Short Story
Nadia telah berusaha semaksimal mungkin untuk memperbaiki kesalahan yang Dia buat, sampai merasa semua usahanya sia-sia akan tetapi keadaan membuat Dia sadar tak ada yang sia-sia seperti apa yang Dia alami...
Candamu Sakitku
670      427     2     
Short Story
Meski bercanda, mengejek, mencela, itu bagian dari hari-hariku bersama Mas Alif, hatiku berkata lain. Setiap candanya membuat aku tersipu dan berbunga. Namun, begitu cepat pula berubah menjadi sakit dan luka.
Love Arrow
711      518     3     
Short Story
Kanya pikir dia menemukan sahabat, tapi ternyata Zuan adalah dia yang berusaha mendekat karena terpanah hatinya oleh Kanya.
Ruang Nostalgia
514      404     1     
Short Story
Jika kita tidak ditakdirkan bersama. Jangan sesali apa pun. Jika tiba-tiba aku menghilang. Jangan bersedih, jangan tangisi aku. Aku tidak pantas kamu tangisi. Tapi satu yang harus kamu tau. Kamu akan selalu di hatiku, menempati ruang khusus di dalam hati. Dan jika rindu itu datang. Temui aku di ruang nostalgia. -Ruang Nostalgia-
Stalker
627      413     3     
Short Story
Kata orang, cinta buta mampu membuat seseorang kehilangan akal dan rela melakukan apapun demi sosok yang dicinta. Itulah yang Ayuni jalani selama 4 tahun terakhir. Gadis yang pada tanggal 14 Februari esok tepat berusia 25 tahun itu merupakan salah satu korban cinta buta. Lebih tepatnya, ia berubah menjadi seorang stalker garis keras dari Rafael Adibara sesaat setelah pria itu mengatakan pu...
Far Different
907      579     28     
Short Story
Sebagai seorang gadis biasa yang lahir di Guang'An, Guo Yun merasa bahwa mendapat kesempatan untuk bekerja di perusahaan Microsoft Guangzhou merupakan keberuntungan besar.
Asa Menggenggam Kata
749      450     2     
Short Story
Kalbuku tersayat, mengenang kesalahan yang tak dapat kuperbaiki. Hatiku bimbang, kemana kaki harus melangkah?
Perihal Hati
598      365     2     
Romance
Hati manusia siapa yang tahu, hati manusia siapa yang tak mau dijaga. Namun hati siapa juga yang mau tersakiti. Ini semua hanya permainan hati.
Dia yang Bukan Aku
535      405     0     
Short Story
“Berhentilah menganggap aku tak bisa menafsirkan aksara yang kau rangkai untuk dia.”
365 Hari, Aku Bertanya pada Kalian?
833      589     3     
Short Story
Aku akan menceritakan kisahku pada kalian semua. Tidak, tidak. Aku tidak meminta belas kasihan kalian. Wanita seperti ku tidak perlu dikasihani oleh kalian. Karena setelah mendengar ceritaku ini, mungkin kalian akan memberiku kalimat penyemangat yang terdengar basi dan empat menit kemudian kalian sudah melupakanku. Jadi, aku tidak perlu itu semua. Aku hanya ingin bertanya kepada kalian, Apak...