Loading...
Logo TinLit
Read Story - Penenun Nasib
MENU
About Us  

Emansipasi wanita, secuil aksara yang mengoyak abar-abar pewatas. Lihatlah, berapa banyak pekerjaan pria yang digeluti wanita. Agaknya, hampir semua perkerjaan bani Adam, para kaum hawa berhasil menuntaskannya dengan baik, bahkan lebih sempurna. Bos perusahaan, security, masinis kereta api sampai tukang aduk semen, wajah legit mereka meramaikan.

Sekelumit cerita tentang emansipasi wanita tersebut, tak urung menggedor nurani pelakon hikayat ini –Sri. Wanita seperempat abad itu, terggeragap dari kehibukan berleha-leha yang menjadi habit. Alotnya kehidupan serta seretnya ekonomi keluarga, memaksanya berpikir keras mencari jalan keluar. Ribuan ide dipilah dari otak yang hanya tertempa ilmu seadanya. Sri tak tamat sekolah dasar. Namun, tak perlu mahir matematika untuk menghitung uang kembalian. Tak harus fasih aritmatika sosial untuk mengetahui untung dan rugi. Bagi Sri, tangan emasnya ini cukup ahli dalam meramu rasa yang mendatangkan rupiah.

Berpayung panas sengangar sang penguasa siang, perempuan berjulukan “Ibu” itu mendorong rombong besi keliling jalan. Tubuh ringkihnya amat perkasa. Air mukanya tak tampak lelah. Begitu tega sang keluarga membiarkan Sri yang sedang mengandung beradu nyawa. Ya, janin yang meringkuk dan terus bertubuh setiap harinyalah yang menemani langkah Sri menjajakan dagangan.

Kemana sang tulang punggung keluarga? Kenyataannya sang tulang punggung tak lepas tangan. Dia pun membanting tulang dan memeras keringat di tempat lain. Sebenarnya Sri memiliki putri berusia belasan tahun. Putri pertamanya yang kini duduk di bangku SMP. Setiap kali mengingat putrinya itu, bibir Sri yang kemerahan tertarik lebar. Putri yang ia namai amat cantik –Tiara –dengan harapan nasib putrinya akan indah seindah mutiara lautan.

Bagi Sri, Tiara tumpuannya kala tua. Biarlah putrinya itu serius belajar demi meraih mimpinya. Sri sendiri tak ingin membebani sang putri dengan pekerjaan berat–meski di selah-selah waktu senggangnya, Tiara selalu datang membantu dan menemani. Tak ada yang mampu Sri berikan selain bekal ilmu yang nantinya akan digunakan sang putri untuk melawan kerasnya hidup. Harta? Mana mungkin, ia dan suami berangkat dari latar belakan keluarga yang serba pas-pasan. Meski ia terpapar kejamnya hidup, Sri berharap tidak begitu dengan putrinya kelak.

Matahari berada tepat di atas kepala. Sri berhenti di tempat biasa ia mangkal. Memasang spanduk, menjajar bungkusan kerupuk dan menanti datangnya pembeli. Es campur, gado-gado serta kerupuk pasir komoditas utama dagangannya.

Sejam ....

Dua jam ....

Sri sabar menunggu meski tak ada satu orang pun yang mampir. Padahal, jam makan siang sudah lewat sesaat lalu. Tak apa, Sri hanya perlu bersabar karena rezeki tak pernah kesasar.

“Bu, ramai?”

Sri menoleh. Mendapati Tiara berdiri di belakangnya –masih mengenakan seragam putih biru.

“Lumayan, Nduk. Jalan lagi pulangnya?”

“Nggak, Bu. Kebetulan tadi ada sisa  jajan, jadi naik angkot.’’

“Makan dulu.”

“Saya bikin gado-gado sama es teh ya, Bu. Ibu sudah makan?”

“Sudah tadi.”

“Bu, tadi di sekolah guru BPnya nanyain cita-cita saya. Kalau pengin masuk SMA Negeri bisa dibantu lewat jalur prestasi katanya.”

“Memang apa cita-cita, Tiara?”

“Guru, Bu. Saya pengin jadi guru.”

Sri tertegun. Jika sang putri bercita-cita menjadi guru, berarti harus kuliah. Yang Sri tahu, biaya kuliah tidak murah. Padahal setelah si buah hati lahir, biaya hidup akan bertambah. Setiap anak membawa rezeki masing-masing, benarkah itu?

Tags: ffwc2

How do you feel about this chapter?

0 0 1 2 1 0
Submit A Comment
Comments (10)
Similar Tags
Asa dan Ara
570      430     1     
Short Story
Menunggu ataupun meninggalkan itu sama-sama menyakitkan. Tapi, lebih menyakitkan saat tak mampu memilih antara menunggu atau meninggalkan
Bukan Untukku
420      310     2     
Short Story
Tak selamanya orang yang kita cintai adalah takdir.
I am sorry
298      253     0     
Short Story
Terkadang untuk memilih itu susah.Memilih yang ini salah,memilih itu salah.Akibatnya,sering terjadi yang namanya keliru ke jalan yang lebih buruk.
Search My Couple
634      384     5     
Short Story
Gadis itu menangis dibawah karangan bunga dengan gaun putih panjangnya yang menjuntai ke tanah. Dimana pengantin lelakinya? Nyatanya pengantin lelakinya pergi ke pesta pernikahan orang lain sebagai pengantin. Aku akan pergi untuk kembali dan membuat hidupmu tidak akan tenang Daniel, ingat itu dalam benakmu---Siska Filyasa Handini.
Rindu
474      360     3     
Romance
Ketika rindu mengetuk hatimu, tapi yang dirindukan membuat bingung dirimu.
Kamu&Dia
351      283     0     
Short Story
Ku kira judul kisahnya adalah aku dan kamu, tapi nyatanya adalah kamu dan dia.
Asa Menggenggam Kata
723      424     2     
Short Story
Kalbuku tersayat, mengenang kesalahan yang tak dapat kuperbaiki. Hatiku bimbang, kemana kaki harus melangkah?
Te Amo
558      401     4     
Short Story
Kita pernah saling merasakan titik jenuh, namun percayalah bahwa aku memperjuangkanmu agar harapan kita menjadi nyata. Satu untuk selamanya, cukup kamu untuk saya. Kita hadapi bersama-sama karena aku mencintaimu. Te Amo.
Pertimbangan Masa Depan
374      318     1     
Short Story
Sebuah keraguan dan perasaan bimbang anak remaja yang akan menuju awal kedewasaan. Sebuah dilema antara orang tua dan sebuah impian.
ANAGAPESIS #ffwc2
543      386     1     
Short Story
Ini berawal dari harapan yang dipupuk kebiasaan. Oh, sebuah rutinitas yang mengesankan. Harapanku tumbuh, menjulang menantang akanan. . Hingga suatu ketika kenyataan menamparku agar putar halu. Ini tentang kamu.