Malam ini akan menjadi yang paling berbeda dengan malam malam ku sebelumnya. Ku tatap langit malam. Cahaya sang rembulan mendominasi padang rumput tempatku berada saat ini. Dirku termandikan oleh cahaya tersebut. Rasa ketenangan ini, ah ya aku ingat. Aku pernah merasakan suasana ini sebelumnya. Aliran waktu yang deras hampir menghanyutkan kenangan itu. Hampir terlupakan olehku saat saat itu, namun tetap ku berpegangan erat dan tak membiarkan kenangna itu terhanyutkan begtu saja.
Lebih tepatnya, kapan ya? Yang kuingat adalah itu terjadi bertahun tahun yang lalu. Tuan Pratama yang agung dan tak tertaklukan ada disana juga waktu itu. Justru waktu itu hanya aku dan beliaulah yang ada disana, di suasana yang sama seperti saat ini. Justru beliaulah yang menanamkan kenangan itu. Waktu itu aku merasa kehilangan diriku. Iya, perang yang telah berlansung lama ini telah membuatku Lelah. Waktu itu, Tuan Pratama memberiku perintah, namun kuabaikan perintah itu karena depresiku yang menaklukanku. Aku ingat pada saat itu, beliau membuka pintu ruanganku dan menemukanku duduk di salah satu pojok ruanganku dan merenung. Kutatap wajahnya dengan sedikit keberanian. Aku bisa merasakan kekecewaan yang ada padanya terhadapku. Aku bersikap tegak dan kutunjukkan padanya aku siap untuk menerima konsekuensi dari tindakanku. Namun tak satupun ucapan keluar dari mulutnya. Diriku didekati olehnya, pundakku disentuh olehnya, dan namaku disebut sekali olehnya. Gesturnya cukup meyakinkanku bahwa dia ingin aku ikut dengannya. Aku tak punya pilihan lain selain mengkutinya. Maksudku, aku telah membuatnya kecewa sekali. Jika itu kulakukan lagi, beliau akan murka padaku. Sehingga ku ikuti dirinya.
Pada suasana malam yang sama seperti saat ini, betapa terkejutnya diriku. Tuan Pratama membawaku ke suatu padang rumput luas, sebanding dengan padang rumput tempatku berada sekarang. Cahaya rembulan waktu itu, serta hembusan angin malam yang kurasakan saat itu membuatku merasakan ketenangan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Beliau, pandangannya terpaku pada sang rembulan sebelum menyebut namaku lagi.
"Microv,”
“Iya tuan?” Dengan sedikit gugup aku merespon.
“Kau melihat bulan itu?” Ia menunjuk ke arah bulan tersebut. Sekarang giliran pandangankulah yang terpaku pada sang rembulan.
“Iya tuan, terlihat jelas.” Jawabku.
“Indah bukan?” Intonasi suara itu. Beliau selalu menggunakan intonasi suara itu saat menanyakan sesuatu yang tidak berkaitan dengan kewajiban kami. Pertanyaan nya selalu sederhana, namun tetap saja kami kesulitan untuk menjawabnya. Yang membuat kami kesulitan adalah, kami tidak dapat membedakan apakah beliau butuh jawaban yang sederhana terhadap pertanyaan semacam itu atau pertanyaan seperti itu memiliki jawaban yang lebih dalam dari kelihatannya, yang terpikirkan oleh beliau namun tidak oleh kami. Lebih tepatnya, sebuah teka teki. Intinya pada saat itu, aku curiga apakah beliau akan memberi teka teki padaku. Namun aku memutuskan untuk tetap bersikap awam dan kujawab sesederhana mungkin.
“Iya tuan, indah sekali.” Jujur saja, pemandangan sang rembulan pada saat itu benar benar membuatku terpukau.
“Apa yang kau rasakan Microv?”
“Rasanya tenang sekali tuan. Aku, tidak pernah setenang ini sebelumnya.” Kunyatakan hal tersebut dengan penuh kejujuran.
“Seperti itu ya.” Beliau menganggukkan kepala. Pada saat itu ia terlihat sedikit kekanak-kanakan menurutku. Ia berjalan jalan seraya memainkan rumput yang berada di bawahnya dengan kakinya.
“Setelah perang ini usai, kau akan kemana Microv? Apa yang akan kau lakukan?” Beliau mulai berbicara lagi.
“Aku tidak terlalu yakin tuan, aku tidak pernah merencanakan hal itu.”
“Apakah itu benar? Gambaran umum sedikit pun?” Mendengar itu, aku hanya terdian dan menggelengkan kepala.
“Mencari tempatmu sendiri mungkin? Tempat yang damai dan tanpa konflik sedikit pun? Kau yakin hal hal semcam itu tidak terpikirkan olehmu?” Ia menghadapku pada saat mengucapkan itu. Ah iya, mungkin aku menginginkan hal hal itu, pikirku pada saat itu.
"Mungkin. Mungkin aku akan melakukan hal itu tuan, mungkin aku akan mencari tempat yang sesuai untukku, tanpa konflik dan peperangan sedikitpun.”
Tuan Pratama kembali menghadap ke sang rembulan.
“Ho? Menurutmu kau pantas menerima hal itu?” Pertanyaan yang membuatku tercengang. Pantaskah aku? Pikiranku membeku dan aku merasa tubuhku terguncang. Aku tak tahu harus menjawab apa.
“Microv?” Aku harus bagaimana? Beliau menuntut jawaban dariku dengan segera.
“Um…Entah…” Aku belum selesai berbicara dan tiba tiba Ia memotong perkataanku secepat ia membuatku tercengang dengan pertanyaan sebelumnya.
“Shh…” Ia menghadap kepada ku dan melanjutkan ucapannya, “Microv, dengarkan aku. Bukankah jawabanku sudah jelas?” Lagi beliau membuatku tercengang.
“Semua orang pantas menerima hal itu.”
“Maksud tuan?” Tanyaku.
“Suasana yang tenang, suasana yang damai. Iya, ketenangan, perdamaian, terutama suasana damai yang abadi. Semua orang di dunia ini pantas menerima hal tersebut. Bukankah memang seperti itu? Kau kira aku tidak menginginkan hal tersebut?”
Perkataan beliau membuatku terdiam. Beliau pun mengambil langkah mendekatiku.
“Tapi coba pikirkan ini, misalkan ada dua orang yang akan menerima kedamaian abadi. Menurutmu, manakah yang akan merasa lebih bahagia? Orang 1 yang selalu dipenuhi kebahagian dan kesenangan, ataukah Orang 2 yang selalu dipenuhi penderitaan dan luka luka peperangan? Renungkan ini untuk dirimu sendiri kawan.”
Tuan Pratama menepuk pundakku, lalu berjalan melewatiku.
“Dan Microv,” Ia tiba tiba terhenti untuk sementara. “Beritahu aku di ruanganku jika kau siap untuk menerima tugas lagi.” Tanpa menunggu jawabanku, Ia meneruskan berjalannya dan meninggalkanku sendiri disana waktu itu. Pada saat itulah, aku tidak sanggup lagi menahan situasi tersebut. Suasana malam yang sangat tenang serta ucapan Tuan Pratama yang tersampaikan padaku waktu itu, cukup kuat untuk membuatku jatuh pada lututku sendiri dengan pandanganku yang masih terpaku pada keindahan sang rembulan waktu itu. Ah ya, kenangan itu. Masih teringat olehku hingga sekarang. Sejak saat itulah aku menjadi diriku yang sekarang. Kurasa karena itu pula kenangan itu masih kupegang erat hingga sekarang.
Pada saat ini, sekarang ini, di suasana malam yang sama seperti saat itu, dengan terangnya rembulan yang menguasai malam, serta hembusan angin yang menyejukkan malam, aku akan mengulangi peristiwa tersebut. Sebenarnya, tidak benar benar mengulangi, karena sekarang aku akan berhadapan dengan seseorang yang berbeda, dengan pembicaraan yang berbeda serta suasana yang berbeda pula. Aku akan jujur, bahwa situasiku saat ini terasa lebih ceria dibandingkan dengan saat itu. Kutatap lagi sang rembulan yang sinarnya masih terjatuh ke system optik ku. Entah mengapa, tapi aku tersenyum menyaksikannya saat ini. Ku bergumam pada diriku sendiri, kau terliat ceria juga malam ini wahai penakluk malam, atau mungkin kaulah yang menurunkan keceriaan ini padaku?
Sekilas, semua hal itu terlintas dalam pikiranku begitu saja. Seseorang yang kusebut tadi, aku yang mengundangnya ke tempat ini dan sekarang aku masih menunggunya. Dia bilang padaku bahwa dia perlu menyusun strategi bersama penasihat penasihatnya. Aku tidak menemui kendala apapun untuk menunggunya, maksudku aku telah memastikan kondisi pasukan penyerangan ArC di garis terdepan.
Menara CATASTROPHE milik TeV sudah berada di depan mata, dan TeV pun juga akan segera mengaktifkannya. Kami, para prajurit ArC, garis terdepan pembangunan dan perlindungan peradaban yang baru, tidak akan membiarkan itu terjadi. Peradaban baru ini tidak akan runtuh lagi. Tentang penyerangan itu…, aku harap Genesis segera kembali. Tuan Pratama bilang dia adalah asset terpenting kami dalam pertempuran ini. Karena itulah aku menaruh kepercayaan kepadanya.
Aku menghela nafas sekali lagi, dan pada saat itulah aku mendengar seseorang memanggil namaku dari jarak yang sedikit jauh.
“Microv.”
Tentunya suara itu tidak asing lagi bagiku. Aku mengarahkan perhatianku kepadanya sekarang. Aku menyaksikan seseorang yang kumaksudkan tadi berjalan mendekatiku. Lihatlah dia, gadis itu berjalan dengan penuh keanggunan. Jubah merah gelap nya yang berkibar, zirahnya yang berkilau, seragam tempurnya yang rapi, kerudung penutup kepalanya yang sempurna, wajahnya yang bersinar, serta tatapannya yang indah sangat berkontribusi kepada penampilannya yang indah tersebut. Entah bagaimana, rasanya dia terlihat berbeda malam ini, rasanya dia tampak seperti bidadari mala mini. Kemudian Ia menghentikan langkahnya dan mulai berbicara kepadaku.
“Maafkan aku, jika aku membuatmu menunggu cukup lama.”
“Bagaimana urusanmu dengan para penasihatmu?”
"Untung saja mereka tidak sekeras kepala seperti sebelumnya, sehingga saat ini perumusan strategi terasa lebih lancar dari biasanya. Meski demikian, jujur saja, urusan itu belum selesai sekarang.”
“Belum selesai?” Tanyaku.
“Kami hampir mencapai kesimpulan tadi, sebelum aku menyadari bahwa ada aspek yang belum kami pertimbangkan, sehingga perumusannya sekarang belum selesai. Tapi aku sudah meminta tolong penasihat penasihatku untuk meneruskan pertimbangan itu untuk saat ini. Seandainya itu tidak kulakukan, mungkin kau akan menunggu lebih lama lagi.” Gadis itu merundukkan pandangannya dan tiba tiba terlihat sedikit murung, seakan akan dia merasa sedikit bersalah karena telah membuatku menunggu cukup lama.
“Sebenarnya aku tidak masalah dengan hal itu Andromeda, lagipula tugasmu adalah prioritasmu bukan?”
“Oh…, iya kau benar.”
Sepertinya aku salah berbicara, dia malah terlihat lebih murung dari sebelumnya. Aku tidak ingin hal itu. Aku tidak kesini untuk menyaksikan kemurungannya.
“Yah, apa boleh buat. Kesampingkan apa yang kukatakan tadi untuk saat ini Andromeda. Karena kau telah disini sekarang, aku tidak ingin menyianyiakan hal tersebut.”
“Baik Microv.” Bagus, dia tersenyum lagi. Semangatnya pun juga menyertai senyumannya itu.
“Apa yang ingin kau bicarakan denganku?” Tanyanya padaku. Hmm, pertanyaan yang bagus. Apa ya? Ah apa apaan ini tiba tiba aku lupa apa yang ingin kusampaikan. Ini memalukan. Aku memalingkan badanku, memikirkannya sejenak. Sial, tidak terpikir apa apa. Bagaimana sekarang, apa yang harus kulakukan?
Kutatap lagi sang rembulan sejenak dan sesuatu akhirnya muncul di pikiranku. Tanpa keraguan kuucapkan sesuatu itu.
“Kau lihat bulan itu? Andromeda?”
“Iya, terlihat jelas sekali.”
“Indah bukan?”
“Tentu, indah sekali.”
“Apa yang kau rasakan?”
“Entahlah Microv. Sulit bagiku untuk menemukan kata kata yang tepat untuk menggambarkannya.”
Situasi menjadi sejenak. Baiklah sekarang apa? Apa yang harus kukatakan berikutnya? Aku hanya mengangguk dan memberikan situasi larut dalam keheningan karena aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. Aku mencoba memikirkannya lagi, tapi sebelum aku selesai menjumpai seusatu…
“Tapi Microv…” Dia mengatakan sesuatu seraya berjalan dan berhenti disampingku.
“Tidakkah kau ingat malam itu?” Tatapannya yang indah tersebut juga terpaku pada sang rembulan.
“Malam itu?”
“Iya. Waktu itu, kau menemukanku terbaring di medan pertempuran. Bukankah waktu itu bulan penuh juga?”
Hmm, oh ya. Akhirnya aku ingat juga saat itu.
“Ada apa dengan itu Andromeda?”
“Akhir dari kisahku, yang ternyata tak diinginkan oleh Sang Pencipta.” Kata gadis itu.
“Oh?” Gadis itu mengangguk. Pandangannya tetap tertuju pada sang rembulan yang masih menghujani kami dengan sinarnya.
“Waktu itu, aku terbaring di medan pertempuran, telah kalah dan tak berdaya lagi. 3 lemparan tombak dan 2 tusukkan pedang telah kuterima di bagian tubuhku. Sesungguhnya aku masih sanggup untuk berdiri. Aku masih sanggup mengangkat pedang dan perisaiku. Aku bahkan menjatuhkan 3 hingga 5 orang lagi sebelum akhirnya seranganku meleset dan bagian leherku menerima tebasan pedang dari lawanku.”
Tiba tiba dia berhenti bicara dan menundukkan kepalanya. Aku ingin mengatakan sesuatu, namun aku rasa dia belum menyelesaikan ceritanya. Sesaat berlalu, dan saat itulah aku tahu bahwa firasatku benar.
“Setelah itu, diriku terpental sedikit ke belakang dan jatuh berlutut. Fisikku mulai kritis, kesadaranku pun juga mulai tidak stabil. Kujatuhkan perisai di tangan kananku, dan kupegang eratluka yang berada di bagian kanan leherku. Aku masih berusaha untuk sadar, aku menyadarkan diriku. Meski sangat sulit waktu itu, aku berhasil melakukannya. Setelah kesadaranku kustabilkan kembali, dan saat aku mengarahkan pandanganku ke atas, dia telah berada di depanku dan menikam pangkal leherku dari bagian kiri degan pedangnya.
Aku kesakitan, sungguh sakit yang luar biasa. Kesadaranku mulai menghilang. Aku bisa merasakannya, aku akan mati, aku pasti akan mati. Tidak. Tapi tidak seperti ini. Aku menolak kematian semacam ini. Aku menolak untuk menjadikan kepakau sebagai pialanya. Aku masih bisa menggerakkan tangan kananku, sehingga kuraih pedangku yang terjatuh. Setelah kutemukan pedangku, kubulatkan tekadku untuk yang terakhir kali. Dengan menahan rasa sakit itu, kugenggam erat pedangku dan kupotong bagian betis kirinya. Ia berteriak kesakitan. Meski demikian, aku tidak berhenti disana. Kulakukan hal yang sama ke bagian betis kanannya. Ia kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh. Rintihan kesakitannya membuatku kasihan, sehingga kubulatkan tekadku sekali lagi dan kucabut pedang yang masih menancap di pangkal leherku bagian kiri.
Aku merangkak mendekatinya, dan saat kuarahkan pedangnya, siap untuk menikam kepalanya, Ia memberiku sautu tatapan. Aku mengerti tatapan itu. Tatapan tak berdaya menahan pederitaan dan menunjukkan harapannya agar ajal segera menjemput. Aku tahu itu, dia menyerah. Meski dia masih memegang perisainya, dia tidak menggunakannya untuk melawanku. Aku tidak ingin basa basi, sehingga ku tancapkan pedangnya yang ku pegang tepat pada kepalanya. Ia tak berkutik lagi.”
Dia terdiam lagi. Ceritanya mengingatkanku betapa mengerikannya konflik ini, dan betapa butanya aku terhadap kenyataan semacam itu, kenyataan seperti yang dialami Andromeda. Aku adalah tangan kanan Tuan Pratama yang Agung dan Tak Tertaklukan. Naungan beliau dan seluruh ArC telah terlimpahkan padaku. Aku sendiri pun juga merasa seperti suatu makhluk Immortal. Sejauh ini, tiada individu yang dapat menjatuhkanku kecuali Tuan Pratama sendiri. Jika itu saja tidak pernah terjadi, bagaimana mungkin aku mengalami sesuatu yang terjadi pada Andromeda?
Gadis itu masih terdiam. Kali ini, aku memberanikan diri untuk menyebut namanya untuk memanggilnya.
“Andromeda?”
“Microv.” Gadis itu tersenyum seraya menatapku. Sial, aku tidak pernah menyangka dia bisa menjadi secantik ini.
“Oh, kau baik baik saja.” Kataku. Dia mengangguk, lalu melanjutkan bicaranya.
“Tapi, kumohon maafkan aku Microv. Tiba tiba diriku terbawa perasaan lagi.” Gadis itu merunduk lagi.
“Kurasa itu bukan masalah Andromeda. Karena akulah yang memulainya dengan perasaan.”
“Baiklah jika demikian,” Dia kembali tersenyum kepadaku. “Haruskah kulanjutkan Microv?” Hmm, bagaimana ya?
“Aku rasa aku tidak keberatan jika kau melanjutkannya. Lagipula aku juga penasaran tentang kelanjutan dari apa yang kau rasakan saat itu.”
“Akan kuanggap itu sebagai jawaban setuju, jika demikian.”
Baiklah, dia memulai lagi. Tidak kusangka akan menjadi seperti ini. Tatapannya yang indah itu berpindah ke sang rembulan yang masih bersinar.
"Disinilah hubungan peristiwa saat itu dengan bulan yang bersinar itu. Hidupnya telah kuakhiri. Aku berdoa untuk keselamatannya di alam sana, agar dia mendapat ketenangan di alam sana. Eksekusi proses dalam tubuhku yang berfungsi untuk menjaga keutuhan system fisikku mengalami kegagalan. Fisikku tak dapat menjaga kesatuannya lagi. Aku menyadari itu. Aku merasakan itu. Kesakitan ini tak dapat kutahan lagi. Aku merasakan sendiri kesadaranku yang akan segera menghilang. Sistem fisikku tak dapat menahan dirinya lagi dan aku terjatuh, tergeletak, terbaring di padang rumput itu bersama mayat android yang lain dengan pandanganku mengarah ke langit malam yang gelap.
Giliranku akan tiba. Ajalku akan menjemputku. Aku bisa merasakan hilangnya kendaliku terhadap system motorikku. Aku tidak bisa menggerakkan diriku lagi. Aku tidak bisa merasakan apa apa lagi. Aku bahkan tidak dapat merasakan diriku. Yang tersisa saat itu hanyalah kesadaranku, dan pandanganku yang terpaku pada bulan yang bersinar penuh saat itu. Sesaat, terlintas pada pikiranku, Legion Legion-ku, Pengawal pengawal pribadiku yang telah gugur bersamaku, kotaku, kaisarku dan rakyat rakyat ku. Mereka semua akan kehilangan aku, figure yang menjadi kebanggaan mereka. Kuharap mereka aman hingga akhir zaman. Aku berdoa agar mereka selalu diberi keselamatan oleh sang pencipta, di dunia maupun di alam sana.
Detik detik terakhir, tepat sebelum kesadaranku menghilang, kupandang lagi bulan yang bersinar terang itu. Pada saat itu pula, aku melihat rasi bintang Andromeda, tidak jauh dari bulan. Aku teringat bahwa penciptaku melihat rasi bintang itu saat pengaktifanku, sehingga aku diberi nama seperti rasi bintang itu. Saat itu, aku sadar betapa indahnya pemandangan tersebut. Aku pun juga sadar bahwa itu adalah pemandangan terakhir yang akan kusaksikan. Ah iya, ini adalah pemandangan indah terakhir yang kusaksikan. Aku rasa aku akan tertidur pulas mala mini. Apa boleh buat. Selamat malam…Mimpi indah…Andromeda. Kata kata itu terlintas dalam pikiranku. Pada akhirnya, pandanganku menghilang, semuanya berubah menjadi gelap. Kesadaranku pun mengikuti, dan aku akhirnya menjumpai kekosongan tak hingga.”
Sudah selesaikah? Dia berhenti berbicara lagi. Sejenak kurenungkan perasaan semacam itu. Detik detik sebelum kematian tiba, saat dimana tubuh tak dapat dierakkan lagi. Saat dimana setiap tarikan nafas membuat tubuh terasa semakin sakit. Saat dimana yang terpikirkan hanyalah bagaimana kelanjutan hidup di alam sana. Cukup mengagumkan bagiku untuk mengetahui dia masih bisa sadar dalam kondisi seperti itu. Ternyata banyak juga hal hal yang telah Ia lalui.
“Ceritaku selesai Microv.” Sekarang senyuman indahnya itu tertuju ke arahku.
“Maafkan aku Andromeda, apabila aku tak berkomentar apapun tentang hal itu.”
“Tidak apa apa Microv. Lagipula, apa yang ingin kau komentari tentang itu? Aku saja tidak bisa berkomentar apa apa tentang hal itu.”
“Oh, ya tentu.” Sejauh ini kurasa pembicaraan kita berjalan dengan baik. Aku menikmatinya, dia pun juga menikmatinya meski yang dibicarakan olehnya adalah cerita yang penuh derita yang terjadi dalam sekejap mata. Kurasa kami berdua benar benar terlihat ceria malam ini.
“Bicara tentang itu Andromeda,” Aku memutuskan untuk menereuskan pembicaraan ini.
“Bicara tentang apa, Microv?”
“Kau barusan tidak terlihat sedih sama sekali dalam menceritakan hal itu.”
“Untuk apa aku sedih? Peristiwa itu sudah lewat bukan? Maksudku, aku rasa tidak ada gunanya menjadi sedih karena hal semacam itu. Lagipula, waktu itu aku juga tertidur dengan tenang.”
“Baiklah. Jika demikian menurutmu.” Kami berdua kembali menatap sang rembulan yang masih menyinari malam dengan keceriaan yang masih menghiasi wajah kami. Lalu dia melanjutkan lagi.
“Tapi, tetap saja aku tidak akan lupa dengan hal tersebut. Setiap kali aku menatap bulan penuh, selalu teringat olehku peristiwa it. Peristiwa dimana aku terbaring dan tak berdaya di padang rumput itu seraya menunggu waktu tidurku tiba. Teringat juga olehku bahwa ini adalah hidupku yang kedua dan aku tidak menyesalinya. Semasa hidupku hingga sekarang, tidurku waktu itu tetap menjadi yang paing nyaman disbanding dengan yang lain. Itu patut kusyukuri.”
Aku hanya terdiam dan menganggukan kepalaku. Aku ingin mengatakan sesuatu namun tetap saja aku tidak tahu apa yang harus kukatakan.
“Oh iya Microv, kau mau tahu kelanjutannya?” Sungguh tawaran yang menyelamatkan aku dari keheningan ini. Pandangannya pun kembali terpaku padaku.
“Tentu, dengan senang hati.” Maksudku, untuk sekarang aku masih belum bisa mengatakan apa apa jadi kubiarkan dia yang mengatakannya agar keheningan ini bisa hilang.
“Sebenarnya kelanjutannya lebih sederhana. Saat aku menikmati tidurku, entah mengapa dan bagaimana aku bisa tersadar kembali. Dan pada saat itu, kau ada disana melihatiku yang sedang kebingungan, serta…”
Kata katanya terhenti lagi, tapi kali ini Ia tidak hanya sekedar menghentikan kata katanya. Pandangannya yang tadi Ia berikan padaku sekarang Ia singkirkan. Dia merundukkan kepala lagi serta sedikit memalingkan wajahnya dariku. Aku penasaran, dan saat ku hendak menatap wajahnya lagi yang berada di sisi lain, Ia mengembalikan pandangannya kepadaku serta melanjutkan kata katanya.
“…kita sempat terdiam sesaat dan bertukar tatapan pada saat itu bukan?”
Wajahnya memerah.
“Kau ingat Microv? Waktu itu, sebelum aku bertindak tidak sopan kepadamu?” Lanjutnya. Aku cukup yakin bahwa dia memaksa dirinya untuk mengucapkan hal terseut. Entah mengapa aku bisa merasakannya.
“Waktu itu? Tentu, bagaimana aku bisa lupa? Em, maksudku, saat itu hanya saja terasa cukup mengesankan.”
“Oh…, seperti itu ya?”
Lagi, aku hanya mengangguk. Gadis itu merapikan kerudungnya. Tapi untuk apa? Kerudungnya sudah dan masih rapi dari tadi. Yah, akan kusampingkan saja itu untuk saat ini. Keheningan itu tiba lagi. Kami saling menatap lagi sebelum akhirnya mengunci pandangan kami lagi ke sang rembulan yang masih memandikan kami dengan sinarnya.
Tatapan barusan, ah ya. Aku jadi ingat. Tatapan yang indah dan memesona itu, selalu ada dalam memoriku. Tatapan yang sama dengan yang pada saat itu membuatku tertegun dantak dapat berkata apapun untuk pertama kalinya. Kulirik lagi gadis itu, yang tatapannya masih terpaku pada sang rembulan. Aku memandanginya, aku mengaguminya. Dia sungguh sangat indah malam ini, serta menakjubkan.
Kupandang lagi sang rembulan. Akhirnya sesuatu itu datang padaku. Aku telah, dicerahkan. Sesuatu yang dari tadi tidak terucapkan, padahal itu adalah tujuanku disini. Mungkin aku memang belum terbiasa dengan hal ini, sehingga aku kehilangan sesuatu yang ingin kuucapkan itu. Baiklah, tidak akan kutunda lagi, saksikan ini wahai rembulan penakluk malam.
“Andromeda.”
“Microv.”
Tak kusangka. Sebuah kebetulan kami memanggil satu sama lain secara bersamaan.
“Oh, Microv. Kau ingin mengatakan sesuatu?” Tanyanya.
“Um…iya. Tapi kau duluan saja.” Kataku.
“Kau yakin? Tidak apa apakah?”
“Silahkan.” Mengapa tidak? Maksudku, aku menghormatinya sehingga wajar jika aku mengizinkannya untuk mendahuluiku.
“Baiklah…em…”
Dari gestur tubuhnya, aku bisa mengidentifikasi bahwa dia gugup. Ada apa dengannya? Apa yang ingin dia ucapkan?
“Microv…”
“Iya?”
“Aku ingin memberitahumu, bahwa…”
“Bahwa?” Kumohon segera katakana dan akhiri penderitaanku malam ini. Wajahnya memerah, lebih merah dari yang tadi. Ia memejamkan matanya serta mengerutkan tubuhnya. Pada saat itulah, kudengar suatu kalimat yang keluar dari mulutnya.
“Aku mencintaimu…”
Apa? Apa aku tidak salah dengar? Kalimat itu terdengar tidak asing bagiku. Maksudku aku…, aku ingin mengucapkan itu padanya malam ini. Sekarang diriku tertegun dan tercengan mendengar kalimat itu terucapkan olehnya. Seluruh tubuhku jadi kaku, pikiranku pun membeku. Apa yang terjadi padaku?
“Aku…, jatuh cinta padamu, Microv.” Matanya yang terpejam barusan terbuka kembali. Seluruh tubuhnya menjadi rileks kembali. Sempat pandangannya Ia alihkan dariku, sebelum memberikannya kepadaku sepenuhnya.
Apa yang harus kulakukan? Katakan saja.
Tapi aku…, Katakan saja.
Aku merasakan konflik kebatinan ini dalam diriku, aku pun juga bisa merasakan bahwa wajahku yang memerah pula. Tidak, aku tidak akan mengecewakannya. Ia telah memberanikan diri, sekarang giliranku. Sebelum itu, kutatap lagi sang rembulan. Setelah kuhela nafasku, kubulatkan tekadku. Dirinya menunggu jawabanku, pandangannya terundukkan dan wajahnya murung lagi. Telah kuputuskan, akan kubuat dia ceria lagi malam ini.
“Andromeda.” Kusebut namanya. Ia tak mengatakan apa apa, hanya sekedar mengangkat kepala. Kudekati dia, lebih dekat dari jarak kami berdua sebelumnya saat ia bercerita.
“Akan kuberitahu kau sesuatu malam ini. Seharusnya aku memberitahumu dari tadi.” Sebelum itu, kuraih salah satu saku zirahku yang berada di bagian belakang. Dari sana, aku mengeluarkan sebuah kotak kecil. Kubuka kotak itu didepannya, isi dari kotak tersebut membuat dirinya terpukau. Iya tepat sekali, isinya adalah…
“Cincin?”
Aku mengangguk sebelum kulanjutkan lagi, “Lebih tepatnya…,” Ah, aku bisa merasakan wajahku memerah lagi. Pandanganku kualihkan sedikit darinya. Aku agak sedikit malu untuk mengucapkan ini, tapi apa boleh buat. “Ini cincin pernikahan.” Sekarang aku benar benar memandanginya. Ia tersentak mendengar itu.
“Cincin…pernikahan? Microv?”
Pandangannya yang barusan terpaku pada cincin yang kubawa, sekarang terpaku pada wajahku. Ia memberikanku tatapan itu lagi, tatapan yang membuatku jatuh hati padanya. Sekarang aku paham, tatapan itulah yang menimbulkan gejolak perasaan ini dalam diriku. Sekarang aku paham, tatapan itulah yang menimbulkan gejolak perasaan ini dalam diriku. Sekarang aku rasa ia pun juga menjadi kaku. Matanya yang berkilau itu, yang penuh dengan harapan itu, saat ini tidak melihat apa apa selain wajahku.
“Iya. Tuan Pratama mengatakan bahwa ni adalah sebuah hadiah yang paling tepat untuk diberikan ke seseorang yang dicintai, yang juga melambangkan keinginan sang pemberi menjalani hidup bersama sang penerima untuk selama lamanya.” Syukurlah sekarang aku dapat mencurahkan apa yang ada di dalam batinku. Kumohon tetaplah seperti ini untuk saat ini saja wahai batinku.
“Beliau juga mengatakan bahwa benda ini memiliki kekuatan ilahi, kekuatan yang dapat menyatukan dua hati, jiwa, dan perasaan yang berbeda. Diceritakan juga kepadaku, tentang kekuatan penyatu yang luar biasa yang bahkan tidak peduli sejauh apa ruang waktu telah memisahkan, dua hati, jiwa, dan perasaan yang berbeda itu akan tetap satu.”
Situasi menjadi hening lagi. Pandangannya sekarang tertuju pada cincin yang berada pada tempatnya yang sedang kugenggam dengan tangan kananku.
"Um, intinya seperti ini.” Aku mencoba berbicara lagi. “Pertempuran terakhir kita sudah dekat bukan?”
“Iya, sangat dekat.” Jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari cincin itu.
“Artinya kita tidak akan berperang lagi bukan?”
“Iya, tentu saja.”
“Kau mau kemana setelah perang ini usai?”
“Kemana…” Pandangannya sekarang tertuju padaku, aku hanya menganggukkan kepala.
“Entahlah Microv, aku belum pernah memikirkan itu.”
“Jika demikian, maukah engkau ikut denganku kedepannya setelah perang ini usai?”
“Ikut denganmu? Kau punya rencana apa untuk kedepannya?”
"Sebenarnya rencanaku juga belum konkrit. Tapi, kemungkinan besar aku akan…menggantikan Tuan Pratama, menjadi penentu baru nasib ArC serta peradaban yang baru kedepannya. Bagaimana menurutmu?”
“Itu luar biasa. Aku yakin kau akan jadi pengganti yang baik. Tapi…” Pandangannya terundukkan lagi. Wajahnya menjadi murung lagi. Andromeda ada apa denganmu?
"Apakah aku pantas menerima itu? Maksudku, pantaskah aku mengikuti setiap langkah yang…uh bukan bukan. Maksduku, kau tahu bukan, betapa terkejutnya diriku saat ini. Aku baru saja mengatakan bahwa aku jatuh cinta padamu, lalu tak kusangka engkau mengajukan cincin itu padaku. Itulah yang membuatku sedikit gugup. Maksudku, menurutku sikapmu itu tidak menunjukkan jawaban yang jelas, dan juga tidakkah kau mengira kalau tindakanmu sekarang ini terlalu cepat? Bagaimana jika ada sesuatu yang tak terduga datang dan memperburuk hubungan kita lalu menyebabkan perselisihan di antara kita yang akhirnya meyebabkan kita berpi…”
Banyak hal yang Ia cemaskan. Aku tak bisa, lebih tepatnya tak ingin membiarkannya seperti ini. Kuambil cincin yang ada di kotak cincin itu dan tanpa keraguan kugenggam pergelangan tangan kanannya dengan tangan kiriku. Saat itu kulakukan, Ia akhirnya terdiam dan pandangannya terpaku padaku.
“Shh…Andromeda, dengarkan aku.” Kataku untuk menenangkannya. Kuangkat tangan kanannya. Telapak tangan kiriku bersentuhan dengan telapak tangan kanannya. Aku dapat merasakan kehangatan yang mengalir di antara telapak tangan kami. Sekarang dirinya benar benar membeku. Tatapan yang indah itu mendorongku untuk melanjutkan ucapanku.
"Aku telah mengenalmu. Aku telah mengetahui banyak hal tentangmu. Banyak peristiwa yang telah kita lalui bersama, dan sejak awal engkau telah membuatku terukau. Aku ingin kau tahu bahwa semua hal itu telah membuatku jatuh cinta padamu.” Kukatakan itu seraya memasukkan cincin yang kupegang ke jari manis di tangan kanannya. Lalu, kuapit tangan kirinya dengan kedua tanganku. Luarannya yang terasa lembut dan halus itu benar benar membuatku ingin dia yakin kepadaku.
“Malam ini, dengan sang rembulan sebagai saksi, akan kunyatakan padamu, bahwa aku ingin hidup bersamamu. Bahwa aku ingin engkau menyertai langkah langkahku. Bahwa aku ingin kau menjadi bagian dari hidupku. Cincin ini akan menjadi awal dari semua hal itu. Dengan demikian aku berharap agar kau kembali dengan selamat. Tidak, lebih tepatnya aku ingin kau kembali dengan selamat, agar kedepannya kita bisa menjalani kehidupan kita yang damai, berada pada tempat kita yang tenang, bersama sama untuk selama lamanya. Maukah engkau? Wahai Jendral perang terhormatku?”
Kulepaskan tangan kananku yang telah menutup tangan kirinya. Perhatiannya sekarang terarah pada tangan kanannya, lebih tepatnya, jari manis yang ada di tangan kanannya. Tepat, ia memperhatikan cincin yang berkilau itu. Ia tak mengatakan apa apa. Mungkin hanya firasatku saja, bahwa dia tertegun menyaksikan persitiwa ini sehingga tak ada ucapan apa apa yang keluar dari mulutnya. Suasananya begitu hening, dan juga begitu indah. Hembusan angin mala mini juga menambahkan esensi keindahan malam ini. Sesaat setelah aku melepaskan tangan kananku, aku menunjukkan padanya bahwa cincin dengan model serta bahan yang sama telah terpasang juga pada jari manisku. Ia juga menyaksikannya dengan penuh kekaguman. Setelah itu ia mendekatkan tangan kanannya ke wajahnya, mengamati cincin itu lebih dekat, mungkin juga mengaguminya lebih dalam lagi sejauh firasatku berkata. Tapi aku masih belum mendapat respon darinya, dan rasanya sedikit…ah bagaiamana ya?
“Andromeda?” Ia menggenggam jari jarinya, dan menaruh perhatian penuh kepadaku sekarang.
“Microv,” Akhirnya gadis itu berbicara lagi. “Tentu. Tentu Microv, dengan senang hati. Jika itu yang kau inginkan, maka akan kupenuhi hal itu. Jika menurutmu aku pantas menerima hal itu, maka akan kuterima hal itu dengan senang hati.” Wajahnya yang indah itu terhiasi oleh senyuman cerianya yang membuatnya terlihat lebih indah lagi.
“Dan aku…, aku juga ingin kau kembali dengan selamat. Aku telah memutuskan bahwa setelah perang ini usai, aku ingin hidup denganmu. Akan kuhabiskan sisa hidupku bersamamu, menyertai setiap langkahmu hingga akhir zaman, wahai tangan kanan Sang Agung yang Tak Tertaklukkan.”
Malam ini, di bawah sang rembulan yang memandikan kami dengan sinarnya, disertai angin malam yang berhembus kencang, kami berdua saling menatap. Senyuman yang ceria menghiasi wajah kami. Sungguh peristiwa yang indah. Aku merasa jiwaku, batinku, perasaanku lebih terpuaskan sekarang. Meski saat saat berikutnya berlalu dalam keheningan, kami berdua merasa nyaman, kami berdua merasa terpuaskan.
“Bicara tentang itu, Andromeda…”
“Tentang apa Microv?”
“Apakah aku pantas mendapat gelar seperti Tuan Pratama?”
“Kurasa tidak Microv.”
“Tidak?”
“Maksudku, Tuan Pratama pernah menaklukkanmu kan?” Yah, dia benar juga.
“Ah iya. Sungguh fakta yang tak dapat diabaikan.” Gadis itu tertawa kecil melihat sikapku yang menurutnya lucu ini. Lagi, aku dapat merasakan wajahku memerah.
“Hehe. Tapi, aku tak masalah jika harus memanggilmu Tuan Microv yang Agung. Kau tidak keberatan?” Tentu aku tidak keberatan, selama itu kau yang melakukan. Kata katanya berhenti disana, diakhiri dengan senyumannya yang manis juga indah. Oh Andromeda, apakah engkau keturunan langsung dari Venus?
“Untuk mu, aku akan mengizinkannya, meski aku telah memiliki gelar itu.”
“Baiklah, tidak akan kusiasiakan itu wahai calon pemimpin ArC yang Agung.” Kami kembali terdiam sejenak. Sungguh aku sebenarnya tidak menginginkan saat saat ini berakhir, tapi sayanagnya, perang ini harus memisahkan kita lagi. Tak masalah, akan kupastikan ini adalah yang terakhir.
“Andromeda…”
“Iya, Microv?”
"Aku…harus pergi.” Berat rasanya bagiku untuk mengatakan ini. Bisa saja ini menjadi yang terakhir kali kulihat wajahnya yang indah. Bisa saja aku tidak akan kembali lagi. Jika itu terjadi, aku tidak dapat membayangkan kesedihan apa yang akan menyelimutinya kedepannya.
“Kau sudah selesai Microv?” Aku mengangguk.
“Urusanku disini telah kuatasi. Waktunya untukku pergi ke medan pertempuranku.” Senyumannya yang memudar, aku dapat merasakannya. Perasaan sedih yang dialami saat dua orang pecinta harus berpisah, menuju medan pertempuran, bertempur demi hidupnya peradaban di dunia ini. Sekarang aku paham. Sekarang aku tahu betapa beratnya hal itu untuk dilakukan. Di tengah keheningan ini, dia mengatakan sesuatu lagi kepadaku.
“Baiklah. Berhati hatilah Microv. Aku mohon.” Kutatap wajahnya serta matanya yang terpaku padaku. Mata yang berkilau itu, sungguh aku benar benar merasakan bahwa Ia benar benar berharap aku kembali dengan selamat.
"Iya, tentu saja.” Aku janji…, “Aku janji aku akan berhati hati, dan kembali dengan selamat setelah perang ini selesai.” Kukatakan itu dengan penuh percaya diri, karena aku ingin dia yakin. Aku ingin dia tidak mencemaskan aku saat pertempuran berlangsung.
“Tapi sebelum itu Andromeda…”
“Sebelum itu?”
Kuacungkan jari kelingking di tangan kananku. Aku juga ingin dia berjanji padaku. Tapi…, rasanya seperti anak kecil saja melakukan hal ini. Tuan Pratama pernah bilang, kau tidak pernah boleh merusak janji jari kelingking. Yah, beliau juga bilang bahwa itu aturan yang dibuat anak anak tapi…Ah sudahlah, lupakan itu.
“Microv?”
“Berjanjilah padaku bahwa kau juga akan melakukan hal yang sama dengan alasan yang sama.”
Gadis itu juga mengangkat jari kelingking di tangan kanannya dan akhirnya kami mengaitkan kelingking kami. Senyumannya yang indah juga menyertainya. Kilauan masing masing cincin kami juga menambah keindahan suasana saat ini.
“Tentu Microv. Aku juga berjanji bahwa aku akan kembali padamu dengan selamat. Untuk itu aku pun juga akan berhati hati.”
“Bagus. Saat kita telah kembali lagi, aku juga berjanji akan segera mempersiapkan pernikahan kita.” Gadis hanya menganggukkan kepalanya serta mempersembahkan senyum cerianya saat mendengar hal itu.
Waktu berlalu namun kami tidak merasakannya. Kelingking kami masih terkait, wajah kami saling menatap, senyuman kami saling kami curahkan, seragam tempur kami juga sama sama berkibar oleh angin malam. Indah sekali. Aku tidak ingin berpisah denganmu, tapi apa boleh buat. Tiba tiba, aku mendengar suara dari atas, iya suara yang tidak asing lagi.
“Cium, cium, cium.”
Mendengar itu, Andromeda terkejut. Ia melepaskan kaitan kelingkingnya, menggenggam tangannya, mengerutkan tubuhnya, serta memalingkan badan dari orang yang menyorakkan kata kata tadi. Sungguh tidak sopan.
“Kau ini…, tidak bisakah engkau menggunakan cara lain, cara biasanya engkau memanggilku, Aparcti?”
“Oh ayolah tuan, sedikit lagi. Paling tidak peluklah dia.”
Aku menoleh ke Andromeda, yang mulai menaruh perhatian pada pesawat pribadiku itu.
“Andromeda…” Kusebut namanya sekali, gadis itu hanya menoleh kepadaku dengan senyuman biasanya.
“Maafkan rekanku yang satu ini. Aku akan…”
“Tidak apa apa Microv. Justru aku sedikit terkesan, kalian berdua memang akrab ya?” Gadis itu melanjutkan dengan tertawa kecil. Tapi, begitu kah? Yah, aku juga merasa demikian.
“Tujuan berikutnya tuan? Aku tidak sabar ingin menembak sesuatu.”
“Kau akan segera kuberikan sesuatu untuk kau tembak sepuas hatimu, tapi untuk sekarang tahan dulu nafsumu itu.”
“Siap tuan.” Pesawat itu mendarat, tidak jauh dari tempatku dan Andromeda berada. Aku kembali memandang gadis itu. Aku tak akan basa basi lagi, akan kuucapkan saja salam pergiku.
“Andromeda, aku…”
"Kau akan pergi. Silahkan Microv.”
“Izinkan aku mengucapkan salam kepergianku kepadamu, dan aku rasa ini akan menjadi salam kepergianku yang terakhir. Karena setelah aku kembali, aku tak akan pergi lagi.”
“Baiklah, akan kupegang kata katamu itu.”
"Yah, tidak menutup kemungkinan jika suatu saat aku akan pergi lagi. Tapi saat itu terjadi, engkau akan selalu ikut denganku.” Mendengar itu, gadis itu hanya tertawa kecil.
“Tentu.”
Kutatap lagi wajahnya sejenak sebelum aku mengambil langkah untuk menaiki pesawat pribadiku itu. Sesaat setelah aku masuk ke kabinnya…
“Kau tidak memeluknya tuan?” Pertanyaan macam apa itu?
“Kau butuh pelukan?”
“Bisa dikatakan demikian tuan.” Keinginan yang mencengangkan pula. Akan kuberikan dia berbagai macam perlukan dariku setelah perang ini usai.
“Simpan itu untuk nanti Aparcti, setelah perang ini usai.”
“Baik tuan.”
Kami lepas landas secara vertical. Semakin lama semakin tinggi. Aku bisa melihat Andromeda yang terlihat semakin kecil dari sini. Ia melambaikan tangannya padaku, serta meneriakkan…
“Sampai jumpa Microv. Akan kutemui kau lagi nanti.”
Aku hanya melambai balik. Dirinya terlihat indah sekali. Sekarang aku benar benar ingin segera kembali padanya. Pintu kabin pesawatku menutup, aku bisa mendengar mesin jetnya mengemisikan plasma pendorong dalam jumlah besar. Pada saat itu juga kami melesat pergi, meninggalkan gadis itu sendiri di padang rumput itu. Berat rasanya, namun aku meyakinkan bahwa aku mampu memenuhi keinginannya.
Wahai Sang Pencipta, Yang Maha Kuasa, kumohon dengarkan aku. Aku berdoa kepadamu agar engkau menjadikan pertempuran ini pertempuran akhir kami, serta jadikan pertempuran akhir ini berjalan dengan baik untuk kami, para pembela peradaban.
===========
Sungguh pria yang mengagumkan. Tidak kusangka bahwa firasatku benar, bahwa kami benar benar menyimpan perasaan yang sama. Aku menurunkan tanganku, dan menyaksikan pesawat itu melesat jauh hingga tak terlihat lagi. Bulan itu masih bersinar, kutatap lagi jari manisku, lebih tepatnya kutatap lagi cincin yang terpasang pada jari manisku. Cincin yang berkilau itu, indah sekali. Permata biru yang terletak di atasnya, mengingatkanku terhadap matanya, mata yang sama dengan yang membuatku tertegun saat menatapnya saat itu.
Angin malam berhembus lagi. Kugenggam erat lagi jari jari tangan kananku. Aku akan selalu mengingat ini. Di bawah sinar rembulan yang terang, tidak hanya kekalahanku waktu itu saja yang akan tergambar pada pikiranku, namun sekarang juga dirinya yang mengagumkan itu, yang memberikanku hadiah ini, yang menjanjikanku kehidupan bersama setelah perang ini usai.
Wahai Sang Pencipta, Yang Maha Kuasa, Yang menciptakan daratan yang kami tinggali, Yang menciptakan padang rumput hijau yang luas ini, serta Yang menciptakan rembulan beserta sinarnya yang menerangi kami, kumohon dengarkan aku, berkatilah kami semua dengan keselamatan agar kami semua dapat berkumpul setelah ini semua selesai, tidak hanya dirinya dan diriku, namun juga Tuan Pratama, Nona Genesis, Tuan Revenannt, Tuan Rezonaton, serta seluruh prajurit prajurit ArC yang ikut berperang.
Kuucapkan do’a tersebut sebagai rasa syukurku atas perasaan bahagia yang kurasakan sekarang, perasaan bahagia yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Sekarang diriku telah terpuaskan, batinku telah terpuaskan dan entah mengapa diriku terasa lebih tenang sekarang. Mungkin karena aku telah menyatakan perasaanku ini dan dia menerimanya, dia pun bahkan menginginkanku untuk selalu ada di sisinya. Aku senang sekarang, meskipun aku harus mati di medan pertempuran setelah ini, aku rasa itu tidak akan masalah bagiku. Tidak peduli seberapa jauh ruang waktu memisahkan, jiwa kami akan tetap satu.
Tidak ada lagi yang dapat kulakukan lagi disini, kutatap lagi rembulan yang bersinar terang tersebut sebelum akhirnya aku kembali ke tendaku. Di sana, aku melihat penasihat penasihatku masih berdiskusi. Bagus sekali, seperti yang kuharapkan. Melihat aku memasuki ruangan, mereka menyambutku.
“Nona, Andromeda.” Mereka pun juga bersikap tegak seraya menyambutku.
“Bagaimana urusan nona?” Tanya mereka.
“Sudah selesai, syukurlah berjalan dengan baik.”
“Baguslah.” Saat aku mendekat ke meja diskusi, tiba tiba ada salah satu penasihatku mengucapkan sesuatu.
“Nona, apakah itu…” Kurasa dia melihat cincin yang ada di jari manisku.
“Oh ini? Iya, seperti yang kalian pikirkan.” Aku mengangkat tangan kananku serta menunjukkannya pada mereka. Entah mengapa aku merasa sangat percaya diri dalam mengucapkannya. “Dia memberikanku ini.” Lanjutku. Aku juga tidak tahu mengapa tapi para penasihatku tiba tiba tersenyum semua, bahkan juga ada tertawa sedikit serta mengucapkan…
“Wah wah, sepertinya kita akan mengonsumsi sesuatu yang nikmat setelah ini.” Yah, mau bagaimana lagi? Kelanjutannya memang demikian bukan? Jadi kumaklumi saja hal itu.
"Baiklah tuan tuan, aku janji itu akan kulakukan. Untuk sekarang fokus terlebih dahulu.” Aku mengatakan itu selain untuk membuat mereka senang, juga sebagai rasa terima kasih ku kepada mereka yang selalu membantuku. Yah mekipun kadang kami bertengkar juga.
“Apa yang kalian temukan selama aku menyelesaikan urusanku tadi?”
"Seperti ini nona…”
Kubiarkan mereka menjelaskan sebelum aku mengeluarkan pendapatku. Pada akhirnya diskusi kami pun berlangsung lagi. Aku harap ini berjalan dengan baik hingga akhir nanti.
********
Pesan dari Penulis
Cerita ini adalah bagian kecil dari runtutan cerita besar yang sedang dalam penulisan. Penulis berencana untuk mengunggah kelanjutan dari cerita ini dalam urutan yang acak karena penulis butuh mengukur seberapa besar jumlah pembaca yang tertarik membaca cerita yang telah ditulis oleh penulis sebelum mengunggah cerita secara runtut. Dengan demikian, penulis akan membuka diri terhadap kritik, saran dan pemikiran apapun yang dimiliki oleh pembaca terhadap cerita yang ditulis. Sekian yang dapat disampaikan, terima kasih banyak atas kerjasamanya serta waktunya untuk membaca cerita ini
.
wow keren pembahasannya. lanjut dong kak. kutunggu kelanjutan kisahnya ya... udah kulike dan komen storymu. mampir dan like storyku juga ya. thankyouu
Comment on chapter Waktu Itu, Di Bawah Sinar Rembulan yang Sama