Loading...
Logo TinLit
Read Story - May be Later
MENU
About Us  

Gify memerhatikan keramaian jalanan ibu kota sore hari yang di payungi awan mendung dari dalam mobil yang menawarkan jasa antar via online. Kebiasaanya kini adalah bangun pagi sekali lalu pergi dari rumah dengan alasan mencari lowongan pekerjaan padahal menghindari keadaan rumahnya yang tak sedamai dulu.

Oma belum pulang juga, masih dirumah dan merecoki rumah tangga anaknya, papa dan mamanya jadi sering bertengkar. Belakangan ini hidupnya memang tak tenang, banyak yang membebani pikirannya. Kalau soal Rion Gify sudah terlalu lelah berharap, sudah seminggu sejak hari wisudanya, hari di mana Rion berjanji akan datang dan sampai sekarang Rion tidak menghubunginya lagi setelah kiriman pesan minta maaf, sekarang terserah Rion, kadang Gify bertanya-tanya apa kni hatinya sudah lelah?

Pelantaran parkir kampusnya tampak masih sepi mungkin karena sebenarnya masih masa liburan semester. Tujuan ia datang ke sini pun karena mengurus beberapa berkas yang tersisa. Dan untung saja semua urusannya tak begitu berbelit, hanya butuh menyerahkan beberapa fotokopi dokumen.

“Dari mana Fy?” Gify menoleh kaget pada Abriel yang tiba-tiba menepuk pundaknya, lelaki  berusia lebih dari seperempat abad itu akhirnya jadi mengobrol dengan Gify panjang lebar. Pertemuan mereka di desa jadi bahan obrolan seru, mereka jadi mirip seperti dua orang yang satu kampung halaman yang bertemu lagi dari pada seorang dosen dan mahasiswa. Tanpa terasa tetesan air mulai turun dari langit, dalam sekejap mata hujan turun dengan sangat deras.

“Kamu pulang naik apa?” Gify hanya meringis sambil memandang tetesan air yang turunnnya keroyokan, Abriel terkekeh kecil, ia menduga gadis ini juga pasti bingung mau pulang naik apa. Suasana hujan ditambah jam-jam macet kadang membuat para pengemudi kendaraan online urung mengambil pesanan.

“Tunggu di sini ya,” belum sempat Gify menjawab Abriel sudah berlari menuju mobil Honda merahnya yang di parkir di deretan parkir khusus dosen.

***

 “Rion minum dulu ini teh nya, dingin banget ini baru habis hujan,” Rion tersenyum sopan saat Mama Gify menyuguhkannya secangkir teh hangat. Sudah sejak pukul lima sore ia sudah sampai di kediaman Gify, namun yang dicari malah tidak ada di rumah sedang ke kampus mengurus berkas-berkas. Kini jam sudah menunjukkan pukul sembilan dan Gify belum sampai juga ke rumah. Rion khawatir, kalau urusan kampus tidak mungkin selama ini kan, lagi pula ini sudah malam sudah tentu pegawai sudah pulang semua, lalu kemana Gify pergi? Ponselnya juga tidak aktif, apa Gify marah padanya?

Rion juga sudah berkali-kali meminta maaf dengan Mama Gify, Papa Gify dan Oma Gify yang ternyata sedang berkunjung karena kemarin tak datang di hari wisuda Gify. Tapi yang Rion rasa ada atmosfer berbeda di rumah ini seperti ada ketegangan yang tersebunyi. Papa Gify biasanya memang tampak teas dan berwibawa dihadapannya tapi kali ini yang Rion rasakan lain, Papa Gify seperti dingin perangainya, kalau Oma Gify memang sejak awal Rion rasa Oma Gify kurang suka dengannya, Rion ingat pertama kali Gify mengenalkannya pada Oma Gify tiga tahun lalu, Rion kena cuekin habis-habisan.

Untunglah saat ini Mama Gify tak berubah sikap kepadanya, masih bersikap seperti biasa.

“Kok Gify belum pulang ya Ma?”

“Iya juga ya, udah jam segini belum pulang juga, kamu masih mau nungguin? Nanti biar Mama bilangin ke Gify kau ke sini.”

“Biar Rion tungguin Ma,” Mama Gify hanya mengangguk membiarkan, kasihan juga sebenarnya, pemuda itu tadi cerita kalau ia sebenarnya baru pulang kerja dari Bali langsung ke sini untuk sekadar meminta maaf secara langsung pada Gify, tapi Gifynya malah tidak ada di rumah, pemuda itu pasti lelah menunggu, mana di luar cuaca dingin habis hujan.

***

“Sorry ya Fy, tiap aku antar pulang kemaleman terus,” ucap Abriel sesaat setelah membukakan pintu mobil untuk Gify.

“Ga papa kak, tadi macetnya parah banget ya Kak, mana jalannya di puter kemana-mana samapi masuk tol gara-gara penutupan jalan,” Gify berujar kesal mengingat kejadian sore tadi di perjalanan pulang.

“Itu siapa Fy, kaya pernah lihat deh,”Abriel memicingkan matanya melihat sosok pemuda yang berdiri di teras rumah Gify, ia merasa seperti sudah familiar dengan wajah pemuda itu, sepupu Gify kah?

Gify terpaku saat mengikuti arah pandangan Abriel, pemuda itu sudah kembali rupanya dengan kaku ia menyuruh Abriel untuk segera pulang dengan gaya halus tentunya, tidak mau tekesan mengusir, walau pada niat dasarnya memang mengusir. Setelah melihat mobil Honda merah milik Abriel keluar dari pekarangan rumahnya ia menghela napas berat, mempersiapkan diri menghadapi salah satu masalahnya.

“Dari mana Fy?” tanya Rion saat Gify sudah berada dihadapannya, nada pemuda itu tak selembut biasanya ada sesuatu yang terpendam. Sedang Gify hanya menjawab singkat dan pendek terkesah ogah-ogahan.

“Begitu cara kamu menjawab saat sedang ditanya?”

“Itu juga pertanyaan pertama yang diajuin orang yang udah mengingkari janjinya dan udah ga ada kabar ntah sejak kapan,” Rion tersentak mendengar nada tinggi Gify, ia sadar ia tersulut emosi. Emosi Rion sedikit tersulut karena keadaan saat ini sebenarnya tidak tepat, tubuhnya sangat lelah, cuaca sangat dingin, ia sudah menunggu Gify berjam-jam, dan ia baru saja melihat Gify pulang malam dengan lelaki lain.

“Fy aku minta maaf,” Gify hanya memandang datar tangannya yang digenggam Rion, sudah ia bilang hatinya sangat lelah.

“Aku tahu kesalahan aku besar banget, tapi aku bakal jelasin semuanya sama kamu-“

“Sekarang aku capek banget, mending kamu pulang dulu aja, aku rasa kamu juga pasti capek,” Gify melirik tiga cangkir teh di meja terasnya. Memang benar masalah jangan dibiakan berlarut, tapi sekarang bukan saat yang tepat untuk membahas masalah, sudah malam dan mereka sedang sangat lelah. Gify tidak mau berteriak marah pada Rion seperti keinginan hatinya, ia tidak tega melihat wajah lelah yang terpatri dihadapannya, jadi ia lebih memilih menyuruh pemuda itu pulang walau sebenarnya ia tak bohong kalau bicara soal rindu. Lagi pula Oma dan Papanya pasti sudah rewel di dalam rumah menyadari keberadaan pemuda yang berusaha dilengserkan sebagai pasangannya.

Rion menghembus napas berat, ia paham sekarang memang bukan saat yang tepat untuk bicara. Gadis dihadapannya juga tampak lelah. Dengan berat hati ia mengusap puncak kepala Gify lembut, lalu pamit pulang. Ia hanya berharap besok akan jadi lebih baik.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (2)
  • camarseptakum

    @aryalfaro terima kasih sudah mampir

    Comment on chapter Bingkai 1 : Anak itu
  • aryalfaro

    Chapter 1 saya sudah menyenangkan ceritanya ^^ Saya akan membaca chapter selanjutnya ^^

    Comment on chapter Bingkai 1 : Anak itu
Similar Tags
A Ghost Diary
6112      2282     4     
Fantasy
Damar tidak mengerti, apakah ini kutukan atau kesialan yang sedang menimpa hidupnya. Bagaimana tidak, hari-harinya yang memang berantakan menjadi semakin berantakan hanya karena sebuah buku diary. Semua bermula pada suatu hari, Damar mendapat hukuman dari Pak Rizal untuk membersihkan gudang sekolah. Tanpa sengaja, Damar menemukan sebuah buku diary di tumpukkan buku-buku bekas dalam gudang. Haru...
Cinta dan Benci
5503      1907     2     
Romance
Benci dan cinta itu beda tipis. Bencilah sekedarnya dan cintailah seperlunya. Karena kita tidak akan pernah tau kapan benci itu jadi cinta atau sebaliknya kapan cinta itu jadi benci. "Bagaimana ini bisa terjadi padaku, apakah ini hanya mimpi? Apakah aku harus kabur? Atau aku pura-pura sakit? Semuanya terasa tidak masuk akal"
Dandelion
1018      562     0     
Short Story
Sepasang gadis kembar, menjalani masa muda mereka dengan saling mengisi. Lika-liku kehidupan menjadikan mereka gadis-gadis yang berani layaknya bunga dandelion.
Kama Labda
584      376     2     
Romance
Kirana tak pernah menyangka bahwa ia bisa berada di jaman dimana Majapahit masih menguasai Nusantara. Semua berawal saat gadis gothic di bsekolahnya yang mengatakan bahwa ia akan bertemu dengan seseorang dari masa lalu. Dan entah bagaimana, semua ramalan yang dikatakannya menjadi kenyataan! Kirana dipertemukan dengan seseorang yang mengaku bahwa dirinya adalah raja. Akankah Kirana kemba...
Strange and Beautiful
5391      1739     4     
Romance
Orang bilang bahwa masa-masa berat penikahan ada di usia 0-5 tahun, tapi Anin menolak mentah-mentah pernyataan itu. “Bukannya pengantin baru identik dengan hal-hal yang berbau manis?” pikirnya. Tapi Anin harus puas menelan perkataannya sendiri. Di usia pernikahannya dengan Hamas yang baru berumur sebulan, Anin sudah dibuat menyesal bukan main karena telah menerima pinangan Hamas. Di...
LARA
10218      3180     3     
Romance
Kau membuat ku sembuh dari luka, semata-mata hanya untuk membuat ku lebih terluka lagi. Cover by @radicaelly (on wattpad) copyright 2018 all rights reserved.
Koude
3947      1507     3     
Romance
Menjadi sahabat dekat dari seorang laki-laki dingin nan tampan seperti Dyvan, membuat Karlee dijauhi oleh teman-teman perempuan di sekolahnya. Tak hanya itu, ia bahkan seringkali mendapat hujatan karena sangat dekat dengan Dyvan, dan juga tinggal satu rumah dengan laki-laki itu. Hingga Clyrissa datang kepada mereka, dan menjadi teman perempuan satu-satunya yang Karlee punya. Tetapi kedatanga...
AVATAR
9052      2801     17     
Romance
�Kau tahu mengapa aku memanggilmu Avatar? Karena kau memang seperti Avatar, yang tak ada saat dibutuhkan dan selalu datang di waktu yang salah. Waktu dimana aku hampir bisa melupakanmu�
complicated revenge
25078      4683     1     
Fan Fiction
"jangan percayai siapapun! kebencianku tumbuh karena rasa kepercayaanku sendiri.."
ENAM MATA, TAPI DELAPAN
694      454     2     
Romance
Ini adalah kisah cinta sekolah, pacar-pacaran, dan cemburu-cemburuan