Loading...
Logo TinLit
Read Story - Confession
MENU
About Us  

"Aduh, gimana nih," gumam Evi terus menerus sambil berjalan dengan gelisah di depan gerbang sekolahnya. Langit beranjak semakin gelap dengan ditandai turunnya sang surya, menandakan bahwa sudah waktunya murid SMA pulang ke rumah.

Ia melihat layar ponselnya, mencoba untuk menghidupkannya kembali. Akan tetapi, layar itu hanya memunculkan gambar persegi panjang dengan garis merah, menandakan bahwa baterai ponselnya telah habis.

"Aduh, mana yang lain udah pada pulang". Evira terus bergumam gelisah, hingga ada suara ramai yang terdengar di dalam gedung sekolahnya. Evira menoleh dan melihat anggota tim futsal sekolahnya berjalan ke gerbang depan.

Baju mereka basah oleh keringat, beberapa membawa botol aqua di tangannya, ada juga yang memakai handuk di lehernya, tapi mereka semua membawa tas khusus olahraga yang tersampir di bahu mereka. Meskipun kelelahan sehabis latihan, mereka semua saling bersenda gurau dan melemparkan lelucon. 

Tiba-tiba, Evira mengingat bahwa ada salah satu teman kelasnya yang masuk tim futsal. Setelah menimbang-nimbang, Evira memutuskan untuk memanggil teman sekelasnya, masa bodoh dengan gengsi dan harga dirinya, kali ini masalahnya lebih berat! 

"Al, Aldi!" panggil Evira diantara anggota tim futsal yang barusan lewat di depannya. Aldi merasakan ada yang memanggil namanya lalu menoleh dan melihat Evira memanggilnya. "Eh, Vira ada apa?" tanyanya sambil berjalan menuju Evira.

"Wah Aldi pacar lo ya?"
"Kok punya pacar ga bilang-bilang,bro
"Wah traktirannya mana?"

Anggota tim futsal lainnya mulai menggoda Aldi, membuat Evira merasa agak menyesal dengan keputusannya. "Udah, ga usah didengerin mereka suka jahil. Kenapa manggil?" tanya Aldi. "Mm, boleh pinjem ponsel lo bentar?" tanya Evira. "Oh boleh, nih".

Dengan cepat Evira mengetik nomor ayahnya, sudah dua kali ia menelepon tapi tidak diangkat oleh ayahnya. Evira pasrah, sambil menguatkan hatinya ia berusaha mengucapkan sebuah kalimat. 'Ga ada jalan lain!' batinnya.

"Gue boleh nebeng lo ga? Gue ga berani pulang sendiri, ayah gue juga ga balas telepon," ucap Evira dalam satu kali tarikan nafas, Aldi diam sebentar lalu mulai menanyakan alamat Evira. "Waduh gimana yah, gue ga bisa nganter lo pulang nih. Rumah kita arahnya mencar, bentar lagi gue juga ada acara," jawab Aldi yang membuat Evira lemas seketika.

"Coba gue tanya temen gue, sapatau bisa nganter lo pulang. Rumah kalian searah kok".

"Ren, Rendy! Sini!," Aldi memanggil salah satu teman futsalnya. "Apa?" tanya Rendy sambil mengangkat satu alisnya saat ia sudah berdiri di samping Aldi. "Lo tolong anterin temen gue ya, kasihan tuh gada yang jemput. Tenang aja rumah kalian searah kok," ucap Aldi.

Rendy memasang raut wajah 'kok gue' kearah Aldi, sebelum menoleh kearah Evira. "Gue bayar deh," sahut Evira dengan cepat karena jujur, ia amat sangat takut ditinggal sekarang.

"Lo kira gue gojek?" sembur Rendy langsung, sedangkan raut wajah Aldi terlihat sedang menahan tawa.

'Mampus, salah ngomong' batin Evira sambil meringis. Rendy melihat raut wajah Evira yang pasrah lalu melirik kearah Aldi yang sedang memasang raut 'lo-tega?' kearahnya.

"Ya udah, gue anter lo pulang kali ini aja. Buruan sebelum gue berubah pikiran".

"Eh iya,iya makasih banget".

***

Tidak seperti kisah-kisah lainnya dalam novel dimana karakter utama cewe dan cowonya tetap saling berhubungan dan jatuh cinta, yah kisah Evira berbeda 180 derajat dari novel itu.

Evira tidak pernah berbicara lagi kepada Rendy setelah pertemuan pertama mereka yang aneh dan canggung, bahkan mereka tidak saling menyapa walaupun mereka tidak sengaja berpapasan di lorong sekolah. Hingga suatu kejadian kembali mempertemukan mereka berdua.

Saat itu Evira berjalan ke UKS karena penyakit maag-nya kembali kambuh, sambil memegang perutnya dan meringis kesakitan ia mempercepat langkahnya menuju UKS. Sesampainya di UKS ia tidak melihat ada guru yang berjaga di tempat itu, 'mungkin sedang istirahat 'batinnya.

Evira langsung menuju ke lemari yang menyimpan kotak obat didalamnya, lalu segera mengambil satu butir obat untuk meredakan rasa sakitnya. Ia cukup sering kesini karena penyakit maag-nya, jadi ia tidak kesusahan saat mencari obat itu.

"Lo ngapain disini?"

Evira terlonjak saat ia mendengar suara seseorang, dengan cepat kepalanya menoleh dan menemukan orang yang pernah mengantarnya pulang. Rendy.

"Eh, gue habis ngambil obat maag, lo kenapa kok berdarah?" tanya Evira saat ia melihat luka di lutut Rendy. 

"Biasa, habis maen futsal. Gue terlalu on fire sampai gue nendang kaki gue sendiri terus jatuh." Evira menahan ketawanya saat mendengar lelucon yang dilontarkan oleh Rendy. 'Ternyata dia orangnya lucu juga', batinnya.

"Mau gue obatin? Hitung-hitung ini sebagai pembalasan gue karena lo udah mau nganterin gue pulang waktu itu."

Rendy mengangkat satu alisnya dan menatap Evira, setelah terdiam beberapa saat akhirnya ia berbicara. "Boleh." jawabnya sambil berjalan kearah kasur UKS untuk duduk. Evira segera mengambil kotak obat untuk menyembuhkan luka di kaki Rendy.

"Tahan bentar ya, agak sakit sedikit."

"Emangnya gue bayi? Udah buruan sebelum lutut gue infeksi."

"Iya,iya bawel! Gue siram pake betadine baru tau rasa lo," gerutu Evira.

***

Semenjak pertemuan mereka di UKS, mereka sudah tidak bersikap seperti orang asing lagi. Mereka kadang menganggukkan kepala jika tiba-tiba berpapasan dan saling mem-follow dan meng-add akun sosial media masing-masing. Meskipun mereka tidak pernah chatting, Evira sudah senang.

Ya, siapa yang tidak senang jika kenal dengan striker andalan sekolah yang memiliki fans bejibun.

Evira tidak berharap lebih karena ia tahu, ia bukan tipe orang yang dapat menarik perhatian seorang Rendy William. Selain itu pertemuan mereka bisa dibilang canggung banget, jadi ia merasa sudah cukup berurusan dengan Rendy. Tapi ternyata, takdir sedang mempermainkannya, entah mengapa tiba-tiba Rendy mengajaknya untuk menonton pertandingan futsalnya.

Rendy juga bilang jika Evira dapat mengajak sahabatnya, Aira, untuk ikut menonton. Awalnya Evira bingung dengan ajakan yang tiba-tiba ini, tapi tak urung dirinya menyanggupi ajakan Rendy.

Pada hari pertandingan, Evira datang bersama Aira untuk menyemangati tim futsal sekolah mereka.Rendy menyadari kedatangan mereka, lalu tersenyum dan melambaikan tangannya.Mereka mengambil tempat duduk paling depan agar dapat menonton pertandingan dengan leluasa. Meskipun mereka tidak tahu tentang peraturan futsal, tapi mereka akan berteriak heboh jika sekolah mereka memperoleh skor. 

Dalam setiap tim, semua pemain pasti mempunyai skill yang tidak diragukan lagi. Tapi pasti ada satu pemain yang menonjol dan orang itu adalah Rendy. Evira terkagum-kagum melihat Rendy yang begitu bersemangat dan keren saat menggiring dan menendang bola. 

Akhirnya pertandingan selesai dan dimenangkan oleh sekolah kami, kami semua langsung berdiri,berteriak, dan bertepuk tangan dengan heboh.Bahkan ada salah satu anggota tim futsal yang berjoget-joget ria. Evira tersenyum melihat wajah bahagia Rendy, seakan-akan melihatnya bahagia juga akan membuatnya bahagia.

***

"Lo bantuin gue ya buat deket sama Aira, jangan lupa kasih semua informasi tentang dia! Terutama cowo yang lagi deket sama dia!"

"BERISIK! Iya, gue ngerti! Sekarang pergi ga lo, gue butuh ketenangan!"

Sudah kesekian kalinya Rendy meminta bantuan Evira untuk mendekatkannya dengan Aira. Mengejutkan bukan? Sekarang Evira tahu, bahwa Rendy mengajaknya pergi selama ini karena hanya untuk bertemu dengan Aira.Pertamanya, Evira senang-senang saja ketika mengajak Aira karena dengan begitu suasana tidak akan canggung. 

Evira adalah perempuan, ia juga pasti berharap jika Rendy selalu mengajaknya pergi. Dan entah bagaimana dan kapan perasaan itu muncul begitu saja, dan disaat perasaan itu muncul disaat itu juga Evira dihempaskan begitu saja dengan kenyataan. Kenyataan bahwa Rendy meminta bantuannya untuk mendekati Aira, kenyataan bahwa Rendy menyukai Aira, sahabatnya.

Evira menghembuskan nafasnya sekali lagi, berusaha menetralisir perasaannya. Evira sudah berusaha begitu keras untuk tidak menumbuhkan perasaan kepada Rendy, tapi hati seseorang suka selalu bertindak sesukanya bukan? Dan sekarang Evira harus menerima konsekuensinya. 

Tiba-tiba suara bel mobil menyadarkannya dan membuatnya menoleh. Ia segera berjalan kearah mobilnya, tidak mau berdiri lebih lama lagi di depan gerbang sekolah karena kakinya sudah mulai pegal-pegal. 

'Ya udah, dijalani aja toh pasti perasaanku lama-kelamaan hilang', batinnya menyemangati dirinya sendiri.

***

Rendy melihat kepergian Evira dengan mata yang melotot, sedangkan Evira hanya tersenyum lebar sambil melambaikan tangan. Sebenarnya, ia tahu jika Evira memang merencanakan untuk pulang cepat, agar supaya Rendy bisa berdua dengan Aira. Sebenarnya, tadi pagi ia mengajak Aldi,Evira, dan Aira untuk jalan-jalan di sebuah mall.

Aldi tiba-tiba mengatakan bahwa ada acara mendadak dan harus segera pulang, setelah itu Evira juga mengatakan bahwa orangtuanya mengirimkan pesan kepadanya untuk segera pulang. Jadi, tinggallah Rendy bersama Aira berdua, sedangkan Evira diantar pulang oleh Aldi.

Setelah tiba di rumah Evira langsung beranjak ke kamarnya dan merebahkan dirinya di kasur. Ia memandang langit-langit kamarnya dengan tatapan yang kosong, lalu otaknya mulai memutar skenario adegan perlakuan manis Rendy kepada Aira.Memejamkan matanya, Evira menghembuskan nafasnya sekali lagi. 'Aku kuat, aku pasti bisa', batinnya.Tapi, perasaan sesak itu masih juga belum hilang.

Evira beranjak dari kasurnya lalu berjalan ke meja belajarnya. Ia mengambil sebuah kertas dan pena, lalu mulai menggoreskan kalimat demi kalimat kedalam kertas itu. Evira menumpahkan semua perasaannya disetiap goresan penanya, menuliskannya semua yang dirasakannya kedalam kertas itu.Kebahagiaan, kesedihan, penyesalan, dan berbagai macam emosi lainnya bercampur dalam tulisan itu. Hingga akhirnya Evira menuliskan dua kata terakhir yang mewakili perasaannya untuk Rendy.

Setelah itu, ia melipat surat tersebut dan memasukannya kedalam amplop. Lalu menuliskan sebuah kata "Confession" di atas amplop tersebut. Ia akan memberikan surat ini kepada Rendy, meskipun ia tahu dampak terburuknya. Setidaknya, perasaannya tersampaikan dan membuat hatinya sedikit lega, karena tidak terus-menerus menyimpan perasaan menyakitkan ini. 

'Aku pasti akan memberikan surat ini disaat yang tepat,

dan oh ya Rendy,

Aku Menyukaimu.'

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Melepaskan
485      338     1     
Romance
Ajarkan aku membenci tawamu, melupakan candamu. Sebab kala aku merindu, aku tak bisa lagi melihatmu..
Kuncup Hati
759      535     4     
Short Story
Darian Tristan telah menyakiti Dalicia Rasty sewaktu di sekolah menengah atas. Perasaan bersalah terus menghantui Darian hingga saat ini. Dibutuhkan keberanian tinggi untuk menemui Dalicia. Darian harus menjelaskan yang sebenarnya terjadi. Ia harus mengungkapkan perasaan sesungguhnya kepada Dalicia.
Sisi Lain Tentang Cinta
896      534     5     
Mystery
Jika, bagian terindah dari tidur adalah mimpi, maka bagian terindah dari hidup adalah mati.
Love: Met That Star (석진에게 별이 찾았다)
3749      1628     2     
Romance
Kim Na Byul. Perempuan yang berpegang teguh pada kata-kata "Tidak akan pacaran ataupun menikah". Dirinya sudah terlanjur memantapkan hati kalau "cinta" itu hanya sebuah omong kosong belaka. Sudah cukup baginya melihat orang disekitarnya disakiti oleh urusan percintaan. Contohnya ayahnya sendiri yang sering main perempuan, membuat ibunya dan ayahnya berpisah saking depresinya. Belum lagi teman ...
Perverter FRIGID [Girls Knight #3]
1825      845     1     
Romance
Perverter FIRGID Seri ke tiga Girls Knight Series #3 Keira Sashenka || Logan Hywell "Everything can changed. Everything can be change. I, you, us, even the impossible destiny." Keira Sashenka; Cantik, pintar dan multitalenta. Besar dengan keluarga yang memegang kontrol akan dirinya, Keira sulit melakukan hal yang dia suka sampai di titik dia mulai jenuh. Hidupnya baik-baik saj...
My Teaser Devil Prince
6928      1851     2     
Romance
Leonel Stevano._CEO tampan pemilik perusahaan Ternama. seorang yang nyaris sempurna. terlahir dan di besarkan dengan kemewahan sebagai pewaris di perusahaan Stevano corp, membuatnya menjadi pribadi yang dingin, angkuh dan arogan. Sorot matanya yang mengintimidasi membuatnya menjadi sosok yang di segani di kalangan masyarakat. Namun siapa sangka. Sosok nyaris sempurna sepertinya tidak pernah me...
AKU BUKAN ORPHEUS [ DO ]
814      472     5     
Short Story
Seandainya aku adalah Orpheus pria yang mampu meluluhkan hati Hades dengan lantutan musik indahnya agar kekasihnya dihidupkan kembali.
Ku Jaga Rasa Ini Lewat Do\'a
589      436     3     
Short Story
Mozha, gadis yang dibesarkan dengan pemahaman agama yang baik, membuatnya mempunyai prinsip untuk tidak ingin berpacaran . Namun kehadiran seorang laki -laki dihidupnya, membuat goyah prinsipnya. Lantas apa yang dilakukan mozha ? bisakah iya tetap bertahan pada prinsipnya ?
Kebahagiaan...
602      424     4     
Inspirational
Apa arti sesungguhnya dari bahagia? Dapat menghabiskan banyak waktu menyenangakan bersama orang yang kita sayangi dan bisa terus bersama adalah salah satu dari kebahagiaan yang tidak ternilai....
Horses For Courses
12748      2821     18     
Romance
Temen-temen gue bilang gue songong, abang gue bahkan semakin ngatur-ngatur gue. Salahkah kalo gue nyari pelarian? Lalu kenapa gue yang dihukum? Nggak ada salahnya kan kalo gue teriak, "Horses For Courses"?.