Loading...
Logo TinLit
Read Story - Catatan 19 September
MENU
About Us  

Kamu tiba-tiba berubah hangat. Tak apa, walaupun ini tiba-tiba setidaknya menurutku ini baik. Entahlah menurutmu mungkin ini berlebihan.

 

***


Ruang kelas 10 IPS-4 begitu ramai saat aku sudah berada di koridor kelas, sekarang pelajaran sejarah. Pasti guru yang bersangkutan berhalangan hadir sehingga menyebabkan anak-anak di kelas yang gak tahu diri itu jadi berulah. Apa yang ada dalam pikiranku tidak melesat saat aku sudah masuk ke kelas, tak ada yang terpengaruh dengan kedatanganku. Mereka sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing, kecuali seseorang yang duduk pada kursi berada dekat jendela barisan nomor tiga. Berbeda dengan anak-anak yang lain, cowok itu justru menatap kedatanganku dengan tatapan rumitnya, tatapan yang berusaha aku hindari. Karena sulit sekali diartikan.

 

Aku berusaha tidak terpengaruh dan melanjutkan langkah menuju tempat dudukku. Tata dan Retna berbicara sambil tertawa terpingkal-pingkal karena topik yang mereka bahas. Aku yang tidak mengerti penyebab kegilaan mereka hanya mengedikkan bahu acuh, lalu duduk di kursi yang ada di samping Tata. Sinyal Tata dan Retna berhenti tertawa dan menatapku, yang mencuri perhatianku adalah tatapan Retna yang penuh dengan rasa bersalah.

 

“Kok berhenti gila nya? Gak mau dilanjutin ya, karena malu diperhatiin sama orang waras dan pinter kayak gue?” aku terbahak, “Enggaklah. Relaks aja gue maklum kok sama kesintingan kalian.”

 

Aku mengulum senyum saat melihat Tata mencibir sebal, dan Retna juga. Tetapi dia memilih bergeming. Ranselku aku letakkan benar-benar di atas meja, lalu bertopang dagu memperhatikan kedua sahabatku.

 

“Bagus kalo patah hati bikin lo juga ikut waras, lain kali patah hati aja lo sering-sering, Li,” seloroh Tata sambil terbahak. Aku memukul kepalanya dengan gulungan buku tulis milik Retna yang aku rampas dari tangannya. Sialan dia!

 

“Ha ha ha,” respons ku tak bersahabat. Aku melempar sembarang buku tulis Retna dan cewek itu memungut nya di lantai. Aku meneggakan tubuh saat Tata menyenggol lenganku, jadi kasihan dan gak enak sama Retna. “Sori, Ret, sengaja.”

 

“Mampus! Sialan lo brutu ayam!” dumel Tata. Retna sudah kembali duduk pada kursinya, tatapan kami bertemu dan aku tersenyum. Senyum perdamaian.

 

“Kok, diem, Ret?” sambar Tata. “Biasanya lo nyeletuk gak jelas aja kalo Lika lagi rese.”

 

“Gak apa-apa kok,” jawab Retna sambil menyunggingkan senyum yang terlihat dipaksakan.

 

“Tahu nih, kesambet ya lo jadi tiba-tiba gitu pas gue dateng? Atau gue ada bikin masalah sama lo?” tanyaku. Aku cukup mengerti apa yang ada dipikiran Retna sekarang.

 

“Enggak, kok. Gue malah yang udah bikin salah,” kata Retna. Ponselnya yang ada di atas meja berbunyi, aku meliriknya. Panggilan dari Kak Rigel. Dan aku cukup dibuat kaget saat Retna justru me-reject panggilan itu.

 

Tata yang sudah mulai jinak kemudian menoleh kepadaku, sementara Retna hanya diam. Anak itu aneh hari ini, mulut nyablak nya seperti dijahit sejak kedatanganku tadi. Dia tiba-tiba diam tanpa kata, bergerak kaku dan selalu menolak kontak mata denganku. Mungkin ... Retna cukup terganggu dengan masalah kami tempo hari.

 

Aku menghela napas pelan, melipat tangan di atas meja dan sedikit mencondongkan badanku utnuj mendekat pada Retna. Retna menoleh, mungkin dia merasa terganggu. Aku menatapnya serius, “Gak apa-apa, Retna. Lo santai aja, anggap aja yang tempo hari gak pernah terjadi. Gue udah lupain semuanya kok,” ujarku.

 

“Termasuk perasaan lo sendiri?” balasnya.

 

Aku menjauh dan menarik napas lalu mengembuskan nya kasar, “Iya, ini gue lagi usaha,” jawabku.

 

“Emang bisa lo lupain dia secepat itu?” sahut Tata.

 

Aku hanya menggeleng, tidak menjamin aku bisa terbiasa dengan waktu yang secepat itu. “Namanya juga usaha kan, gak boleh putus asa dulu. Gak ada salahnya gue berusaha lupain dia, ya ... langkah pertama mungkin gue harus nyoba jaga jarak,” jelasku.

 

“Maaf, Li,” ucap Retna tiba-tiba.

 

Aku mengernyit bingung, kemudian terkekeh hambar, “Gak perlu minta maaf, Ret. Karena emang gak ada yang perlu dimaafin. Gak ada yang salah di sini,” ujarku.

 

“Tetap aja sebagai sahabat seharusnya gue bisa bantuin lo dapetin Gilang, tapi ini..., gue malah nikung lo,” gumam Retna.

 

“Nikung itu pas lo rebut Gilang dari Lika. Tapi sekarang lo gak ngerebut dia, malah lo pacaran sama yang lain,” kata Tata sambil tersenyum lebar. Kayaknya dia lagi berusaha bikin suasana jadi cair biar tidak setegang yang sekarang ini. Congratulations, Tata! Lo berhasil.

 

Aku tertawa dan menepuk bahu Retna. “Gue damai sama kenyataan aja lah, Ret. Dengan tahu diri di mana posisi gue berada dan gak perlu maksa Gilang buat suka gue. Lo tahu sendiri kan hal yang dipaksain itu gak akan bikin bahagia? Itu yang baru aja gue sadari, sih, sejauh ini.”

 

Retna menganggukakkan kepalanya, senyum Retna terbit lagi.

 

Kami bertiga mulai mengobrol dengan topik lain, Tata yang bercerita tentang Mama tirinya yang baik banget dan Retna yang bercerita tentang hubungan nya dengan Kak Rigel, meski sepintas. Seenggaknya dia sudah gak lagi menutupi semuanya dari kami.

 

Sampai akhirnya seperti tanpa disengaja topik obrolan kami menjurus pada Gilang, tentang cowok itu yang akhir-akhir ini berubah. Menurut pengamatan Tata.

 

“Emang dia berubah kayak gimana, sih, Ta?” tanyaku penasaran, sambil bergeser duduk lebih mendekat padanya.

 

“Gak tahu juga sih, gue. Cuma kalo dilihat-lihat dia udah gak kayak dulu lagi, kan. Kayak jaga jarak gitu sekarang dari temen-temen sekelas. Apalagi... maaf nih ya, gue gak maksud bikin lo ngerasa gimana, cuma gue lihat akhir-akhir ini dia kayak gak lagi berusaha deketin Retna. Gak tahu kenapa,” tutur Tata.

 

Aku mengernyit, berpikir tentang penuturan Tata barusan. Benar juga, sih. Sekarang dia jarang banget deketin Retna, bahkan aku sudah jarang melihat dia mendekat ke meja Retna lagi.

 

“Iya, sih, ya. Tapi kenapa?” aku menggaruk belakang kepalaku yang tak gatal. “Ah, tahu lah. Bukan urusan kita juga. Ngapain mau pusing-pusing mikirin dia.”

 

Tata tersenyum meremehkan menatap ku, sementara Retna menatapku dengan tatapan yang seperti menahan tawa. Aku menggebrak meja membuat kedua anak manusia itu tersentak kaget dan mengembalikan raut wajah mereka seperti semula.

 

“Bener banget kalo dipikir-pikir. Bukan apa-apa sih, ya, tapi biasanya dia selalu chat gue kalo malem walaupun cuma chat singkat aja. Fix, dia aneh,” kata Retna. Dia membuka ponselnya yang berbunyi. “Gue keluar bentar, ya, Nyokap nelpon nih.”

 

Aku dan Tata sama-sama mengangguk.

 

“Dan juga, apa lo sadar sekarang Gilang mulai melihara kantung mata?” ungkit Tata lagi.

 

Aku cukup terhenyak mendengarnya, karena aku tidak memperhatikan Gilang sejauh itu. Aku hanya fokus dengan patahnya hatiku beberapa hari belakangan ini.

 

Kepalaku menggeleng lemah, mengalihkan pandang ke arah lain. “Bodo lah, Ta. Bukan urusan,” kataku berusaha cuek.

 

“Yee... elo mah, virus patah hati ya, Li. Ya, ya, ya, gue sebagai temen lo dan temen Gilang juga merasa khawatir aja sih, takut aja terjadi apa-apa sama dia.”

 

Aku melirik Tata curiga, “Ada rasa nih anak sama Gilang, kayaknya.”

 

“Dugong! Ngasal aja lo kalo ngomong!”

 

***

 

Pulang sekolah Retna sudah dijemput oleh Papa nya dan Tata ngelayap dulu ke mall, katanya mau membeli perlengkapan bulanan nya dia. Entahlah apa saja perlengkapan bulanan yang dia maksud. Tadi Mama bilang dia mau ke sekolah untuk mengurus administrasi bulanan ku sekalian mau menjemputku juga. Aku setuju, lebih baik pulang dengan Mama daripada harus pulang dengan Gilang lagi.

 

“Tumben yang ngurus administrasi Mama, biasanya Papa atau Kak Rigel,” celetukku sambil berjalan dan memainkan ponsel.

 

“Hah!” desah Mama berat. Aku menoleh menatapnya. “Iya, Mama nyuruh Rigel sebenarnya yang ngurus administrasi kamu. Tapi dia gak mau. Malesan banget Kakak kamu itu sekarang,” lanjut Mama.

 

Aku mengangguk-anggukkan kepala, “Maklum aja lah, Ma, mungkin dia lagi banyak banget tugas kampus. Tapi padahal dia katanya mau latih aku voli kapan-kapan, tapi belum ada kejelasan juga. Tahu lah,” gerutuku.

 

“Kamu yakin mau voli?” tanya Mama dengan nada bicara yang sudah berbeda dari sebelumnya.

 

“Yakin. Kenapa, Ma? Kok Mama langsung gitu mukanya? Aku gak boleh voli, ya?” selidikku.

 

Mama menggeleng dan tersenyum, dia menepuk bahuku seakan memberiku semangat. Syukurlah.

 

“Kamu emang adiknya Rigel banget,” kata Mama.

 

Aku memutar bola mata, “Iyalah! Siapa juga yang bilang aku bukan adiknya dia.”

 

Kami sampai di parkiran, sementara menunggu Mama mengeluarkan mobilnya dari parkiran khusus, aku mengeluarkan ponsel dari dalam tas lalu membuka Instagram. Suara klakson motor membuat aku terlonjak kaget, hampir saja ponselnya jatuh ke tanah jika saja aku tidak memegangnya erat.

 

“Ngagetin aja lo,” cibirku. Sebisa mungkin aku tidak menatap Gilang, apalagi matanya yang terbatas kaca helm full face.

 

Gilang menaikan kaca helmnya lalu melepas benda bulat itu. Meletakkan nya di atas tangki motor lalu mematikan mesin motornya. “Pulang sama siapa?” tanya Gilang.

 

Aku bergerak gelisah, Mama lama sekali kembalinya. Aku takut kalau-kalau Gilang mengajakku pulang bersama, ah, tidak, ketakutan ku yang lebih parah adalah takut jika saja imanku untuk move on dari Gilang lemah karena berada di dekat cowok itu.

 

Kepalaku menoleh ke kanan, aku mendesah lega saat mobil Mama berada di sampingku. Kaca mobil di kursi penumpang terbuka dan aku menunjuk Mama yang ada di dalam mobil dengan ponsel. “Gue sama Nyokap, duluan, ya, Lang,” pamitku lalu masuk ke kursi penumpang tanpa peduli tanggapan dari cowok yang memakai helm full face itu.

 

Mama seperti terpaku di tempatnya melihat Gilang, raut yang Mama buat tak terbaca olehku. Aku hanya mengernyit bingung sembari menunggu Mama menjalankan mobilnya.

 

“Duluan, Tante,” pamit Gilang yang ternyata sudah siap dengan helm yang terpasang di kepalanya. Mama hanya mengangguk kaku mengiringi kepergian Gilang dan motornya.

 

“Ma?” panggilku.

 

“Dia mirip banget sama...” ucap Mama linglung. “Astagfirullah,” desah Mama.

 

“Gilang mirip siapa?” tanyaku heran.

 

Aku menggeram dalam hati saat Mama hanya menggeleng tak menjawab. Mama menjalankan mobil meninggalkan parkiran sekolah.

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (4)
  • Cemplonkisya

    @penakertas_ paham kok wehehe

    Comment on chapter Prolog
  • yourex

    @Lightcemplon
    Sulit dimengerti prolog nya ????

    Comment on chapter Prolog
  • Cemplonkisya

    awal yang dalem:(

    Comment on chapter Prolog
  • Alfreed98

    Wow

    Comment on chapter Prolog
Similar Tags
Verletzt
1720      838     0     
Inspirational
"Jika mencintai adalah sebuah anugerah, mengapa setiap insan yang ada di bumi ini banyak yang menyesal akan cinta?" "Karena mereka mencintai orang yang tidak tepat." "Bahkan kita tidak memiliki kesempatan untuk memilih." --- Sebuah kisah seorang gadis yang merasa harinya adalah luka. Yang merasa bahwa setiap cintanya dalah tikaman yang sangat dalam. Bahkan kepada...
ORIGAMI MIMPI
36609      5572     55     
Romance
Barangkali, mimpi adalah dasar adanya nyata. Barangkali, dewa mimpi memang benar-benar ada yang kemudian menyulap mimpi itu benar-benar nyata. Begitulah yang diyakini Arga, remaja berusia tujuh belas tahun yang menjalani kehidupannya dengan banyak mimpi. HIngga mimpi itu pula mengantarkannya pada yang namanya jatuh cinta dan patah hati. Mimpi itu pula yang kemudian menjadikan luka serta obatnya d...
BAYANG - BAYANG JIWA
10161      2709     8     
Romance
Kisah aneh 3 cewek sma yang mempunyai ketidakseimbangan mental. Mereka tengah berjuang melewati suatu tahap yang sangat penting dalam hidup. Berjuang di antara kesibukan bersekolah dan pentingnya karir dengan segala kekurangan yang ada. Akankah 3 cewek sma itu bisa melalui semua ujian kehidupan?
My sweetheart senior
18346      3809     3     
Romance
Berawal dari kata Benci. Senior? Kata itu sungguh membuat seorang gadis sangat sebal apalagi posisinya kini berada di antara senior dan junior. Gadis itu bernama Titania dia sangat membenci seniornya di tambah lagi juniornya yang tingkahnya membuat ia gereget bukan main itu selalu mendapat pembelaan dari sang senior hal itu membuat tania benci. Dan pada suatu kejadian rencana untuk me...
A List of Flaws
11      4     0     
Romance
Ada beberapa alasan di balik kesuksesan seorang Joandy Nabanyu dalam menggaet hati para siswi di SMA Bina Pramoedya. Pertama, karena dia punya ketampanan khas darah blasteran; kedua, karena dia punya followers jutaan; ketiga, karena dia aktif dalam berbagai cabang kompetisi di sekolah; dan terakhir, karena dia punya karisma yang tidak dimiliki semua pria. Terdengar sempurna? Tentu saja. ...
Stay With Me
253      213     0     
Romance
Namanya Vania, Vania Durstell tepatnya. Ia hidup bersama keluarga yang berkecukupan, sangat berkecukupan. Vania, dia sorang siswi sekolah akhir di SMA Cakra, namun sangat disayangkan, Vania sangat suka dengan yang berbau Bk dan hukumuman, jika siswa lain menjauhinya maka, ia akan mendekat. Vania, dia memiliki seribu misteri dalam hidupnya, memiliki lika-liku hidup yang tak akan tertebak. Awal...
Harsa untuk Amerta
827      662     0     
Fantasy
Sepenggal kisah tak biasa berlatar waktu tahun 2056 dari pemuda bernama Harsa sang kebahagiaan dan gadis bernama Amerta sang keabadian. Kisah yang membawamu untuk menyelam lebih dalam saat dunia telah dikuasai oleh robot manusia, keserakahan manusia, dan peristiwa lain yang perlahan melenyapkan manusia dari muka bumi. Sang keabadian yang menginginkan kebahagiaan, yang memeluk kesedihan, yan...
Gagal Menikah
5562      2141     4     
Fan Fiction
Cerita ini hanya fiktif dan karanganku semata. Apabila terdapat kesamaan nama, karakter dan kejadian, semua itu hanya kebetulan belaka. Gagal Menikah. Dari judulnya udah ketahuan kan ya?! Hehehe, cerita ini mengkisahkan tentang seorang gadis yang selalu gagal menikah. Tentang seorang gadis yang telah mencoba beberapa kali, namun masih tetap gagal. Sudut pandang yang aku pakai dalam cerita ini ...
Midnight Sky
1913      1013     2     
Mystery
Semuanya berubah semenjak kelompok itu muncul. Midnight Sky, sebenarnya siapa dirimu?
CAFE POJOK
4473      1621     2     
Mystery
Novel ini mengisahkan tentang seorang pembunuh yang tidak pernah ada yang mengira bahwa dialah sang pembunuh. Ketika di tanya oleh pihak berwajib, yang melatarbelakangi adalah ambisi mengejar dunia, sampai menghalalkan segala cara. Semua hanya untuk memenuhi nafsu belaka. Bagaimana kisahnya? Baca ya novelnya.