Loading...
Logo TinLit
Read Story - Melawan Takdir
MENU
About Us  

“Kenapa sih, kita harus pindah rumah, mah?”, tanya Laras yang duduk di kursi belakang mobil bersama Rama, adik lelakinya yang berumur sepuluh tahun, saat mobil yang dikendarai ayahnya sedang melaju menuju rumah barunya.

 

“Ya, semua ini demi kamu dan Rama,” jawab ibunya sementara ayahnya hanya tersenyum sambil fokus mengemudi.

 

Ayahnya adalah seorang pekerja keras yang bekerja di sebuah perusahaan garmen, hingga suatu hari ia di angkat menjadi manajer kemudian mendapat tugas dari atasannya untuk mengawasi kantor barunya yang baru di buka.

 

“Tapi, kan, Laras jadi jauh dari Wanda, mah,” gercap Laras. “Kenapa Laras nggak kost aja sih, mah?”, tanyanya.

 

“Nggak deh, mamah sama sekali nggak setuju kalau kamu kost, jauh dari pantauan mamah dan papah,” sahut ibunya.

 

“Tapi Laras paling males kalau harus adaptasi lagi di lingkungan baru, mah,” timpalnya.

 

“Udah, deh, kamu jangan bawel gitu, sebentar lagi kita akan sampai,” gercap ibunya.

 

“Ckk….!”, keluh Laras dengan mengernyitkan dahi, lalu menoleh ke jendela menatap ruas jalan yang sepi dengan kedua tangan yang melipat di perutnya.

 

“Nah, itu rumah baru kita.” Tunjuk ibunya pada sebuah rumah yang berlantai dua dari jauh. Laras melirik sesaat melihat rumah barunya lalu kembali menatap ruas jalan.

 

Kemudian ia melihat seorang pria yang berkacamata tebal, berambut pendek berbelah kanan lagi berdiri di pintu depan rumahnya sambil menatap tajam dengan wajah yang dingin ke arah mobil mereka. Laras dan pria tersebut saling menatap.

 

Setelah itu, pria tersebut masuk ke dalam rumahnya yang bersebelahan dengan rumah baru Laras. Dan sesaat kemudian, mobil yang dikendarai ayahnya berhenti di depan rumah.

 

“Ayo turun, kita sudah sampai,” ujar ibunya sambil melepas sabuk pengaman lalu keluar dari mobil bersama ayahnya dan Rama.

 

Ayahnya berjalan menuju pintu rumah yang tertutup rapat kemudian membukanya dan masuk ke dalam sementara ibunya bersama Rama berdiri diam di dekat mobil sambil melihat rumah barunya.

 

Tetapi Laras masih duduk di dalam mobil enggan keluar, kemudian ibunya mengetuk kaca tempat Laras duduk sambil berkata, “Laras, ayo turun!.” Setelah itu, ibunya membuka pintu bagasi belakang mobil.

 

Laras keluar dari mobil dengan mengernyitkan dahi dan ibunya berkata, “Laras! Rama! bantu mamah bawa kardus-kardus ini ke dalam.” Lalu Laras dan Rama menghampirinya dan langsung membawa kardus-kardus yang berisikan pakaian mereka serta barang-barang penting lainnya.

 

Dengan setengah hati, Laras membawa kardus besar dan Rama membawa kardus kecil, ibunya kembali berkata, “Nanti taruh di ruang tamu saja, ya.”

 

“Ckk…! iya, iya,” sahut Laras sambil berjalan masuk ke dalam rumah barunya bersama Rama dan menaruh kardus tersebut di lantai dekat meja ruang tamu. Lalu ia dan adiknya kembali lagi keluar untuk mengangkat kardus yang lain.

 

Kemudian pria tersebut kembali menatap Laras dan keluarganya dari balik jendela kamarnya yang ada di lantai dua. Ia sangat terobsesi dengan rambut panjang Laras yang hitam pekat dan tergerai.

 

Ia terus menatap Laras yang sedang memindahkan kardus-kardus dari mobil ke dalam rumahnya dengan desah nafas yang memacu cepat beriringan dengan darah yang mulai mendidih, menjalar di setiap urat serta detak jantung yang kian berdebar kencang.

 

Lambat laun tangan kanannya mulai bergetar hebat dan perlahan merayap terangkat ke atas, kemudian ia menahan dengan tangan kiri, menggenggam erat sekuat tenaga.

 

Setelah kardus-kardus itu terangkat, Laras mengajak Rama menaiki anak tangga menuju lantai dua untuk memilih kamar, kemudian Laras masuk ke salah satu kamar yang searah pandangan dengan kamar pria tersebut.

 

Laras menaruh tas daypack-nya di kasur lalu berjalan mendekati jendela dan melihat pria tersebut yang sedang menatap tajam dengan wajah dingin lagi berdiri di balik jendela kamarnya lalu menutup tirai secepat kilat. Laras pun heran dengan perilakunya.

 

“Aneh!”, gumam Laras dalam hatinya kemudian menjauhi jendela dan duduk di kasur lalu mengambil ponsel dari dalam tas daypack-nya dan menghubungi Wanda, sahabatnya, yang tinggal di beda kota.

 

Laras memberitahukan Wanda jika ia sudah sampai di rumah barunya yang jauh dari perkotaan kemudian menceritakan tentang sosok pria tetangga rumahnya yang menurut Laras sangat aneh.

 

Sementara itu, pria tersebut langsung duduk di tepi kasur sambil menggenggam erat tangan kanannya dengan tangan kiri yang di jepit di antara perut lalu memejamkan matanya dengan desah nafas yang kian tersengal-sengal dan detak jantung yang berdebar kencang.

 

Seperti menahan sesuatu yang sangat sakit, lantas pria tersebut membanting tubuhnya ke kasur dengan kepala yang mendongak kemudian membuka kedua matanya yang melototi langit-langit kamar sambil mengerang keras, “Aaarrggghhh….!.”

 

Laras pun terkejut saat mendengar teriakan histeris dari sebelah rumahnya, ia langsung menutup telepon dan beranjak dari kasur, berjalan mendekati jendela sambil menatap sebuah kamar yang tertutup tirai.

 

Dan tak lama kemudian ibunya memanggil, “Laras! Rama! cepat turun ke bawah!.”

 

“Iya, mah, tunggu sebentar,” jawab Laras sambil menjauhi jendela lalu keluar kamar menuruni anak tangga. “Ada apa, mah?”, tanya Laras saat di bawah.

 

“Cepat bawa pakaianmu dan taruh di lemari,” ujar Ibunya sambil memberikan sebuah kardus yang berisikan pakaiannya. “Adikmu kemana?”, tanya ibunya.

 

“Tadi sih, masuk ke kamarnya, ” jawab Laras. “Eh iya, mah, tadi dengar suara teriakan dari sebelah rumah, gak?”, tanya Laras.

 

“Mamah nggak dengar apa-apa, tuh,” jawab Ibunya sambil membuka kardus-kardus yang lain.

 

“Masa sih, mah? suaranya keras banget lho, mah,” tandas Laras.

 

“Kamu jangan aneh-aneh, deh,” timpal ibunya.

 

“Duh, beneran mah, tadi Laras dengar suara orang berteriak dari sebelah rumah,” gercap Laras.

 

“Siang-siang gini, kamu jangan berhalusinasi,” sahut ibunya. “Mamah nggak denger suara teriakan sama sekali, kok,” tambahnya.

 

“Mamah kenapa selalu nggak percaya sama Laras, sih?”, keluh Laras dengan mengernyitkan dahi.

 

“Udah deh, kamu jangan berdebat sama mamah,” ujar ibunya. “Cepat kamu bawa pakaianmu dan taruh di dalam lemari sekalian panggil adikmu nanti turun ke sini lagi.”

 

“Huh!.” keluh Laras sambil membawa kardus yang berisikan pakaiannya dan kembali berjalan menaiki anak tangga lalu masuk ke dalam kamarnya.

 

Ia menaruh pakaiannya di dalam lemari dan sesekali menatap kamar tetangganya yang tertutup tirai dari balik jendela kamarnya. Setelah itu, Laras keluar kamar lalu masuk ke dalam kamar Rama dan melihat adiknya yang lagi tidur telentang di atas kasur sedang bermain game di ponselnya.

 

Laras menghampirinya lalu menepuk tangan Rama sambil berkata, “Heh! maen game aja!.” Rama pun terperanjat kaget dan menoleh ke Laras yang lagi berdiri lalu bertanya, “Ada apa sih, kak? ganggu aja?.”

 

“Kamu tuh di panggil mamah, di suruh ke bawah,” tandas Laras.

 

“Ckk...!”, keluh Rama. “Lagi tanggung, nih!.”

 

“Yee…ngeyel banget, sih!”, sahut Laras. “Buruan ke bawah, deh,” tambahnya sambil meninggalkan Rama berjalan keluar kamar dan kembali ke bawah.

 

Lantas Rama beranjak dari kasur berjalan keluar kamar lalu menuruni anak tangga dan menghampiri ibunya yang lagi berdiri bersama Laras, kemudian bertanya, “Ada apa, mah?.”

 

“Coba kamu bawa pakaianmu ini dan taruh di dalam lemari,” ujar Ibunya sambil memberikan sebuah kardus kepada Rama, lalu ia membawanya dan kembali berjalan menuju kamarnya.

 

“Laras, kamu bantu mamah siapkan makan siang,” ujar Ibunya, Laras hanya mengangguk dan mereka berjalan menuju meja makan menyiapkan menu-menu makan.

 

Dan sejurus kemudian, ibunya kembali memanggil, “Rama! cepat turun ke sini, kita makan siang dulu.”

 

“Iya, mah,” sahut Rama, lalu keluar kamar dan turun ke bawah.

 

“Laras, coba kamu cari ayahmu,” ujar ibunya sambil menata piring berisikan menu makan.

 

Laras pun berjalan ke ruang tamu dan tidak menemui ayahnya, ia pun keluar rumah dan berdiri di belakang mobil lalu menoleh ke kanan yang terlihat hanya jalanan yang sepi kemudian menoleh ke kiri dan melihat tetangganya.

 

Seorang pria yang berkacamata tebal sedang menaruh sampah yang terbungkus plastik hitam di sudut pagar rumahnya yang menjadi penyekat antara rumah Laras dan rumahnya.

 

“Hai,” sapa Laras dengan tersenyum dan perlahan menghampirinya.

 

“H..h..hai,” sahut pria tersebut dengan gugup sambil membetulkan kacamatanya.

 

“Oh iya, gue, Laras,” ujarnya mengenalkan diri sambil menjulurkan tangan kanannya.

 

“Bi..bi..bimo,” tandasnya dengan gugup lalu bersalaman dan kedua matanya menatap sesaat rambut panjang Laras yang hitam pekat dan tergerai, lantas ia membuang pandangannya ke bawah.

 

“Eh iya, tadi gue dengar suara teriakan dari…..,” Bimo pun langsung berbalik dan pergi berlalu dengan berjalan cepat lalu masuk ke dalam rumahnya.

 

“Dih, aneh banget, sih!”, umpatnya dalam hati, lalu ia kembali masuk ke dalam rumahnya dan melihat ayahnya yang sudah duduk di meja makan bersama ibunya dan Rama, kemudian Laras duduk di sebelah Rama.

 

“Kamu itu habis dari mana? kok lama sekali,” tanya ibunya.

 

“Dari depan, mah, nyari papah,” jawab Laras.

 

“Lha, papahmu dari tadi duduk di halaman belakang rumah, kok,” tandas ibunya. “Ya udah, kita makan dulu.” tambahnya, lalu mereka makan bersama.

 

“Mah, tetangga kita kok kelihatannya aneh banget, ya,” ujar Laras saat makan.

 

“Aneh bagaimana?”, tanya ibunya.

 

“Tadi, kan, Laras lagi nyari papah di depan rumah terus melihat tetangga kita lagi buang sampah lalu Laras sapa,” ujarnya. “Eh belum selesai ngomong, dia langsung masuk ke dalam rumah, pokoknya aneh banget, deh.” tambahnya.

 

“Mungkin dia malu dengan anak papah yang cantik,” celetuk ayahnya.

 

“Mungkin kak Laras menyapanya dengan melotot kali, jadinya dia takut, hehe,” sela Rama.

 

“Diam kamu!”, gercap Laras dengan kedua mata melototi adiknya.

 

“Tuhkan melotot,” gercap Rama tertawa kecil lalu menjulurkan lidahnya, meledek Laras.

 

“Terus aja, ya, kamu ngeledekin kakak,” sela Laras sambil menjewer telinga Rama.

 

“Aduh, aduh, aduh…”, teriak Rama. “Sakit, kak.”

 

“Laras!”, seru ibunya. “Kalian ini selalu berantem, nggak pernah akur!.”

 

“Habis, dia rese, mah!”, sahut Laras, lalu melepaskan jarinya yang menjewer telinga Rama.

 

“Udah, udah, dilanjutkan makannya,” ujar Ayahnya.

 

Usai makan, Laras dan ibunya merapikan piring-piring kotor dari meja makan dan mencucinya sementara ayahnya dan Rama merapikan sisa-sisa kardus yang ada di ruang tamu.

Tags: twm18

How do you feel about this chapter?

0 1 1 0 0 0
Submit A Comment
Comments (3)
  • SUe

    waiting for next episode, pingin tahu apa terjadi sama teman laras, bimo nya kemana lagi, huhu next.. Next...

    Comment on chapter Sahabatku Malang
  • Limlaui

    Btw ceritanya kok kayak film The Call ya??

    Comment on chapter Tetangga Aneh
  • Meytika

    Keren.. Bkin penasaran kelanjutannya ????

    Comment on chapter Tetangga Aneh
Similar Tags
Shut Up, I'm a Princess
1080      656     1     
Romance
Sesuai namanya, Putri hidup seperti seorang Putri. Sempurna adalah kata yang tepat untuk menggambarkan kehidupan Putri. Hidup bergelimang harta, pacar ganteng luar biasa, dan hangout bareng teman sosialita. Sayangnya Putri tidak punya perangai yang baik. Seseorang harus mengajarinya tata krama dan bagaimana cara untuk tidak menyakiti orang lain. Hanya ada satu orang yang bisa melakukannya...
Secret Garden
372      317     0     
Romance
Bagi Rani, Bima yang kaya raya sangat sulit untuk digapai tangannya yang rapuh. Bagi Bima, Rani yang tegar dan terlahir dari keluarga sederhana sangat sulit untuk dia rengkuh. Tapi, apa jadinya kalau dua manusia berbeda kutub ini bertukar jiwa?
Aku dan Dunia
490      390     2     
Short Story
Apakah kamu tau benda semacam roller coaster? jika kamu bisa mendefinisikan perasaan macam apa yang aku alami. Mungkin roller coaster perumpamaan yang tepat. Aku bisa menebak bahwa didepan sana ketinggian menungguku untuk ku lintasi, aku bahkan sangat mudah menebak bahwa didepan sana juga aku akan melawan arus angin. Tetapi daripada semua itu, aku tidak bisa menebak bagaimana seharusnya sikapku m...
Cinta dan Benci
5513      1916     2     
Romance
Benci dan cinta itu beda tipis. Bencilah sekedarnya dan cintailah seperlunya. Karena kita tidak akan pernah tau kapan benci itu jadi cinta atau sebaliknya kapan cinta itu jadi benci. "Bagaimana ini bisa terjadi padaku, apakah ini hanya mimpi? Apakah aku harus kabur? Atau aku pura-pura sakit? Semuanya terasa tidak masuk akal"
The Last Cedess
1072      739     0     
Fantasy
Alam bukanlah tatanan kehidupan makroskopis yang dipenuhi dengan makhluk hidup semata. Ia jauh lebih kompleks dan rumit. Penuh dengan misteri yang tak sanggup dijangkau akal. Micko, seorang putra pekebun berusia empat belas tahun, tidak pernah menyangka bahwa dirinya adalah bagian dari misteri alam. Semua bermula dari munculnya dua orang asing secara tiba-tiba di hadapan Micko. Mereka meminta t...
Do You Want To Kill Me?
6807      2142     2     
Romance
Semesta tidak henti-hentinya berubah, berkembang, dan tumbuh. Dia terus melebarkan tubuh. Tidak peduli dengan cercaan dan terus bersikukuh. Hingga akhirnya dia akan menjadi rapuh. Apakah semesta itu Abadi? Sebuah pertanyaan kecil yang sering terlintas di benak mahluk berumur pendek seperti kita. Pertanyaan yang bagaikan teka-teki tak terpecahkan terus menghantui setiap generasi. Kita...
Slap Me!
1763      855     2     
Fantasy
Kejadian dua belas tahun yang lalu benar-benar merenggut semuanya dari Clara. Ia kehilangan keluarga, kasih sayang, bahkan ia kehilangan ke-normalan hidupnya. Ya, semenjak kejadian itu ia jadi bisa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Ia bisa melihat hantu. Orang-orang mengganggapnya cewek gila. Padahal Clara hanya berbeda! Satu-satunya cara agar hantu-hantu itu menghila...
Comfort
1473      713     3     
Romance
Pada dasarnya, kenyamananlah yang memulai kisah kita.
Dua Sisi
9240      2353     1     
Romance
Terkadang melihat dari segala sisi itu penting, karena jika hanya melihat dari satu sisi bisa saja timbul salah paham. Seperti mereka. Mereka memilih saling menyakiti satu sama lain. -Dua Sisi- "Ketika cinta dilihat dari dua sisi berbeda"
LELATU
275      243     0     
Romance
Mata membakar rasa. Kobarannya sampai ke rongga jiwa dan ruang akal. Dapat menghanguskan dan terkadang bisa menjadikan siapa saja seperti abu. Itulah lelatu, sebuah percikan kecil yang meletup tatkala tatap bertemu pandang. Seperti itu pulalah cinta, seringkalinya berawal dari "aku melihatmu" dan "kau melihatku".