Loading...
Logo TinLit
Read Story - Upnormal
MENU
About Us  

JasonAP         : Ta, kok masakan Bunda lo beda sih?

AtataEarly      : Beda gimana?

JasonAP         : Ya beda, nggak kayak biasanya. Masih enak sih, tapi beda deh pokoknya.

AtataEarly      : Yaudah lah, yang penting kan masih bisa dimakan. Ribet amat tinggal makan doang. Susah-susah buatin juga!

JasonAP         : Lo yang bikin?

AtataEarly      : Berisik!

JasonAP         :Untung gue bilang enak :D

JasonAP         : Tapi beneran enak kok! (y)

—???—

Di tengah pelajaran Pak Gio, guru seni budaya, aku senyum-senyum sendiri layaknya orang gila sambil menatap layar HP. Jason mengomentari bekal yang kuberikan pagi ini.

Pagi ini Bunda lagi PMS dan lagi malas-malasnya masak, jadi aku yang mengambil alih kesempatan itu untuk menguji salah satu keahlianku yang lain, memasak. Masakan yang kubuat memang hanya masakan yang sederhana; nasi goreng sosis dan omelet telur dengan bayam. Aku belum mahir memasak masakan yang lebih rumit, jadi kurasa ini saja sudah cukup.

Lagipula, pagi-pagi begini mau masak apa coba? Opor ayam pake ketupat?

Tiga bulan Jason menerima bekal buatan Bunda dan kupikir dia tidak akan menyadari perbedaan rasanya. Tapi, ternyata dia tahu pasti rasa masakan Bunda. Dia memang tidak bilang kalau masakanku tidak enak dan itu membuat rasa percaya diriku melambung tinggi. Tapi, aku hanya berharap kejujurannya itu nyata, tidak untuk menyenangkanku saja.

“Athenia Earlyta!” Aku mengacuhkan panggilan itu.

”Athenia Earlyta Pambudi!” Suara itu makin keras disusul dengan pukulan di lenganku. Zora dan pukulannya berhasil menyadarkanku. Aku pun cepat-cepat melemparkan ponselku ke kolong meja dan pura-pura tidak terjadi apa-apa.

Wajah begoku memandang ke depan, ke arah Pak Gio yang melotot padaku.

“Sudah berapa kali saya memanggil nama kamu?” katanya nyaris meledak, tapi masih bisa ditahan.

Aku mengedipkan mata beberapa kali dan cepat-cepat mencari perlindungan pada Zora. Aku bertanya pada Zora dengan suara yang nyaris tak terdengar, “Emang Pak Gio manggil gue berapa kali?”

“Lima kali, bego!” hardiknya dengan frekuensi yang sama denganku. Wajahnya menunduk ke arah buku tulis di mejanya.

Aku mendongak dan tersenyum getir menatap Pak Gio yang masih berkacak pinggang. “Maaf, Pak.”

“Sekali lagi kamu senyum-senyum sendiri dan tidak memerhatikan saya, saya nikahkan kamu sama Pak Tejo!” ancamnya yang diikuti teriakan dan tawa nyaring teman-teman sekelasku.

Buset! Ancaman Pak Gio memang benar-benar ngeri. Masak iya aku yang masih anak sekolahan, imut gini mau dinikahin sama Pak Tejo, si penjaga sekolah yang udah bangkotan itu? Amit-amit deh!

—???—

Aku duduk di sebuah kursi panjang di depan tempat parkir di mana aku dan Jason biasa menitipkan sepeda kami. Kursi yang kududuki agak ke dalam, tapi aku masih bisa melihat jalanan dengan jelas.

Aku sedang menunggu Jason karena lagi-lagi kami naik bus yang berbeda saat pulang sekolah. Selama 2 bulan, ini pertama kalinya aku sampai duluan di tempat pertemuan kami.

Sebuah bus kota berhenti di pinggir jalan, tepat di depan tempat parkir di mana aku berada. Dari tempatku duduk aku melihat seseorang turun dari bus. Kulihat Jason dengan seragamnya yang lusuh, kerahnya terangkat sebelah, kancing bajunya yang paling atas terbuka, memperlihatkan kaos putih yang ia kenakan. Tasnya dibawa dengan sebelah lengan dan rambutnya jangan ditanya, berantakan!

Dia turun dengan wajah lelah, keringat mengucur deras dari dahi hingga pelipisnya. Dia mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahnya dengan kesal. Dia terlihat begitu tersiksa dengan angkutan umum dan sialnya aku baru menyadarinya.

Jason masuk ke tempat parkir dan tampak terkejut saat melihatku sudah berada di sana. Cepat-cepat dia merapikan seragam dan rambutnya yang acak-acakan itu.

“Kok tumben lo yang duluan?” tanya Jason yang masih merapikan rambutnya. Bukan merapikan sebenarnya, dia mengacaknya sedikit untuk menemukan gaya rambutnya yang biasa.

“Sengaja. Gue nggak enak aja kalo terus-terusan buat lo nunggu gue.”

Aku mencerna perkataanku barusan dan baru kusadari kalimatku terdengar ambigu. Aku seperti mengungkapkan bahwa Jason tidak perlu menungguku lagi karena aku sudah menjadi miliknya.

“Maksud gue—” Belum sempat aku menjelaskan, Jason malah lebih dulu terkekeh. Kan, dia jadi salah paham!

“Yuk, ambil sepeda terus pulang.” Jason menarik tanganku untuk mengambil sepeda kami.

Di perjalanan pulang aku melihat Jason terus tersenyum sambil sesekali melihat ke arahku. Rasanya aku mulai takut dengan isi otaknya.

“Lo kenapa sih? Otak lo geser makin menyamping ya?” tanyaku agak risih dengan senyumnya.

“Nggak lah. Gue seneng aja lihat lo hari ini,” jawabnya masih menyunggingkan senyumnya. Oke, aku mengakuinya, dia memang ganteng, apalagi kalau sedang tersenyum.

Aku melengos, tapi juga ikut tersenyum dengan pernyataannya.

“Ta, gue mulai tanding minggu depan nih,” katanya kemudian. “Lo harus nonton gue ya.”

“Ngapain? Nggak ah,” tolakku. “Gue nggak tertarik sama voli.”

Jason menghentikan sepedanya saat kami sudah mulai memasuki kawasan kompleks Bumu Permai yang otomatis membuatku menghentikan sepedaku juga.

“Lo nggak perlu nonton voli, lo cuma perlu nonton gue.” Dia bersikeras. “Itung-itung lo nyemangatin gue lah. Masak pacar sendiri nggak lo semangatin sih?”

Pacar? Oh iya, Jason itu pacar gue.

Aku menggeleng mantap. “Nggak mau.”

“Finalnya aja deh,” rengeknya.

“Emang tim lo bakal maju sampai final?” Suaraku terdengar meremehkan, tapi jujur, aku tidak benar-benar bermaksud seperti itu.

Jason mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum miring. “Bakal gue buktiin kalo tim sekolah gue bisa maju ke final. Dan bisa gue pastikan sekolah lo bakal kalah dari sekolah gue tahun ini.”

“Oke, buktiin aja.”

“Kalo tim gue udah maju ke final, lo wajib nonton pertandingan gue,” lanjutnya.

“Oke, gue setuju.”

—???—

Di sela-sela mengerjakan buku latihan soal Ujian Nasional, tiba-tiba ponselku bergetar. Aku dengan cepat menyambar ponselku itu, berharap Si Sinting Jason yang menelpon. Biasanya saat dia sedang jenuh dengan buku-bukunya dia akan menelponku dan berbicara hal yang sama sekali nggak penting.

 “Apaan?” kataku malas setelah menerima telpon yang ternyata dari Zora.

“Ih, kok lo jutek banget sih?” protes suara di seberang sana, suara Zora. “Lo kecewa karena bukan Jason yang nelpon lo?”

“Ish, enggak lah!” Aku mengelak. “Eh, lo kenapa nelpon gue? Tumben banget.”

“Hmm, ada yang mau gue tanyain ke lo. Penting banget. Demi memenuhi keinginan otak gue yang kepo.”

“Idih, dasar lo. Ada apa emang?”

“Hmm, itu... gini... hmm...” Zora terus-terusan memberi jeda panjang, membuatku makin penasaran. “Lo putus sama Jason?”

Pertanyaan macam apa itu?!

“Kok lo bisa bilang gitu?”

“Ya habisnya gue udah lama nggak lihat Jason ngejemput lo lagi,” katanya. “Biasanya kan dia udah nongol aja kalo kita pulang sekolah.”

Oh, jadi karena itu. Aku baru paham sekarang.

“Lagian elo sih, Ta. Apa sih kurangnya Jason? Dia itu baik, pengertian dan perhatian sama lo, ganteng pula. Lonya aja yang kurang bersyukur dapet pacar yang plus-plus kayak dia. Udah diperhatiin gitu, lo malah menghindar. Terus—”

“Eh, eh, kok lo jadi nyerocos dan nyalah-nyalahin gue sih?” Aku menginterupsi ceramahnya. “Lagian kan gue belum konfirmasi bener apa enggak gue putus sama Jason?”

“Emang kalian nggak putus?”

“Enggak.”

“Berarti lo ngakuin dong kalo pacaran sama dia?”

Dan... aku masuk ke dalam perangkap konyol Zora. Zora kampret!

“Iya,” kataku menyerah dan tawa Zora pun meledak begitu saja. Aku yakin sejak awal dia memang mengerjaiku. “Puas lo sekarang?”

“Dih, gue jadi iri deh sama kalian. Lo sama Jason, Dhea sama Alan, lah gue kapan coba?” katanya memelas.

“Sabar lah, gue aja harus nunggu 17 tahun baru taken, lah lo kan udah pernah sama Reza, Harris, Wildan.”

“Dih, jangan inget-ingetin mantan deh, masa lalu tuh!”

Gantian aku yang tertawa. Zora memang selalu sensitif setiap kali kami —aku dan Dhea atau siapapun— mengungit-ungkit tentang mantan-mantannya.

“Eh iya, Zo.” Aku tiba-tiba teringat sesuatu yang berhubungan dengan Jason. Mungkin lebih baik aku meminta saran pada Zora. “Minggu depan Jason mulai tanding nih. Enaknya dikasih apa ya?”

“Kasih kecup manja aja, Ta. Pasti jadi lebih semangat!” Suara Zora terdengar sangat antusias.

“Gila lo!”

—???—

Tags: twm18

How do you feel about this chapter?

0 1 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (4)
  • candycotton08

    Thanks masukannya kaka, siap edit :)

    Comment on chapter Episode satu
  • SusanSwansh

    Ceritanya bagus. Maaf, kasih sedikit masukan, itu maklum penulisannya, Sobat. Bukan makhlum. Dan Dewi Fortuna. Nama. Harus kapital.

    Comment on chapter Episode satu
  • candycotton08

    hehehe makasih, masih amatir kaka. oh itu karya siapa kak?

    Comment on chapter Episode satu
  • dede_pratiwi

    ceritanya seru nih kaya boss im in love hehe.

    Comment on chapter Episode Dua
Similar Tags
Tentang Kita
2214      1024     1     
Romance
Semula aku tak akan perna menduga bermimpi pun tidak jika aku akan bertunangan dengan Ari dika peratama sang artis terkenal yang kini wara-wiri di layar kaca.
Alfazair Dan Alkana
322      268     0     
Romance
Ini hanyalah kisah dari remaja SMA yang suka bilang "Cieee Cieee," kalau lagi ada teman sekelasnya deket. Hanya ada konflik ringan, konflik yang memang pernah terjadi ketika SMA. Alkana tak menyangka, bahwa dirinya akan terjebak didalam sebuah perasaan karena awalnya dia hanya bermain Riddle bersama teman laki-laki dikelasnya. Berawal dari Alkana yang sering kali memberi pertanyaan t...
One Step Closer
2798      1305     4     
Romance
Allenia Mesriana, seorang playgirl yang baru saja ditimpa musibah saat masuk kelas XI. Bagaimana tidak? Allen harus sekelas dengan ketiga mantannya, dan yang lebih parahnya lagi, ketiga mantan itu selalu menghalangi setiap langkah Allen untuk lebih dekat dengan Nirgi---target barunya, sekelas juga. Apakah Allen bisa mendapatkan Nirgi? Apakah Allen bisa melewati keusilan para mantannya?
Tuhan, Inikah Cita-Citaku ?
4604      2031     9     
Inspirational
Kadang kita bingung menghadapi hidup ini, bukan karena banyak masalah saja, namun lebih dari itu sebenarnya apa tujuan Tuhan membuat semua ini ?
kekasihku bukan milikku
1340      697     3     
Romance
Do You Want To Kill Me?
6742      2088     2     
Romance
Semesta tidak henti-hentinya berubah, berkembang, dan tumbuh. Dia terus melebarkan tubuh. Tidak peduli dengan cercaan dan terus bersikukuh. Hingga akhirnya dia akan menjadi rapuh. Apakah semesta itu Abadi? Sebuah pertanyaan kecil yang sering terlintas di benak mahluk berumur pendek seperti kita. Pertanyaan yang bagaikan teka-teki tak terpecahkan terus menghantui setiap generasi. Kita...
Reach Our Time
12604      3512     5     
Romance
Pertemuan dengan seseorang, membuka jalan baru dalam sebuah pilihan. Terus bertemu dengannya yang menjadi pengubah lajunya kehidupan. Atau hanya sebuah bayangan sekelebat yang tiada makna. Itu adalah pilihan, mau meneruskan hubungan atau tidak. Tergantung, dengan siapa kita bertemu dan berinteraksi. Begitupun hubungan Adiyasa dan Raisha yang bertemu secara tak sengaja di kereta. Raisha, gadis...
Konstelasi
1042      577     1     
Fantasy
Aku takut hanya pada dua hal. Kehidupan dan Kematian.
LASKAR BIRU
8845      2761     6     
Science Fiction
Sebuah Action Science-Fiction bertema Filsafat tentang persepsi dan cara manusia hidup. Tentang orang-orang yang ingin membuat dunia baru, cara pandang baru, dan pulau Biru. Akan diupdate tiap hari yah, kalau bisa. Hehehe.. Jadi jangan lupa dicek tiap malamnya. Ok?
Kisah yang Kita Tahu
6407      2117     2     
Romance
Dia selalu duduk di tempat yang sama, dengan posisi yang sama, begitu diam seperti patung, sampai-sampai awalnya kupikir dia cuma dekorasi kolam di pojok taman itu. Tapi hari itu angin kencang, rambutnya yang panjang berkibar-kibar ditiup angin, dan poninya yang selalu merumbai ke depan wajahnya, tersibak saat itu, sehingga aku bisa melihatnya dari samping. Sebuah senyuman. * Selama lima...