Loading...
Logo TinLit
Read Story - A Ghost Diary
MENU
About Us  

Damar berbaring di ranjang sambil menutup seluruh tubuhnya dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan selimut. Bukan tidur, tapi ia sedang berpikir. Memikirkan kemungkinan paling masuk akal yang sedang menimpanya saat ini. Kutukan atau kesialan. Fakta bahawa ada seorang gadis di kamarnya yang jelas-jelas pintunya terkunci rapat membuat sel-sel otaknya berkerja keras untuk merangkai logika. Tapi di sisi lain fakta bahwa mamanya tidak bisa melihat wujud gadis itu seolah mementahkan semua logika. Hanya ada satu kata yang bisa mendefenisikan siapa gadis di kamarnya itu dan Damar terlalu takut untuk mengakuinya.

Sekitar satu jam yang lalu, Damar baru saja sadar dari pingsannya. Begitu membuka mata, ia langsung berteriak ketakutan. Alahasil, kedua orang tuanya pun panik hingga membuat mereka buru-buru menghubungi dokter Nisa. Tapi setelah diperiksa, dokter Nisa bilang kondisi fisiknya baik-baik saja dan tidak ada gejala sakit apapun. Untuk itu dokter Nisa hanya memberi resep vitamin dan menyuruh Damar beristirahat. Tapi  bagaimana mungkin Damar bisa beristirahat, kalau kenyataannya gadis itu masih ada dalam kamarnya? Bagaimana pula dia bisa menyingkap selimutnya? Damar yakin jika dia melihat gadis itu pasti dia akan pingsan lagi. 

“Mar, sarapan dulu, yuk.” Mamanya masuk sambil membawa nampan makanan. 

“Kalau gak sarapan nanti kamu tambah sakit.” sambung mamanya lagi.

Perlahan Damar membuka selimut yang menutupi wajahnya. Mumpung ada mamanya, Damar memberanikan diri mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kamarnya. Tapi keberadaan gadis itu tak tampak. Kemana dia? Apakah sudah pergi? Apakah yang ia lihat beberapa jam yang lalu itu hanya halusinasi belaka?

“Mar! Kamu kok jadi aneh gini? Ada apa?” tegur mamanya yang kini sudah duduk di sisi ranjang putranya. Rasa panik masih terlihat jelas di wajah mamanya melihat tingkah aneh Damar. 

Damar langsung bangkit. “Ma, mama beneran gak lihat tadi ada seseorang di sini?”

“Seseorang?”

“Iya, Ma. Perempuan.”

“Oh, dokter Nisa.”

Damar berdecak lidah. “Bukan, Ma. Bukan dokter Nisa, tadi pagi pas mama masuk terus Damar jatuh. Perempuan itu tadi ada di kamar ini.” Ekspresi Damar benar-benar serius. Ditatapnya mata sang mama lekat hingga membuat mamanya bergidik.

“Mar, mama mohon, kamu jangan aneh-aneh dong. Kamu tuh anak mama satu-satunya, Mar.” ujar mamanya sambil mengelus kepala Damar. 

“Tapi, Ma...”

“Kalau memang kamu lagi males sekolah, tinggal bilang terus jelasin alasannya kenapa. Jangan buat hal yang aneh-aneh gini dong, Mar. Mama sama papa itu khawatir sama kamu. Papa kamu aja sampai telat berangkat kerja tadi gara-gara kamu pingsan.” Mata mamanya mulai terasa panas. Menyaksikan putra semata wayannya tiba-tiba pagi tadi sudah sangat membuatnya takut tak menentu. Sekarang Damar malah bertingkah aneh, membuat rasa takutnya pagi tadi yang belum hilang seratus persen kembali lagi. 

“Andai kamu tau, Mar. Gimana takutnya mama tadi lihat kamu pingsan. Mama takut kalau kamu kenapa-kenapa.” 

Rasa bersalah seketika muncul di hati Damar saat melihat mata mamanya yang berkaca-kaca. Lagi, ini kedua kalinya Damar melihat mamanya menangis karena mengkhawatirkannya. Bukan suatu hal yang menyenangkan melihat mamanya menangis, sebaliknya itu terasa menyesakkan. Jika Damar terus membahas masalah gadis itu, pastilah akan terus membuat mamanya khawatir. Sekali lagi, Damar diingatkan, menjadi anak tunggal bukan perkara mudah.

“Udah, Ma. Jangan nangis. Damar gak apa-apa kok.” Ucapnya sambil meraih tangan mamanya. 

“Mungkin Damar Cuma ngayal, Ma. Soalnya tugas sekolah lagi banyak, jadi kecapean makanya pingsan.” Sambungnya lagi sambil tersenyum. Tak apa Damar berbohong lagi, asal mamanya tidak menangis. 

“Makasih ya ,Mar. Pokoknya kamu harus istirahat hari ini. Jangan aneh-aneh lagi. Mama udah telepon sekolah tadi buat permisiin kamu.” 

“Iya, Ma.”

“Sarapan dulu, ya. Mau mama suapin?”

“Gak usah, Ma. Damar bisa sendiri.” Kelegaan terpancar dari wajah mamanya membuat hati Damar lebih tenang. 

“Kalau gitu, mama ke dapur dulu. Kalau perlu apa-apa, panggil mama.” ucap  mamanya seraya beranjak. 

“Iya, Ma.” timpal Damar sambil tersenyum.

 

Damar menghela napas berat. Kenapa semua kesialan ini harus menimpanya? Apa salahnya? Damar sadar, dia tidak boleh egois. Bukan hanya perasaannya sendiri yang harus ia pikirkan, tapi juga perasaan orang tuanya. Sekarang apa yang harus dia lakukan?

Kembali, Damar menatap ke sekeliling sudut kamarnya, gadis itu tidak tampak. Kemana dia? Sudah pergikah? Damar meletakkan tangan kanannya di dada, detak jantungnya mulai terasa normal. Kelihatannya semua sudah kembali normal, baguslah. Mungkin apa yang dilihatnya pagi tadi memang benar hanya halusinasi. Mungkin karena malam tadi ia bermimpi tentang Alena, jadi saat bangun mimpinya seolah terproyeksinya ke dunia nyata. Yah, pasti begitu.

Seolah mendapat suntikan semangat baru, Damar melirik nampan sarapannya di meja nakas dengan mata berbinar. Nasi goreng sosis dan segelas susu, menu sarapan favoritnya. Saatnya mengembalikan energi yang hilang, pikirnya. 

“Kelihatannya enak!” 

Sebuah suara sukses membuat sendok yang hampir sampai ke mulut Damar terjatuh. Damar langsung menoleh ke sumber suara itu dan mendapatinya lagi. 

GADIS ITU LAGI!

Secepat kilat Damar langsung beringsut ke sudut ranjang. Tadinya ia ingin berteriak tapi tiba-tiba wajah sedih mamanya terlintas hingga ia mengurungkan  niatnya. Sepertinya kali ini dia harus membuang rasa pengecutnya, dia harus berani. Kamu pasti bisa , Damar!

“Stop! Jangan pingsan lagi. Kalau kamu pingsan lagi, kapan kita bicaranya? Ujar gadis itu saat melihat reaksi Damar. Dia sudah maklum kalau Damar pasti akan takut. Tapi gadis itu berharap Damar bisa tenang sejenak. 

Damar memeluk erat selimutnya. “Si-si-siapa kamu?” tanya terbatah. Nada suaranya jelas menandakan dia sangat ketakutan. Tapi kali ini tidak ada jalan lain, Damar harus menghadapinya.

Gadis itu tersenyum. “Kamu tenang dulu, biar kita bisa bicara. Aku gak bermaksud jahat kok.”

“Ka-kamu itu apa?” 

“Aku rasa, kamu udah tau aku ini apa.” 

Tentu saja, sekarang Damar semakin yakin bahwa analisa defenisinya tadi benar.

“Ha-han-hantu?” 

Gadis itu tersenyum penuh arti membuat perasaan Damar makin tak menentu. Satu sisi dirinya ingin sekali berteriak dan lari, tapi di lain sisi ada sebongkah keberanian yang membuatnya bertahan. Seolah menegaskan bahwa ia harus menghadapi masalahnya ini.

Secepat kilat, Damar berlutut di ranjang, kedua telapak tangannya disatukan. “Ampun, Mbah! Ampun! Maafkan saya Mbah kalau ada salah. Tapi saya gak pernah kencing sembarangan, Mbah.” 

Melihat reaksi Damar, gadis itu langsung berdecak sebal. “Ck! Emangnya aku kelihatan tua apa? Lihat, aku ini terlalu cantik untuk kamu panggil Mbah.” protesnya.

Damar memperhatikan gadis itu dari ujung kaki hingga ujung kepala, benar dia cantik. Rambut hitam sebahu, kulit putih, mengenakan gaun selutut berwarna biru muda dan kedua kakinya dibungkus sepasang flat shoes hitam bertabur gliter. Damar belum pernah melihat hantu sebelumnya, tapi dari cerita-cerita yang di dengarnya, kebanyakan hantu itu berpenampilan mengerikan. Tapi hantu yang ada di hadapannya ini sungguh berbeda. Apakah memang semua hantu berpenampilan seperti ini? Harus diakui, hantu yang sedang tersenyum  padanya ini cantik luar biasa, bahkan lebih cantik dari Alena. 

Sadar akan pikiran konyolnya, Damar menggeleng. Dia itu hantu!

“Kamu mau apa? Salahku apa?” tanya Damar  takut- takut. Walau kadar ketakutannya sudah sedikit berkurang, tapi Damar tetap harus waspada. 

“Itu.” jawab  gadis itu sambil menujuk meja nakas. 

“Nasi goreng? Kamu mau nasi goreng?” 

“Idiiih, apaan sih! Gimana coba hantu bisa makan nasi goreng?” jawab gadis itu bingung, sama bingungnya dengan Damar. Entah apa yang di pikirkannya hingga menawarkan nasi goreng pada seorang hantu.

“Diary.” sambungnya.

Dahi Damar berkerut tapi sedetik kemudian ia sadar. “Oh! Diary itu punya kamu?” Dengan satu gerakan cepat, Damar melompat dari ranjang meraih diary merah itu.

“Ini, aku balikin. Aku gak bermaksud nyuri, aku gak sengaja nemu. Sumpah!” Tangannya gemetar saat menyodorkan diary itu.

Gadis itu menggeleng. “Aku gak minta kamu balikin diary itu.”

“Terus?”

“Aku,” gadis itu berhenti sejenak. Ditatapnya mata Damar lekat, membuat Damar ketakutan setengah mati. “Aku, mau minta tolong sama kamu.”

“Ha?”

 

***

Malam menjelang, Damar dan orang tuanya sedang makan malam. Tidak seperti biasanya, kali ini mamanya memasak berbagai macam makanan. Mulai dari kepiting saus padang hingga opor ayam kesukaan Damar tersaji di atas meja bundar itu. Mamanya sengaja masak banyak untuk mengembalikan semangat dan kesehatan putra semata wayannya setelah tragedi pingsan pagi tadi. Tapi dari tadi, Damar terlihat hanya memutar-mutar nasi di piringnya.

Menyadari hal itu, mamanya pun menegur. “Mar? Kok gak dimakan? Kamu masih sakit?” Nada cemas jelas terdengar dari suara mamanya.

“Kamu kenapa, Damar?” timpal papanya.

Merasa bingung harus menjawab apa, Damar pun hanya memandang wajah mama dan papanya secara bergantian. Kemuadian dia menoleh ke arah lain, gadis bergaun biru itu di sana. Berdiri tak jauh darinya sambil menatap ke segala sudut ruangan rumah Damar. 

Penasaran, mamanya juga ikut menoleh ke arah pandangan Damar. “Mar, kenapa dari tadi kamu lihat ke sana terus? Ada apa?” tanya mamanya.

Damar menghela napas berat, seolah dadanya penuh dengan sesak. 

“Kamu capek? Mau istirahat?” 

“Damar gak apa-apa kok, Ma.” 

“Beneran?”

“Iya.”

Sekali lagi Damar menoleh, gadis itu masih di sana membalas tatapan Damar dengan senyum. 

"Aku, mau minta tolong sama kamu."

Kata-kata gadis itu masih bersarang di pikiran Damar. Sedari tadi, begitu banya pertanyaan-pertanyaan berseliweran di otaknya. Tapi Damar tidak mendapati jawaban yang pasti. Bagaimana bisa semua ini terjadi padanya? Kesialan macam apa yang sedang menimpanya sekarang? Bagaimana bisa ada seorang hantu masuk ke kamarnya dan meminta tolong? Terlebih hanya dirinya seorang yang dapat melihatnya.

Tentu saja, untuk mengetahui jawaban dari pertanyaannya ia harus mencari tahu dari sumber masalahnya. Tapi jika Damar melakukannya, bisa dipastikan bahwa urusannya dengan hantu itu tidak akan berhenti sampai di sini. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Damar merasa galau. Dan hebatnya lagi, galaunya bukan karena cinta tapi karena seorang hantu. 

Damar berbaring di ranjang, kembali ia menutup tubuhnya dengan selimut. Dari tadi ia berusaha mencoba tidur dengan harapan esok pagi hidupnya akan kembali normal. Tapi rasanya harapannya itu hanya ilusi belaka, karena faktanya hantu gadis itu masih ada bersamanya. Tiba-tiba Damar merasakan kasurnya bergetar dan ia bisa merasakan bahwa ada seseorang yang berbaring di sampinya. Tidak!

Spontan Damar menyingkap selimutnya dan langsung duduk. “Aaah! Mau kamu apa sih!” 

Merasa terkejut, gadis itu juga bangun.

“Iisshh..kasar banget. Cewek itu gak suka dikasarin, tau! Keliatan banget sih jomblonya.” ucapnya dengan melipat kedua tangan di dada.

Mendengar itu Damar seolah dibuat mati kutu. Damar sudah membuka mulut ingin membantah tapi tidak jadi. Membaca gestur tubuh Damar, gadis itu tahu bahwa tebakannya benar. Damar memang jomblo.

Tanpa Damar sempat melihat, sekarang gadis itu sudah duduk bersila di hadapannya membuat bulu kuduk Damar meremang. “Baiklah, baiklah. Gimana kalau kita sudahi perdebatan ini dan mulai pembicaraan. Pertama -tama, mari kita saling mengenal dengan cara baik-baik. Yah, walaupun kesan pertama pertemuan kita di luar dugaan, tapi sepertinya sekarang jadi lebih baik. Aku Namira Asoemabrata.” Gadis itu mengulurkan tangan.

“Di luar dugaan? Dugaan apa? Apa kamu pikir, kesan pertama ketemu sama kamu akan baik-baik, gitu?” Damar mendengus kesal. 

“Bayangkan, ada cewek tiba-tiba nongol di kamar aku yang jelas-jelas pintu dan jendelanya terkunci rapat, gak tau dari mana asal muasalnya. Dan ternyata, cewek itu adalah,”  Damar berhenti sejenak. “...hantu.” sambungnya dengan penuh ekspresi. 

“Hmm...” Gadis itu memberi kode pada Damar untuk menjabat tangannya yang masih berada di udara.

Sejenak Damar ragu, tapi kemudian ia memberanikan diri menjabat tangan gadis itu. Bukannya menyentuh, tangan Damar malah menembus tangan gadis itu. Tangan Damar langsung gemetar, seluruh tubuhnya merinding dan jantungnya berdetak kencang seperti genderang perang yang ditabuh.

“Oh, maaf. Aku lupa, aku kan hantu, yah? Hehehe...”  Namira terkikik geli menertawakan kekonyolannya. Bisa-bisanya dia lupa, pikirnya.

“Bagaimana hantu bisa lupa?” Damar mencoba menenangkan dirinya walau jantungnya hampir mau copot. 

“Yah, aku kan juga pernah jadi manusia. Jadi, kadang kebiasaan saat jadi manusia masih suka kebawa ke dunia hantu.” jawab Namira santai.

Damar menelan ludah dengan susah payah. Sudah terlanjur sejauh ini, dia harus mencari tahu alasan hantu bernama Namira ini datang padanya. Sudah terlanjur basah, mandi saja sekalian, pikirnya.

“Jadi, Namira, kamu mau apa?” tanyanya.

“Nami. Panggil aja aku Nami.” jawab Namira riang. “Seperti yang udah aku bilang sebelumnya, aku butuh bantuan kamu.” 

“Bantuan?”

Namira menagngguk. 

“Tapi, kenapa harus aku?”

Namira menujuk ke arah meja nakas. “Itu.” 

Damar menoleh pun ikut menoleh. “Diary?” tanyanya. Benar, Damar ingat sebelumnya Namira mengatakan bahwa diary ini miliknya.

Namira mengangguk.

Damar meraih diary merah itu. “Jadi, kamu mau aku apakah diary ini? Kamu mau minta tolong aku buat kuburin diary ini di dekat makam kamu, gitu?” 

“Bukan.”

“Jadi?”

Namira memandang Damar dengan mata berbinar. Kesempatan yang dia tunggu-tunggu akhirnya datang juga.“Di dalam diary itu ada permintaan terakhirku. Jadi, aku mau kamu membantuku untuk mewujudkannya.”

APA!

“TIDAK!”

 

* Jangan lupa like ya guys! Komen, kritik dan saran sangat membantu saya.

Terima Kasih.

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (2)
  • Kikimollys12

    Makasih...^^. Ikutin lanjutannya terus yaa...jangan lupa like nya hehe...

    Comment on chapter Siapa Kamu?
  • Cinderella

    seru

    Comment on chapter Siapa Kamu?
Similar Tags
Benang Merah, Cangkir Kopi, dan Setangan Leher
353      294     0     
Romance
Pernahkah kamu membaca sebuah kisah di mana seorang dosen merangkap menjadi dokter? Atau kisah dua orang sahabat yang saling cinta namun ternyata mereka berdua ialah adik kakak? Bosankah kalian dengan kisah seperti itu? Mungkin di awal, kalian akan merasa bahwa kisah ini sama seprti yang telah disebutkan di atas. Tapi maaf, banyak perbedaan yang terdapat di dalamnya. Hanin dan Salwa, dua ma...
Selfless Love
5034      1534     2     
Romance
Ajeng menyukai Aland secara diam-diam, meski dia terkenal sebagai sekretaris galak tapi nyatanya bibirnya kaku ketika bicara dengan Aland.
Melawan Tuhan
3282      1377     2     
Inspirational
Tenang tidak senang Senang tidak tenang Tenang senang Jadi tegang Tegang, jadi perang Namaku Raja, tapi nasibku tak seperti Raja dalam nyata. Hanya bisa bermimpi dalam keramaian kota. Hingga diriku mengerti arti cinta. Cinta yang mengajarkanku untuk tetap bisa bertahan dalam kerasnya hidup. Tanpa sedikit pun menolak cahaya yang mulai redup. Cinta datang tanpa apa apa Bukan datang...
You Are The Reason
2518      1121     8     
Fan Fiction
Bagiku, dia tak lebih dari seorang gadis dengan penampilan mencolok dan haus akan reputasi. Dia akan melakukan apapun demi membuat namanya melambung tinggi. Dan aku, aku adalah orang paling menderita yang ditugaskan untuk membuat dokumenter tentang dirinya. Dia selalu ingin terlihat cantik dan tampil sempurna dihadapan orang-orang. Dan aku harus membuat semua itu menjadi kenyataan. Belum lagi...
Kainga
5844      2844     13     
Romance
Sama-sama menyukai anime dan berada di kelas yang sama yaitu jurusan Animasi di sekolah menengah seni rupa, membuat Ren dan enam remaja lainnya bersahabat dan saling mendukung satu sama lain. Sebelumnya mereka hanya saling berbagi kegiatan menyenangkan saja dan tidak terlalu ikut mencampuri urusan pribadi masing-masing. Semua berubah ketika akhir kelas XI mereka dipertemukan di satu tempat ma...
Something about Destiny
207      180     1     
Romance
Devan Julio Widarta yang selalu dikenal Sherin sebagai suami yang dingin dan kurang berperasaan itu tiba-tiba berubah menjadi begitu perhatian dan bahkan mempersiapkan kencan untuk mereka berdua. Sherin Adinta Dikara, seorang wanita muda yang melepas status lajangnya pada umur 25 tahun itu pun merasa sangat heran. Tapi disisi lain, begitu senang. Dia merasa mungkin akhirnya tiba saat dia bisa mer...
Ketika Kita Berdua
42198      7678     38     
Romance
Raya, seorang penulis yang telah puluhan kali ditolak naskahnya oleh penerbit, tiba-tiba mendapat tawaran menulis buku dengan tenggat waktu 3 bulan dari penerbit baru yang dipimpin oleh Aldo, dengan syarat dirinya harus fokus pada proyek ini dan tinggal sementara di mess kantor penerbitan. Dia harus meninggalkan bisnis miliknya dan melupakan perasaannya pada Radit yang ketahuan bermesraan dengan ...
After School
4927      2134     0     
Romance
Janelendra (Janel) bukanlah cowok populer di zaman SMA, dulu, di era 90an. Dia hanya cowok medioker yang bergabung dengan geng populer di sekolah. Soal urusan cinta pun dia bukan ahlinya. Dia sulit sekali mengungkapkan cinta pada cewek yang dia suka. Lalu momen jatuh cinta yang mengubah hidup itu tiba. Di hari pertama sekolah, di tahun ajaran baru 1996/1997, Janel berkenalan dengan Lovi, sang...
Berawal dari Hujan (the story of Arumi)
1227      694     1     
Inspirational
Kisah seorang gadis bernama Arumi Paradista, menurutnya hujan itu musibah bukan anugerah. Why? Karena berawal dari hujan dia kehilangan orang yang dia sayang. Namun siapa sangka, jika berawal dari hujan dia akan menemukan pendamping hidup serta kebahagiaan dalam proses memperbaiki diri. Semua ini adalah skenario Allah yang sudah tertulis. Semua sudah diatur, kita hanya perlu mengikuti alur. ...
Premium
Akai Ito (Complete)
6943      1498     2     
Romance
Apakah kalian percaya takdir? tanya Raka. Dua gadis kecil di sampingnya hanya terbengong mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Raka. Seorang gadis kecil dengan rambut sebahu dan pita kecil yang menghiasi sisi kanan rambutnya itupun menjawab. Aku percaya Raka. Aku percaya bahwa takdir itu ada sama dengan bagaimana aku percaya bahwa Allah itu ada. Suatu saat nanti jika kita bertiga nant...