Loading...
Logo TinLit
Read Story - Pangeran Benawa
MENU
About Us  

“Beri ia jalan untuk masuk!” perintah Adipati Hadiwijaya pada prajurit jaga. Langkah lebar prajurit jaga ketika meninggalkan pendapa seakan memberikan kesan tentang wibawa yang melekat dalam diri Adipati Hadiwijaya.

“Apakah kau mempunyai pendapat tentang orang yang bernama Ki Suradilaga, Ki Sambaga?” bertanya Adipati dengan tatap mata selidik.

Ki Rangga Sambaga pelan dan dalam menganggukkan kepala. Dengan penuh rasa hormat, ia mengatakan,”aku mendengarnya sebagai seorang prajurit tangguh yang dimiliki oleh Demak. Beberapa orang bahkan berkata padaku jika Ki Tumenggung Suradilaga adalah salah satu orang kepercayaan Sultan Trenggana.”

“Dan Ayahanda Sultan mengatakan hal yang sama padaku,” gumam Adipati Hadiwijaya perlahan. Ia mengerutkan kening berusaha menduga permasalahan yang mungkin diemban Ki Tumenggung Suradilaga.

“Aku tidak dalam keadaan yang tepat untuk dapat mempercayaimu yang mengaku sebagai seorang tumenggung. Aku memang sering mendengar nama Ki Tumenggung Suradilaga, namun kehadiranmu di Pajang dengan tidak mengenakan tanda-tanda khusus yang hanya dimiliki seorang tumenggung telah membuat kami harus menaruh curiga kepadamu,” kata pemimpin kelompok prajurit jaga pada Ki Tumenggung Suradilaga.

“Aku tidak dapat memaksa kalian untuk percaya dan aku sendiri akan meletakkan senjata jika kalian menghendakinya,” Ki Tumenggung Suradilaga berkata sambil meloloskan sebatang pedang yang tergantung pada pinggangnya dan sebilah tombak pendek yang tergantung di lambung kuda. Ia maju setapak demi setapak menyerahkan senjatanya pada lurah prajurit.

“Aku tidak ingin ada kesalahan, Ki Sanak,” kata lurah prajurit sambil mengangkat tangannya.

Dengan kening berkerut, Ki Suradilaga bertanya,” Apa maksudmu?”

“Aku tidak ingin Kanjeng Adipati mendapat laporan jika seorang tamu atau utusan dari Kanjeng Sultan Demak mendapat perlakuan tidak pantas di Pajang,” kesungguhan menggurat pada wajah lurah prajurit yang memandang tajam kedua senjata Ki Suradilaga.

“Tidak. Kalian telah berbuat sesuai paugeran yang memang seharusnya ditegakkan. Hanya saja aku memang akan mengatakan siapa diriku sesungguhnya di hadapan Kanjeng Adipati,” Ki Tumenggung Suradilaga tetap menyodorkan kedua senjatanya dan sedikit memaksa lurah prajurit agar mau menerima keduanya.

“Baiklah, jika demikian tidak akan ada keberatan diantara kita berdua,” tegas lurah prajurit seraya menerima kedua senjata dari tangan Ki Tumenggung Suradilaga.

Selang beberapa lama, prajurit jaga menyampaikan pesan Adipati Hadwijaya pada lurah prajurit. Ki lurah prajurit membalikkan badan dan melangkah menghampiri Ki Tumengung Suradilaga. Katanya,” Silahkan Ki Tumenggung, aku akan mengantarkan Ki Tumenggung menghadap Kanjeng Adipati. Mari!” Ki Lurah berjalan beriringan dengan Ki Tumenggung Suradilaga.

Keduanya melintasi halaman yang luas dan banyak pohon yang berukuran lumayan besar mengelilingi halaman pendapa kadipaten. Dari kejauhan, Ki Tumenggung Suradilaga telah dapat mengenali Adipati Hadiwijaya yang berdiri kokoh menghadap regol pendapa. Ki Tumenggung kembali meraba kain yang tersampir menyilang di dadanya. Keris Sabuk Inten. Bekal khusus yang diperolehnya dari Sultan Trenggana dan hanya diperbolehkan untuk dikeluarkan dari kain putih yang menjadi pembungkus bila telah berbicara empat mata dengan Adipati Hadiwijaya.

Sesuai paugeran, lurah prajurit itu meminta Ki Tumenggung untuk berhenti di anak tangga terbawah, sementara ia akan menaiki anak tangga pendapa. Namun di saat bersamaan, Adipati Hadiwijaya melambaikan tangan dan meminta keduanya untuk naik bersama-sama.

“Kemarilah kalian berdua. Dan orang itu memang benar seorang tumenggung yang aku kenal baik. Ki Tumenggung Suradilaga,” kata Adipati Hadiwijaya.

Keduanya bergegas menapaki anak tangga dan menghaturkan hormat pada Adipati Hadiwiajaya.

“Kedatanganmu telah mengejutkan aku. Terlebih lagi, Ki Tumenggung datang dalam keadaan yangjauh berbeda dengan biasanya,” kembali Adipati Hadiwijaya berkata setelah menerima sembah hormat kedua orang itu.

Ki Tumenggung Suradilaga mengangguk hormat, lalu katanya,”Kanjeng Adipati, jika aku datang dengan pakaian seorang tumenggung maka itu akan mendatangkan kesulitan bagiku. Karena seperti inilah yang diinginkan oleh Kanjeng Sultan Trenggana.”

Adipati Hadiwijaya agaknya tanggap dengan ungkapan yang tersirat di balik kata-kata Ki Tumenggung Suradilaga.

Ia berkata seraya mengangkat tangan,”Ki Rangga Sambaga dan Ki Lurah, kalian dapat meninggalkan kami berdua. Agaknya Ki Tumenggung ingin menyampaikan kisah padaku tentang seorang pendeta yang mungkin ia jumpai di perjalanan. Silahkan!”

“Kami dengarkan, Kanjeng Adipati,” sahut keduanya lalu meminta diri dari hadapan Adipati Hadiwijaya dan Ki Tumenggung Suradilaga.

“Apakah Ki Tumenggung akan lebih dahulu mengendurkan urat syaraf ataukah Ayahanda mempunyai keinginan yang lain? Tempat bagi Ki Tumenggung telah dipersiapkan sebelum kedatangan Ki Tumenggung duduk di pendapa,” wibawa dan ketegasan Adipati Hadiwijaya jelas terlihat ketika ia mengatakan itu. Meskipun sepintas seperti sebuah basa basi, akan tetapi Ki Tumenggung Suradilaga dapat menangkap maksud yang berbeda dari apa yang ia dengar. Untuk beberapa saat ia berdiam diri. Kemudian perlahan ia menurunkan kain putih yang terselempang di depan dadanya.

“Kanjeng Adipati, kiranya sudi menerima serta memeriksa benda yang ada di dalam kain putih ini,” bergetar suara Ki Tumenggung Suradilaga saat berucap kata-kata. Ia beringsut maju setapak demi setapak menghaturkan benda keramat itu ke hadapan Adipati Hadiwijaya.

Dengan menjulurkan kedua lengannya, Adipati Hadiwijaya menerimanya dari Ki Tumenggung Suradilaga. Agaknya ia telah menduga isi bungkusan kain putih itu,  dengan berhati-hati ia membuka bungkusan itu dan menarik keluar isinya.

“Keris Sabuk Inten!” desis terkejut Adipati Hadiwijaya melihat sebilah keris pusaka yang kini berada dalam genggaman tangan kanannya.  Ia lantas membuat gerakan untuk memberi penghormatan pada piandel pusaka yang telah berusia sangat tua. Keris Sabuk Inten dibuat pada jaman Majapahit terakhir. Ki Tumenggung Suradilaga segera mengikuti setiap gerak penghormatan yang dilakukan oleh Adipati Hadiwijaya. Sejenak kemudian keduanya telah bersikap tenang dalam duduknya.

“Aku harap kau tidak salah mengerti, Ki Tumenggung,” kata Adipati Hadiwijaya kemudian. Ki Tumenggung Suradilaga mengangguk dalam-dalam dan menunggu kelanjutan dari kata-kata Adipati Hadiwijaya.

“Itu semua bukanlah bentuk penyembahan pada sebuah benda mati yang pada dasarnya memang tidak memiliki kehendak dan tidak pula dapat berbuat apa-apa. Gerakan itu memang sepintas akan mirip dengan gerakan menyembah Yang Maha Perkasa, akan tetapi sesungguhnya gerakan yang aku lakukan dan kau ikuti adalah sebuah penghormatan. Aku menghargai kerja keras dari empu yang membuat keris ini, aku menghormati Kanjeng Sunan yang memberikannya sebagai hadiah pada Majapahit. Aku mengingat semua peristiwa yang terjadi di sekitar keris ini berada di masa lalu,” Adipati Hadiwijaya menarik nafas panjang.

Ia melanjutkan kemudian,” Di dalam Keris Sabuk Inten banyak peristiwa yang terjadi, baik berhubungan secara langsung dengan keberadaan keris ini atau tidak langsung. Dengan kata lain, aku menghormati sebuah sejarah panjang dan dalam perjalanan sejarah itu sendiri terkandung nilai-nilai yang luar biasa. Kemudian apabila kita berjalan lebih jauh dan menyelam lebih dalam, kau akan temui kebesaran Yang Maha Perkasa dalam setiap lekuk, setiap guratan dan ukiran keris yang memancar keluar darinya.” Ia mendesah, lalu berkata lagi,” Namun kini setiap orang seperti sudah tidak peduli lagi dengan perjalanan hidupnya.”

Ki Tumenggung Suradilaga menunduk dalam-dalam. Dalam hatinya, ia membenarkan setiap kata yang diucapkan oleh Adipati Hadiwijaya. Namun ia juga mengakui kebodohan yang ada dalam dirinya yang pada mulanya hanya mengira sebilah Keris Sabuk Inten adalah pusaka yang mumpuni dan pilih tanding. Ia mengusap wajahnya dan menyadari jika keris yang melekat pada tubuhnya selama beberapa hari itu sebenarnya mempunyai arti yang lebih besar dibandingkan wujud nyatanya.

“Sebenarnya Keris Sabuk Inten ini dititipkan padamu untuk kau tunjukkan padaku dengan satu pesan khusus dari Ayahanda,” tiba-tiba Adipati Hadiwjaya berkata dengan tegas dan tajam.

“Aku mendengar, Kanjeng Adipati,” sahut Ki Tumenggung.

Adipati Hadiwijaya tidak meneruskan kata-katanya, kini ia memandang lekat Keris Sabuk Inten yang berada di pangkuannya.

“Apakah seperti itu yang menjadi pesan Ayahanda?” ia bertanya pada dirinya sendiri. Untuk waktu yang cukup lama Adipati Hadiwijaya merenungi pesan dari Sultan Trenggana yang ada di setiap bagian keris. Ia mengangkat wajahnya, lalu,” Mungkin aku telah mengerti pesan Ayahanda. Lalu apa yang akan kau katakan padaku?”

Ki Tumenggung Suradilaga mengangkat wajahnya sebentar kemudian ia kembali melihat lantai dibawahnya. Adipati Hadiwijaya agaknya menyadari jika pesan itu sangat penting hingga dapat menyebabkan gejolak bergemuruh dalam hati orang yang duduk di hadapannya. Ia sabar menunggu Ki Tumenggung Suradilaga untuk mengendapkan perasaan.

Tanpa mereka berdua sadari, waktu telah merambat menuju senja. Matahari perlahan-lahan menapak jalan turun di balik punggung bukit-bukit yang terhampar di sebelah barat Pajang. Sementara di regol pendapa juga telah terjadi pergantian prajurit jaga dan para perondan mulai mempersiapkan diri untuk menempuh waktu panjang malam hari.

Kesejahteraan rakyat Pajang telah menjadi perhatian utama Adipati Hadiwijaya. Di musim kemarau yang panjang, mereka masih mempunyai persediaan bahan pangan yang cukup, sementara perangkat kadipaten bahu membahu menjaga aliran air agar tetap dapat melintasi parit-parit yang bertebaran di tlatah Pajang. Adipati Hadiwijaya sendiri tak segan untuk mendatangkan para pande besi yang terampil dari luar Pajang. Mereka dikumpulkan dan mendapat pembinaan untuk menularkan kemampuan mereka pada rakyat Pajang. Lalu hasil kerajinan berbahan besi itu kemudian dapat diperdagangkan dengan wilayah-wilayah sekitar Pajang. Bahkan Adipati Hadiwijaya sering memerintahkan untuk mengirim alat-alat pertanian pada wilayah-wilayah yang membutuhkan tanpa ada kewajiban bagi mereka untuk membeli alat-alat itu.

Di bagian keamanan sendiri, jarang sekali terjadi kejahatan di sekitar Pajang. Para prajurit dengan rutin melakukan perondaan dalam waktu yang tidak teratur. Terkadang mereka berjalan jauh dalam satu kelompok besar dalam satu pekan, terkadang mereka terliht dalam kelompok-kelompok kecil yang bergerak cepat di pekan yang berbeda. Bahkan sering kali mereka membelah kelompok besar dan kecil dan mengitari bagian dalam dan luar Pajang seolah-olah terjadi peperangan. Satu dua gerombolan penjahat pernah mencoba memanfaatkan jeda yang ada, akan tetapi mereka salah menduga. Mereka justru melakukan kejahatan pada saat prajurit Pajang melakukan latihan peperangan di dalam kota.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (1)
  • dede_pratiwi

    nice story broh. ditunggu kelanjutannya :)

    Comment on chapter Penaklukan Panarukan 1
Similar Tags
Hidup Lurus dengan Tulus
264      235     4     
Non Fiction
Kisah epik tentang penaklukan Gunung Everest, tertinggi di dunia, menjadi latar belakang untuk mengeksplorasi makna kepemimpinan yang tulus dan pengorbanan. Edmund Hillary dan Tenzing Norgay, dalam ekspedisi tahun 1953, berhasil mencapai puncak setelah banyak kegagalan sebelumnya. Meskipun Hillary mencatatkan dirinya sebagai orang pertama yang mencapai puncak, peran Tenzing sebagai pemandu dan pe...
When You're Here
2776      1357     3     
Romance
Mose cinta Allona. Allona cinta Gamaliel yang kini menjadi kekasih Vanya. Ini kisah tentang Allona yang hanya bisa mengagumi dan berharap Gamaliel menyadari kehadirannya. Hingga suatu saat, Allona diberi kesempatan untuk kenal Gamaliel lebih lama dan saat itu juga Gamaliel memintanya untuk menjadi kekasihnya, walau statusnya baru saja putus dari Vanya. Apa yang membuat Gamaliel tiba-tiba mengin...
Secret Elegi
4912      1649     1     
Fan Fiction
Mereka tidak pernah menginginkan ikatan itu, namun kesepakatan diantar dua keluarga membuat keduanya mau tidak mau harus menjalaninya. Aiden berpikir mungkin perjodohan ini merupakan kesempatan kedua baginya untuk memperbaiki kesalahan di masa lalu. Menggunakan identitasnya sebagai tunangan untuk memperbaiki kembali hubungan mereka yang sempat hancur. Tapi Eun Ji bukanlah gadis 5 tahun yang l...
AraBella [COMPLETED]
44030      6239     13     
Mystery
Mengapa hidupku seperti ini, dibenci oleh orang terdekatku sendiri? Ara, seorang gadis berusia 14 tahun yang mengalami kelas akselerasi sebanyak dua kali oleh kedua orangtuanya dan adik kembarnya sendiri, Bella. Entah apa sebabnya, dia tidak tahu. Rasa penasaran selalu mnghampirinya. Suatu hari, saat dia sedang dihukum membersihkan gudang, dia menemukan sebuah hal mengejutkan. Dia dan sahabat...
Aku Bukan Kafir!
11436      2996     6     
Inspirational
Pemuda itu bernama Arman, suku jawa asli yang lahir dari seorang buruh sawah di daerah pelosok Desa Peloso, salah satu Desa di Jombang. Ngatini adalah adik dari almarhumah Ibu kandung Arman yang naik ranjang, menikah dengan Pak Yusup yang biasa dipanggil Lek Yusup, Bapak kandung Arman, yang biasa dipanggil Lek Yusup oleh orang-orang sawah. Sejak kecil Arman selalu ikut Lek Yusuf ke sawah. Hingga ...
In Love With the Librarian
17843      3987     14     
Romance
Anne-Marie adalah gadis belia dari luar kota walaupun orang tuanya kurang mampu, ia berhasil mendapatkan beasiswa ke universitas favorite di Jakarta. Untuk menunjang biaya kuliahnya, Anne-Marie mendaftar sebagai pustakawati di kampusnya. Sebastian Lingga adalah anak tycoon automotive yang sombong dan memiliki semuanya. Kebiasaannya yang selalu dituruti siapapun membuatnya frustasi ketika berte...
Paragraf Patah Hati
6516      2400     3     
Romance
Paragraf Patah Hati adalah kisah klasik tentang cinta remaja di masa Sekolah Menengah Atas. Kamu tahu, fase terbaik dari masa SMA? Ya, mencintai seseorang tanpa banyak pertanyaan apa dan mengapa.
BANADIS 2
11347      2260     6     
Fantasy
Banadis, sebuah kerajaan imajiner yang berdiri pada abad pertengahan di Nusantara. Kerajaan Banadis begitu melegenda, merupakan pusat perdagangan yang maju, Dengan kemampuan militer yang tiada tandingannya. Orang - orang Banadis hidup sejahtera, aman dan penuh rasa cinta. Sungguh kerajaan Banadis menjadi sebuah kerajaan yang sangat ideal pada masa itu, Hingga ketidakberuntungan dialami kerajaan ...
THE LIGHT OF TEARS
20544      4629     61     
Romance
Jika mencintai Sari adalah sebuah Racun, Sari adalah racun termanis yang pernah Adam rasakan. Racun yang tak butuh penawar. Jika merindukan Sari adalah sebuah kesalahan, Sari adalah kesalahan terindah yang pernah Adam lakukan. Kesalahan yang tak perlu pembenaran. Jika menyayangi Sari adalah sebuah kegelapan, Sari adalah kegelapan yang hakiki yang pernah Adam nikmati. Kegelapan yang tak butuh pene...
When Heartbreak
2882      1202     0     
Romance
Sebuah rasa dariku. Yang tak pernah hilang untukmu. Menyatu dengan jiwa dan imajinasiku. Ah, imajinasi. Aku menyukainya. Karenanya aku akan selalu bisa bersamamu kapanpun aku mau. Teruntukmu sahabat kecilku. Yang aku harap menjadi sahabat hidupku.