Pangeran Parikesit lurus menatap wajah Adipati Hadiwijaya. Kedua tangan Pangeran tertangkup dibawah ujung dagunya. Sementara ia menimbang untuk menjelaskan tujuan dari rencananya, kemudian suara Ki Buyut terdengar bertanya padanya,”Kakang, bagaimana Kakang menyebarkan berita itu di luar kota Demak?”
“Apabila rencana itu aku sebarkan di dalam kota, maka kemungkinan kecil akan dapat mencapai tepi jurang Merbabu dan lereng Merapi,” Pangeran Parikesit kemudian bangkit dan bergeser setapak lebih dekat pada Adipati Hadiwjaya.
“Paman Pangeran, aku belum dapat mengerti latar belakang Paman dengan menyebarkan bahwa akan ada seorang pangeran Majapahit yang akan mengambil alih Demak pada saat Kanjeng Sultan menyeberangi perbatasan. Siapakah pangeran yang dimaksud Paman?” Adipati Pajang bertanya dengan kening berkerut. Lantas ia berkata lagi,”Karena setiap orang akan tahu bahwa memang ada dua pangeran yang berada dalam poros kekuatan Demak.” Adipati Hadiwijaya lantas memandang ayahnya, Ki Buyut Mimbasara, lalu sorot matanya beralih pada Pangeran Parikesit.
Pangeran Parikesit tersenyum sambil manggut-manggut. Katanya,”Tentu saja akan terjadi kehebohan yang luar biasa di kota Demak dan sudah pasti berita itu akan mengganggu persiapan Kanjeng Sultan. Kau tentu tahu tentang kemungkinan itu.”
Adipati Hadiwijaya mengangguk.
Pangeran Parikesit lantas meneruskan,”Karena aku tidak ingin mengguncang Demak dengan berita bohong, maka rencana itu aku susupkan melalui Kidang Tlangkas. Ia memberitahu pada orang-orang yang berdiam di daerah-daerah yang jarang dilewati oleh orang-orang dalam perjalanan menuju Demak. Aku mempunyai keinginan untuk membawa keluar sekelompok orang yang masih menyimpan kemauan untuk melanjutkan Majapahit. Tetapi mereka bukan dari kalangan kita.”
Ki Buyut Mimbasara merenungi penjelasan Pangeran Parkesit. Ia berkata lirih,”Kakang berkata jika mereka bukan dari kalangan kita, lalu siapakah mereka?”
“Para tumenggung yang ingin meraih kedudukan puncak. Mereka berbalik arah dengan melawan Majapahit, sedangkan perintah Ramanda telah jelas bahwa setiap orang dari keturunannya tidak diizinkan mengangkat senjata melawan Raden Fatah,” Pangeran Parikesit diam sejenak. Kemudian ia melanjutkan,”Matahari tetap datang berkunjung dalam waktu-waktu yang kita telah melihatnya sendiri, dan ia akan melangkah surut saat berada di balik punggung bukit. Begitu pula para tumenggung itu. Lambat laun usaha mereka memburu keturunan Ramanda menjadi padam. Dan hanya menyisakan satu atau dua kelompok yang tetap dapat bertahan hingga sekarang. Mereka hidup terpisah dalam banyak pedukuhan yang tersebar di kaki Merbabu dan Merapi. Dan agar mereka bersedia keluar, maka aku perintahkan Kidang Tlangkas menyebar kabar tentang pangeran Majapahit yang akan memberontak.”
“Lalu Kakang Parikesit menyebut nama tentang pangeran yang akan memberontak itu?” Ki Buyut Mimbasara masih belum dapat menduga tentang nama yang digunakan Pangeran Parikesit untuk memancing keluar para penentang.
Sambil menganggukkan kepala, Pangeran Parikesit tersenyum dan jawabnya,” Kakang Jaka Daplang.”
Orang-orang pun menahan rasa kaget. Kata Ki Buyut Mimbasara kemudian,”Kakang Jaka Daplang adalah orang yang paling keras bersuara menentang rencana Raden Fatah untuk menyatukan Majapahit di bawah panji Demak. Namun kemudian setelah Ramanda berbicara dengannya, Kakang Jaka Daplang lalu memilih untuk mengasingkan diri. Ia dapat menerima penjelasan Ramanda Brawijaya, namun ia tidak mampu melihat sebuah kenyataan yang menurutnya tidak perlu terjadi pemaksaan kehendak.”
Pangeran Parikesit lalu menambahkan,”Mengingat kerasnya hati Kakang Jaka Daplang kala itu dan berita itu pun sudah tersebar ke seluruh penjuru, aku berpikir bahwa Kakang Jaka Daplang adalah alasan yang dapat diterima oleh para penentang untuk merebut tahta Demak dan mengembalikannya pada Majapahit. Dan rencanaku diuntungkan oleh satu sebab bahwa tidak ada seorang pun yang tahu kepergian Kakang Jaka Daplang dari istana selain keluarganya sendiri.”
Ia diam sejenak. Lanjutnya,”Aku telah pergi menemuinya di sisi timur lereng Lawu dan ia menyetujui rencana itu.”
Lalu mereka bertukar pandang sambil menebar senyum lebar.
“Aku mendengar kabar berita pemberontakan itu dari beberapa petugas sandi Demak, aku juga mengetahui tempat pelarian para tumenggung itu ketika mereka gagal menggunakan dua sisi senjata, namun sebagian mereka memilih untuk berdiri di bawah panji Demak. Hanya saja yang mengganjal hatiku adalah Ayahanda Sultan tidak melakukan apapun terhadap rencana pemberontakan itu. Tetapi aku tidak menyangka jika ini semua adalah rencana Paman Pangeran,” kata Adipati Hadiwijaya tersenyum. Kemudian ia menarik nafas panjang, dan dengan tatap mata yang tajam ia bertanya pada Pangeran Parikesit,”Lalu, apakah kelompok yang dapat bertahan itu mempunyai hubungan dengan Jaka Wening,Paman?”
“Angger Sultan Trenggana tidak akan melakukannya karena memang berita itu tidak pernah terdengar olehnya,” senyuim Pangeran Parikesit masih belum lepas dari wajahnya. Kemudian,”Aku tidak dapat memastikan hubungan itu dengan Wayah Pangeran Benawa, Ngger,” jawab Pangeran Parikesit sambil menarik nafas panjang. Lalu ia menoleh pada Ki Buyut Mimbasara seolah meminta persetujuan dan katanya,”Tetapi aku dapat memastikan jika kau akan mengalami gangguan dalam perjalananmu menuju Demak.”
Meskipun Pangeran Parikesit tidak melihat padanya, namun Adipati Pajang terhenyak mendengar ucapan Pangeran Parikesit karena ia tahu bahwa ucapan itu ditujukan padanya, meskipun ia tidak mempunyai rasa gentar dalam dadanya tetapi ucapan pamannya itu menarik perhatiannya. Adipati Hadiwijaya mengangguk-angguk seolah mengerti maksud Pangeran Parieksit, ia berkata kemudian,” Tentu saja orang yang akan melakukannya telah memperhitungkan segala akibatnya. Dan mungkin karena alasan keamanan bagi dirinya itulah akhirnya ia mengambil Jaka Wening sebagai taruhan.”
“Tidak sesederhana itu, Ngger,” sahut Ki Buyut Mimbasara. Adipati Hadiwijaya berpaling pada ayahnya dengan sorot mata bertanya.
Ki Buyut lantas mengangguk. Katanya,”Aku tidak mendengar berita dari petugas sandi maupun para peronda tentang kehadiran sekelompok atau beberapa orang yang mencurigakan. Artinya disini adalah para penentang itu bergerak dalam jumlah kecil, dan tentu saja mungkin kemampuan mereka seimbang dengan kita semua yang ada disini.”
“Bagaimana mungkin? Seluruh orang di wilayah Demak telah mengetahui ketinggian ilmu Paman Pangeran dan Paman Getas Pendawa. Maksudku adalah mereka mempunyai peluang yang sangat kecil, Ayah,” kata Adipati Hadiwijaya.
Ki Buyut Mimbasara menggelengkan kepala lalu katanya,“ Peluang yang kecil itu akan dapat meraih hasil yang besar apabila mereka telah menempatkan orang-orang yang tepat dalam keadaan yang mereka inginkan. Mungkin mereka akan menghadangmu dan menebas para pengawal seperti ilalang, dan mungkin juga mereka akan menyerangmu dikala Kakang Sultan telah keluar dari Demak.”
“Kiai Rontek. Tentu Angger Adipati telah mengenal nama itu?” bertanya Ki Getas Pendawa kemudian.
Seruan tertahan keluar dari bibir Adipati Hadiwijaya, kemudian,”Jika nama itu kembali muncul di tlatah Pajang atau Demak, ini akan menjadi berita buruk bagi orang-orang. Aku tidak menduga jika akhirnya nama itu kembali diucapkan.”
“Aku telah mendorongmu untuk mengingat sebuah nama, tetapi kau tidak beranjak dari tempatmu saat ini,” sahut Ki Getas Pendawa.
“Karena aku telah melupakannya,Paman,” kata Adipati Hadiwijaya.
“Sebenarnya aku ingin mengatakan bahwa Kiai Rontek mempunyai kaitan erat dengan Wayah Pangeran, tetapi kemudian kita semua terbawa oleh Kidang Tlangkas dengan rencana Kakang Parikesit,” berkata Ki Buyut. “Lalu, apa rencanamu?”
Keadaan di dalam ruangan seketika menjadi hening. Ki Getas Pendawa dan Pangeran Parikesit nampaknya lebih memilih untuk menunggu ayah kandung Pangeran Benawa itu mengungkap rencana. Sekali-kali mereka mengalihkan tatap mata pada Ki Buyut Mimbasara yang saat itu terlihat begitu tenang. Namun mereka mengerti dibalik ketenangan Ki Buyut Mimbasara ada selarik petir yang siap meledakkan Merapi. Dalam pada itu, Adipati Hadiwijaya sedang berusaha mencari jalan keluar yang damai. Sejurus kemudian, ia berkata,”Aku tidak mungkin membatalkan kepergianku ke Demak. Pembatalan ini akan menjadikan Demak mudah diguncang oleh berita apapun, sekalipun Ayahanda Sultan tidak mungkin pula membatalkan rencananya untuk menaklukkan Panarukan.”
“Betul,” kata Ki Buyut tegas. Sementara Ki Getas Pendawa dan Pangeran Parikesit mengangguk setuju.
“Untuk sementara waktu, aku telah mewakilkan Pajang pada Ki Tumenggung Sambaga. Dan aku akan pergi ke Demak bersama Ayah,” kata Adipati Hadiwijaya seraya menoleh pada Ki Buyut Mimbasara untuk meminta persetujuan.
“Ki Tumenggung Sambaga?” bertanya Ki Buyut.
Adipati Pajang menganggukkan kepala dan katanya,”Aku telah mewisudanya sebagai tumenggung dalam upacara kecil dua hari yang lalu.”
“Angger Adipati, sebenarnya aku lebih mempunyai kepentingan di Demak jika dibandingkan dengan ayahmu,” Pangeran Parikesit berkata kemudian.
nice story broh. ditunggu kelanjutannya :)
Comment on chapter Penaklukan Panarukan 1