Loading...
Logo TinLit
Read Story - MERAH MUDA
MENU
About Us  

Hari ini, aku tahu semuanya telah berakhir. Kau tak lagi menunggu aku mengangkat teleponmu seperti biasanya, kau tak lagi menoleh seperti dulu-dulu saat kita berpapasan di warung sebelah rumahku, kau tak lagi mengatakan kalimat-kalimat yang awalnya ku anggap sepele. Sekarang aku tahu, hal sepele itu ternyata dapat mengartikan sebuah hal besar. Aku mengenang setiap momen kita saling teleponan. Aku berhenti, aku tahu semuanya telah berakhir.

***

Masih teringat, dulu kau sering menelpon. Sesekali ku abaikan, tapi lebih banyak ku angkat dengan penuh semangat. Meskipun kita sering berkomunikasi, tapi kau hanya menganggap dirimu kakak untukku. Sejak awal sepertinya pengartian itu sudah salah, karena aku tidak mau dianggap adik.

Sampai suatu malam, kau bercerita habis-habisan tentang orang yang kau sukai. Kau menceritakan betapa cantiknya dia, betapa manisnya dia, betapa pintarnya dia, betapa lembutnya dia. Aku diam.

“Aku tidak tahu lagi mengapa ada wanita tercipta seperti dia. Terlalu sempurna untuk ku kenali.” Katamu semangat.

Aku masih diam.

“Hei, jangan diam dong. Rainy, kamu masih dengar, kan?”

Aku memperbaiki dudukku, berusaha tersenyum. Lalu bertanya,

 “Kalau Aku?”

Kakak tertawa. Ah, aku masih ingat jelas, lebih dari semenit aku mendengar tawamu.

“Tentu saja kamu juga cantik, baik, pintar...” Jawabmu akhirnya.

“Lalu?”

“Lalu apa?”

“Kenapa... aku hanya adik?”

Kau terdiam begitu lama.

“Karena kamu memang adikku Rainy!!!”

Kau berusaha menjawabnya dengan tenang, tapi aku tahu kau mulai mengerti maksudku. Aku tersenyum.. namun baru kali itu senyuman terasa sangat menyakitkan. Aku bahkan bisa merasakan tubuhku bergetar hebat setelah percakapan. Mataku panas, seakan-akan air mata mendorong paksa untuk bisa menampakkan diri. Sungguh sangat menyakitkan hingga paru-paruku susah untuk bekerja. Sangat amat menyakitkan. Lalu beberapa hari kemudian, kau menelpon seperti biasanya. Menanyakan kabar dengan penuh kecemasan.

“Maaf karena kemarin-kemarin aku tidak menelpon. Bagaimana kabarmu Rainy? Jangan bilang sakit ya!”

“Emm.. tidak terlalu baik. Kadang batuk karena asap rokok.”

“Hm.. asap rokok ya....” Jawabmu.

“Kakak merokok?”

“Iya...”

Aku terdiam, memikir pertanyaan yang ingin ku ajukan lagi.

“Kakak pernah minum minuman haram?”

“I... iya...”

“Kakak.....” aku tidak tahu lagi harus menanyakan apa.

“Memangnya kenapa? Kamu tidak keberatan kan?”

“Iya.”

“Rainy, aku sangat suka orang yang berkata ‘iya’ “

Kalimat itu adalah kalimat terakhirmu untukku di tahun 2011. Aku sangat kecewa karena teleponnya tiba-tiba putus dan kau tak kunjung menelpon lagi. Aku masih ingat, kau menyuruhku untuk tidak menelponmu lebih dulu. Alasannya sederhana;

“Jangan habiskan pulsamu untuk aku.”

Aku yakin, kau, Kakak, belum pernah merasakan rindu seberat apa.

***

Hari-hari berlalu dan aku masih menunggu teleponmu. Sesekali aku mengecek beberapa media sosialmu, namun tampaknya kau tidak disana. Dibeberapa kesempatan aku bahkan sengaja lewat depan rumahmu, namun kosong disana.

Kau tetangga yang lucu, pikirku diawal mengenalmu. Sering beli beras disamping rumahku, tapi tidak pernah pulang lewat depan rumahku. Kau lebih memilih jalan satu putaran untuk sampai dirumah. Aku sering bertanya kenapa, dan katamu;

“Aku tidak mau kalau kamu lihat aku ngangkat beras.”

Atau kau mencari alasan lain kalau sedang bosan mengatakan itu.

“Mau olahraga, biar jadi sehat!”

Aku hanya senyum kalau kau mengatakan hal itu, tapi aku tahu itu bukan alasan utamamu. Kata Ibumu, mungkin saja kau tidak mau lewat depan rumah karena malu bertemu denganku. Kata Ibuku, kau tidak percaya diri, bisanya hanya menelpon saja.

Aku tidak peduli dengan alasan-alasan kau. Yang jelas sekarang aku benar-benar rindu dengan ucapan-ucapanmu yang tidak penting itu. Kalimat sepele yang penuh akan makna.

Setiap sore aku duduk didepan rumah, siapa tahu kau lelah untuk olahraga atau tidak sedang membeli beras. Sapaan “Hai” atau “Rainy!” dari suara khas milikmu sangat aku rindukan. Kau tahu? Aku tidak tahan tidak mendengar suaramu!

Aku tidak bisa!

***

Kemarin sore, aku bertemu dengan temanmu, si Dani. Kau ingat Kang Dani kan? Lelaki Sunda yang masih tergolong tetangga baru di komplek ini. Lelaki Sunda yang juga tergolong ke anak cowok paling jail di komplek ini.

Aku menanyakan kabarmu, dia bilang kau baik-baik saja.

“Hamid mah masih sering makan depan komplek.”

Itu kata Kang Dani, Kau masih sering makan di rumah makan depan komplek. Katanya juga, Kau masih sering bermain futsal di lapangan sebelah sekolahku. Tapi Kang Dani juga bilang;

“Tapi Hamid lagi ngurusin sesuatu, teh. Kayaknya lagi sibuk banget.”

Awalnya Aku tidak tahu kenapa kau tiba-tiba menghilang dariku, tapi sepertinya karena kesibukanmu itu. Bahkan Kang Dani juga tidak tahu kau sedang mengurusi apa. Tapi satu yang jelas, kau berbohong padaku.

Kang Dani yang kemarin aku temui di warung samping rumahku mengatakan, kau tidak merokok. Kau tidak pernah minum minuman haram. Diajak untuk menginap di rumah Kak Andre saja kau takut. Kau terlalu takut melakukan dosa.

Saat pulang ke rumah, aku sadar. Kau menjelek-jelekkan dirimu di hadapanku. Kau membuatku ingin melupakanmu. Kau tidak mau membalas perasaanku. Kau... memang hanya menganggapku adik.

Rasanya begitu sakit.

Rasanya begitu sakit.

Rasanya begitu sakit.

***

Pagi ini, masih sama seperti kemarin-kemarin. Kau belum juga menelponku. Sudah terhitung dua bulan sejak terakhir kau menelpon dengan penuh kecemasan. Ini rekor terbarumu. Aku harap kau tidak membuat rekor yang lebih lama lagi.

Saat aku hendak membeli sabun cuci muka di warung sebelah, Ibu menghentikan langkahku. Katanya aku harus sisir dulu sebelum keluar rumah. Aku hanya mengikuti perintahnya tanpa bicara, tapi tiba-tiba langkahku terhenti melihat Ibu yang sedang membaca.

Ibu mengerutkan keningnya,

“Ada apa?” Tanyanya.

Aku menggelengkan kepala, segera ke kamar dan menyisir rambut. Setelah membeli sabun cuci muka, aku mengambil selembar kertas yang tadi Ibu baca. Sekarang aku lihat Ibu sedang memasak sarapan pagi.

Warnanya merah mudah dengan pita putih yang cantik. Tulisannya dari tinta emas yang berkilauan disetiap mata yang melihatnya. Aku duduk di kursi ruang tengah. Dalam hati mengumpat sebanyak-banyaknya untuk kau, Kakak.

Hari ini, aku tahu semuanya telah berakhir. Kau tak lagi menunggu aku mengangkat teleponmu seperti biasanya, kau tak lagi menoleh seperti dulu-dulu saat kita berpapasan di warung sebelah rumahku, kau tak lagi mengatakan kalimat-kalimat yang awalnya ku anggap sepele. Sekarang aku tahu, hal sepele itu ternyata dapat mengartikan sebuah hal besar. Aku mengenang setiap momen kita saling teleponan.

***

“Undangan Pernikahan

11 Februari 2012

Hamid Syahdani Ihsan & Raisyana Adinda Putri

Untuk:

Abdul Karim M.Sc & Nyonya”

Air mataku jatuh tak tertahankan. Ku usap undangan itu, warnanya merah muda. Warna kesukaanku, tapi sekarang aku benci.

Aku berhenti, aku tahu semuanya telah berakhir. Sudah berakhir, untuk hal yang sebenarnya bahkan belum pernah bermula.

Kak Hamid, semoga pernikahanmu berkah.

MERAH MUDA

Hari itu, aku tahu semuanya telah berakhir. Kita berjalan bersama namun langkah kita berbeda. Kau tak lagi menunggu seperti biasanya, kau tak lagi menoleh seperti dulu-dulu, kau tak lagi melakukan hal yang awalnya ku anggap sepele. Sekarang aku tahu, hal sepele itu ternyata dapat mengartikan sebuah keputusan besar. Aku berhenti, aku tahu semuanya telah berakhir.

***

Masih teringat, dulu kau sering menelpon. Sesekali ku abaikan, tapi lebih banyak ku angkat dengan penuh semangat. Meskipun kita sering berkomunikasi, tapi kau hanya menganggap dirimu kakak untukku. Sejak awal sepertinya pengartian itu sudah salah, karena aku tidak mau dianggap adik.

Sampai suatu malam, kau bercerita habis-habisan tentang orang yang kau sukai. Kau menceritakan betapa cantiknya dia, betapa manisnya dia, betapa pintarnya dia, betapa lembutnya dia. Aku diam.

“Aku tidak tahu lagi mengapa ada wanita tercipta seperti dia. Terlalu sempurna untuk ku kenali.” Katamu semangat.

Aku masih diam.

“Hei, jangan diam dong. Rainy, kamu masih dengar, kan?”

Aku memperbaiki dudukku, berusaha tersenyum. Lalu bertanya,

 “Kalau Aku?”

Kakak tertawa. Ah, aku masih ingat jelas, lebih dari semenit aku mendengar tawamu.

“Tentu saja kamu juga cantik, baik, pintar...” Jawabmu akhirnya.

“Lalu?”

“Lalu apa?”

“Kenapa... aku hanya adik?”

Kau terdiam begitu lama.

“Karena kamu memang adikku Rainy!!!”

Kau berusaha menjawabnya dengan tenang, tapi aku tahu kau mulai mengerti maksudku. Aku tersenyum.. namun baru kali itu senyuman terasa sangat menyakitkan. Aku bahkan bisa merasakan tubuhku bergetar hebat setelah percakapan. Mataku panas, seakan-akan air mata mendorong paksa untuk bisa menampakkan diri. Sungguh sangat menyakitkan hingga paru-paruku susah untuk bekerja. Sangat amat menyakitkan. Lalu beberapa hari kemudian, kau menelpon seperti biasanya. Menanyakan kabar dengan penuh kecemasan.

“Maaf karena kemarin-kemarin aku tidak menelpon. Bagaimana kabarmu Rainy? Jangan bilang sakit ya!”

“Emm.. tidak terlalu baik. Kadang batuk karena asap rokok.”

“Hm.. asap rokok ya....” Jawabmu.

“Kakak merokok?”

“Iya...”

Aku terdiam, memikir pertanyaan yang ingin ku ajukan lagi.

“Kakak pernah minum minuman haram?”

“I... iya...”

“Kakak.....” aku tidak tahu lagi harus menanyakan apa.

“Memangnya kenapa? Kamu tidak keberatan kan?”

“Iya.”

“Rainy, aku sangat suka orang yang berkata ‘iya’ “

Kalimat itu adalah kalimat terakhirmu untukku di tahun 2011. Aku sangat kecewa karena teleponnya tiba-tiba putus dan kau tak kunjung menelpon lagi. Aku masih ingat, kau menyuruhku untuk tidak menelponmu lebih dulu. Alasannya sederhana;

“Jangan habiskan pulsamu untuk aku.”

Aku yakin, kau, Kakak, belum pernah merasakan rindu seberat apa.

***

Hari-hari berlalu dan aku masih menunggu teleponmu. Sesekali aku mengecek beberapa media sosialmu, namun tampaknya kau tidak disana. Dibeberapa kesempatan aku bahkan sengaja lewat depan rumahmu, namun kosong disana.

Kau tetangga yang lucu, pikirku diawal mengenalmu. Sering beli beras disamping rumahku, tapi tidak pernah pulang lewat depan rumahku. Kau lebih memilih jalan satu putaran untuk sampai dirumah. Aku sering bertanya kenapa, dan katamu;

“Aku tidak mau kalau kamu lihat aku ngangkat beras.”

Atau kau mencari alasan lain kalau sedang bosan mengatakan itu.

“Mau olahraga, biar jadi sehat!”

Aku hanya senyum kalau kau mengatakan hal itu, tapi aku tahu itu bukan alasan utamamu. Kata Ibumu, mungkin saja kau tidak mau lewat depan rumah karena malu bertemu denganku. Kata Ibuku, kau tidak percaya diri, bisanya hanya menelpon saja.

Aku tidak peduli dengan alasan-alasan kau. Yang jelas sekarang aku benar-benar rindu dengan ucapan-ucapanmu yang tidak penting itu. Kalimat sepele yang penuh akan makna.

Setiap sore aku duduk didepan rumah, siapa tahu kau lelah untuk olahraga atau tidak sedang membeli beras. Sapaan “Hai” atau “Rainy!” dari suara khas milikmu sangat aku rindukan. Kau tahu? Aku tidak tahan tidak mendengar suaramu!

Aku tidak bisa!

***

Kemarin sore, aku bertemu dengan temanmu, si Dani. Kau ingat Kang Dani kan? Lelaki Sunda yang masih tergolong tetangga baru di komplek ini. Lelaki Sunda yang juga tergolong ke anak cowok paling jail di komplek ini.

Aku menanyakan kabarmu, dia bilang kau baik-baik saja.

“Hamid mah masih sering makan depan komplek.”

Itu kata Kang Dani, Kau masih sering makan di rumah makan depan komplek. Katanya juga, Kau masih sering bermain futsal di lapangan sebelah sekolahku. Tapi Kang Dani juga bilang;

“Tapi Hamid lagi ngurusin sesuatu, teh. Kayaknya lagi sibuk banget.”

Awalnya Aku tidak tahu kenapa kau tiba-tiba menghilang dariku, tapi sepertinya karena kesibukanmu itu. Bahkan Kang Dani juga tidak tahu kau sedang mengurusi apa. Tapi satu yang jelas, kau berbohong padaku.

Kang Dani yang kemarin aku temui di warung samping rumahku mengatakan, kau tidak merokok. Kau tidak pernah minum minuman haram. Diajak untuk menginap di rumah Kak Andre saja kau takut. Kau terlalu takut melakukan dosa.

Saat pulang ke rumah, aku sadar. Kau menjelek-jelekkan dirimu di hadapanku. Kau membuatku ingin melupakanmu. Kau tidak mau membalas perasaanku. Kau... memang hanya menganggapku adik.

Rasanya begitu sakit.

Rasanya begitu sakit.

Rasanya begitu sakit.

***

Pagi ini, masih sama seperti kemarin-kemarin. Kau belum juga menelponku. Sudah terhitung dua bulan sejak terakhir kau menelpon dengan penuh kecemasan. Ini rekor terbarumu. Aku harap kau tidak membuat rekor yang lebih lama lagi.

Saat aku hendak membeli sabun cuci muka di warung sebelah, Ibu menghentikan langkahku. Katanya aku harus sisir dulu sebelum keluar rumah. Aku hanya mengikuti perintahnya tanpa bicara, tapi tiba-tiba langkahku terhenti melihat Ibu yang sedang membaca.

Ibu mengerutkan keningnya,

“Ada apa?” Tanyanya.

Aku menggelengkan kepala, segera ke kamar dan menyisir rambut. Setelah membeli sabun cuci muka, aku mengambil selembar kertas yang tadi Ibu baca. Sekarang aku lihat Ibu sedang memasak sarapan pagi.

Warnanya merah mudah dengan pita putih yang cantik. Tulisannya dari tinta emas yang berkilauan disetiap mata yang melihatnya. Aku duduk di kursi ruang tengah. Dalam hati mengumpat sebanyak-banyaknya untuk kau, Kakak.

***

“Undangan Pernikahan

11 Februari 2012

Hamid Syahdani Ihsan & Raisyana Adinda Putri

Untuk:

Abdul Karim M.Sc & Nyonya”

Air mataku jatuh tak tertahankan. Ku usap undangan itu, warnanya merah muda. Warna kesukaanku, tapi sekarang aku benci.

Aku berhenti, aku tahu semuanya telah berakhir. Sudah berakhir, untuk hal yang sebenarnya bahkan belum pernah bermula.

Kak Hamid, semoga pernikahanmu berkah.

Tags: romance

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Putaran Waktu
1304      834     6     
Horror
Saga adalah ketua panitia "MAKRAB", sedangkan Uniq merupakan mahasiswa baru di Universitas Ganesha. Saat jam menunjuk angka 23.59 malam, secara tiba-tiba keduanya melintasi ruang dan waktu ke tahun 2023. Peristiwa ini terjadi saat mereka mengadakan acara makrab di sebuah penginapan. Tempat itu bernama "Rumah Putih" yang ternyata sebuah rumah untuk anak-anak "spesial". Keanehan terjadi saat Saga b...
Time Travel : Majapahit Empire
66852      11256     11     
Fantasy
Sarah adalah siswa SMA di surabaya. Dia sangat membenci pelajaran sejarah. Setiap ada pelajaran sejarah, dia selalu pergi ke kantin. Suatu hari saat sekolahnya mengadakan studi wisata di Trowulan, sarah kembali ke zaman kerajaan Majapahit 700 tahun yang lalu. Sarah bertemu dengan dyah nertaja, adik dari raja muda Hayam wuruk
THE HISTORY OF PIPERALES
2461      1101     2     
Fantasy
Kinan, seorang gadis tujuh belas tahun, terkejut ketika ia melihat gambar aneh pada pergelangan tangan kirinya. Mirip sebuah tato namun lebih menakutkan daripada tato. Ia mencoba menyembunyikan tato itu dari penglihatan kakaknya selama ia mencari tahu asal usul tato itu lewat sahabatnya, Brandon. Penelusurannya itu membuat Kinan bertemu dengan manusia bermuka datar bernama Pradipta. Walaupun begi...
Our Perfect Times
8380      4501     9     
Inspirational
Keiza Mazaya, seorang cewek SMK yang ingin teman sebangkunya, Radhina atau Radhi kembali menjadi normal. Normal dalam artian; berhenti bolos, berhenti melawan guru dan berhenti kabur dari rumah! Hal itu ia lakukan karena melihat perubahan Radhi yang sangat drastis. Kelas satu masih baik-baik saja, kelas dua sudah berani menyembunyikan rokok di dalam tas-nya! Keiza tahu, penyebab kekacauan itu ...
Call Me if U Dare
7397      2467     2     
Mystery
Delta Rawindra: 1. Gue dituduh mencuri ponsel. 2. Gue gak bisa mengatakan alibi saat kejadian berlangsung karena itu bisa membuat kehidupan SMA gue hancur. 3. Gue harus menemukan pelaku sebenarnya. Anulika Kusumaputri: 1. Gue kehilangan ponsel. 2. Gue tahu siapa si pelaku tapi tidak bisa mengungkapkannya karena kehidupan SMA gue bisa hancur. 3. Gue harus menuduh orang lain. D...
SALAH ANTAR, ALAMAKK!!
1004      724     3     
Short Story
EMMA MERASA BOSAN DAN MULAI MEMESAN SESUATU TAPI BERAKHIR TIDAK SEMESTINYA
PEREMPUAN ITU
644      469     0     
Short Story
Beberapa orang dilahirkan untuk membahagiakan bukan dibahagiakan. Dan aku memilih untuk membahagiakan.
SERENA (Terbit)
21006      4983     15     
Inspirational
Lahir dalam sebuah keluarga kaya raya tidak menjamin kebahagiaan. Hidup dalam lika-liku perebutan kekuasaan tidak selalu menyenangkan. Tuntutan untuk menjadi sosok sempurna luar dalam adalah suatu keharusan. Namun, ketika kau tak diinginkan. Segala kemewahan akan menghilang. Yang menunggu hanyalah penderitaan yang datang menghadang. Akankah serena bisa memutar roda kehidupan untuk beranjak keatas...
Titip Salam
5336      2336     15     
Romance
Apa kamu pernah mendapat ucapan titip salam dari temanmu untuk teman lainnya? Kalau pernah, nasibmu hampir sama seperti Javitri. Mahasiswi Jurusan Teknik Elektro yang merasa salah jurusan karena sebenarnya jurusan itu adalah pilihan sang papa. Javitri yang mudah bergaul dengan orang di sekelilingnya, membuat dia sering kerepotan karena mendapat banyak titipan untuk teman kosnya. Masalahnya, m...
Transformers
329      277     0     
Romance
Berubah untuk menjadi yang terbaik di mata orang tercinta, atau menjadi yang selamat dari berbagai masalah?