Loading...
Logo TinLit
Read Story - Beasiswa untuk yang Mengandungku
MENU
About Us  

Berjalan mengejar waktu yang terus berlari kencang didepanku. Tak berpikir nyawa jadi taruhan bila berkendara seperti dikejar anjing. Lalu lintas pagi hari yang cukup padat menghawatirkanku untuk datang terlambat dihari pertama kuliahku. Mahasiswa baru, masih itu julukanku sekarang. Tapi untungnya bukan mahasiswa abadi, sejati yang tak kenal mati untuk terus mengabdi , berjuang melawan malasnya diri menyelesaikan skripsi. Ku lihat sebuah antrian panjang sepeda motor dan mobil. Sepertinya bukan hanya aku yang terburu – buru pagi ini. Ku lihat sepeda motor yang terus bersenandung dengan klakson nyaringnya. Sepeda motor yang dikendarai seorang pria tua berseragam PNS. Melihat muka cemasnya yang takut tunjangannya dipotong bila terlambat aku sedikit geli namun disisi lain aku sedih ingat ayah yang juga bekerja sebagai PNS.

Jam menunjukan 08.00 waktu Indonesia barat, aku baru saja memarkirkan sepeda motorku. Berjalan sedikit cepat aku berhenti pada sebuah papan madding, kulihat jadwalku kuliah dan di ruang berapa aku harus menginap. Setelah itu, lekas aku pergi menuju ruangan yang bersebelahan dengan ruang 12. Wajah baru betebaran di ruang itu, tak ada satupun yang ku kenal. Duduk pada sebuah bangku dekat dengan jendela aku mulai bersiap untuk kuliah. Ku keluarkan buku dan pena, ku ambil handphone dan ku mainkan. Lima belas menit telah berlalu, sejak tadi mataku hanya tertuju pada layar hanphone. Mataku lelah, kulihat sekeliling kelas dan ku lihat seorang wanita yang cukup cantik. berlesung pipi, jilbab dan baju syar’I dan bila dia tersenyum begitu manis. Dia Wahyu Wulandari temanku saat SMA. Bila dibilang teman sebenarnya kami tak begitu dekat, aku hanya mengenalnya dan dia juga seperti itu.

Dua jam menunggu kedatangan dosen, kelas mulai ribut. Banyak yang bertanya apakah dosen yang kami tunggu itu masuk atau tidak. Namun, karena kami masih mahasiswa baru rasanya sangat takut untuk pergi sedetikpun dari kursi. Berusaha untuk nyaman di dalam kelas, tapi tak bisa. Satu persatu orang – orang kelasku keluar, mereka tak tahan lagi menunggu seseorang yang memberi harapan palsu di pagi hari. Aku hanya duduk, ingin rasanya keluar dan mencari sesuap nasi karena aku tak sempat sarapan tadi pagi. Tapi, aku mau pergi dengan siapa? Tak enak bila makan sendiri tanpa ada seseorang disisi ini. Dikelas hanya tersisa aku, Wahyu dan seorang wanita yang tak ku kenal siapa namanya. Masing – masing dari kami hanya bermain handphone.

“Ike, kau Ike kan?” Wahyu menegurku. “Iya, aku Ike,” Jawabku. “Masuk sini juga? Mega, dimana kuliahnya? Di sini juga?” pertanyaan bertubi – tubi dari Wahyu. “Iya. Mega tak disini yu, Mega di Universitas Sebelah,” jawabku sedikit canggung. Setelah itu Wahyu banyak bercerita tentang teman – temannya saat SMA. Aku terus mendengarkan dan tersenyum, aku juga bingung kenapa dia bercerita begitu panjang padahal pertama dia hanya bertanya soal Mega teman dekatku saat SMA. Tak terasa sudah satu jam aku hanya mendengar cerita Wahyu. Dan ku lihat wanita itu sama saja hanya diam di kursinya menatap handphone. Wanita itu mendapat telepon yang entah dari siapa. “Halo, assalamu’alaikum,” jawab wanita itu. Dan setelah itu “awhjkaliqqbeyo##kl,” aku tak mengerti apa yang dia katakana. Mungkin dia orang Thailand karena bahasanya sedikit berbau Thailand seperti film – film Thailand yang pernah ku tonton. Saat itu aku baru sadar kalau Wahyu masih saja bercerita.

Hari yang melelahkan, seharian tak kunjung berjumpa seorangpun dosen. “Assalamu’alaikum, aku pulang bu,” aku masuk dan langsung berbaring di kamar. “APA? Kau tahu hah? Karena kau dimutasi uang kita sedikit, biaya kuliah anakmu itu MAHAL. Kau tahu hal itu? Seharusnya kau tidak dimutasi!” suara ibuku terdengar jelas. Saat ayah dimutasi, penghasilan ayah tak lagi besar seperti dulu. Dan mulai saat itu juga ibu sering mengomel dan mengeluh. Ibu dan ayahku makin sering ribut, dan aku sangat menyesal biaya kuliahku yang mahal. “Aku harus mendapat beasiswa,” kataku dalam hati.

Hari kedua ku kuliah, pagi ini aku tak perlu mengejar waktu karena akulah yang pertama sampai pada gedung kuliah yang masih kosong. Hari ini, setelah dosen yang rajin mengajar aku dan Wahyu pergi ke kantin bersama. Sebelum kami pergi, lagi – lagi wanita itu hanya diam di kursi dan menatap hanphone.”Kau tidak keluar dan mencari makan?” Tanya Wahyu pada wanita itu. Dia menggelengkan kepala. “Namamu siapa?” Tanya Wahyu lagi. Aku hanya bergumam dalam hati “Betapa senang wanita ini bertanya,” melihat Wahyu yang terus bertanya pada wanita itu. “Helfi, namaku,” jawab wanita itu.

Wahyu aku, dan Helfi pergi bersama mencari sesuap nasi. Entah kenapa Helfi yang awalnya menjawab tidak, dan sekarang malah ikut dan ada disebelahku. Saat itu kantin begitu ramai, kami tak mendapat tempat duduk. Ada sekelompok wanita yang beranggotakan enam orang duduk memenuhi ruangan yang tak luas itu. Mereka melihat kami tak mendapat tempat duduk, “Woi, sini aja. Kami udah mau selesai kok,” salah satu wanita dari mereka memanggil kami. Seperti biasa Wahyu dengan senang hati bergabung tanpa sungkan dan Helfi hanya diam membuntuti begitu juga denganku. Aku hanya memesan minuman saat itu, Wahyu dan Helfi mesan nasi goring. Mereka asik makan dan mengobrol, aku bingung kenapa kelompok wanita ini tak pergi juga. Padahal mereka bilang mereka sudah selesai dan akan pergi. Tapi, ternyata malah asik mengobrol dengan Wahyu sang ratu bercerita. Aku hanya mendengar, dan ternyata mereka teman sekelasku. Wanita yang tadi memanggil kami bernama Dina, matanya sipit tapi suaranya tak sesipit matanya. Disampingnya ada dua orang wanita yang sama – sama kecil dan sedikit mirip namanya Deby dan Ayu. Dua wanita yang sejak tadi terus berbicara soal pria, Meilisa dan Marita namanya. Dan wanita yang tak asing karena sempat bertemu dalam pengenalan kampus saat itu, Wica nama wanita yang logat Palembangnya masih sangat kental.

 Sejak saat itu, kami semakin sering bersama. Kami seperti grup wanita korea SNSD yang beranggotakan Sembilan wanita cantik. Kami masuk sebuah organisasi yang sama, organisasi yang memberikanku banyak perubahan dalam penampilan, dulu gaya tomboy yang tak jelas sekarang bergaya syar’i yang dinanti para laki – laki islami. Satu tahun telah berlalu, telah semester tiga. Begitu cepat waktu berlalu, dan aku belum juga mendapat beasiswa itu. Lelah, mendengar keluhan ibu dan sakit melihat tatapan sedih ayah. Aku harus berjuang.

Hari ini aku mengurus beasiswa, aku berusaha untuk mengikuti beberapa lomba agar bisa menunjangku untuk mendapat beasiswa prestasi itu. “Bismillah,” ucapku dalam hati saat menyerahkan berkas persyaratan beasiswa itu. Berdoa terus meminta kepada Allah agar aku bisa mendapatkan beasiswa itu. Aku ingin mengurangi beban ayah, dan mengurangi ocehan ibu. Dua minggu telah berlalu, aku dan teman – teman sedang sibuk di sekre organisasi kami. Karena aku lumayan dalam hal menggambar, aku dan timku diberi tugas membuat doodle berukuran spanduk besar untuk kegiatan organisasi kami, Islamic Harmony Festival nama kegiatan itu.

Aku begitu serius menggambar, teman – temanku membantuku dalam mewarnai doodle itu. Seorang diantara kami memberikan sebuah kabar lewat pesan yang dia baca digrup WhatsApp, “Hei, dengar ni. Ada berita bahagia buat teman kita yang lagi sibuk menggambar tu,” Wica melirik ke arah ku. “Berita apa tu?” sahut Dina. “Alhamdulillah, teman kita ada yang dapet beasiswa prestasi ni. Bolehlah setelah ini kita makan – makan, hehe,” kata Wica. “Siapa?” Tanya Helfi. “Pasti Wahyu. Karena IPK Wahyu lebih besar dariku,” gumamku dalam hati. “Ehem, selamat ya buat Ike dan Wahyu. Alhamdulillah kalian dapet besasiswa prestasi,” kata Wica.

Mendengar yang wica katakana, aku tak percaya. Aku seperti masuk dalam dunia lain, senang dan bahagia rasanya. Akhirnya aku bias menjadi anak yang berguna, “Alhamdulillah,” syukurku terucap dalam hati. Mereka mulai ribut dan sibuk merencanakan makan – makan tanpa menghiraukan persetujuanku. Tapi aku tahu, itu cara mereka ikut senang atas kebahagiaanku. Hari itu Wahyu tak bersama kami, dia sedang ikut penelitian di salah satu desa. Dan saat kami menelponnya untuk memberikan kabar baik itu, seperti biasanya suaranya menggelegar hebat. Begitulah Wahyu.

            Setelah semua pekerjaan selesai, aku dan teman – teman pulang. Tentunya makan – makannya bukan hari ini, karena uang besiswanya belumlah cair. Pulang dengan tangan penuh noda cat, muka kusut dan lapar. Sedih rasanya setiap kali pulang ke rumah mendengar ayah dan ibu bertengkar. Masuk ke kamar dan pura – pura tak mendengar itulah yang bisa aku lakukan. Setelah makan malam, seperti biasa ayah pergi keluar mencari uadara segar dan ibu termenung menatap bintang ditemani segelar kopi hangat yang menenangkan. Aku menghampiri ibu, duduk disebelahnya. “Kek, betapa indah menjadi bintang yang berkilau. Andai dunia ini seindah bintang – bintang di langit, mungkin ibu tidak akan terus menyalahkan ayahmu karena kondisi keungan kita yang buruk,” suara ibu memecah keheningan. “Tapi bu, bila dunia ini seperti bintang yang hanya diam tanpa ada suara dan hanya memancarkan keindahan tanpa ada air mata. Mungkin ibu tidak akan menjadi wanita sekuat ini. Mungkin ibu hanya menjadi wanita yang bias melihat dan dilihat tanpa melakukan apa – apa,” jawabku. Ibu hanya tersenyum melihatku. Cukup lama kami termenung menatap bintang di langit. “Bu, maaf Kekek belum bias menjadi anak yang baik. Kekek masih saja menjadi anak yang jahat, yang selalu membuat ibu dan ayah bertengkar. Maaf bila keinginan Kekek untuk kuliah menjadi beban ibu dan ayah. Maaf Kekek telah menjatuhkan berlian air mata ibu dan ayah. Maaf Kekek belum bias jadi anak yang berguna,” kataku sambil tertunduk sendu.

            Ibu melihatku, airmata ibu jatuh dan dia memelukku dengan erat. “Maafkan ibu Kek, keluh kesah ibu. Amarah ibu, selalu menyebabkan pertengkaran ayah dan ibu dan membuat Kekek terpukul dan terbebani. Maafkan ibu Kek,” ibu menangis sambil memelukku. “Bu, Kekek yakin ayah telah bekerja keras untuk kita. Kekek ingin, ayah dan ibu bias akur. Kekek rindu saat kita bias bercanda bersama. Bukan uang yang member kita rasa peduli dan menyayangi, tapi rasa syukur kita atas rezeki itu yang berarti bu. Maaf Kekek bukan ingin menasihati, Kekek hanya ingin kita bisa menikmati hari bersama lagi bu,” ibu terus saja menangis, aku juga menangis melihat bidadariku menangis. “Bu, Kekek dapat besasiswa prestasi. Beasiswa itu untukmu ibuku,” kataku yang membuat ibu melepas pelukkannya dan menatapku dengan bangga. “Alhamdulillah,” ibu berkata dan kembali memelukku dengan indah.

Selesai

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Ratu Blunder
560      454     2     
Humor
Lala bercita-cita menjadi influencer kecantikan terkenal. Namun, segalanya selalu berjalan tidak mulus. Videonya dipenuhi insiden konyol yang di luar dugaan malah mendulang ketenaran-membuatnya dijuluki "Ratu Blunder." Kini ia harus memilih: terus gagal mengejar mimpinya... atau menerima kenyataan bahwa dirinya adalah meme berjalan?
KSATRIA DAN PERI BIRU
227      192     0     
Fantasy
Aku masih berlari. Dan masih akan terus berlari untuk meninggalkan tempat ini. Tempat ini bukan duniaku. Mereka menyebutnya Whiteland. Aku berbeda dengan para siswa. Mereka tak mengenal lelah menghadapi rintangan, selalu patuh pada perintah alam semesta. Tapi tidak denganku. Lalu bagaimana bisa aku menghadapi Rick? Seorang ksatria tangguh yang tidak terkalahkan. Seorang pria yang tiba-tiba ...
TeKaWe
1274      736     2     
Humor
bagaimana sih kehidupan seorang yang bekerja di Luar Negeri sebagai asisten rumah tangga? apa benar gaji di Luar Negeri itu besar?
Mikroba VS Makrofag
280      261     0     
Humor
Muka default setelan pabrik, otak kacau bak orak-arik, kelakuan abstrak nyerempet prik ... dilihat dari ujung sedotan atau belahan bumi mana pun, nasib Sherin tuh definisi burik! Hubungan antara Sherin dengan hidupnya bagaikan mikroba dengan makrofag. Iya! Sebagai patogen asing, Sherin selalu melarikan diri dari hidupnya sendiri. Kecelakaan yang dialaminya suatu hari malah membuka kesempatan S...
Naskah Novelku
7      4     1     
Inspirational
Ini cerita kita, penulis kecil yang nulis tanpa suara. Naskah dikirim, tanpa balasan. Postingan sepi, tanpa perhatian. Kadang bertanya, “Apakah aku cukup baik?” Aku juga pernah di sana. Hingga suatu malam, bermimpi berada di perpustakaan raksasa, dan menemukan buku berjudul: “Naskah Novelku.” Saat bangun, aku sadar: Menulis bukan soal dibaca banyak orang, Tapi soal terus berka...
Let Me be a Star for You During the Day
2734      1774     16     
Inspirational
Asia Hardjono memiliki rencana hidup yang rapi, yakni berprestasi di kampus dan membahagiakan ibunya. Tetapi semuanya mulai berantakan sejak semester pertama, saat ia harus satu kelompok dengan Aria, si paling santai dan penuh kejutan. Bagi Asia, Aria hanyalah pengganggu ritme dan ambisi. Namun semakin lama mereka bekerjasama, semakin banyak sisi Aria yang tidak bisa ia abaikan. Apalagi setelah A...
LABIL (Plin-plan)
9269      2471     14     
Romance
Apa arti kata pacaran?
MALAM TANPA PAGI
595      448     0     
Short Story
Pernahkah kalian membayangkan bertemu malam tanpa pagi yang menyapa? Apakah itu hal yang buruk atau mungkin hal yang baik? Seperti halnya anak kucing dan manusia yang menjalani hidup dengan langkah yang berat. Mereka tak tahu bagaimana kehidupannya esok. Namun, mereka akan menemukan tempat yang pantas bagi mereka. Itu pasti!
AKSARA
8775      3507     3     
Romance
"Aksa, hidupmu masih panjang. Jangan terpaku pada duka yang menyakitkan. Tetaplah melangkah meski itu sulit. Tetaplah menjadi Aksa yang begitu aku cintai. Meski tempat kita nanti berbeda, aku tetap mencintai dan berdoa untukmu. Jangan bersedih, Aksa, ingatlah cintaku di atas sana tak akan pernah habis untukmu. Sebab, kamu adalah seseorang yang pertama dan terakhir yang menduduki singgasana hatiku...
ANSWER
805      527     6     
Short Story
Ketika rasa itu tak lagi ada....