Loading...
Logo TinLit
Read Story - Kamar Kos Nomor 07
MENU
About Us  

Bab 1 — Kos yang Terlalu Sepi

 

Nadia punya satu prinsip dalam hidup, selama tempat tinggalnya murah, ada kasur, kamar mandi dalam, dan sinyal Wi-Fi, dia tidak akan banyak protes.

Sayangnya, prinsip itu mulai goyah bahkan sebelum dia menginjakkan kaki di kamar kos barunya.

"Ini beneran kosnya, Pak?"

Nadia berdiri di depan sebuah bangunan tiga lantai bercat putih tulang. Dari luar, tempat itu terlihat cukup modern. Ada pagar hitam, halaman kecil dengan beberapa tanaman hias, dan kamera CCTV yang terpasang tepat di atas pintu masuk.

Pria berkemeja abu-abu yang berdiri sambil tersenyum.

"Iya, Mbak. Ini kos yang kemarin Mbak lihat di aplikasi."

Nadia menatap layar ponselnya sebentar, lalu kembali melihat bangunan di hadapannya.

"Kirain lebih rame."

"Memang penghuninya tidak terlalu banyak. Jadi lebih nyaman."

Nadia mengangguk.

Dalam hati, dia justru merasa sedikit lega. Setelah hampir dua minggu mencari tempat tinggal, akhirnya dia menemukan kos dengan harga yang masih masuk akal untuk ukuran kota besar.

Namanya Nadia Prameswari. Umurnya dua puluh empat tahun. Baru saja diterima bekerja di sebuah perusahaan swasta dan harus pindah ke kota ini sendirian.

Kehidupan barunya seharusnya dimulai dengan menyenangkan.

Setidaknya, begitu pikirnya.

"Silakan masuk, Mbak. Saya Arman, pemilik kos ini."

"Ah, iya, Pak. Nadia."

Arman membuka pagar dan mempersilakannya masuk.

Begitu pintu utama, Nadia langsung disambut melewati aroma pengharum ruangan yang cukup kuat. Lantainya bersih, dindingnya putih, dan ruang tamunya dilengkapi sofa abu-abu serta meja kecil.

Semuanya terlihat normal.

Terlalu normal, malah.

"Kamarnya di lantai dua, Mbak. Barang-barangnya nanti biar saya bantu angkat."

"Wah, nggak usah, Pak. Saya bisa sendiri."

"Yakin?"

"Yakin. Barang saya cuma dua pembeli. Bukan pindahan satu kelurahan."

Arman tertawa kecil.

Nadia ikut tersenyum.

Mereka kemudian menaiki tangga menuju lantai dua.

Di sana terdapat lorong panjang dengan beberapa pintu kamar di sisi kanan dan kiri. Lampu putih memanjang di langit-langit membuat suasana terlihat terang, tapi entah kenapa terasa agak dingin.

Arman berhenti di depan sebuah pintu.

"Ini kamar Mbak Nadia. Nomor enam."

Dia mengeluarkan sebuah kunci.

Nadia membuka pintu dan langsung masuk.

Kamarnya cukup luas. Terdapat tempat tidur ukuran sedang, lemari pakaian, meja belajar, kamar mandi dalam, dan jendela yang menghadap ke bangunan sebelah.

"Bagus juga, Pak."

"Kalau ada yang kurang, tinggal bilang."

"Siap."

Arman berdiri sebentar di ambang pintu.

"Oh iya, Mbak. Ada satu hal yang perlu saya sampaikan."

Nadia yang sedang meletakkan tas langsung menoleh.

"Apa, Pak?"

Arman menunjuk ke arah ujung lorong.

"Kalau malam, jangan terlalu sering keluar kamar. Apalagi mendekati ujung lorong."

Nadia mengerutkan kening.

"Kenapa? Ada apa di sana?"

"Nggak ada apa-apa. Cuma ada kamar yang sudah lama nggak dipakai."

"Oh."

"Jadi, kalau melihat pintu di ujung sana, tidak perlu didekati. Pintunya memang selalu terkunci."

Nadia mengangguk pelan.

"Oke, Pak."

Arman tersenyum lalu pamit turun.

Setelah pintu tertutup, Nadia mengembuskan napas panjang.

Akhirnya.

Dia menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur, mengambil ponsel, lalu mengirim pesan kepada sahabatnya.

Nadia:

Gue udah sampai kos.

Mira:

Gimana? Aman?

Nadia:

Aman. Kamarnya lumayan bagus. Murah pula.

Mira:

Jangan-jangan ada hantunya.

Nadia:

Mulutnya lo, ya. Saya baru juga mendapatkan pembeli.

Mira:

WKWKWK. Biar nggak kesepian.

Nadia menggeleng sambil tertawa kecil.

Dia memang punya sahabat dengan tingkat keisengan yang kadang sulit diterima akal sehat.

Setelah berhenti sebentar, Nadia mulai membereskan barang-barangnya.

Sakit itu berlalu tanpa kejadian berarti.

---

Sekitar pukul delapan malam, Nadia keluar memutuskan untuk membeli makan.

Saat lorong, dia melihat seorang perempuan sedang duduk melewati sofa kecil dekat tangga.

Perempuan itu berambut sebahu, mengenakan kaus putih dan celana panjang hitam.

"Penghuni baru, ya?"

Nadia berhenti.

"Iya. Baru pindah tadi siang."

Perempuan itu tersenyum.

"Gue Rika. Kamar empat."

"Nadia. Kamar enam."

"Sendirian?"

"Iya. Emang kenapa?"

"Nggak apa-apa. Biasanya anak baru masih suka bingung sama aturan di sini."

Nadia tertawa kecil.

"Aturan apa? Jangan berisik, jangan buang sampah sembarangan?"

Rika tertawa ikut, tapi tidak lama.

"Ya, kurang lebih."

Mereka sempat berbincang beberapa menit sebelum Nadia pamit membeli makan.

Namun, ketika Nadia hendak turun, Rika tiba-tiba menemukan.

"Nad."

"Iya?"

Rika melirik ke arah lorong belakang sebelum kembali menatap Nadia.

"Kalau nanti malam dengar suara aneh, nggak usah dicari sumbernya."

Nadia mengangkat alis.

"Maksud lo?"

"Anggap aja nggak dengar."

"Kenapa semua orang ngomongin jalan belakang?"

Rika sesaat.

"Pak Arman udah cerita?"

Nadia mengangguk.

"Katanya ada kamar kosong yang nggak boleh dideketin."

Rika langsung pel.

"Ya udah. ​​Bagus kalau dia udah bilang."

Nadia semakin penasaran.

Tapi sebelum sempat bertanya lebih jauh, Rika sudah berdiri dan masuk ke dalam ruangan.

Aneh.

Benar-benar aneh.

---

Pukul sebelas lewat tiga puluh menit.

Nadia sudah selesai mandi dan bersiap tidur. Lampu utama padam, menyisakan sedikit kecil dari lampu meja.

Dia sedang menggulirkan layar ponsel ketika terdengar suara langkah kaki dari luar kamar.

Tok.

Tok.

Tok.

Langkahnya terdengar pelan, seperti seseorang berjalan tanpa alas kaki.

Nadia tidak terlalu memedulikannya.

Mungkin penghuni lain baru pulang.

Namun, beberapa detik kemudian, suara langkah itu berhenti tepat di depan ruangan.

Nadia menutup pintu.

Hening.

Lalu terdengar suara seperti sesuatu yang sedang terjadi di lantai.

Nadia bangkit dari kasur.

"Siapa, ya?"

Tidak ada jawaban.

Dia mendekati pintu dan mengintip melalui lubang kecil.

Kosong.

Lorong terlihat sepi.

Nadia menghela napas.

"Perasaan gue aja kali."

Dia kembali ke kasur.

Baru saja hendak memejamkan mata, ponselnya bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.

Nomor Tidak Dikenal:

Jangan keluar kamar malam ini.

Nadia mengerutkan kening.

Dia membaca pesan itu sekali lagi.

Lalu balas.

Nadia:

Siapa ini?

Pesannya terkirim, tapi tidak dibalas.

Nadia mencoba menelepon nomor tersebut.

Tidak aktif.

"Apaan, sih?"

Dia meletakkan ponsel di samping bantal.

Belum sempat memejamkan mata, terdengar suara lain.

Kali ini bukan langkah kaki.

Melainkan suara ketukan.

Tiga kali.

Tok.

Tok.

Tok.

Nadia langsung duduk.

Ketukan itu berasal dari arah ujung lorong.

Tempat kamar kosong yang tadi diceritakan Arman.

Dia menatap pintu dalam ruangan cukup lama.

Kemudian terdengar suara perempuan dari luar.

Pelan.

Hampir seperti bisikan.

"Tolong..."

Nadia menahan napas.

"Tolong bukain..."

Suara itu mengamati lagi.

Nadia perlahan turun dari kasur.

Dia melangkah mendekati pintu, tapi berhenti ketika teringat pesan yang baru saja diterimanya.

Jangan keluar kamar malam ini.

Tiba-tiba ponselnya kembali bergetar.

Satu pesan baru masuk.

Nomor Tidak Dikenal:

Gue udah bilang jangan keluar.

Nadia merasakan tengkuknya meremang.

Jantungnya berdetak semakin cepat.

Dia belum sempat membalas ketika pesan berikutnya muncul.

Nomor Tidak Dikenal:

Karena perempuan yang lagi berdiri di depan kamar lo itu bukan Rika.

Nadia 7.

Perlahan, dia mengangkat wajah ke arah lubang pintu.

Dan kali ini, ada seseorang yang sedang berdiri tepat di depan ruangan.

Seseorang dengan rambut sebahu.

Kaus putih.

Dan celana panjang hitam.

Perempuan itu tersenyum.

Lalu menutup pintu sekali lagi.

"Nad..."

Suaranya terdengar sangat familiar.

"Ini gue, Rika."

Nadia mundur satu langkah.

Sebab beberapa detik sebelumnya, dia baru saja melihat pesan dari Rika.

Pesan yang dikirim pukul 23.47.

Rika:

Jangan buka pintu kamar lo. Gue lagi di rumah sakit.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags