"Ciii... Uci!" suara Mama memanggil dari dapur.
"Iya, Ma?" sahut Uci malas. Badannya sama sekali tak bergeser dari sofa. Saluran TV yang membosankan terus berganti di layar, sementara tangannya sibuk merogoh keripik pisang dari toples plastik di pelukannya.
"Beliin Mama baking powder doong...! Sekalian kasiin donat-donat ini ke rumah Bu Agus, ya! Kasihan, beliau tinggal sendirian sama anaknya yang masih kecil. Mama pengen ngirimin kue cemilan buatan Mama niiih, hehe. Mudah-mudahan Bu Agus suka."
Mama bergegas menyiapkan beberapa potong donat dan memasukkannya ke dalam Tupperware kecil, lalu membungkusnya dengan kantong plastik hitam.
"Ingat, ya! Jangan coba-coba nyari jalan lain biar cepet nyampe! Pake jalan yang biasa kita lewatin aja, yang ramai!" Ekspresi serius Mama dengan acungan telunjuknya membuat Uci menoleh sesaat.
"Mama tahu kamu itu tipe anak tukang eksplor, tapi kali ini... Mama gak ngizinin kamu main-main sama jalanan daerah ini, oke?" tambahnya seraya mengedipkan sebelah mata.
"Hu-uh. Padahal Uci emang tahu jalan pintas yang bisa bikin cepet nyampe ke rumah Bu Agus. Rumah Bu Agus 'kan di seberang pasar, jauh banget, Ma... Apalagi jalan kaki." Uci menggerutu. Ia mengubah posisi selonjorannya, tapi matanya masih tertuju ke layar televisi dengan remot di tangan.
Sebenarnya Uci bisa memaklumi kekhawatiran Mamanya. Keluarga mereka memang belum lama pindah ke sana. Meski masih berada di kawasan yang sama, rumah baru mereka letaknya cukup terasing dari pemukiman penduduk-sebuah lingkungan yang terasa masih sangat asing dan menyimpan banyak sudut yang belum mereka kenali.
"Hehe, iya sih. Tapi Mama gak mau tahu, pokoknya kasiin kue ini dan beliin baking powder, pake jalan yang biasa! Kalau perlu ajak Andi buat nemenin kamu. Kalau sambil ngobrol 'kan gak akan kerasa jauh. Ayo, buruan gih! Keburu siang ntar!"
Mama meletakkan bungkusan plastik itu di atas meja. Uci memandangnya dengan raut lesu dan ogah-ogahan. Sambil menghela napas panjang, ia akhirnya menyerah lalu segera menghubungi Andi, teman sepermainannya.
***
"Ci... kita mau ke mana, sih, sebenarnya?" Andi menggaruk kepalanya yang tak gatal. Tetesan keringat meluncur pelan di wajahnya yang kebingungan.
"Udah, ikutin aja! Bawel amat," sahut Uci santai tanpa menghentikan langkah. Tangan kanannya melambai-lambai kecil menjinjing kantong plastik titipan Mama.
"Tapi, Ci, aku beneran gak hafal jalan ini. Kok kita malah masuk-masuk ke area dalam kampung gini, sih?" Andi melayangkan pandangannya ke sekeliling dengan cemas.
Di sisi kiri mereka, membentang sungai buatan berarus cukup deras yang tampaknya mengalirkan limbah pabrik tekstil. Warna airnya berganti-ganti secara ganjil-kadang merah, hijau, kebiruan, hingga perlahan pekat menjadi hitam keruh. Sementara di sisi kanan, deretan rumah kumuh tanpa pagar berdiri berimpitan. Di belakang pemukiman itu, hamparan sawah membisu bagai lautan hijau yang mendesis disapu angin. Suasana begitu sepi, hanya ada gemuruh angin dingin yang lamat-lamat menyapu tengkuk mereka.
Perasaan Andi makin resah saat mereka melewati sebatang pohon beringin raksasa yang menjulang beberapa meter di depan. Akar gantungnya rimbun, menutupi sebagian bebatuan mirip batu kali yang seolah sengaja ditegakkan di sekeliling pangkal pohon. Mengapa batu-batu itu menancap acak di sana? Jangan-jangan itu nisan?!
Aura aneh mendadak menyergap, membuat Andi bergidik ngeri. Suara dahan kering yang berderit diterpa angin sukses membuatnya terhenyak. Sambil menyilangkan tangan di dada membendung dingin, ia buru-buru mempercepat langkah untuk menyamakan posisinya di samping Uci.
Sebaliknya, Uci terus melangkah santai. Sekali waktu ia sengaja melambat untuk menendang kerikil, lalu menoleh ke belakang hanya untuk mengejek Andi dengan senyum yang lebar. Andi membalasnya dengan kekehan hambar sebelum wajahnya kembali tertekuk lesu.
Sudah setengah jam mereka menyusuri pinggiran sungai itu, berjalan beriringan dengan perasaan yang bertolak belakang.
Pagi menjelang siang ini terasa begitu asing bagi Andi. Di sisinya, bertumpuk kandang-kandang ayam kosong berselimut sisa bulu, kotoran, dan biji-bijian yang berceceran. Namun yang membuat tengkuknya meremang adalah bercak-bercak merah yang mengering di sekitar pintu dan alas kandang-seolah penghuninya baru saja dilahap binatang buas yang kelaparan.
Melewati area itu, hamparan sawah berganti menjadi kebun jagung. Batang-batangnya berbaris terlampau rapi, diselimuti semak belukar yang menjalar tinggi hingga memunculkan rasa sesak di dada Andi. Dedaunan jagung yang mengering itu bergoyang pelan, tampak seperti bayangan jemari yang melambai, mengundang mereka masuk dan tersesat di dalamnya.
Tak jarang, mata Andi juga menangkap reruntuhan rumah di sela-sela ilalang. Lantai dan temboknya hancur misterius, meninggalkan sisa-sisa kehidupan yang seolah mendadak ditinggalkan.
Baru sekarang Uci mulai merasa ragu. Benarkah ini jalan menuju pasar? Ia menelan ludah. Rasa takut yang sejak awal menyerang Andi, kini perlahan merayapi benaknya sendiri.
Andi, yang sejak kecil dikenal penakut, mencoba memberanikan diri. Ia ingin terlihat mantap dan bisa diandalkan di depan Uci. Digenggamnya jemari gadis itu dengan erat, menuntunnya berjalan lebih cepat.
"Cuma lurus aja, 'kan?" tanya Andi, mencoba menutupi getar di suaranya.
"Iya... kayaknya gitu." Uci meraba bungkusan di tangannya. Donat titipan Mama mulai dingin, dan jam di pergelangan tangannya menunjukkan hampir tengah hari.
Ini aneh, pikir Uci. Seharusnya jalanan ini langsung bermuara ke rel kereta api dekat pasar. Namun sejak tadi, yang mereka lewati hanyalah reruntuhan bangunan yang semakin lama semakin terasa angker.
Keberanian gadis lima belas tahun itu runtuh sepenuhnya saat matanya menangkap bongkahan tulang menyerupai kerangka manusia yang dikerubungi lalat di sela-sela semak. Dan di sekitar reruntuhan itu, beberapa ekor anjing hitam bertubuh kurus tampak berdiri membisu, memperhatikan langkah mereka dengan tatapan kelam. Jumlah anjing itu... makin lama makin banyak.
"Ini kampung emang ngejagain apa, sih, sampe banyak anjing hitam di mana-mana?" omelan parau Andi yang memecah kesunyian membuat Uci makin serba salah.
Tanpa benar-benar mereka sadari, situasi perlahan berubah. Makin jauh mereka melangkah ke dalam, mereka mulai menemui warga sekitar yang tampak beraktivitas seperti biasa. Tapi...
"Coba perhatikan baik-baik!" Andi mendadak memegang kedua pundak Uci dan memutar tubuh gadis itu menghadap jalan.
"Lihat, Ci! Di sini emang masih banyak orang, masih banyak rumah yang berpenghuni, tapi kok sepi banget? Maksudku... rasanya sunyi yang gak wajar, kan? Ini kelewat aneh! Kamu sebenarnya mau bawa aku ke mana, sih? Dari tadi lurus terus tapi gak nyampe-nyampe!"
"Hmm..." Uci menepis pelan tangan Andi sambil berusaha menyembunyikan firasat buruknya. Ia pura-pura tak mendengar berondongan pertanyaan dari temannya itu. Uci hanya tidak ingin merasa semakin bersalah atas keputusan nekat yang ia ambil sebelum perjalanan ini dimulai.
Sambil terus berjalan, mata Uci tertuju pada sebuah rumah kecil dengan jendela anyaman bambu tanpa kaca. Di dalam kegelapan ruangan itu, tampak siluet dua orang yang seolah tengah mengawasi gerak-gerik mereka.
Uci memicingkan mata.
"Kakek sama Nenek..." gumam Uci lirih.
Kedua lansia berwajah keriput itu terus menatap tanpa berkedip. Entah karena halusinasi akibat teriknya matahari atau bukan, dari balik kegelapan rumah, sinar mata keduanya tampak menyorot tajam-seakan menyala.
Tak jauh dari sana, hal serupa terjadi pada sekumpulan anak yang sedang bermain bola. Begitu jarak Uci dan Andi mendekat, permainan bola yang sejak awal terasa bisu itu mendadak terhenti. Anak-anak itu berdiri membatu, sengaja menunggu Uci dan Andi melintas hanya untuk menghujani mereka dengan tatapan kosong. Bukan...! Bukan lagi sekadar menatap, anak-anak itu jelas-jelas sedang memelototi mereka!
Andi meremas kuat pergelangan tangan Uci. Langkahnya terhambat, tertahan oleh kewaspadaan yang memuncak. Ia tahu mereka harus segera angkat kaki.
Selangkah demi selangkah, sekumpulan anak tadi mulai mendekat. Bola mata mereka tampak melotot nyaris menyembul keluar, mulut menganga lebar, liur kental menetes mengaliri dagu. Bocah-bocah dekil keabu-abuan itu sontak membuat jantung Uci dan Andi mencelos; darah mereka mendadak terasa dingin.
Tiba-tiba, sesosok tubuh balita membulat menggelinding persis ke dekat kaki Andi. Makhluk mungil itu mengejang ganjil, lalu merangkak menyeret kakinya seraya menggapai-gapai ke arah Uci. Di detik itulah, Uci dan Andi sadar-kedua rongga mata balita itu kosong melompong.
Tersengat ketakutan yang pekat, Andi menjerit histeris. Ia memutar tubuhnya kalap, memproyeksikan seluruh tenaga untuk menarik genggaman Uci. Derap kaki berlari tunggang-langgang, memecah kesunyian kampung aneh ini. Di sepanjang jalan, warga-warga yang berdiri membisu tetap membatu, memutar kepala mereka hanya untuk mengekori kepanikan Uci dan Andi dengan tatapan yang mati.
Namun, pelarian mereka teradang pelik. Di ujung jalan di depan sana, sekawanan anjing hitam yang tadi mereka lewati kini sudah berdiri berjejer, barikade rapat menutup akses keluar. Cairan gelap menetes dari moncong-moncong yang menyeringai. Binatang-binatang itu menancapkan kuku lancipnya ke tanah, memamerkan taring runcing yang siap mencabik daging dan meremukkan tulang. Dengusan napas liar bersahut-sahutan, menggema menyeramkan dari berbagai arah.
"LARI, CI! LARI KE SANA!"
Andi membelokkan arah secara mendadak. Dengan langkah lebar dan napas yang nyaris putus, ia menyeret Uci menerobos masuk ke dalam rimbunnya kebun jagung, nekad mencari jalan keluar atau tempat bersembunyi.
"Seriusan, Ci! Sebenarnya kita mau ke mana, sih?! Kamu mau ajak aku mati konyol, hah?!" bentak Andi di tengah napasnya yang memburu, namun jemarinya tak sedikit pun melepas genggaman pada tangan Uci.
Mereka meringkuk gemetar di balik gubuk reot yang menghadap langsung ke aliran sungai berarus deras. Andi tersengal-sengal, menatap tak habis pikir pada Uci yang duduk membeku dengan wajah pucat pasi.
Belum ada semenit mereka bersembunyi, kresek-kresek dedaunan jagung di belakang gubuk terdengar bergesekan liar. Sesuatu sedang mendekat.
Dengan cekatan, tangan Andi meraba tanah dan menemukan sebatang bambu sisa bangunan. Ia langsung pasang kuda-kuda.
"GRAARR! GUK! GUK!"
Seekor anjing hitam legam mendadak melompat keluar dari balik kebun jagung! Dengan moncong terbuka lebar dan taring siap menerkam leher Uci, binatang itu melayang di udara.
BUK!
Tepat di detik kritis, Andi mengayunkan bambu besar di tangannya sekuat tenaga, menghantam tubuh anjing itu hingga terpelanting menghantam tanah!
"KAING!"
Uci tercekat melihat anjing itu terkapar, namun Andi langsung menyentak bahunya keras. Tak ada waktu untuk syok.
"Lari, Uci! Lari! Jangan lihat! Lari!" teriak Andi seraya mendorong punggung Uci dengan kasar.
"ANDI!" Uci terpekik histeris saat melihat kawanan anjing lain keluar dari kebun jagung, langsung mengepung dan memburu Andi.
"LARI KATAKU! LARI!"
Teriakan penuh keputusasaan dari Andi memicu adrenalin Uci. Dengan napas tersengal dan tubuh gemetar hebat, ia berbalik lalu berlari sekencang-kencangnya meninggalkan temannya.
Beberapa ekor anjing yang melihat Uci melarikan diri segera beralih mengejar. Salah satu anjing melompat dan berhasil menggigit kantong plastik hitam yang terombang-ambing di tangan Uci. Plastik itu robek, Uci menjerit ketakutan lalu membuang bungkusan donat tersebut hingga isinya tercecer ke tanah.
Sambil terus memacu langkahnya yang limbung, Uci menyempatkan diri menoleh ke belakang. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat melihat Andi sudah tersudut di tepi dermaga lapuk, lalu hilang terjatuh ke dalam aliran sungai deras akibat tak mampu menahan keberingasan anjing-anjing setan yang menggila.
"Tidak! Ini salah! Ini jalan yang salah!!!" teriak Uci histeris.
BRUK!
Tubuhnya tersungkur ke tanah akibat tersandung tali sepatunya sendiri. Di tengah tangisan dan rasa frustrasi yang memuncak, Uci merenggut paksa sepatu yang setengah lepas dari kakinya, lalu melemparkannya sekuat tenaga ke arah kepala anjing yang terdekat.
Tanpa memedulikan kakinya yang kini telanjang, Uci bangkit dan memanjat tangga tanah menuju lintasan rel kereta api-jalan yang sejak awal ingin ia tuju.
"Ya... ini jalan yang benar. Tapi aku gak pernah nyangka bakal kayak gini..." gumam Uci di sela napasnya yang patah-patah. Peluh dingin membasahi sekujur tubuhnya.
Namun, begitu sampai di atas rel, langkah Uci mendadak membeku.
"Hah? Mana jalan menuju ke pasar? Kok gak ada?!"
Uci melempar pandangannya ke sekeliling dengan kepanikan luar biasa. Seharusnya, di seberang lintasan rel ini langsung terhubung dengan pasar. Sialnya, yang ada di depannya justru kekosongan yang membingungkan. Pandangannya mulai berkunang-kunang, dadanya sesak, dan rasanya ia ingin pingsan saat itu juga.
Tanpa pikir panjang, Uci melangkah ke atas rel dan menyusuri jalur kereta yang membentang seolah tanpa ujung. Di tengah langkahnya yang getir, ia tersentak. Di depannya, lintasan rel itu menggantung di atas jurang yang menganga lebar. Di dasarnya, aliran sungai yang deras-sungai yang sama yang telah menelan Andi-mengalir dengan ganas.
Mengabaikan rasa ngeri, Uci mulai melangkah maju. Satu demi satu, telanjang kakinya melompati lubang-lubang kosong di antara bantalan rel. Napasnya memburu, keluar patah-patah dari kerongkongan yang kering. Di seberang jurang sana, samar-samar terlihat sebuah jalan. Demi menjaga keseimbangan agar tidak tergelincir jatuh, Uci merentangkan kedua lengannya lebar-lebar.
"Guk! Guk! Guk!" sayup-sayup suara gonggongan itu kembali terdengar dari arah belakang, seolah tak pernah lelah membuntuti. Uci refleks menoleh. Namun, tepat di detik itu, takdir buruk menghantam punggungnya dari arah berlawanan.
Tanpa lampu peringatan, sebuah lokomotif besi raksasa muncul tiba-tiba dari arah depan. Menggulung jarak dengan kecepatan penuh, kereta itu melengkingkan klakson yang memekakkan telinga, menggetarkan seluruh rel besi di bawah kaki Uci.
Uci bahkan tidak sempat menjerit.
DUM!
Hantaman keras melemparkan tubuh ringkihnya ke udara. Uci merasakan tubuhnya melayang tak karuan, patah, sebelum akhirnya gravitasi menariknya jatuh ke dasar jurang. Bersamaan dengan sisa kesadarannya yang meredup, bayangan nasihat mama mendadak melintas. Uci memejamkan mata.
***
BRUK!
Uci tersungkur dari sofanya yang empuk. Kepalanya terantuk sudut meja kayu, sementara remot TV tertindih tubuh kurusnya. Dengan napas terengah-engah dan jantung yang masih berdegup kencang, Uci mengelus keningnya yang nyut-nyutan, lalu perlahan membuka mata.
"A-apa... aku udah mati?" desisnya linglung.
Ia memandangi sekelilingnya dengan tatapan kosong. Langit-langit ruang tamu yang familiar, suara dengung kipas angin, dan aroma rumah yang tenang.
"Loh? Ini... di rumah?"
Pandangan Uci tertuju pada meja di depannya. Bungkusan plastik berisi donat titipan Mama masih tergeletak rapi, utuh tanpa cacat. Di jemarinya yang gemetar, ponsel yang sejak tadi ia genggam erat memperlihatkan nama 'Andi' di layar.
Uci menyandarkan punggungnya ke kaki sofa, mengembuskan napas panjang yang gemetar. Jadi... semua kengerian tadi hanya mimpi?
Fin
Bara_tisa 2805'12
bara_tisa








