#Agak lain
By: @_ghifaaar
Suasana kamar yang permai sore itu dikejutkan dengan suara teriakan seorang santri yang baru sampai di ambang pintu.
"Woi, Senin bengkulu ultah!!" teriaknya brutal. Tampangnya sudah seperti mas-mas kasir warung madura menang gacha dengan sarung tergelar menutup dengkul. Bengkulu yang ia maksud ini bukan nama sebenarnya. Sindiran semacam ini sudah menjadi rahasia umum dan cemilan harian bagi para santri disini untuk saling sapa dengan sesama. Entah yang di luar sana, lain lagi budayanya. Seyogianya ini masih lampu kuning dibanding sapaan dengan nama ortu.
"Hoi, serius anta! Beneran si Rehan ultah?"
"Alamak, tersilap kita"
"Ayo buru! ada yg punya ide kejutan gak?"
"Hoom... kesemutan? siapa?"
Rapat dadakan dilaksanakan saat itu juga, sebelum jaras (lonceng) al-ma'tsurat sore berdendang. Dan yang paling penting, sebelum yang punya hajatan kembali ke kamar mereka.
* * *
"Itu mah umum banget. Ganti gih, yang lain!"
"Yang mana lagi?! Opsi ide terbatas. Pakai yang sederhana aja"
"Kalau bisa yang agak lain gitu, yang gak biasa."
Ini sudah hari kedua semenjak mereka ber-dua puluh mencari ide untuk memberikan kejutan kepada si bengkulu ini. Hari Sabtu telah terlewati dan malam itu sudah malam senin, waktu semakin terbatas.
Rangkaian kegiatan malam ba'da sholat isya' berjamaah telah tuntas dilaksanakan. Semua santri dipersilahkan ke kamarnya masing-masing untuk Ijtima' bersama wali kamar. Tak terkecuali ke-duapuluh santri tadi yang hendak memberikan kejutan ultah untuk si Rehan --yang sedari awal ia tahu akan ultah, namun tidak tahu jika teman-temannya punya kejutan untuknya. Selama ini teman-temannya masih merahasiakan rencana tersebut darinya. Jadilah teman-temannya itu bersusah-susah mencari ide sementara ia nikmat saja menjalani hari.
Sampai dikamar, sembari menunggu walikamar datang, Ustadz Ivan, beberapa dari mereka ada yang melakukan giat pribadi seperti merapihkan kasur, isi lemari, alat mandi, atau berganti baju dan menggosok gigi. Tapi semua itu tak berlangsung lama.
BRAKK!
Ada yang memukul pintu. Setelah dilihat, Ustadz Ivan rupanya.
"Dari pagi kenapa kamarnya masih kotor?! Siapa yang piket hari ini HAH!?" Raut mukanya menegang, sajadah tebal tergenggam di tangannya yang berurat. Itu yang tadi digunakannya untuk memukul pintu. Usianya juga masih muda, krn itu tenaganya juga masih fresh.
"Lantai belum di sapu! Galon belum di isi! Itu trashbag di depan juga belum diganti! Ayo Rizki, Rehan, ganti sana trashbag-nya, buang ke belakang gedung!"
Satu kamar masih dibuat kaget sekaligus heran. Kamar mereka ini sudah cukup rapi, isi sampah di trashbag juga belum penuh. Memang, galon belum terisi, tapi itu juga belum ada yang butuh, lagian mereka juga baru kembali dari masjid.
"Buru ganti!"
Dengan segera Rizki dan Raihan membawa trashbag yang belum penuh dengan sampah itu ke belakang gedung. Toh, daripada nanti nambah masalah, mending dikerjakan.
Sepeninggal mereka berdua, Ustadz Ivan kembali memberikan titah, namun kali ini dengan ekspresi wajah yang berbeda.
"Ayo semuanya, ngumpul sini ke tengah!" Seperti api terguyur air, tidak ada lagi tanda-tanda beliau sedang marah. Wajah mudanya kembali cerah.
"Ngapain tadz? Ada apa?"
"Loh, kok nanya sih? Kan antum semua ada ide mau kasih kejutan buat si Rehan kan. Katanya mau ustadz bantu"
Semua terdiam. Wajah-wajah yang tadinya buntu mencari ide, kembali cerah dengan harapan baru.
"Btw, ustadz tahu dari mana kami punya ide?"
"Baru aja. Tadi si Arvin nyamperin ustadz sebelum sholat isya."
Rupanya si mas-mas kasir warung madura itu sudah bertindak duluan. Tersenyum penuh kebanggaan di baris paling tengah.
* * *
Diantara kumpulan para santri yang membentuk barisan berdasarkan kamarnya, terlihat dua barisan yang sedikit berbeda karena mereka tidak berkumpul di Qa'ah (Aula). Mereka baris berhadap-hadapan di depan kelas mereka sendiri. Sambil menunggu seruan adzan untuk berbuka puasa ramadhan --memang, saat itu sedang bulan puasa, seluruh santri menghabiskan waktunya dengan bercakap-cakap satu sama lain ataupun membaca Qur'an saku mereka.
Termasuk dua puluh orang santri yang memisahkan diri dari Qa'ah tadi.
"...Mendingan ana, cetak gol sekali. Dari pada antum, nggak ada sama sekali"
"Yee... Ana yang ngoper ke antum ya, ama striker yg lain. Gak ada ana, kagak ada yang ngoper. Bisa kalah kita. Iziin..."
Yang lainnya tertawa. Tak terasa adzan maghrib telah berkumandang.
"Alhamdulillah.. Semoga Allah SWT menerima ibadah puasa kita semua." Ucap Ustadz Ivan yang berada di baris terdepan. Diaminkan beramai-ramai.
"Tapi... Setelah berdo'a buka puasa, semuanya tidak ada yang makan dan minum terlebih dahulu! Ada yg mau dibicarakan." Tiba-tiba atmosfer percakapan berubah serius, intonasi suara Ustadz Ivan mendatar, juga raut mukanya. Membuat seluruhnya ikutan was-was.
"Tadi Ustadz nemu ini di kamar." Ustadz Ivan mengeluarkan sesuatu dari kantong jubahnya, sebuah Hp Android. Barang terlarang pondok ini. Semuanya tambah tegang.
"Ada yang mau mengaku duluan ini punya siapa? Sebelum Ustadz cari tahu."
Hening, hingga seorang santri angkat tangan.
"I-itu punya ana tadz..."
"Kumara? Ini punya antum? Kenapa antum selundupin?"
"Bukan ana tadz.. Kan udah ana balikin ke ustadz, ahad kemarin.."
Kembali hening.
"Memangnya... Itu nemu di mana tadz?" Temannya bertanya.
"Ustadz nemu ini di lemari Rehan..."
Terdiam semua. Muka Rehan pucat.
"Rehan! Berdiri antum!"
Rehan menurut. Ia berusaha bangkit berdiri.
"Sekarang antum yang ustadz tanya Rehan, kenapa ini ada di lemari antum?"
"Ana nggak tahu tadz.. Bukan ana."
"Kalau bukan kenapa bisa ada di situ? Buktinya apa?!"
"Ya ana gak tahu tadz.. Bukan ana soalnya. Mungkin ada yang selundupin ke lemari ana."
"Gak mungkin ada yg bisa masukin kalau kekunci. Lagian Kunci lemarinya cuma antum yang megang." Tuduh Ustadz Ivan.
Adu Argumen antara Rehan dan Ust Ivan hanya berlangsung singkat, tidak sampai semenit. Karena Rehan yang kehabisan kata-kata dan mulai menyerah membantah, kalah debat dengan Ustadz.
Matanya membasah. Ia menangis.
'Waduh kayaknya kejutan kita kelewatan dah' batin teman-temannya yang tengah bersandiwara.
"Ampun tadz... Beneran, bukan ana pelakunya..." Katanya sendu.
"Ngga, ngga ada. Rizki, tolong bawain mesin cukur."
Segera Rizki bangkit dan pergi dari barisannya.
"Buat yg lainnya, tolong jadikan ini pelajaran. Jangan jadi pembohong..."
Semuanya mengangguk.
"... Karena itu, Ustadz dan teman-teman yang lain mau minta maaf untuk Rehan..."
Eh? demikian ekspresi yg terbaca dari wajah sembab Rehan.
"..."
"Selamat Ultah Rehan !!"
"..."
Pekik suara teman-temannya yang membahana disertai tepuk tangan yang meriah menambah dramatis momen Rizki kembali dengan membawakan seloyang kue bolu --bukannya mesin cukur, untuk Rehan.
Sumber keramaian itu tidak hanya berasal dari internal anggota kamar mereka saja rupanya. Kakak kelas juga teman-teman yang berbeda kamar pun juga ikut meramaikan dengan tepukan tangan, sorak-sorai, dan sedikit aksi tengil seperti menyenggolnya.
Rehan yang menyaksikan itu semua kembali menangis dengan kikuk karena terharu, pun juga menahan malu. Teman-teman nya tertawa dan sedikit menjailinya dengan kata-kata maupun senggolan.
"Han, jangan nangis Han."
"Wkwkwkwk..."
"Batal aja nih, kuenya?" Dan bermacam lainnya.
Ustadz Ivan juga meminta maaf kepadanya akibat sandiwara beliau yang berlebihan.
"Di maafin gak nih? Rehan " Tanya Ustadz, tersenyum.
Rehan mengangguk.
"Iya tadz, di maafin. Makasih ya semuanya." berusaha tertawa.
Semuanya saling merangkul pundak. Selepas itu semuanya berjalan normal. Ta'jil kembali boleh dimakan, pergi ke masjid untuk sholat maghrib, dan dilanjut makan berat sambil membahas apa saja, terutama tentang peristiwa yang baru saja terjadi.
[Tamat]
hanafi








