Loading...
Logo TinLit
Read Story - Kamu Pernah Jadi Rumahku
MENU
About Us  

➷PROLOG➹

 

“Rumah tidak selalu berbentukbangunan.Kadang, rumah adalah seseorang yang membuat kita merasa aman untuk kembali.”

Sena dulu tidak pernah benar-benar mengerti arti kalimat itu.

Baginya, rumah hanyalah tempat untuk pulang, tidur, lalu mengulang hari yang sama keesokan paginya.

Tidak lebih.

Rumahnya tidak pernah penuh teriakan besar atau kekerasan seperti cerita orang-orang di internet. Semuanya terlihat biasa saja, namun terasa berantakan dan menyesakkan. 

Ibunya selalu bangun paling pagi untuk menyiapkan sarapan.

Ayahnya tetap berangkat kerja setiap hari.

Mereka masih makan malam di meja yang sama.

Tapi entah kenapa, rumah itu tetap terasa dingin.

Obrolan di meja makan selalu singkat.Ayahnya lebih banyak diam sambil memainkan ponsel.Ibunya sibuk membereskan piring setelah makan.

Dan Sena… terbiasa menyimpan semuanya sendiri.

Capek sekolah sendiri.Nangis sendiri.Takut sendiri.

Tidak ada yang benar-benar bertanya:

“Kamu kenapa?”

Awalnya Sena pikir semua orang hidup seperti itu.

Sampai suatu hari dia sadar kalau tidak semua rumah terasa sesunyi rumahnya.

Di sekolah, Sena hanyalah cewek biasa yang nyaris tidak pernah diperhatikan.

Dia duduk di pojok kelas, jarang bicara, dan selalu memakai ekspresi datar yang membuat orang malas mendekat.

Beberapa orang menganggapnya sombong.

Beberapa lainnya bahkan tidak sadar kalau Sena ada.

Dan jujur saja, Sena tidak peduli.

Semakin sedikit orang mengenalnya, semakin mudah baginya menyembunyikan semua yang pelan-pelan menghancurkan dirinya.

Sampai Raka Wicaksana Pradana datang.

Cowok paling bermasalah di sekolah.

Langganan guru BK.Sering bolos pelajaran. Balapan liar hampir setiap malam.

Orang seperti Raka seharusnya tidak pernah tertarik pada cewek seperti Sena.

Tapi anehnya, cowok itu selalu muncul di dekatnya.

Duduk di kursi sebelah.

Mengganggunya saat sedang membaca buku di perpustakaan.Menungguinya pulang sekolah.Bahkan terus mengajaknya bicara meski Sena berkali-kali bersikap dingin.

“Lo nggak capek gue jutekin terus?”

“Nggak.”

“Kenapa?”

“Karena gue penasaran sama lo.”

Dan tanpa Sena sadari, untuk pertama kalinya ada seseorang yang benar-benar memperhatikan dirinya.

Seseorang yang sadar kalau senyumnya palsu.

Seseorang yang tahu kalau kalimat “gue gapapa” sering kali berarti sebaliknya.

Raka perlahan menjadi tempat paling nyaman yang pernah Sena punya.

Tempat pulang yang selama ini nggak pernah ia temukan di mana pun.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags