Loading...
Logo TinLit
Read Story - Menyulam Kenangan Dirumah Lama
MENU
About Us  

Hari itu aku menemukan sebuah benda kecil di bawah tumpukan koran lama di lemari kamar belakang. Warnanya sudah pudar. Pinggir-pinggirnya terlipat. Kertasnya kekuningan, dan ada noda bekas teh atau mungkin kopi di halaman pertamanya. Sebuah buku catatan bersampul merah muda kusam, dengan tulisan spidol di sampulnya: "Rahasia Tahun 1998. Jangan dibaca kecuali kamu aku."

Tulisannya jelas tulisan anak-anak. Hurufnya tak rapi, kadang besar kadang kecil. Dan aku tahu persis siapa penulisnya.

Aku.

Tangan ini agak gemetar waktu membalik halaman pertama. Bukan karena takut, tapi karena rasa penasaran yang membuncah bercampur haru. Rasanya seperti membuka pintu ke ruang yang sudah lama terkunci di kepala sendiri.

Halaman pertama hanya berisi tulisan besar: “Mulai hari ini, aku punya tempat untuk bercerita.”

Aku tersenyum. Kalimat pembuka itu sederhana, tapi jujur. Dan itu cukup jadi alasan kenapa aku ingin terus membaca sampai halaman terakhir.

 

3 Maret 1998
Hari ini Ibu marah karena aku nyiram tanaman pakai air cucian beras yang ada sabunnya. Tapi aku kira itu air bersih. Dira ketawa-ketawa terus dan nggak mau bantu jelasin. Jadi aku dimarahin sendiri.

Tapi malamnya Ibu kasih aku roti bakar isi cokelat. Katanya, “Tadi Ibu ngomel, tapi Ibu sayang.” Aku senang.

Betapa sederhananya rasa bersalah dan maaf saat kita masih kecil. Dunia belum penuh ego. Marah tidak pernah berlama-lama, dan cinta bisa disampaikan lewat roti bakar isi cokelat.

 

20 April 1998
Aku tadi nangis gara-gara nilai matematika cuma 5. Tapi Ayah bilang, “Kamu nggak perlu jadi juara, cukup terus belajar.” Terus dia ajarin aku pakai kancing baju buat ngitung. Seru juga.

Tulisanku makin jelek di bagian itu. Sepertinya ditulis sambil menangis. Tapi aku juga membaca ulang dengan senyum. Ayah memang punya cara sendiri dalam menghibur. Tidak banyak kata manis, tapi tindakannya selalu membekas.

 

Di halaman tengah buku itu, ada satu halaman yang dilingkari dengan spidol merah:

1 Juni 1998
Hari ini ulang tahunku yang ke-10. Aku nggak dibikinin pesta, tapi Ibu masak mie goreng spesial dan Ayah beliin kue dari toko depan gang. Dira kasih aku hadiah gambar dinosaurus dari kertas binder. Katanya, "Nih buat kamu. Karena kamu keras kepala kayak T-Rex."

Aku ketawa sampai tumpah teh di baju.

Aku bahkan masih bisa mencium aroma mie goreng Ibu di kepalaku saat membaca bagian itu. Aneh ya, ternyata kenangan bisa bertahan di ujung indera kita. Tersimpan begitu rapi, hanya perlu pemicu kecil untuk menguap ke permukaan.

Di antara tulisan-tulisan harian yang lucu dan jujur, aku juga menemukan halaman kosong. Banyak sekali. Seolah aku pernah ingin menulis banyak, tapi lupa, atau terlalu sibuk bermain petak umpet dan gundu.

Namun halaman kosong itu justru memberi ruang imajinasi. Apa yang ingin kutulis saat itu? Apa yang kupikirkan tapi tak sempat tertuang? Rasanya seperti menatap langit malam—ada begitu banyak bintang yang tak terlihat, tapi kita tahu, mereka ada.

Satu tulisan menohok muncul di bagian akhir buku:

5 November 1998
Hari ini aku lihat Ibu duduk di ruang tamu sendirian. Lampu belum dinyalakan, tapi matanya kelihatan berkaca-kaca. Aku nggak tanya kenapa. Aku cuma duduk di sampingnya, pura-pura nonton TV padahal nggak nyala.

Setelah lama diam, Ibu pegang tanganku dan bilang, “Terima kasih ya, kamu teman duduk yang baik.”

Aku menutup buku itu sebentar. Menghela napas panjang. Dan air mata yang sejak tadi kutahan, akhirnya jatuh juga.

Momen itu, ternyata masih hidup di kepalaku. Aku memang tidak mencatatnya di kalender, tidak menyimpannya di album foto, tapi aku pernah menyimpannya di halaman kecil buku harian ini.

Dan hari ini, aku menemukannya kembali masih utuh, masih hangat.

“Lagi baca apa?” suara Dira dari balik pintu kamar.

Aku menunjukkan buku itu. “Buku harian. Tahun 1998.”

Dia duduk di sampingku, mengambil alih buku itu dan mulai membaca perlahan. Lalu tertawa, lalu diam, lalu tertawa lagi.

“Aku memang bilang kamu kayak T-Rex, ya?” katanya geli.

“Dan kamu kasih aku gambar dinosaurus jelek,” jawabku tertawa.

Kami membolak-balik halaman itu bersama. Membaca ulang masa kecil yang ternyata tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu dipanggil kembali.

“Aku pikir dulu kita nggak punya kenangan istimewa,” ucap Dira pelan.

Aku menoleh. “Kenapa kamu pikir begitu?”

“Soalnya kita nggak punya foto-foto bagus, nggak pernah liburan mewah. Rumah ini kecil. Tapi ternyata... kita punya ini semua.” Ia mengangkat buku itu.

Aku mengangguk. Karena aku tahu: bukan bentuk kenangan yang penting, tapi rasa yang tertinggal setelahnya.

Sebelum kami menutup buku itu, aku menuliskan satu kalimat di halaman belakang:

“Untuk aku yang menulis di usia sepuluh tahun,
terima kasih sudah menyimpan cinta, tangis, dan tawa dengan jujur.
Aku, versi dewasa ini, sangat bangga padamu.”

Lalu kami menutup buku itu bersama.

Aku meletakkannya di rak kecil dekat jendela, bersama barang-barang lain yang ingin kami simpan, bukan karena mahal, tapi karena bermakna.

Refleksi:

Buku harian bukan sekadar catatan. Ia adalah saksi bisu bagaimana hati kecil kita belajar merasa. Tahun 1998 mungkin hanya angka, tapi di dalamnya terkumpul perasaan-perasaan pertama: patah hati kecil, tawa lepas, dan cinta tanpa syarat.

Dan ketika hari ini kita menemukannya kembali,
rasanya seperti bertemu dengan diri sendiri
yang selama ini hanya menunggu untuk dipeluk kembali.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (1)
  • juliartidewi

    Mengingatkanku pada kebaikan2 ortu setelah selama ini hanya mengingat kejelekan2 mereka aja.

    Comment on chapter Bab 15: Boneka Tanpa Mata
Similar Tags
My world is full wounds
570      421     1     
Short Story
Cerita yang mengisahkan seorang gadis cantik yang harus ikhlas menerima kenyataan bahwa kakinya didiagnosa lumpuh total yang membuatnya harus duduk di kursi roda selamanya. Ia juga ditinggalkan oleh Ayahnya untuk selamanya. Hidup serba berkecukupan namun tidak membuatnya bahagia sama sekali karena justru satu satunya orang yang ia miliki sibuk dengan dunia bisnisnya. Seorang gadis cantik yang hid...
Ada Cinta Dalam Sepotong Kue
8229      2907     1     
Inspirational
Ada begitu banyak hal yang seharusnya tidak terjadi kalau saja Nana tidak membuka kotak pandora sialan itu. Mungkin dia akan terus hidup bahagia berdua saja dengan Bundanya tercinta. Mungkin dia akan bekerja di toko roti impian bersama chef pastri idolanya. Dan mungkin, dia akan berakhir di pelaminan dengan pujaan yang diam-diam dia kagumi? Semua hanya mungkin! Masalahnya, semua sudah terlamba...
Gareng si Kucing Jalanan
17203      6408     0     
Fantasy
Bagaimana perasaanmu ketika kalian melihat banyak kucing jalanan yang sedang tertidur sembarangan berharap ketika bangun nanti akan menemukan makanan Kisah perjalanan hidup tentang kucing jalanan yang tidak banyak orang yang mau peduli Itulah yang terjadi pada Gareng seekor kucing loreng yang sejak kecil sudah bernasib menjadi kucing jalanan Perjuangan untuk tetap hidup demi anakanaknya di tengah...
Mapel di Musim Gugur
611      450     0     
Short Story
Tidak ada yang berbeda dari musim gugur tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya, kecuali senyuman terindah. Sebuah senyuman yang tidak mampu lagi kuraih.
Kenapa Harus Menikah?
196      180     1     
Romance
Naisha Zareen Ishraq, seorang pebisnis sukses di bidang fashion muslimah, selalu hidup dengan prinsip bahwa kebahagiaan tidak harus selalu berakhir di pernikahan. Di usianya yang menginjak 30 tahun, ia terus dikejar pertanyaan yang sama dari keluarga, sahabat, dan lingkungan: Kenapa belum menikah? Tekanan semakin besar saat adiknya menikah lebih dulu, dan ibunya mulai memperkenalkannya pada pria...
Kisah-Kisah Misteri Para Pemancing
2138      1119     1     
Mystery
Jika kau pikir memancing adalah hal yang menyenangkan, sebaiknya berpikirlah lagi. Terkadang tidak semua tentang memancing bagus. Terkadang kau akan bergelut dengan dunia mistis yang bisa saja menghilangkan nyawa ketika memancing! Buku ini adalah banyak kisah-kisah misteri yang dialami para pemancing. Hanya demi kesenangan, jangan pikir tidak ada taruhannya. Satu hal yang pasti. When you fish...
Janji-Janji Masa Depan
21522      7011     12     
Romance
Silahkan, untuk kau menghadap langit, menabur bintang di angkasa, menyemai harapan tinggi-tinggi, Jika suatu saat kau tiba pada masa di mana lehermu lelah mendongak, jantungmu lemah berdegup, kakimu butuh singgah untuk memperingan langkah, Kemari, temui aku, di tempat apa pun di mana kita bisa bertemu, Kita akan bicara, tentang apa saja, Mungkin tentang anak kucing, atau tentang martabak mani...
Kita Yang Tenggelam Dalam Gelap
107      18     0     
Romance
Satoshi, seorang remaja yang hidup dalam bayang-bayang trauma masa kecil, terperangkap dalam pusaran hubungan yang gelap dan ambigu dengan seorang gadis bernama Misakisosok yang memadukan kelembutan, rahasia, dan kegilaan dengan cara yang begitu memikat. Pertemuan mereka bukanlah awal kisah cinta biasa, melainkan awal dari keretakan realitas, pembusukan moral, dan bangkitnya sisi gelap yang selam...
NEET
636      475     4     
Short Story
Interview berantakan bukan pilihan. Seorang pria melampiaskan amarahnya beberapa saat lalu karena berkali-kali gagal melamar pekerjaan, tetapi tidak lagi untuk saat ini, karena dia bersama seseorang. Cerita ini dibuat untuk kontes menulis cerpen (2017) oleh tinlit. NEET (Not in Education, Employment, orTraining) : Pengangguran. Note: Cover sama sekali tidak ada hubungannya dengan cerita...
Merayakan Apa Adanya
2145      1637     8     
Inspirational
Raya, si kurus yang pintar menyanyi, merasa lebih nyaman menyembunyikan kelebihannya. Padahal suaranya tak kalah keren dari penyanyi remaja jaman sekarang. Tuntutan demi tuntutan hidup terus mendorong dan memojokannya. Hingga dia berpikir, masih ada waktukah untuk dia merayakan sesuatu? Dengan menyanyi tanpa interupsi, sederhana dan apa adanya.