Loading...
Logo TinLit
Read Story - Loveless
MENU
About Us  

Aroma karat logam dan anyir lebur jadi satu saat untuk kali kesekian cairan merah pekat itu keluar dari mulut gue. Rasanya mau nyerah, apalagi dalam kondisi kayak gini, Ibu dan Selly kompak diemin gue. Mereka masih marah karena kejadian kemarin. Selly selalu buang muka setiap ketemu gue, bahkan nangis diam-diam, seolah gue merebut sesuatu yang besar dari hidupnya. Mungkin iya, tapi bukan tanpa alasan, kan? Gue berusaha menyelamatkan dia karena tau Pak Taufik bukan orang setulus itu yang mau menawarkan sesuatu tanpa imbalan yang setimpal.

Dengan napas terengah, gue berusaha bangun dan kembali ke kamar. Masih ada orderan kover yang harus gue selesaikan karena orangnya udah bayar lunas di muka, tapi gue beneran nggak tahan. Jangankan dipaksa buat mikir, sekadar lihat layar HP nggak sanggup.

Gue sempat chat dokter yang jaga di tempat kerja, untungnya direspons dengan cepat, dan tanpa basa-basi Dokter Arka langsung minta gue ke IGD, sekarang juga. Tapi, gue nggak bisa. Gimana kalau kondisi ini ternyata nggak masuk golongan penyakit yang di-cover BPJS. Ibu sama Selly bisa makin marah karena gue merepotkan dan buang-buang uang. Pegangan gue juga nggak seberapa, hasil pembuatan kover digital aja.

Jam satu malam, sama siapa gue harus minta pertolongan? Ibu sama Selly nggak mungkin karena mereka terang-terangan musuhin gue. Minta tolong sama orang lain pun mustahil karena itu bakal bikin citra Ibu dan Selly jelek di mata mereka. Gue takut kalau misal suatu hari gue nggak ada—dengan citra buruk yang melekat—mereka kesulitan dapat pertolongan saat membutuhkan. Ibu benar, kalau gue nggak bisa membahagiakan mereka, cukup dengan  tidak mempersulit.

Sengaja gue nggak ngunci pintu, takut sesuatu yang buruk terjadi. Ibu sama Selly pasti kesulitan menemukan gue. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, gue mencoba menghubungi seseorang. Lala. Nggak ada lagi yang muncul di kepala gue selain dia.

Saya

La, lo keberatan nggak kalau misal gantiin gue masuk pagi? Kalau jam 6.00 gue belum ada kabar, tolong masuk, ya, La.

Siapa sangka anak itu belum tidur. Kurang dari dua menit dia udah kirim balasan.

Lala

Lo kenapa? Sakit? Apa gimana? Gue bisa kok gantiin. Tapi, lo kenapa?

Gue udah nggak bisa balas. Nggak bisa. Tangan gue mati rasa. Tiba-tiba muncul notifikasi sambungan video. Gue kaget, tapi susah payah berusaha menerima, biar Lala nggak berpikir macam-macam. Gue berusaha buat bangun, tapi nggak bisa. Jadi, bertahan dalam posisi tiduran dengan HP gue simpan di bantal sebelah.

Sosok Lala muncul di layar HP gue. Dia pake baju tidur bergambar Chibi Maruko Chan, dibalut lagi pake jaket merah muda polos. Rambutnya terikat asal, tapi lucu. Cukup buat gue senyum dan lupa sama kondisi sebelumnya.

"Nu, lo kenapa? Kenapa pucat banget? Gue ke sana, ya?"

"Nggak apa-apa. Rada nggak enak badan aja makanya gue minta tolong."

"Gue ke sana oke? Kita ke dokter. Gue ada mobil kok. Soal besok jangan khawatir. Gue nggak keberatan gantiin."

Sebisa mungkin gue berusaha buat senyum. "Nggak usah, La. Udah malam lagian. Bisa disemprot lo kalau malam-malam ke rumah cowok. Udah diam aja. Gue masih bisa ngobrol sama lo berarti aman."

"Tapi, Nu ...."

"Lo tenang oke? Ini udah malam, La. Serem banget cewek malam-malam ke sini."

"Gue bisa minta antar sopir."

Kadang gue heran, kenapa orang sekaya Lala bisa nyangkut di tempat gue kerja? Padahal, dia bisa lanjut kuliah sampai jadi Apoteker, bikin apotek sendiri, dan hidup dengan bebas. Kenapa dia memilih tempat di mana kerja kerasnya nggak dihargai, fisiknya dipandang hina, dan kebaikannya dimanfaatkan?

"Nu, ih, malah diam. Gue takut."

Ini kali kedua gue dengar suara dia kayak orang yang hampir nangis, persis pas gue blackout waktu itu. Tatapannya terlihat tulus biarpun matanya berkaca-kaca, dan kali ini benar-benar nangis. Gue jadi ngerasa bersalah menghubungi dia tengah malam.

"La, jangan nangis."

"Gue juga nggak tau kenapa nangis. Air matanya keluar sendiri, dan sekarang nggak mau berhenti."

Dia nggak bohong. Berkali-kali tangannya gerak buat ngusap air matanya, tapi basah lagi basah lagi. Hidungnya udah semerah tomat, matanya juga sedikit bengkak bikin gue ngerasa bersalah berkali-kali lipat. 

"La, udah, ya. Gue nggak apa-apa. Besok gue pasti ngabarin lo kok. Gue usahain sebelum jam enam. Tapi, kalau jam enam belum ada, sorry banget gue minta tolong lo masuk."

Karena nggak ada jawaban, gue kembali bersuara.

"Ya udah kalau gitu. Lo tidur, gih. Sorry gue gangguin malam-malam. Gue nggak tau apa yang bakal gue bilang ini penting atau nggak, tapi jangan mikir aneh-aneh, ya, La. Gue bakal berusaha tetap hidup kok."

Sekali lagi dia nggak jawab. Tapi, pas gue mau matiin sambungan videonya. Dia tiba-tiba manggil.

"Nu."

"Hm?"

"HP gue bunyi kalau ada notifikasi. Jadi, misalkan ada apa-apa jangan ragu buat telepon gue oke? Gue juga gampang kebangun sama suara sekecil apa pun, gue pasti datang lebih cepat dari ambulans."

Gue tertawa kecil mendengar celotehan dia. "Oke. Thank you, La. Sana tidur."

"Nu."

"Kenapa lagi, Lalisa?"

Dia langsung diam gitu, tapi nggak lama tiba-tiba bilang, "Jangan lupa bangun lagi oke? Lo masih punya utang empat ribu."

Setelah itu sambungan benar-benar terputus. Dibanding jangan pergi, dia lebih suka bilang sesuatu yang berbelit-belit. Dibanding membantu terang-terangan, dia lebih suka menolong dengan caranya. Itu yang membuat dia berbeda.

Gue juga berusaha buat tidur. Sakitnya emang belum hilang, tapi membaik dibanding tadi. Sedikit banyak, Lala yang membantu mengatasinya. Lala berhasil bikin gue fokus sama dia, bukan rasa sakit ini.

***

Biarpun bisa bangun, hari ini gue tetap izin nggak masuk. Lala dengan senang hati menggantikan walaupun artinya dia harus jaga sendiri. Gue memutuskan buat ke rumah sakit. Pengin tau apa yang sebenarnya terjadi sama gue.

Gue masih pengin hidup. Boleh, kan?

Sebelum ke rumah sakit gue sempat nanya sama Teh Bunga soal daftar online dan lain-lain, jadi hari ini gue datang pagi banget karena dapat antrean nomor dua. Ternyata datang pagi sekalipun nggak bikin gue dilayani dengan cepat. Antrean membludak, dan sekarang pendaftaran pasien BPJS pake sejenis mesin ATM yang nggak cuma digunakan untuk satu poli, jadi semua numpuk di sana. Gue berusaha sabar banget, tau diri juga, mau bagaimanapun kondisi gue sekarang sistem tetap sistem.

Karena ini pertama kali, jadi prosesnya berasa panjang banget nggak tau kenapa. Padahal, cuma nunggu antrean pendaftaran, antrean poli, terus pulang, tapi rasanya selama itu.

Rasanya agak aneh pas gue duduk di ruang tunggu poli satu—dengan nama dr. Hanindya Amaris, Sp.Pd tertulis depan pintu—sama orang-orang yang kebanyakan udah berumur. Mereka diantar, sedangkan gue sendiri. Setelah lama nunggu pasien pertama selesai, akhirnya gue dipanggil. Seorang perawat mempersilakan gue masuk dan di dalam sana dokter cantik berjilbab biru navy menyambut.

"Halo, selamat pagi. Dengan ... Reinanda betul?"

"Wisnu aja, Dok."

"Oh, baik. Wisnu apa keluhannya?"

"Belakangan ini saya sering mual, Dok. Muntah juga lumayan sering, dan beberapa hari terakhir sampai keluar darah. Nyeri ulu hati sama perut yang sakitnya, tuh, sakit banget. Berat badan menurun drastis. Beberapa kali saya juga pingsan."

"Mual dan muntahnya biasanya kisaran jam berapa?"

"Pagi lebih sering, tapi sekarang tengah malam menjelang pagi juga gitu. Setiap habis makan juga, Dok."

"Muntah darahnya, seperti apa warnanya?"

"Merah pekat, Dok. Kadang berasa ada gumpalan juga dan tenggorokan saya sakit banget."

Dokter Hanin menatap gue dengan sorot tenang, tapi serius. Jujur, itu bikin gue takut. Dia kayak lagi berusaha ngomong, ‘Hayo, ada yang nggak beres sama badan lo’. Tangannya bergerak cepat mengetik sesuatu di komputer, sebelum akhirnya minta gue rebahan di bed pasien dan meriksa gue. Awalnya pake stetoskop, tapi setelah selesai dia memberi tekanan-tekanan kecil di perut atas gue, dan sukses membuat gue nyaris bangun dari posisi semula saking sakitnya.

"Gejala yang kamu sampaikan berkaitan dengan beberapa kondisi serius pada lambung, dan saya nggak bisa menegakkan diagnosis tanpa pemeriksaan lengkap."

Oke, gue bisa membaca ke mana arahnya. Intinya sakit gue ini serius, kan?

"Jadi, kita harus melakukan beberapa pemeriksaan seperti endoskopi, tes darah, CT-Scan dan lain-lain. Karena kamu pakai BPJS, saya siapkan dulu berkas-berkasnya nanti dibantu perawat. Endoskopi juga mungkin nggak bisa langsung, pasti dijadwalkan dulu. Saya harap selama masa menunggu kamu bisa menjaga kondisi kamu. Makan teratur. Hindari makanan asam, pedas, berminyak. Kalau sampai muntah darah lagi, langsung ke IGD, jangan nunggu!"

Gue cuma ngangguk tanpa menjawab. Tau banget semua masalah prosedur, dan semua pemeriksaan itu juga nggak akan bisa dilakukan dalam sehari.

"Kamu tetap saya kasih obat buat sementara, ya. Dua obat untuk lambung, satunya untuk mengurangi mual-muntah."

Lagi, nggak ada kata yang berhasil keluar dari bibir gue. Padahal, udah ketebak dari awal kalau sakit gue serius, tapi tetap aja gue syok sampe nggak bisa ngomong. Akhirnya gue keluar bawa surat kontrol, resep, dan lembar SKDP, dengan kepala kosong.

Apa gue bakal mati? Sebenarnya bukan masalah besar, tapi semoga Tuhan masih mau bermurah hati ngasih gue kesempatan untuk berbuat baik, dan memastikan Ibu dan Selly udah bisa berdiri sendiri.

Gue duduk sendiri di depan intalasi farmasi buat nunggu obat, dan ternyata lama banget. Tapi, gue berusaha mengalihkan perasaan kesal ini karena kalau nggak, pasti ada aja usaha lambung gue buat ngasih gebrakan. Akhirnya, gue cuma duduk tenang, napas, sambil melihat ke luar. Nggak ada yang spesial, cuma aktivitas keluar masuk IGD. Suatu hari gue mungkin akan ada di sana juga, atau mungkin langsung masuk ruang jenazah? 

Kalau bisa, sih, jangan. Jangan bikin susah Ibu dulu sebelum pergi. Bisa terancam nggak masuk surga gue kalau begitu.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 1 0 0
Submit A Comment
Comments (36)
  • nazladinaditya

    aduh, siapapun gigit cantika tolong 😭 aku pernah bgt punya temen kerja begitu, pengen jambak:(

    Comment on chapter Chapter 7 - Sisi baik dan kebahagiaan yang Tuhan janjikan
  • serelan

    Sumpah udh gedeg banget sama atasannya. Sikapnya kya org yg gak berpendidikan mentang² punya power. Maen tuduh, rendahin org, nginjek² org mulu tanpa nyari tau dulu kenyataannya. Klo tau ternyata si Jelek -males banget manggil Cantika- yg lagi² bikin kesalahan yakin sikapnya gak sama dgn sikap dia k Wisnu mentang² dia cewek cantik😡 lagian tu cewek gak becus knp masih d pertahanin mulu sih d situ, gak guna cuma bikin masalah bisanya. Tapi malah jadi kesayangan heran😑

    Comment on chapter Chapter 8 - Lebih dari hancur
  • serelan

    Nu Wisnuuu semoga jalan untuk menemukan kebahagian dalam hidupmu dimudahkan ya jalannya

    Comment on chapter Chapter 7 - Sisi baik dan kebahagiaan yang Tuhan janjikan
  • serelan

    Buat atasannya Wisnu jangan mentang² berpendidikan tinggi, berprofesi sebagai seorang dokter anda bisa merendahkan orang lain ya.. yang gak punya etika itu anda hey coba ngaca... ada kaca kan d rumah??
    Buat si Cantika yang sifatnya gak mencerminkan namanya anda d kantor polisi ya? Gara² apa kah? Jangan balik lg ya klo bisaaaa

    Comment on chapter Chapter 7 - Sisi baik dan kebahagiaan yang Tuhan janjikan
  • serelan

    Khawatirnya si ibu cuma karena mikirin masa depan si Selly mulu, takut banget klo mas Wisnu d pecat. Padahal jelas² tau mas Wisnu lg sakit tapi nyuruh buru² kerja jgn sampe d pecat. Semangat pula nyiapin bekal dan jadi tiba² perhatian cuma karena mas Wisnu bilang mau nyari kerja part time. Biar dapet tambahan duit buat si Selly ya bu ya😑.

    Comment on chapter Chapter 7 - Sisi baik dan kebahagiaan yang Tuhan janjikan
  • nazladinaditya

    baru baca bab 3, speechless si.. cantika kata gue lo asu 😭🙏🏻 maaf kasar tp kamu kayak babi, kamu tau gak? semoga panjang umur cantika, sampe kiamat

    Comment on chapter Chapter 3 - Dorongan atau peringatan?
  • serelan

    Curiga Selly yg ngambil dompet ibunya terus uangnya d pake CO Shopee, karena takut ketauan belanja sesuatu makanya pulang dulu buat ambil paketnya... Atasannya mas Wisnu cunihin ya sepertinya😂 ke cewe² aja baik, ke cowo² galak bener... gak adakah org yg bener² baik di sekitaran Wisnu? Ngenes banget idupnya..

    Comment on chapter Chapter 6 - K25.4
  • nazladinaditya

    siapa yang menyakitimuu wahai authoorrr 😭😭 tolong musnahkan ibu itu, singkirkan dia dari wisnu jebal

    Comment on chapter Chapter 5 - Pergi sulit, bertahan sakit
  • serelan

    Kesel banget sama ibunya. Selalu banding²in. Negative thinking terus lagi sama Wisnu. Awas aja klo ternyata anak yg d bangga²kan selama ini justru malah anak yg durhaka yg gak tau diri, rusak gara² cara didik yg gak bener.

    Comment on chapter Chapter 5 - Pergi sulit, bertahan sakit
  • serelan

    Nu, udh parah itu Nu🥺
    Nu, coba bilang aja dulu sama atasan klo si Selly mau coba bantu² biar liat gimana kakaknya diperlakukan di tempat kerjanya. Biar bisa mikir tu anak kakaknya nyari duit susah payah.

    Comment on chapter Chapter 4 - Namanya juga hidup
Similar Tags
Time and Tears
933      699     1     
Romance
Rintik, siswi SMA yang terkenal ceria dan berani itu putus dengan pacarnya. Hal berat namun sudah menjadi pilihan terbaik baginya. Ada banyak perpisahan dalam hidup Rintik. Bahkan temannya, Cea harus putus sekolah. Kisah masa remaja di SMA penuh dengan hal-hal yang tidak terduga. Tak disangka pula, pertemuan dengan seorang laki-laki humoris juga menambah bumbu kehidupan masa remajanya. Akankah Ri...
Memoria
369      308     0     
Romance
Memoria Memoria. Memori yang cepat berlalu. Memeluk dan menjadi kuat. Aku cinta kamu aku cinta padamu
Jadi Diri Sendiri Itu Capek, Tapi Lucu
14571      5456     7     
Humor
Jadi Diri Sendiri Itu Capek, Tapi Lucu Buku ini adalah pelukan hangat sekaligus lelucon internal untuk semua orang yang pernah duduk di pojok kamar, nanya ke diri sendiri: Aku ini siapa, sih? atau lebih parah: Kenapa aku begini banget ya? Lewat 47 bab pendek yang renyah tapi penuh makna, buku ini mengajak kamu untuk tertawa di tengah overthinking, menghela napas saat hidup rasanya terlalu pad...
Pilihan Terbaik
5331      1751     9     
Romance
Kisah percintaan insan manusia yang terlihat saling mengasihi dan mencintai, saling membutuhkan satu sama lain, dan tak terpisahkan. Tapi tak ada yang pernah menyangka, bahwa di balik itu semua, ada hal yang yang tak terlihat dan tersembunyi selama ini.
Premonition
5320      2674     10     
Mystery
Julie memiliki kemampuan supranatural melihat masa depan dan masa lalu. Namun, sebatas yang berhubungan dengan kematian. Dia bisa melihat kematian seseorang di masa depan dan mengakses masa lalu orang yang sudah meninggal. Mengapa dan untuk apa? Dia tidak tahu dan ingin mencari tahu. Mengetahui jadwal kematian seseorang tak bisa membuatnya mencegahnya. Dan mengetahui masa lalu orang yang sudah m...
Andai Kita Bicara
2786      1765     3     
Romance
Revan selalu terlihat tenang, padahal ia tak pernah benar-benar tahu siapa dirinya. Alea selalu terlihat ceria, padahal ia terus melawan luka yang tak kasat mata. Dua jiwa yang sama-sama hilang arah, bertemu dalam keheningan yang tak banyak bicaratetapi cukup untuk saling menyentuh. Ketika luka mulai terbuka dan kenyataan tak bisa lagi disembunyikan, mereka dihadapkan pada satu pilihan: tetap ...
Gadis Kopi Hitam
1192      852     7     
Short Story
Kisah ini, bukan sebuah kisah roman yang digemari dikalangan para pemuda. Kisah ini, hanya sebuah kisah sederhana bagaimana pahitnya hidup seseorang gadis yang terus tercebur dari cangkir kopi hitam yang satu ke cangkit kopi hitam lainnya. Kisah ini menyadarkan kita semua, bahwa seberapa tidak bahagianya kalian, ada yang lebih tidak berbahagia. Seberapa kalian harus menjalani hidup, walau pahit, ...
Love Warning
1463      726     3     
Romance
Pacar1/pa·car/ n teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta kasih; kekasih. Meskipun tercantum dalam KBBI, nyatanya kata itu tidak pernah tertulis di Kamus Besar Bahasa Tasha. Dia tidak tahu kenapa hal itu seperti wajib dimiliki oleh para remaja. But, the more she looks at him, the more she's annoyed every time. Untungnya, dia bukan tipe cewek yang mudah baper alias...
Pulpen Cinta Adik Kelas
522      318     6     
Romance
Segaf tak tahu, pulpen yang ia pinjam menyimpan banyak rahasia. Di pertemuan pertama dengan pemilik pulpen itu, Segaf harus menanggung malu, jatuh di koridor sekolah karena ulah adik kelasnya. Sejak hari itu, Segaf harus dibuat tak tenang, karena pertemuannya dengan Clarisa, membawa ia kepada kenyataan bahwa Clarisa bukanlah gadis baik seperti yang ia kenal. --- Ikut campur tidak, ka...
Ansos and Kokuhaku
3865      1384     9     
Romance
Kehidupan ansos, ketika seorang ditanyai bagaimana kehidupan seorang ansos, pasti akan menjawab; Suram, tak memiliki teman, sangat menyedihkan, dan lain-lain. Tentu saja kata-kata itu sering kali di dengar dari mulut masyarakat, ya kan. Bukankah itu sangat membosankan. Kalau begitu, pernah kah kalian mendengar kehidupan ansos yang satu ini... Kiki yang seorang remaja laki-laki, yang belu...