Loading...
Logo TinLit
Read Story - Loveless
MENU
About Us  

Malam ini, aku tidak ingin menyelesaikan apa pun. Tidak ingin menaklukkan dunia. Tidak ingin menertawakan semua luka dengan kalimat motivasi. Aku hanya ingin duduk, diam, dan bernapas perlahan.

Seperti ini saja.

Kepalaku menempel di jendela, melihat lampu-lampu kota yang berjajar seperti kalung yang dibentangkan di atas bumi. Di luar, hujan turun pelan-pelan. Tidak deras, tidak juga malu-malu. Hanya hujan yang tahu caranya hadir tanpa gegap gempita, tapi tetap meninggalkan kesan. Kadang, aku ingin menjadi seperti hujan itu.

Sederhana. Tapi tetap berarti.

Tahu nggak, belakangan ini aku sering merasa capek tanpa tahu kenapa. Bukan karena kerjaan yang numpuk, bukan karena ditinggal teman atau ditolak gebetan (meskipun itu juga terjadi... dua kali). Tapi capek yang datang dari dalam. Seperti ada suara kecil yang bilang, “Kamu harus terus kuat,” padahal aku bahkan belum selesai menyusun ulang semangatku yang sempat pecah jadi potongan-potongan kecil.

Lalu aku sadar, selama ini aku terlalu keras pada diri sendiri.

Kamu juga, mungkin.

Kita berpura-pura baik-baik saja, padahal dunia di dalam dada kita sedang banjir bandang. Kita bilang “nggak apa-apa”, padahal kepala kita penuh dengan “apa-apaan ini?” Kita jalan terus, sambil seret-seret hati yang lecet dan lutut yang gemetar. Dan anehnya, kita bangga karena bisa begitu.

Padahal... siapa sih yang kita coba buktikan semua ini?

Hari ini, aku ingin bilang satu hal penting. Bukan hanya untukku, tapi juga untuk kamu yang membaca ini:

Terima kasih sudah bertahan.

Serius. Terima kasih.

Terima kasih karena kamu memilih untuk tetap ada, meskipun pernah ingin hilang. Terima kasih karena kamu tetap berangkat kerja meski semalam menangis tanpa suara. Terima kasih karena kamu masih tersenyum di depan orang lain, walau ada beban yang nggak sempat kamu ceritakan. Terima kasih karena kamu tidak menyerah pada hari-hari yang terasa terlalu panjang dan malam-malam yang terasa terlalu sunyi.

Aku tahu itu tidak mudah.

Aku tahu kamu pernah ingin berhenti. Pernah merasa tidak cukup. Pernah membandingkan diri dengan orang lain dan berpikir, “Kok hidupku gini-gini aja, ya?” Pernah merasa jadi beban. Pernah mengira kamu satu-satunya yang belum sukses, belum menikah, belum bahagia.

Tapi kamu tetap di sini.

Kamu masih membaca ini, artinya kamu masih punya harapan, meskipun kecil. Masih punya ruang untuk mencintai diri sendiri, walaupun kadang lupa. Masih punya keberanian untuk membuka mata, bangun pagi, dan menjalani hidup yang—jujur saja—nggak selalu adil.

Dan itu luar biasa.

Kamu mungkin tidak menyadarinya, tapi ada versi kecil dari dirimu di masa lalu yang akan bangga melihat kamu sekarang. Versi kecil yang dulu cuma bisa bermimpi punya keberanian seperti yang kamu miliki hari ini. Versi kecil yang dulu menangis di bawah meja belajar karena takut salah, sekarang tumbuh jadi seseorang yang tetap berjalan meski takut. Aku tahu kamu mungkin belum sampai di tempat yang kamu harapkan. Tapi coba lihat perjalanan yang sudah kamu lalui.

Berapa banyak luka yang sudah kamu rawat sendiri?
Berapa banyak hari buruk yang sudah kamu lewati sendirian?
Berapa kali kamu tertawa, bahkan saat hatimu retak?

Banyak, kan?

Dan itu layak untuk dirayakan.

Mungkin bukan dengan pesta besar, bukan dengan kue dan balon. Tapi cukup dengan secangkir kopi di pagi hari, atau tidur yang nyenyak tanpa mimpi buruk. Cukup dengan bilang ke diri sendiri, “Kamu sudah cukup. Kamu sudah hebat.”

Kadang kita lupa, bahwa bertahan juga bentuk kemenangan.

Bukan hanya yang sukses yang layak dibanggakan. Tapi juga yang masih mencoba, yang tetap bernapas, yang belajar mencintai diri sendiri lagi, meskipun pelan-pelan. Lucu, ya? Hidup ini seringnya seperti naik sepeda di tanjakan. Kita ngos-ngosan, ngerasa hampir jatuh, tapi terus kayuh juga. Kadang kita bahkan nggak sadar, ternyata tanjakannya udah lewat. Dan sekarang kita sedang meluncur pelan di jalan yang datar.

Tapi kita masih tegang. Masih ngeri. Masih capek.

Itulah kenapa kita butuh berhenti sejenak. Untuk menyadari bahwa kita sudah lebih jauh dari yang kita kira.

Jadi malam ini, aku ingin bilang ke kamu:
Beristirahatlah.
Kalau kamu lelah, nggak usah memaksakan diri jadi kuat.
Kamu manusia, bukan mesin.
Kamu boleh capek.
Kamu boleh kecewa.
Kamu boleh nangis.

Asal jangan menyerah. Karena dunia ini masih membutuhkanmu.
Suara tawamu.
Ceritamu.
Caramu menyayangi orang-orang di sekitarmu.
Caramu menyeduh teh favoritmu di sore hari.

Dunia mungkin tidak bilang langsung. Tapi aku akan jadi penyambung suaranya malam ini:

Terima kasih telah bertahan.

Terima kasih karena tidak menyerah saat semuanya gelap.
Terima kasih karena kamu memilih untuk tetap tinggal, bahkan saat rasanya semua ingin ditinggalkan.
Terima kasih karena kamu ada.

Dan aku harap, kalau suatu hari kamu lupa bahwa kamu berarti, kamu akan kembali membaca halaman ini. Bukan untuk mengingatku. Tapi untuk mengingat dirimu sendiri.

Dirimu yang berharga.
Dirimu yang layak dicintai.
Dirimu yang tidak harus kuat setiap hari, tapi selalu memilih untuk melangkah, meskipun pelan.

Akhirnya, jika suatu hari kamu bertemu dengan seseorang yang sedang lelah, yang diam-diam bertarung dengan pikirannya sendiri, yang tampak baik-baik saja padahal tidak...
Berikan mereka pelukan.
Atau secangkir kopi.
Atau bahkan sekadar senyum.
Dan bilang pelan-pelan:

“Terima kasih ya, sudah bertahan sejauh ini.”

Karena mungkin, itu kalimat yang sudah lama sekali ingin mereka dengar.

Dan sekarang, aku bilang lagi...
Untuk kamu yang sudah membaca sampai akhir:

Terima kasih. Kamu sudah luar biasa.

Malam itu, aku duduk di beranda rumah, memandangi langit yang mulai berwarna jingga. Angin semilir membawa aroma kopi dari dapur, mengingatkanku pada pagi-pagi bersama Ayah. Ayah bukan tipe pria romantis. Ia jarang mengucapkan kata sayang, apalagi memeluk. Tapi ia selalu memastikan aku sarapan sebelum berangkat sekolah, menjemputku saat hujan turun, dan diam-diam menyelipkan uang jajan tambahan di tasku.

Suatu hari, saat aku masih kecil, aku bertanya, "Ayah, kenapa Ayah nggak pernah peluk aku?"

Ayah terdiam sejenak, lalu menjawab, "Karena Ayah takut, kalau Ayah peluk kamu, Ayah nggak bisa melepaskan."

Aku tidak mengerti saat itu. Tapi kini, setelah dewasa, aku paham. Ayah mencintai dengan caranya sendiri. Kini, Ayah sudah tiada. Dan aku merindukan pelukan yang tak pernah aku rasakan. Setiap kali aku merasa lelah, aku membayangkan pelukan Ayah. Hangat, kuat, dan penuh kasih. Pelukan yang tak pernah sampai, tapi selalu ada di hatiku. Aku belajar, bahwa cinta tidak selalu harus ditunjukkan dengan pelukan atau kata-kata. Kadang, cinta hadir dalam tindakan kecil yang sering kali kita abaikan. Dan meski pelukan Ayah tak pernah sampai, cintanya selalu aku rasakan.

Bab ini mengajarkan kita bahwa cinta tidak selalu harus ditunjukkan secara eksplisit. Kadang, cinta hadir dalam bentuk yang tak terduga, namun tetap terasa hangat dan tulus

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (36)
  • serelan

    Bahagia selalu ya kalian... Mas Nu udh nemuin kebahagiaan.. tetap bahagia selamanya, skrng ada orang² yg sayang banget sama Mas Nu. Ibu, Icel sama calon istrinya🥰

    Comment on chapter Chapter 24 - Penuh cinta
  • serelan

    Kejahatan pasti terbongkar. Mau sepintar apapun nyembunyiin bangkai pasti lama² kecium jg baunya.. para korban akhirnya pada speak up. Gak akan ada celah lagi buat si Topik ngelak. Kalo selama ini dia bisa bungkam para korban dengan powernya. Klo kasusnya udh nyebar gini udh gak bisa d tutupin lagi.. buat Wisnu harus sembuh ya biar bisa lebih lama lagi ngerasain kehangatan keluarganya..

    Comment on chapter Chapter 23 - Titik hancur
  • serelan

    Harus bahagia ya kalian.. jadi keluarga yg saling jaga.. dan si Topik² itu pokoknya harus dapet karma dari perbuatannya gimanapun caranya, dimudahkan jalannya..

    Comment on chapter Chapter 22 - Hangat
  • serelan

    Ya allah... siapa yang naro bawang di chapter ini? 😭 nangis banget baca ini...

    Comment on chapter Chapter 21 - Keputusan besar
  • serelan

    Nah ketauan kan sifat si Topik Topik itu.. ke orang² aja dia selalu bilang etika sopan santun pengen banget d pandang tinggi sama org. Tapi etika sopan santun dia aja minus. Dia lebih rendah drpd org yg dia kata²in.. sakit otaknya, cuma org² yg jual diri kyanya yg dia anggap punya etika sama sopan santun.. udh kebalik otaknya.

    Comment on chapter Chapter 20 - Pengakuan mengejutkan
  • serelan

    Nah gitu bu... baek baek sama Wisnu. Lagi sakit loh itu anaknya... Kira² Mas Wisnu bakal jujur gak ya ke keluarganya soal penyakitnya?

    Comment on chapter Chapter 19 - Memberi ruang
  • serelan

    Itu uang yang dihasilin sama Wisnu dari hasil kerja kerasnya selama ini yang selalu diambil semuanya sama si ibu ibu itu anda anggap apa bu? Kok masih aja bilangnya gak mau membantu keluarga padahal hasil kerjanya anda ambil semua. Selalu seneng klo ambil lembur karena nambah duit yg akhirnya diambil anda juga.. Masa gak boleh sesekali bahagiain diri sendiri buat apresiasi dari hasil kerja kerasnya, walau capek bisa tetap bertahan. Gak tiap hari loh bu... si ibu pengennya idup enak tapi Wisnu anaknya jadi sapi perah terus

    Comment on chapter Chapter 18 - Hilang fungsi
  • serelan

    Nu, kuat ya kamu... harus kuat... Icel jangan berubah pikiran lagi ya.. terus turutin apa kata Mas mu, karena apa yg dia bilang pasti yang terbaik buat kamu...

    Comment on chapter Chapter 17 - Tempat untuk pulang
  • serelan

    La, kamu ada rasa kah sama Nunu? Peduli banget soalnya sama Wisnu... Sell, mulai ya buat berubah jadi lebih baik, lebih perhatian sama Masmu ya...

    Comment on chapter Chapter 16 - Es pisang ijo segerobak
  • serelan

    Gimana perasaanmu Sell lihat Mas mu kya gitu? Nyesel? Peduli? Atau masih sama aja...

    Comment on chapter Chapter 15 - Tempat untuk jatuh
Similar Tags
Ketos in Love
1290      767     0     
Romance
Mila tidak pernah menyangka jika kisah cintanya akan serumit ini. Ia terjebak dalam cinta segitiga dengan 2 Ketua OSIS super keren yang menjadi idola setiap cewek di sekolah. Semua berawal saat Mila dan 39 pengurus OSIS sekolahnya menghadiri acara seminar di sebuah universitas. Mila bertemu Alfa yang menyelamatkan dirinya dari keterlambatan. Dan karena Alfa pula, untuk pertama kalinya ia berani m...
Gadis Kopi Hitam
1183      843     7     
Short Story
Kisah ini, bukan sebuah kisah roman yang digemari dikalangan para pemuda. Kisah ini, hanya sebuah kisah sederhana bagaimana pahitnya hidup seseorang gadis yang terus tercebur dari cangkir kopi hitam yang satu ke cangkit kopi hitam lainnya. Kisah ini menyadarkan kita semua, bahwa seberapa tidak bahagianya kalian, ada yang lebih tidak berbahagia. Seberapa kalian harus menjalani hidup, walau pahit, ...
ELANG
390      265     1     
Romance
Tau kan bagaimana cara Elang menerkam mangsanya? Paham bukan bagaimana persis nya Elang melumpuhkan lawannya? dia tidak akan langsung membunuh rivalnya secara cepat tanpa merasakan sakit terlebih dahulu. Elang akan mengajaknya bermain dahulu,akan mengajaknya terbang setinggi awan dilangit,setelah itu apa yang akan Elang lakukan? menjatuhkan lawannya sampai tewas? mari kita buktikan sekejam apa...
Kaca yang Berdebu
371      290     1     
Inspirational
Reiji terlalu sibuk menyenangkan semua orang, sampai lupa caranya menjadi diri sendiri. Dirinya perlahan memudar, seperti bayangan samar di kaca berdebu; tak pernah benar-benar terlihat, tertutup lapisan harapan orang lain dan ketakutannya sendiri. Hingga suatu hari, seseorang datang, tak seperti siapa pun yang pernah ia temui. Meera, dengan segala ketidaksempurnaannya, berjalan tegak. Ia ta...
Comfort
1451      693     3     
Romance
Pada dasarnya, kenyamananlah yang memulai kisah kita.
Smitten Ghost
663      530     3     
Romance
Revel benci dirinya sendiri. Dia dikutuk sepanjang hidupnya karena memiliki penglihatan yang membuatnya bisa melihat hal-hal tak kasatmata. Hal itu membuatnya lebih sering menyindiri dan menjadi pribadi yang anti-sosial. Satu hari, Revel bertemu dengan arwah cewek yang centil, berisik, dan cerewet bernama Joy yang membuat hidup Revel jungkir-balik.
Fidelia
4125      2167     1     
Fantasy
Bukan meditasi, bukan pula puasa tujuh hari tujuh malam. Diperlukan sesuatu yang sederhana tapi langka untuk bisa melihat mereka, yaitu: sebentuk kecil kejujuran. Mereka bertiga adalah seorang bocah botak tanpa mata, sesosok peri yang memegang buku bersampul bulu di tangannya, dan seorang pria dengan terompet. Awalnya Ashira tak tahu mengapa dia harus bertemu dengan mereka. Banyak kesialan menimp...
Vanilla Ice Cream (Revisi chap 1)
3753      1082     26     
Romance
"Jika orang jahat terlahir dari orang baik yang tersakiti, maka rasa benci terlahir dari rasa cinta yang tak dihargai" Vanilla Aulia Cornello, sang gadis cantik yang dingin namun penuh dengan pemikiran gilanya yang terkadang suka kambuh. Perceraian kedua orangtuanya juga semakin memperburuk keadaan gadis itu. Namun semua berubah ketika ia bertemu dengan 2 laki-laki tampan kaka...
Alicia
1570      814     1     
Romance
Alicia Fernita, gadis yang memiliki tiga kakak laki-laki yang sangat protektif terhadapnya. Gadis yang selalu menjadi pusat perhatian sekolahnya karena memiliki banyak kelebihan. Tanpa mereka semua ketahui, gadis itu sedang mencoba mengubur luka pada masa lalunya sedalam mungkin. Gadis itu masih hidup terbayang-bayang dengan masa lalunya. Luka yang berhasil dia kubur kini terbuka sempurna beg...
Renata Keyla
7302      1859     3     
Romance
[ON GOING] "Lo gak percaya sama gue?" "Kenapa gue harus percaya sama lo kalo lo cuma bisa omong kosong kaya gini! Gue benci sama lo, Vin!" "Lo benci gue?" "Iya, kenapa? Marah?!" "Lo bakalan nyesel udah ngomong kaya gitu ke gue, Natt." "Haruskah gue nyesel? Setelah lihat kelakuan asli lo yang kaya gini? Yang bisanya cuma ng...