Loading...
Logo TinLit
Read Story - Imajinasi si Anak Tengah
MENU
About Us  

Minggu pagi menyapa dengan udara yang jernih dan matahari yang belum terlalu terik. Kota masih setengah terjaga dan jalanan belum ramai, kios-kios belum sepenuhnya buka. Tapi di salah satu sudut kota, langkah kaki Tara terdengar ringan, meski dalam dadanya ada gemuruh yang belum sepenuhnya tenang.

Hari ini adalah hari pertama Tara duduk di bangku kuliah, setelah cukup lama ia melaksanakan ospek, tibalah Tara di hari ini. 

Ia mengenakan kemeja coklat sederhana dan celana panjang hitam, ransel kecil tergantung di punggungnya. Rambutnya diikat separuh ke belakang, wajahnya polos dengan riasan tipis-tipis. Ia betulan tampak seperti mahasiswa baru, meski dirinya adalah seorang pekerja untungnya kampus swasta tempatnya kuliah membuka kelas karyawan di akhir pekan, dan hebatnya lagi bisa memilih hari antara Sabtu atau Minggu, dan Tara memilih jadwal Minggu karena baginya itu satu-satunya hari yang bisa ia sisihkan di tengah kesibukannya.

Setibanya di kampus, aroma bangunan tua dan suara burung yang berkicau dari pepohonan halaman menyambutnya seperti sapaan yang tak asing. Tapi sebelum sempat melangkah lebih jauh, sebuah suara memanggil dari arah samping.

"Taraa!"

Tara menoleh cepat. Senyumnya langsung mengembang saat melihat dua wajah yang familiar, Nisa dan Dita, teman yang ia kenal saat ospek beberapa. Mereka bertiga memang cepat akrab, seperti sudah saling kenal bertahun-tahun.

"Ya ampun, aku deg-degan banget," ucap Dita sambil mengibas-ngibaskan kipas kecilnya. "Tapi pas lihat kalian... aku rada tenang dikit."

"Untungnya kita sekelas ya," tambah Nisa. "Kalau enggak, mungkin aku udah pulang."

Tara tertawa kecil, dadanya terasa lebih hangat. Ada sesuatu tentang kehadiran mereka yang membuatnya merasa tidak sendirian di dunia yang baru ini. Ia menggandeng lengan Nisa, dan mereka bertiga berjalan berdampingan menuju ruang kelas yang sudah ditentukan.

Kelas itu belum ramai, tapi cukup untuk membuat Tara kembali canggung. Ia memilih duduk di dekat jendela, dan Nisa serta Dita otomatis mengisi kursi di sebelahnya. Dosen pun datang tepat waktu dan membuka perkuliahan dengan perkenalan ringan. Tara menyimak, mencatat, kadang tertawa kecil karena bisikan lucu Dita.

Di sela-sela penjelasan dosen, Tara sempat memandangi luar jendela. Pepohonan bergoyang pelan, burung-burung sesekali melintas. Dan di dalam dadanya, tumbuh keyakinan baru—meski ia berada dalam jurusan yang tak ia inginkan, tapi setidaknya ia bisa merasakan hangat di sini. Dan, untuk apapun yang sudah terjadi, Tara pastikan, ia tak akan menyerah di tengah jalan.

 

                                    ***

 

Setelah kelas pertama usai, Tara, Nisa, dan Dita sepakat untuk mampir sebentar ke sebuah kafe kecil tak jauh dari kampus. Tempatnya sederhana tapi nyaman, dengan hiasan tanaman gantung dan kursi-kursi kayu yang hangat. Mereka memilih duduk di sudut, dekat jendela, dan langsung memesan minuman serta camilan ringan.

"Aku masih kepikiran cogan yang duduk di pojokan tadi deh," celetuk Nisa tiba-tiba sambil tertawa kecil. "Yang pakai kemeja biru itu. Senyum mulu, padahal enggak ada yang diajak ngobrol."

"Eh iya! Yang rambutnya agak ikal itu kan?" timpal Dita cepat. "Sumpah deh, kayak karakter utama di drama Korea."

Tara ikut tertawa, merasa hangat di tengah kehebohan mereka. "Kalian nggak fokus banget sih. Tapi emang sih... ya lumayan ganteng juga," timpalnya, membuat dua temannya berseru girang.

Obrolan mereka berlanjut ke hal-hal lain yang lebih receh, soal nasi uduk kampus yang katanya legendaris tapi belum sempat dicoba, sampai materi dosen tadi yang bikin kepala mutar seperti disetelin kipas angin.

"Baru awal aja udah pusing, gimana semester depan," keluh Tara sambil mengaduk minumannya.

"Makanya, kita harus sering belajar bareng," ujar Nisa dengan nada dramatis. "Atau enggak, kita jadiin alasan buat ngumpul terus."

Tawa mereka menggema lembut di sudut kafe itu.

Tara memandangi mereka berdua, wajahnya sedikit melembut. Dalam hati, ia menarik napas dalam-dalam. Beberapa bulan lalu, ia begitu merasa sendiri. Teman-teman lamanya sibuk dengan dunia masing-masing, dan ia sempat berpikir mungkin dirinya memang terlalu berbeda. Ia sempat belajar menikmati kesendirian, tapi tak bisa memungkiri; ada bagian dalam dirinya yang selalu berharap punya tempat untuk berbagi tawa ringan seperti ini.

Dan hari ini, Tara merasa doanya dijawab. Ia tidak sendiri lagi. Ia punya teman baru yang seru, yang tulus dan apa adanya.

Itu sangat cukup. Lebih dari cukup.

 

                                     ***

 

Di perjalanan pulang, angkot yang ditumpangi Tara berguncang pelan, membawanya menembus senja kota yang mulai padam. Ia duduk di pojok belakang, menatap kosong ke arah jendela, membiarkan pikirannya mengembara ke mana-mana. Pikirannya tiba-tiba terlempar pada Tomorrow, cerita yang pernah ia tulis beberapa waktu lalu dan sudah lama tamat.

Sudah berhari-hari sejak terakhir ia membuka aplikasinya. Tara buru-buru merogoh ponselnya, membuka aplikasi menulis yang selama ini jadi tempat ia menyimpan dunia-dunia kecil dalam imajinasinya. Notifikasi loading muncul sebentar sebelum akhirnya halaman cerita terbuka.

Jumlah view-nya hanya bertambah sedikit, hanya seribu dalam waktu cukup lama.

Tara terdiam.

Satu sisi dirinya merasa lelah. Ia melihat penulis lain di aplikasi yang sama bisa dengan cepat melambung—judul-judul cerita mereka viral, komentar ribuan, bahkan dibicarakan di media sosial. Sementara Tomorrow hanya melangkah pelan di tengah keramaian itu. Ia sempat bertanya dalam diam, "Apa ceritaku tidak cukup bagus?"

Pikirannya mulai dipenuhi keraguan dan rasa kecil hati. Ia tahu tak seharusnya membandingkan, tapi tetap saja, rasa itu menelusup perlahan, diam-diam.

Saat itu, angkot yang ditumpanginya berhenti dan seorang anak kecil masuk, membawa gitar mini dan sebuah gelas plastik bening. Tanpa banyak kata, anak itu mulai bernyanyi. Suaranya serak, napasnya pendek-pendek, tapi matanya bersinar, seolah setiap lirik yang ia nyanyikan adalah harapan yang dipaksakan untuk tetap menyala.

Tara terdiam, memperhatikan anak itu.

Ia merogoh uang dua ribu rupiah dari dompet kecilnya dan menyelipkannya ke dalam gelas plastik yang digenggam anak itu. Anak kecil itu tersenyum lebar dan mengucap terima kasih sebelum melanjutkan lagu berikutnya.

Tara mengalihkan pandangannya kembali ke luar jendela.

Perlahan, pikirannya tentang jumlah pembaca cerita tadi memudar. Ia merasa malu sendiri. Anak kecil itu tetap bernyanyi meski tak tahu akan dapat berapa rupiah hari itu. Ia tetap memberi suara untuk dunia, meski dunia belum tentu menyadarinya. Lalu, kenapa ia harus ragu hanya karena angka?

Tara menyandarkan kepalanya ke kaca jendela.

"Aku tidak akan berhenti menulis," bisiknya lirih. "Karena dengan menulis, aku bisa lebih mengenal diriku sendiri."

Angin sore masuk dari celah jendela yang terbuka. Tara membiarkannya menerpa wajahnya, sambil perlahan-lahan membayangkan cerita baru yang ingin ia tulis. Ia merenung, memutar-mutar bayangan dalam kepalanya. Kali ini, ia ingin menciptakan sesuatu yang berbeda. Bukan hanya cerita cinta atau drama kehidupan biasa. Ia ingin membuat cerita yang bisa menyentuh batin pembacanya, yang bisa mengguncang dunia dengan keheningan.

Lalu, ia bertanya pada dirinya sendiri dalam hati.

"Apa yang aku suka?"

Ia menjawab, "Aku suka menggambar. Aku suka menulis."

Dan sekali lagi ia bertanya, "Apa yang suka aku ciptakan dalam lukisan?"

Jawaban itu datang dengan jernih, sederhana.

"Sebuah sketsa hitam putih... tanpa warna."

Tara tersenyum. Tangannya refleks membuka aplikasi catatan di ponselnya, lalu menulis satu kalimat di sana:

Lukisan Tanpa Warna.

Judul itu terpatri kuat di benaknya. Ia tahu, cerita itu akan menjadi bagian penting dalam hidupnya. Cerita tentang luka, harapan, dan seni. Cerita tentang dirinya.

Dan perjalanan lain baru saja dimulai.

 

 

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (17)
  • kyungsoo12

    relate banget, gak berlebihan cerita ini (emot nangis)

    Comment on chapter PROLOG
  • asmira24

    anxiety emang semenakutkan itu ya:)

    Comment on chapter PROLOG
  • asmira24

    suka banget iiiii

    Comment on chapter PROLOG
  • asmira24

    Baru prolog dah menggambarkan anak tengah wkwk

    Comment on chapter PROLOG
  • rakasyanuka

    tos dulu anak tengah

    Comment on chapter PROLOG
  • rakasyanuka

    ceritanya sederhana, konfliknya gak berat, tapi ngena di hati

    Comment on chapter PROLOG
  • kuinchi_

    Seruuu bingitssss, ditunggu chapter selanjutnya ka intannaw😁

    Comment on chapter Bagian 23: Laut Biru Di Atas Sampul
Similar Tags
Melihat Tanpamu
467      392     1     
Fantasy
Ashley Gizella lahir tanpa penglihatan dan tumbuh dalam dunia yang tak pernah memberinya cahaya, bahkan dalam bentuk cinta. Setelah ibunya meninggal saat ia masih kecil, hidupnya perlahan runtuh. Ayahnya dulu sosok yang hangat tapi kini berubah menjadi pria keras yang memperlakukannya seperti beban, bahkan budak. Di sekolah, ia duduk sendiri. Anak-anak lain takut padanya. Katanya, kebutaannya...
Lost in Drama
2207      960     4     
Romance
"Drama itu hanya untuk perempuan, ceritanya terlalu manis dan terkesan dibuat-buat." Ujar seorang pemuda yang menatap cuek seorang gadis yang tengah bertolak pinggang di dekatnya itu. Si gadis mendengus. "Kau berkata begitu karena iri pada pemeran utama laki-laki yang lebih daripadamu." "Jangan berkata sembarangan." "Memang benar, kau tidak bisa berb...
Mermaid My Love
4451      1646     3     
Fantasy
Marrinette dan Alya, dua duyung yang melarikan diri dari Kerajaan laut Antlantis yang sudah diluluhlantakkan oleh siluman piranha. Mereka terus berenang hingga terdampar disebuah pantai. Kemudian mereka menyamar dan menjalani kehidupan seperti manusia. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Marrinette bekerja di sebuah kafe sedangkan Alya direstorant. Ditempat Marrinette bekerja malah bertemu dengan ...
Suami Untuk Kayla
9433      3042     7     
Romance
Namanya Kayla, seorang gadis cantik nan mungil yang memiliki hobi futsal, berdandan seperti laki-laki dan sangat membenci dunia anak-anak. Dijodohkan dengan seorang hafidz tampan dan dewasa. Lantas bagaimana kehidupan kayla pasca menikah ? check this out !
FAYENA (Menentukan Takdir)
1981      1308     2     
Inspirational
Hidupnya tak lagi berharga setelah kepergian orang tua angkatnya. Fayena yang merupakan anak angkat dari Pak Lusman dan Bu Iriyani itu harus mengecap pahitnya takdir dianggap sebagai pembawa sial keluarga. Semenjak Fayena diangkat menjadi anak oleh Pak Lusman lima belas tahun yang lalu, ada saja kejadian sial yang menimpa keluarga itu. Hingga di akhir hidupnya, Pak Lusman meninggal karena menyela...
When I Met You
679      404     14     
Romance
Katanya, seorang penulis kualat dengan tokohnya ketika ia mengalami apa yang dituliskannya di dunia nyata. Dan kini kami bertemu. Aku dan "tokohku".
Nuraga Kika
70      66     0     
Inspirational
Seorang idola sekolah menembak fangirlnya. Tazkia awalnya tidak ingin melibatkan diri dengan kasus semacam itu. Namun, karena fangirl kali ini adalah Trika—sahabatnya, dan si idola adalah Harsa—orang dari masa lalunya, Tazkia merasa harus menyelamatkan Trika. Dalam usaha penyelamatan itu, Tazkia menemukan fakta tentang luka-luka yang ditelan Harsa, yang salah satunya adalah karena dia. Taz...
Premium
Cinta Dalam Dilema
45155      8090     0     
Romance
Sebagai anak bungsu, Asti (17) semestinya menjadi pusat perhatian dan kasih sayang ayah-bunda. Tapi tidak, Asti harus mengalah pada Tina (20) kakaknya. Segala bentuk perhatian dan kasih sayang orang tuanya justru lebih banyak tercurah pada Tina. Hal ini terjadi karena sejak kecil Tina sering sakit-sakitan. Berkali-kali masuk rumah sakit. Kenyataan ini menjadikan kedua orang tuanya selalu mencemas...
Desire Of The Star
1843      1188     4     
Romance
Seorang pria bernama Mahesa Bintang yang hidup dalam keluarga supportif dan harmonis, pendidikan yang baik serta hubungan pertemanan yang baik. Kehidupan Mahesa sibuk dengan perkuliahannya di bidang seni dimana menjadi seniman adalah cita-citanya sejak kecil. Keinginannya cukup sederhana, dari dulu ia ingin sekali mempunyai galeri seni sendiri dan mengadakan pameran seni. Kehidupan Mahesa yang si...
Me & Molla
694      432     2     
Short Story
Fan's Girl Fanatik. Itulah kesan yang melekat pada ku. Tak peduli dengan hal lainnya selain sang oppa. Tak peduli boss akan berkata apa, tak peduli orang marah padanya, dan satu lagi tak peduli meski kawan- kawannya melihatnya seperti orang tak waras. Yah biarkan saja orang bilang apa tentangku,