Loading...
Logo TinLit
Read Story - The First 6, 810 Day
MENU
About Us  

Hari semakin sore. Setelah bel terakhir berbunyi, aku tetap duduk di bangkuku. Anak-anak lain sudah mulai sibuk membereskan buku, beberapa bahkan telah keluar kelas, tertawa sambil bercanda, melangkah ringan menuju gerbang.

Tapi aku belum juga bergerak.

Entah kenapa, rasanya ada sesuatu yang menahan di dada. Bukan nyeri, bukan sesak... hanya berat. Mungkin karena percakapan singkat pagi tadi. Mungkin juga karena aku mulai merasakan sesuatu sedang berubah—perlahan, diam-diam, dan aku belum tahu apakah aku siap menyambutnya.

Nube datang menghampiri tanpa banyak basa-basi. Ia membawa dua kotak susu dari kantin, lalu menyodorkan salah satunya kepadaku.

“Minum ini biar energimu bertambah,” katanya singkat.

Aku menerimanya. “Makasih,” jawabku pelan.

Ia duduk di sampingku, menatap ke arah papan tulis yang sudah mulai kosong. “Aku lihat kamu dibantu Kenan tadi pagi. Nggak nyangka juga ya... dia bisa sepeduli itu. Padahal biasanya... ya gitu.”

Aku tersenyum kecil. “Mungkin dia cuma nggak suka ribut. Tapi sebenarnya... peka.”

Nube membuka sedotannya. Bunyi plastik yang terlipat sejenak mengisi keheningan di antara kami.

“Kamu tahu nggak?” ujarnya pelan. “Katanya dulu dia pernah ikut lomba pidato tingkat kota. Juara satu malah.”

Aku menoleh cepat. “Serius?”

Dia mengangguk. “Guru Bahasa Indonesia kita yang cerita. Dulu dia anak paling aktif. Makanya pada heran... kok sekarang berubah total.”

Aku mengangguk pelan. Dalam hati aku merasa... mungkin aku bisa sedikit mengerti.

Kadang, luka yang tak terlihat justru yang paling mengubah seseorang.

Langit di luar jendela mulai menggelap. Suasana kelas yang tadinya penuh suara kini tinggal gema sepatu dan suara pintu yang sesekali dibuka. Aku dan Nube akhirnya beranjak, berjalan pelan melewati lorong sekolah yang lengang.

Di luar, langit sore menggantung awan kelabu. Hujan belum turun, tapi aroma tanah basah sudah lebih dulu datang. Kami berjalan perlahan, melewati taman kecil dan tangga pintu gerbang.

Saat di depan pagar sekolah, kami berpisah. Rumah kami berbeda arah.

Aku berjalan sendiri, lagi-lagi ditemani tongkat yang kini terasa seperti perpanjangan dari diriku—bukan hanya alat bantu, tapi juga simbol bahwa aku masih melangkah, walau tertatih.

Setiap langkah membawa pikiranku ke tempat-tempat yang sebelumnya tak ingin kusentuh. Tentang Kenan. Tentang Noah. Tentang diriku sendiri... yang akhirnya mulai membuka pintu yang selama ini kukunci rapat dari dalam.

Saat melewati taman kecil dekat rumah, aku berhenti sejenak. Ada bangku kayu tua di sana—catnya mulai mengelupas, tapi justru itu yang membuatnya terlihat jujur.

Aku duduk. Diam. Hanya ditemani angin sore yang berhembus pelan.

Langit di atas mulai berwarna jingga keabu-abuan. Cahaya matahari yang tersisa memantul samar di permukaan dedaunan.

Lalu, satu kalimat muncul begitu saja di benakku:

Kalau aku tidak bisa menjadi seperti mereka, mungkin... aku bisa menjadi seperti diriku sendiri. Dengan caraku sendiri.

Aku memejamkan mata. Menarik napas dalam-dalam. Lalu menghembuskannya perlahan.

Untuk pertama kalinya, dalam waktu yang sangat lama... aku tidak merasa takut menghadapi hari esok.

***
Keesokan harinya, suasana sekolah tampak biasa saja. Anak-anak masih datang dengan langkah tergesa, obrolan ringan masih terdengar dari arah kantin, dan bel masuk tetap berbunyi pada waktunya.

Namun entah mengapa, langkahku terasa lebih ringan pagi ini. Mungkin karena percakapan-percakapan yang pelan tapi bermakna kemarin. Mungkin juga karena hati ini perlahan mulai belajar menerima kehadiran—baik rasa maupun orang lain.

Aku kembali duduk di bangkuku, semenjak kakiku sakit aku memilih duduk di dekat jendela. Dari sini, aku bisa melihat halaman belakang sekolah. Tempat yang sering ramai oleh siswa-siswa ekskul, tapi pagi ini masih kosong dan tenang.

Tak lama, Nube datang dengan langkah cepat. Ia membawa sebuah kotak makanan kecil yang dibungkus kain motif garis.

“Ini buat kamu,” katanya sambil meletakkannya di atas mejaku. “Ibuku masak lebih. Jadi aku bawa juga buat kamu.”

Aku sempat terdiam. Lalu tersenyum kecil. “Terima kasih, Nube...”

“Jangan bilang siapa-siapa ya. Nanti dikira aku perhatian,” ujarnya sambil menyengir.

Aku tertawa kecil. “Santai aja. Rahasia aman.” menyambut candaannya.

Kami sempat berbicara sebentar, membahas hal-hal ringan, sebelum bel masuk berbunyi dan suasana kelas kembali tertib.

Tapi pikiranku melayang. Entah kenapa, fokusku terus terganggu. Ada perasaan yang sulit dijelaskan—seperti sedang berjalan dalam kabut tipis. Tidak menyesatkan, tapi juga belum sepenuhnya terang.

Saat istirahat, aku memilih keluar lebih dulu. Kakiku sudah lebih baik. Masih terasa ngilu saat dipaksa terlalu cepat, tapi setidaknya aku bisa berjalan sendiri tanpa terlalu mengandalkan tongkat.

Aku berniat ke perpustakaan. Mencari ruang sunyi, sekadar merapikan isi kepala. Tapi langkahku terhenti saat melihat Noah berdiri di depan deretan loker. Sendirian.

Dia tidak melihat ke arahku. Tapi saat aku melintas, suaranya terdengar:

“Hei!.”

Aku berhenti.

“Apa?” jawabku pelan.

Dia menatapku. Serius. “Kamu yang naruh surat itu?”

Aku terdiam. Nafasku tertahan sebentar.

Dia tidak mengulang. Tidak memaksa. Hanya menunggu.

Akhirnya, aku berkata pelan, “Kenapa tiba-tiba menuduhku?”

Dia mengangkat bahu sedikit. “Hanya penasaran. Tulisan tangannya... agak familiar. Tulisanmu?”

Aku menunduk. Genggaman tanganku mengepal pelan.

“Aku cuma penasaran. Gitu aja,” katanya lagi. Tapi terdengar nada menuduh.

Aku tidak menjawab. Dan dia tidak menekan lebih jauh.

Setelah beberapa detik, dia mengangguk kecil. “Kalau bukan kamu, ya sudah.”

Lalu pergi. Begitu saja. Meninggalkanku di koridor yang kembali sunyi.

Aku berdiri lama. Rasanya jantungku berdetak tidak karuan. Bukan karena takut ketahuan. Tapi... karena aku merasa terlihat. Meski samar.

Mungkin dia tahu. Atau mungkin juga tidak.
Mungkin dia sekadar bertanya. Atau... sedang menunggu aku jujur.

Tapi aku pun belum sepenuhnya yakin, apakah aku sudah siap mengaku—atau bahkan siap menerima jawaban.
***
Saat aku kembali ke kelas, kulihat Kenan sedang berbicara dengan Bu Mari di luar pintu. Wajahnya tetap datar, tapi gerak tubuhnya... berbeda. Seperti sedang menyimpan beban yang belum ia bagi.

Beberapa menit kemudian, dia kembali ke bangkunya. Duduk. Menatap papan tulis. Tapi matanya tidak mengikuti pelajaran.

“Ada apa?” tanyaku pelan, setelah lama diam.

Dia menoleh sedikit. “Nggak apa-apa.”

Aku mencoba lagi. Kali ini dengan suara lebih tenang. “Kenan?”

Ia menoleh penuh. Tatapannya kosong, tapi tidak dingin. Lebih seperti... lelah.

“Aku harus pulang lebih awal. Ada urusan di rumah.”

Aku mengangguk. Tidak bertanya lebih. Tapi dalam hati, aku tahu: ada sesuatu yang sedang dia bawa sendiri. Sesuatu yang belum siap ia bagi.

Dan... untuk pertama kalinya, aku ingin tahu.
Bukan karena penasaran. Tapi karena aku mengenali sunyi itu.
Sunyi yang sama seperti yang sering kudekap malam-malam sebelumnya.
***
Besoknya, Kenan tidak masuk. Tidak ada pemberitahuan dari guru. Tidak ada pesan. Tidak ada kabar.

Aku duduk di bangkuku, menatap kursinya yang kosong cukup lama.

Ada perasaan ganjil. Seperti ada halaman yang belum selesai ditulis. Seperti ada simpul yang belum sempat diikat.

Hari itu terasa panjang. Pelajaran masuk dari telinga kanan, keluar dari telinga kiri. Tidak ada yang benar-benar tinggal di kepala.

Sepulang sekolah, aku tidak langsung pulang. Aku duduk sebentar di taman kecil belakang sekolah. Angin sore bertiup lembut, membawa aroma tanah basah sisa gerimis di pulau yang sedang memasuki musim penghujan ini. Suasana itu... membuatku ingin diam sedikit lebih lama.

Aku membuka buku catatanku. Di halaman paling belakang, kutemukan tulisan yang kutulis semalam:

"Aku tidak tahu ke mana arah langkah ini. Tapi aku ingin terus berjalan. Tidak peduli berapa kali aku terjatuh. Asalkan aku bisa bangkit, aku akan terus mencoba."

Tiba-tiba aku ingin bicara dengan seseorang. Tapi bukan Nube. Bukan juga Noah.

Aku membuka ponsel, masuk ke draf pesan yang belum pernah kukirim.

Pesan untuk Kenan.

Halo. Aku nggak tahu kamu ada di mana. Tapi semoga kamu baik-baik saja.
Terima kasih sudah membantuku kemarin. Aku belum sempat bilang langsung.
Kalau suatu hari kamu ingin bicara, aku di sini. Aku nggak akan nanya banyak.
Cukup duduk di sebelahmu. Seperti kata—kadang orang keras kepala cuma butuh teman yang duduk diam di sampingnya.

Aku tidak langsung mengirimnya. Tapi... melihat tulisan itu saja sudah membuatku sedikit lebih tenang.

Malamnya, aku bermimpi. Di dermaga kayu. Angin laut berembus pelan. Aku duduk di ujung papan, memandangi permukaan air yang tenang.

Seseorang duduk di sebelahku. Diam. Tidak mengatakan apa-apa.

Tapi kehadirannya cukup membuatku tidak merasa sendiri.
***
Esok paginya, Kenan belum juga kembali.

Tapi kali ini, langkahku menuju sekolah tidak disertai rasa kehilangan. Aku membawa sesuatu yang berbeda—bukan jawaban, tapi keteguhan.

Bahwa aku akan bertemu dengannya lagi. Entah kapan. Entah di mana.

Aku masuk ke kelas dengan senyum kecil. Bukan karena semua baik-baik saja. Tapi karena untuk pertama kalinya, aku tahu...

Aku sedang memulai sesuatu.

Memulai hidupku sendiri.
Memulai keberanian untuk bermimpi.
Dan memulai untuk mempercayai... bahwa aku pun pantas punya tempat di dunia ini.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Lantunan Ayat Cinta Azra
2467      1450     3     
Romance
Perjalanan hidup seorang hafidzah yang dilema dalam menentukan pilihan hatinya. Lamaran dari dua insan terbaik dari Allah membuatnya begitu bingung. Antara Azmi Seorang hafidz yang sukses dalam berbisnis dan Zakky sepupunya yang juga merupakan seorang hafidz pemilik pesantren yang terkenal. Siapakah diantara mereka yang akan Azra pilih? Azmi atau Zakky? Mungkinkah Azra menerima Zakky sepupunya s...
Di Bawah Langit Bumi
6439      3671     87     
Romance
Awal 2000-an. Era pre-medsos. Nama buruk menyebar bukan lewat unggahan tapi lewat mulut ke mulut, dan Bumi tahu betul rasanya jadi legenda yang tak diinginkan. Saat masuk SMA, ia hanya punya satu misi: jangan bikin masalah. Satu janji pada ibunya dan satu-satunya cara agar ia tak dipindahkan lagi, seperti saat SMP dulu, ketika sebuah insiden membuatnya dicap berbahaya. Tapi sekolah barunya...
Layar Surya
6796      3460     17     
Romance
Lokasi tersembunyi: panggung auditorium SMA Surya Cendekia di saat musim liburan, atau saat jam bimbel palsu. Pemeran: sejumlah remaja yang berkutat dengan ekspektasi, terutama Soya yang gagal memenuhi janji kepada orang tuanya! Gara-gara ini, Soya dipaksa mengabdikan seluruh waktunya untuk belajar. Namun, Teater Layar Surya justru menculiknya untuk menjadi peserta terakhir demi kuota ikut lomb...
Me vs Skripsi
5655      2438     155     
Inspirational
Satu-satunya yang berdiri antara Kirana dan mimpinya adalah kenyataan. Penelitian yang susah payah ia susun, harus diulang dari nol? Kirana Prameswari, mahasiswi Farmasi tingkat akhir, seharusnya sudah hampir lulus. Namun, hidup tidak semulus yang dibayangkan, banyak sekali faktor penghalang seperti benang kusut yang sulit diurai. Kirana memutuskan menghilang dari kampus, baru kembali setel...
CERITA MERAH UNTUK BIDADARIKU NAN HIJAU
371      315     1     
Inspirational
Aina Awa Seorang Gadis Muda yang Cantik dan Ceria, Beberapa saat lagi ia akan Lulus SMA. Kehidupannya sangat sempurna dengan kedua orang tua yang sangat menyayanginya. Sampai Sebuah Buku membuka tabir masa lalu yang membuatnya terseret dalam arus pencarian jati diri. Akankah Aina menemukan berhasil kebenarannya ? Akankah hidup Aina akan sama seperti sebelum cerita merah itu menghancurkannya?
Hello, Me (30)
31426      5927     6     
Inspirational
Di usia tiga puluh tahun, Nara berhenti sejenak. Bukan karena lelah berjalan, tapi karena tak lagi tahu ke mana arah pulang. Mimpinya pernah besar, tapi dunia memeluknya dengan sunyi: gagal ini, tertunda itu, diam-diam lupa bagaimana rasanya menjadi diri sendiri, dan kehilangan arah di jalan yang katanya "dewasa". Hingga sebuah jurnal lama membuka kembali pintu kecil dalam dirinya yang pern...
Matahari untuk Kita
5863      2072     10     
Inspirational
Sebagai seorang anak pertama di keluarga sederhana, hidup dalam lingkungan masyarakat dengan standar kuno, bagi Hadi Ardian bekerja lebih utama daripada sekolah. Selama 17 tahun dia hidup, mimpinya hanya untuk orangtua dan adik-adiknya. Hadi selalu menjalani hidupnya yang keras itu tanpa keluhan, memendamnya seorang diri. Kisah ini juga menceritakan tentang sahabatnya yang bernama Jelita. Gadis c...
Izinkan Aku Menggapai Mimpiku
427      332     1     
Mystery
Bagaikan malam yang sunyi dan gelap, namun itu membuat tenang seakan tidak ada ketakutan dalam jiwa. Mengapa? Hanya satu jawaban, karena kita tahu esok pagi akan kembali dan matahari akan kembali menerangi bumi. Tapi ini bukan tentang malam dan pagi.
Dalam Waktu Yang Lebih Panjang
1593      1292     22     
True Story
Bagi Maya hidup sebagai wanita normal sudah bukan lagi bagian dari dirinya Didiagnosa PostTraumatic Stress Disorder akibat pelecehan seksual yang ia alami membuatnya kehilangan jati diri sebagai wanita pada umumnya Namun pertemuannya dengan pasangan suami istri pemilik majalah kesenian membuatnya ingin kembali beraktivitas seperti sedia kala Kehidupannya sebagai penulis pun menjadi taruhan hidupn...
I Found Myself
145      125     0     
Romance
Kate Diana Elizabeth memiliki seorang kekasih bernama George Hanry Phoenix. Kate harus terus mengerti apapun kondisi Hanry, harus memahami setiap kekurangan milik Hanry, dengan segala sikap Egois Hanry. Bahkan, Kate merasa Hanry tidak benar-benar mencintai Kate. Apa Kate akan terus mempertahankan Hanry?