Loading...
Logo TinLit
Read Story - Rumah?
MENU
About Us  

“Mana makananku? Sudah malam kok nggak ada makanan. Kamu nggak becus jadi istri!” bentak lelaki yang kini duduk di kursi depan meja makan. Matanya memerah, disusul alisnya yang bertaut. Mukanya menekuk sejak ia pulang. Lelaki bertubuh jangkung itu berkulit sawo matang, hidungnya tidak mancung, dan bibirnya tebal. Ia bernama Burhan, yang bekerja di sebuah perusahaan swasta, ia sudah hampir sepuluh tahun bekerja sebagai pegawai tetap. 

“Jaga ya mulutmu! Aku juga baru sampai rumah, mas. Kamu mikir aku ngapain? Aku capek kerja juga lho,” balas seorang wanita yang baru saja menghidupkan kompor. Ia juga baru sampai rumah sekitar sepuluh menit yang lalu, kemudian membersihkan diri, dan barulah akan memasak. Wanita itu mengerutkan dahinya, bibir tipisnya mencibir, dan mata bulatnya menatap tajam pada suaminya. Ia bernama Lita, seorang istri sekaligus ibu yang juga bekerja untuk membantu suami mencari nafkah. Ia bekerja sebagai admin di salah satu toko swalayan di kota tersebut.  

“Kebanyakan alasan. Kerja apa, jam setengah delapan malam baru pulang? Jangan-jangan kamu kelayapan gak jelas sama laki-laki lain!” cecar Pak Burhan. Suasana ruang dapur sekaligus makan dengan lampu temaram, yang awalnya sepi mendadak panas oleh gejolak amarah. 

“Apa kamu bilang? Sembarangan banget kamu! Aku kerja bantuin kamu nyari duit jadi admin toko. Kalau akhir bulan banyak lemburan, ya wajar kalau jam segini baru pulang,” tandas Bu Lita. Kini, matanya juga memerah. Ia sedang lelah, tapi suaminya ngajak berdebat. 

“Jangan-jangan kamu tuh yang malah jalan sama perempuan lain!” tuduh Bu Lita, tak mau kalah. Giginya bergetar, ia geram dengan suaminya. 

Seseorang perempuan yang lebih muda mendatangi mereka. Ia cemberut. Matanya memanas, dahinya berkerut. Giginya juga bergetar persis seperti mamanya. Rambutnya yang digerai itu

“Ma, Pa… udah jangan berantem mulu! Aku capek dengernya. Bisa gak sih, kalian itu gak ribut mulu. Sehari aja, biar rumah itu tenang,” jelas gadis itu, ia bertubuh tinggi. Kulitnya sama dengan kedua orangtuanya, sawo matang. Rambutnya yang panjang sebahu, tergerai hingga menyentuh pakaian yang dikenakannya.  

“Bener kata Oliv. Tapi, papamu itu yang mulai duluan, jadi mama kepancing,” Bu Lita, mengaduk nuget yang ia goreng.

Pak Burhan tidak menanggapi celoteh istrinya, ia pun memilih pergi dari ruang dapur. Di dapur yang minimalis itu, tinggal Bu Lita dan Oliv saja. Oliv berjalan menuju rak piring, kemudian menyiapkan piring untuk mereka makan malam. Setelah nuget matang, Bu Lita mengangkatnya dari wajan. Bu Lita memanggil suaminya. Akan tetapi, suaminya tak kunjung memasuki ruang dapur. Lantas, mereka berdua langsung makan.

 “Ma, nilai ulangan matematika ku sekarang 80 lho,” ucap Oliv, setelah menyuapkan nuget pada mulutnya. Ia membuka keheningan malam dengan berbicara pada mamanya.

 “Ya, memang harusnya seperti itu. Itu pun masih keci,” Bu Lita sibuk menyuapkan nuget pada mulutnya, bahkan tanpa menatap Oliv yang duduk disampingnya.

 Air muka Oliv mulai masam, bibirnya sedikit mengerucut. Selera makannya hilang seketika. Jawaban mamanya yang seperti itu bukan harapan hati Oliv. Walaupun Oliv sudah duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, ia tetap ingin diperhatikan oleh orangtuanya. Ia pun melanjutkan makan malamnya, kemudian ia berjalan meninggalkan mamanya yang masih di ruang dapur. Kaki Oliv memasuki kamarnya. Kamar yang tidak terlalu luas, tetapi cukup muat untuk tempat tidur kayu, meja belajar, dan lemari pakaian. Ia menuju tempat tidurnya, kemudian merebahkan tubuhnya pada kasur yang empuk. Matanya mulai terlelap.

***

Suara ayam mulai berkokok, saling bersahutan. Matahari mulai muncul dengan malu-malu. Cahayanya tembus melewati gorden tipis yang melapisi jendela kamar Oliv dari dalam. Alarm dari handphone milik Oliv berbunyi, sudah meunjukan pukul 05.15. Menandakan hari sudah pagi. Oliv segera bangun, karena ia tidak mau disiram air dingin oleh papanya. Sungguh, papanya sangat disiplin tetapi dengan cara yang keras. Pernah suatu hari, ketika Oliv terlambat bangun 5 menit saja, papanya mengguyur wajah Oliv dengan air dingin. Maka dari itu, ia tidak mau hal itu terulang lagi. Ia segera mematikan handphone-nya, setelah itu turun dari tempat tidur. Tangannya meraih handuk yang ada di hanger. Kakinya pun berjalan keluar kamar, untuk menuju kamar mandi. Setelah mandi, ia bergegas mengenakan seragam putih dengan rok abu-abu. Rambutnya diikat dengan ikat rambut yang berwarna pink. Setelah itu, tangannya memasukkan buku ke dalam ranselnya. Kemudian, ia keluar kamar sembari menggendong ransel dan menggenggam ponsel di tangannya. Ia memasuki ruang dapur, melihat papa dan mamanya yang sudah makan, maka ia segera bergabung.

“Pagi, ma, pa. Kita makan apa pagi ini?” tanya Oliv, setelah duduk di samping papanya. Wajahnya tidak seperti semalam yang masam.

“Mama buat rica-rica ayam nih,” ucap Bu Lita sembari membawa semangkuk rica-rica ayam ke meja makan. Senyumnya sumringah, karena mungkin mood-nya sedang bagus sehingga pagi ini memasak makanan favorit keluarga kecilnya itu.

“Tiap hari harusnya masak kayak gini dong, ma! Jangan nuget atau daging olahan terus” Pak Burhan menyendok rica-rica ayam ke piringnya.

“Ya bisa aja, asalkan kalian pada mau bantuin mama. Kan, mama sering masuk pagi, jadi kalau harus masak begini terus takut terlambat,” balas Bu Lita, tanggannya dengan sigap menyendokkan rica-rica ayam pada piring Oliv.

Mereka pun sarapan dengan suasanya yang tenang, jauh lebih baik dari pada hari sebelumnya. Oliv merasa tentram, walaupun biasanya setelah baikan mereka cepet ribut lagi. Setelah menghabiskan makanan, mereka bertiga keluar rumah untuk melanjutkan aktivitas harian. Papa dan mamanya naik motor, sedangkan Oliv naik ojek online.

***

Gedung Sekolah Menengah Atas tampak kokoh. Bangunan yang di cat dengan warna oranye itu cukup besar. Sekolah dengan akreditasi baik itu merupakan salah satu Sekolah Menengah Atas terbaik di kota tersebut. Makanya, Oliv sangat bangga bisa menjadi salah satu siswi dari sekolah tersebut. Sejenak setelah menatap bangunan sekolahnya, Oliv berjalan menuju kelasnya. Kelasnya tidak terlalu jauh, hanya berada di lantai dua tetapi tangganya tidak tinggi sekali. Kelas X IPA 1, berada tepat di dekat tangga turun. Ia memasuki kelas tersebut, sudah ada beberapa orang. Bahkan sahabatnya pun ada, sedang duduk di meja baris ketiga dan asyik memainkan ponselnya. Oliv menghampiri meja tersebut, kemudian duduk di samping Raya. Oliv menyapa perempuan dengan kulit putih, gigi kelinci, dan wajahnya yang bulat.

“Hai, pagi Raya,” ucap Oliv sembari tersenyum. Raya menghentikan aktivitas dengan ponselnya itu. Ia menatap Oliv, merasa senang melihatnya hari ini dengan senyum tidak sseperti biasanya.

“Pagi juga Oliv,” ucap Raya membalas senyum dari Oliv.

“Ray, aku tadi seneng banget deh. Soalnya mama dan papaku udah nggak berantem lagi, semoga seterusnya begitu,” cerita Oliv pada Raya. Mereka sahabat karib, sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Mereka selalu bercerita apa saja, walaupun sekali-dua kali juga pernah berantem. Akan tetapi, mereka cepat untuk berbaikan.

“Wah, aku ikutan seneng Oliv. Iya semoga papa dan mamamu bahagia ya, biar kamu juga bahagia,” ucap Raya, matanya berbinar. Ia akan selalu mendukung sahabatnya.

Mereka berdua melanjutkan cerita, hingga akhirnya Bu Maya yang merupakan guru Bimbingan Konseling datang untuk mengisi kelas Bimbingan Konseling. Wajahnya bulat, senyumnya manis, dan belum ada kerutan apapun di wajahnya. Bu Maya merupakan guru BK yang tegas, beliau masih muda sehingga menggunakan cara yang kekinian dan pendekatan yang menyenangkan untuk melakukan pembelajaran.

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
RUANGKASA
69      63     0     
Romance
Hujan mengantarkan ku padanya, seseorang dengan rambut cepak, mata cekung yang disamarkan oleh bingkai kacamata hitam, hidung mancung dengan rona kemerahan, dingin membuatnya berkali-kali memencet hidung menimbulkan rona kemerahan yang manis. Tahi lalat di atas bibir, dengan senyum tipis yang menambah karismanya semakin tajam. "Bisa tidak jadi anak jangan bandel, kalo hujan neduh bukan- ma...
Broken Home
85      82     0     
True Story
Semuanya kacau sesudah perceraian orang tua. Tak ada cinta, kepedulian dan kasih sayang. Mampukah Fiona, Agnes dan Yohan mejalan hidup tanpa sesosok orang tua?
Halo Benalu
5314      2132     1     
Romance
Tiba-tiba Rhesya terlibat perjodohan aneh dengan seorang kakak kelas bernama Gentala Mahda. Laki-laki itu semacam parasit yang menempel di antara mereka. Namun, Rhesya telah memiliki pujaan hatinya sebelum mengenal Genta, yaitu Ethan Aditama.
Senja di Balik Jendela Berembun
95      82     0     
Inspirational
Senja di Balik Jendela Berembun Mentari merayap perlahan di balik awan kelabu, meninggalkan jejak jingga yang memudar di cakrawala. Hujan turun rintik-rintik sejak sore, membasahi kaca jendela kamar yang berembun. Di baliknya, Arya duduk termangu, secangkir teh chamomile di tangannya yang mulai mendingin. Usianya baru dua puluh lima, namun beban di pundaknya terasa seperti telah ...
The First 6, 810 Day
3802      2409     2     
Fantasy
Sejak kecelakaan tragis yang merenggut pendengarannya, dunia Tiara seakan runtuh dalam sekejap. Musik—yang dulu menjadi napas hidupnya—tiba-tiba menjelma menjadi kenangan yang menyakitkan. Mimpi besarnya untuk menjadi seorang pianis hancur, menyisakan kehampaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Dalam upaya untuk menyembuhkan luka yang belum sempat pulih, Tiara justru harus menghadapi ke...
Baskara untuk Anasera
3      2     1     
Romance
Dalam setiap hubungan, restu adalah hal yang paling penting, memang banyak orang yang memilih melawan sebuah restu, namun apa gunanya kebahagiaan tanpa restu, terlebih restu dari keluarga, tanpa restu hubungan akan berjalan penuh dengan gelombang, karena hakikatnya dalam setiap hubungan adalah sebuah penjemputan dari setiap masalah, dan restu akan bisa meringankan ujian demi ujian yang menerpa da...
CTRL+Z : Menghapus Diri Sendiri
503      428     1     
Inspirational
Di SMA Nirwana Utama, gagal bukan sekadar nilai merah, tapi ancaman untuk dilupakan. Nawasena Adikara atau Sen dikirim ke Room Delete, kelas rahasia bagi siswa "gagal", "bermasalah", atau "tidak cocok dengan sistem" dihari pertamanya karena membuat kekacauan. Di sana, nama mereka dihapus, diganti angka. Mereka diberi waktu untuk membuktikan diri lewat sistem bernama R.E.S.E.T. Akan tetapi, ...
Cowok Jelek
0      0     0     
Romance
Dari ribuan cerita yang selalu menggambarkan lelaki tampan, mapan dan sempurna. Ini kebalikannya. Cover juga dibuat sengaja jelekDon't judge a book by its cover Namanya Jeje, seorang laki - laki yang mengejar kesempurnaan. Namanya Lulu, seorang perempuan yang punya banyak sekali privilege, dan menyukai ketenangan. Jeje rela melakukan apapun supaya Lulu menyukainya, notabene Lulu suka...
DocDetec
2612      1454     1     
Mystery
Bagi Arin Tarim, hidup hanya memiliki satu tujuan: menjadi seorang dokter. Identitas dirinya sepenuhnya terpaku pada mimpi itu. Namun, sebuah tragedi menghancurkan harapannya, membuatnya harus menerima kenyataan pahit bahwa cita-citanya tak lagi mungkin terwujud. Dunia Arin terasa runtuh, dan sebagai akibatnya, ia mengundurkan diri dari klub biologi dua minggu sebelum pameran penting penelitian y...
Trust Me
174      157     0     
Fantasy
Percayalah... Suatu hari nanti kita pasti akan menemukan jalan keluar.. Percayalah... Bahwa kita semua mampu untuk melewatinya... Percayalah... Bahwa suatu hari nanti ada keajaiban dalam hidup yang mungkin belum kita sadari... Percayalah... Bahwa di antara sekian luasnya kegelapan, pasti akan ada secercah cahaya yang muncul, menyelamatkan kita dari semua mimpi buruk ini... Aku, ka...