Loading...
Logo TinLit
Read Story - Dongeng Jam 12 Malam
MENU
About Us  

Rina, Sinta, dan Maya memutuskan untuk menjenguk teman mereka, Tania, yang sedang dirawat karena usus buntu. Rumah sakit tempat Tania dirawat cukup tua, dengan lorong-lorong panjang yang sepi pengunjung. Setelah bertanya kepada resepsionis tentang letak ruang rawat Tania, mereka diarahkan ke lantai tiga.

Namun, karena terlalu sibuk mengobrol, ketiga perempuan itu malah keluar di lantai empat. Saa keluar dari lift, mereka merasakan hawa aneh yang mengelilingi ruangan tersebut. Tidak ada suara manusia, hanya langkah kaki mereka yang menggema di lorong. Ruangan-ruangan di lantai itu kosong, dengan seluruh pintu kamar yang terkunci dan lampu di dalam yang dibiarkan menyala. 

Merasa telah salah lantai, ketiganya memutuskan untuk berbalik, tetapi lift yang mereka gunakan tadi tidak kunjung bergerak ke atas. "Kita cari tangga aja," kata Rina, mencoba tetap tenang. 

Saat mereka berhasil menemukan pintu letak tangga darurat berada, kesialan kembali terjadi karena pintunya terkunci dari luar.

"Aneh, kenapa dikunci?" bisik Maya, mulai gelisah.

“Jangan-jangan ruangan ini memang dilarang didatangi,” jawab Sinta

Tiba-tiba, perhatian mereka teralihkan pada televisi di atas lift yang menyala sendiri. Layarnya berkedip-kedip, menampilkan saluran yang dipenuhi statis. Suara desisan pelan berubah menjadi bisikan yang tak jelas hingga akhirnya televisi mati kembali dengan sendirinya. 

Mereka berjalan menjauh. Samar-samar terdengar suara langkah lain di belakang mereka. Saat berbalik, mereka tidak menemukan siapapun, hanya bayangan mereka yang memanjang di bawah lampu lorong yang tiba-tiba berkedip-kedip.

Pintu salah satu ruangan terbuka perlahan, menimbulkan suara berderit panjang. "Mungkin sengaja enggak dikunci, dan pintunya terbuka karena terkena angin," gumam Sinta, meski tidak merasakan angin di sekitar mereka.

Saat dicek, di dalam ruangan itu, mereka melihat meja periksa yang kosong dan kursi roda yang diletakkan di sampingnya. Di balik tirai jendela yang berwarna putih transparan, terlihat samar-samar sosok tinggi dan kurus berdiri, badannya membungkuk karena hampir menyentuh langit-langit. Matanya hitam memandangi ketiga perempuan itu. Mulutnya tersenyum sangat lebar dan menampakkan gigi-gigi yang tajam dan berlumuran sesuatu yang gelap.

Ketiga perempuan itu mundur dengan tergesa-gesa. "Kalian lihat juga ada sesuatu di sana, kan?!" jerit Maya. Sinta dan Rina tak menjawab melainkan hanya mengangguk karena terlalu kaget dengan penampakan yang mereka lihat.

Sinta memencet tombol lift, dan beruntung kali ini lift bergerak naik. Pintu lift terbuka, ketiganya lalu buru-buru masuk ke dalam. Sebelum pintu lift menutup, Rina berinisiatif memfoto lantai itu sebagai bukti kalau mereka salah lantai, dan mencoba mengirimkannya ke Tania. Sayangnya, pesan itu gagal terkirim karena tidak ada sinyal.

Saat lift menutup dan bergerak turun, mereka mendengar sesuatu mengetuk-etuk atap lift. Ketukan itu semakin keras, hingga berubah seperti suara cakaran yang memilukan. Mereka berkumpul dan berdoa dengan mata terpejam karena ketakutan.

Lift terbuka. Mereka telah tiba di lantai tiga, dan bernapas lega saat menemukan banyak petugas dan pengunjung yang berlalu lalang. Setelah mengontrol diri, ketiga perempuan itu menuju ruang rawat Tania. 

“Hai, girls, akhirnya nyampe juga,” ucap Tania, tersenyum melihat ketiga teman dekatnya sudah datang. 

Sinta, Maya dan Rina menyalami ibu Tania, yang kemudian keluar agar anaknya bisa mengobrol dengan leluasa. 

“Gimana kondisi lo, Tan? Masih lama dirawat di sini?” tanya Sinta, “Kita udah kangen, nih makan mi ayam bareng lo di warung Bu Ida,” lanjutnya.

“Udah mendingan, sih, tapi masih belum dapat izin pulang karena masih ada tes lab yang harus gue lakuin besok,” jawab Tania. “Gimana perjalanan ke sini tadi, gak susah kan, nyari kamarnya?” 

“Susah, sih, enggak… cuma tadi, kita kena sial karena gak sengaja salah lantai,” jawab Maya. 

“Iya, malah lantainya creepy banget lagi, kosong melompong,” susul Rani.

“Dan lo harus tahu, kita sampe ngelihat yang serem-seremm!” kata Sinta.

“Emang kalian nyasar ke lantai berapa?” tanya Tania. 

Sinta dengan nada serius menceritakan bagaimana mereka malah berada di lantai empat, dan menemukan lorong yang kosong, televisi yang tiba-tiba menyala, hingga ruangan yang pintunya terbuka sendiri.

“Dan lo tahu apa lagi yang kita lihat di sana?” tanya Maya, membuat Tania menggelengkan kepala sekaligus penasaran dengan cerita selanjutnya, “Ada sosok serem banget di dalam ruangan itu!” lanjut Maya, suaranya bergetar. “Sosoknya tinggi, kurus… matanya hitam semua, dan mulutnya—”

“Mulutnya lebar banget sampai ke pipi,” potong Rina, menyelesaikan kalimat Maya. Ia menggigil saat mengingat kembali wajah menyeramkan itu.

“Ih, kok, serem banget! Setahu gue, lantai itu memang kosong kalau akhir pekan,” jelas Tania. “karena khusus digunakan buat rawat jalan, dan cuma buka dari Senin sampai Jumat. Tapi…” Ia ragu sejenak, seperti enggan melanjutkan.

“Tapi, apa, Tan?” desak Sinta.

“Yaa, ada banyak cerita aneh, sih, tentang lantai itu. Kata menurut pengunjung yang suka ngobrol sama nyokap, petugas keamanan yang berjaga malam juga sering lihat hal-hal yang gak masuk akal. Salah satunya sosok tinggi yang kalian gambarkan tadi. Dia biasanya muncul di ujung lorong atau di dalam ruangan kosong.”

Rani menelan ludah. “Serius, Tan?”

“Iya. Karena itu, kalau malam, mereka jarang patroli ke lantai empat, paling mantau dari CCTV aja,” kata Tania.

Rina, Sinta, dan Maya saling berpandangan. Merasakan bulu kuduk mereka kembali berdiri, meski saat itu masih siang hari.

Rina lalu mengambil ponselnya. “Oh iya, gue sempat ambil foto lantai itu tadi.” Ketiga temannya menunggu, namun saat Rina membuka galeri, alisnya berkerut. Foto yang ia ambil terlihat seperti file yang rusak—gambarannya hanya berupa garis-garis warna abu-abu dan hitam. Di sudut atas layar, ada tulisan kecil: File Error.

“Kenapa jadi begini?” gumam Rina, bingung.

“Lo yakin tadi udah pencet tombol foto?” tanya Maya.

“Iya, yakin banget! Malah tadi gue mau kirimin ke Tania sebagai bukti, tapi gagal gara-gara gak ada sinyal.” 

Mendengar itu, wajah Tania semakin serius. “Mungkin emang ada baiknya Rina gak nyimpan foto itu.”

“Kenapa?” tanya Sinta.

“Konon, kalau kalian nyimpan sesuatu dari pengalaman mistis, bisa aja… sesuatu yang lain itu ikut terbawa.”

Ketiga gadis itu saling pandang, lalu memutuskan untuk tidak membahasnya lebih lanjut. Peristiwa di lantai empat itu akan selalu membekas di benak mereka, sebagai misteri yang tidak akan pernah mereka lupakan.

 

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Kisah-Kisah Misteri Para Pemancing
2149      1129     1     
Mystery
Jika kau pikir memancing adalah hal yang menyenangkan, sebaiknya berpikirlah lagi. Terkadang tidak semua tentang memancing bagus. Terkadang kau akan bergelut dengan dunia mistis yang bisa saja menghilangkan nyawa ketika memancing! Buku ini adalah banyak kisah-kisah misteri yang dialami para pemancing. Hanya demi kesenangan, jangan pikir tidak ada taruhannya. Satu hal yang pasti. When you fish...
Tic Tac Toe
1999      1569     2     
Mystery
"Wo do you want to die today?" Kikan hanya seorang gadis biasa yang tidak punya selera humor, tetapi bagi teman-temannya, dia menyenangkan. Menyenangkan untuk dimainkan. Berulang kali Kikan mencoba bunuh diri karena tidak tahan dengan perundungannya. Akan tetapi, pikirannya berubah ketika menemukan sebuah aplikasi game Tic Tac Toe (SOS) di smartphone-nya. Tak disangka, ternyata aplikasi itu b...
If These Insomniac Eyes Were Also My Third
22      12     0     
Horror
Bagaimana perasaanmu jika tidak bisa tidur di malam hari? Atau bahkan, tidak bisa tidur berhari - hari. Kadang, kamu juga bisa lupa kalau hari ini belum sempat tidur. ya, penyakit insomnia itu perlahan mengganggu kehidupan milik cewek bernama Putih. Putih juga dikelilingi oleh banyak kenalan yang memiliki mata batin, kemampuan mereka melihat mahluk tak kasat mata. Berbeda dengan Putih, ia...
Teilzeit
2152      630     1     
Mystery
Keola Niscala dan Kalea Nirbita, dua manusia beda dimensi yang tak pernah bersinggungan di depan layar, tapi menjadi tim simbiosis mutualisme di balik layar bersama dengan Cinta. Siapa sangka, tim yang mereka sebut Teilzeit itu mendapatkan sebuah pesan aneh dari Zero yang menginginkan seseorang untuk dihilangkan dari dunia, dan orang yang diincar itu adalah Tyaga Bahagi Avarel--si Pangeran sek...
Half Moon
1257      715     1     
Mystery
Pada saat mata kita terpejam Pada saat cahaya mulai padam Apakah kita masih bisa melihat? Apakah kita masih bisa mengungkapkan misteri-misteri yang terus menghantui? Hantu itu terus mengusikku. Bahkan saat aku tidak mendengar apapun. Aku kambuh dan darah mengucur dari telingaku. Tapi hantu itu tidak mau berhenti menggangguku. Dalam buku paranormal dan film-film horor mereka akan mengatakan ...
Crystal Dimension
511      382     1     
Short Story
Aku pertama bertemu dengannya saat salju datang. Aku berpisah dengannya sebelum salju pergi. Wajahnya samar saat aku mencoba mengingatnya. Namun tatapannya berbeda dengan manusia biasa pada umumnya. Mungkinkah ia malaikat surga? Atau mungkin sebaliknya? Alam semesta, pertemukan lagi aku dengannya. Maka akan aku berikan hal yang paling berharga untuk menahannya disini.
Putaran Waktu
1272      809     6     
Horror
Saga adalah ketua panitia "MAKRAB", sedangkan Uniq merupakan mahasiswa baru di Universitas Ganesha. Saat jam menunjuk angka 23.59 malam, secara tiba-tiba keduanya melintasi ruang dan waktu ke tahun 2023. Peristiwa ini terjadi saat mereka mengadakan acara makrab di sebuah penginapan. Tempat itu bernama "Rumah Putih" yang ternyata sebuah rumah untuk anak-anak "spesial". Keanehan terjadi saat Saga b...
Snow White Reborn
732      463     6     
Short Story
Cover By : Suputri21 *** Konyol tapi nyata. Hanya karena tertimpa sebuah apel, Faylen Fanitama Dirga mengalami amnesia. Anehnya, hanya memori tentang Rafaza Putra Adam—lelaki yang mengaku sebagai tunangannya yang Faylen lupakan. Tak hanya itu, keanehan lainnya juga Faylen alami. Sosok wanita misterius dengan wajah mengerikan selalu menghantuinya terutama ketika dia melihat pantulannya di ce...
Rasa Cinta dan Sakit
616      370     1     
Short Story
Shely Arian Xanzani adalah siswa SMA yang sering menjadi sasaran bully. Meski dia bisa melawan, Shely memilih untuk diam saja karena tak mau menciptakan masalah baru. Suatu hari ketika Shely di bully dan ditinggalkan begitu saja di halaman belakan sekolah, tanpa di duga ada seorang lelaki yang datang tiba-tiba menemani Shely yang sedang berisitirahat. Sang gadis sangat terkejut dan merasa aneh...
HAMPA
541      402     1     
Short Story
Terkadang, cinta bisa membuat seseorang menjadi sekejam itu...