Pagi itu kantor penerbitan yang ada di tengah-tengah kota ricuh. Irish diantar menggunakan mobil oleh seorang pria. Seorang Pria. Ingat. Pria. Selama ini seluruh penghuni kantor tidak pernah melihat Irish pergi dengan seorang pria. Tidak sekalipun. Apalagi melihat Irish tertarik untuk beramah tamah dengan orang-orang kantor. Tidak. Meskipun mereka semua tahu Irish adalah salah satu editor dan penulis terbaik yang ada di kantor mereka. Tapi tak sekalipun ada seseorang yang pernah dekat dengan Irish. Perempuan itu terkenal sangat antipati dengan pria.
Selama ini mereka tidak berani menanyakan lebih lanjut tentang hubungan percintaan Irish. Terakhir yang mereka ketahui tentang Irish hanya kedekatannya dengan Radit. Tapi sepertinya kisah itu telah berakhir hari ini. Mereka secara serempak menatap Radit yang berdiri di sana.
Radit hanya menelan ludahnya. Tidak sekalipun dia berpikir akan berakhir seperti ini. Selama ini Irish sudah memberikan kesempatan yang bagus untuk dirinya. Tapi jika Irish memang memilih orang itu, Radit tidak akan bisa melakukan apapun. Pria itu hanya kembali ke ruangannya.
Franda yang menjadi mak comblang di antara keduanya merasa bersalah. Dia tidak pernah melihat Radit sekecewa itu. Amarah Franda mulai memuncak. Entah mengapa dia menjadi tidak suka dengan sikap Irish yang berbeda dari biasanya.
“Rish!” Franda membuka pintu ruangan Irish dengan keras. Tepat ketika perempuan itu baru saja masuk. Irish memandang Franda tanpa rasa bersalah. “Gue nggak tahu deh apa yang lo pikirin saat ini.”
“Apa memangnya?” Irish meletakkan tas kerjanya ke sofa. Tangannya sibuk mengambil kacamata dan membersihkan lensanya. Irish pagi ini rasanya harus banyak menjelaskan kepada orang lain. Emosinya sudah banyak diacak-acak dari kemarin. Rasanya sungguh melelahkan.
“Lo berangkat bareng sama dia. Siapa sih pria yang ngelamar lo kemarin? Lupa dah gue.”
“Aksara,” ucap Irish.
“Nah itu pokoknya. Aaahhh gue udah berusaha dengan baik buat ngeyakinin lo sama Radit tapi lo akhirnya milih Aksara? Apa yang bikin lo mau sama dia?” Franda menggebrak meja Irish dengan keras. Orang-orang yang ada di luar mulai menguping
Irish memasang kacamata dan menatap Franda dengan senyum tipis. “Kayaknya gue emang masih ingin sama dia.”
“Hah.” Franda memutar tubuhnya, tangannya menyisir rambutnya dengan cepat, kemudian dia menatap Irish kembali. “Wah … gue nggak habis pikir lo masih mau sama dia. Lo … oke, mungkin emang cinta membuat lo nggak bisa pake logika dengan benar saat ini. Tapi lo harus jelasin kepada Radit sekarang posisi dia kayak gimana. Gue sekarang percaya kalau cinta itu buta. Buktinya temen gue satu ini nggak bisa pake logika yang selama ini dia pake. Gue nggak pernah ngelihat benteng lo serapuh ini, Rish. Sekarang lo harus selesai semuanya sendiri. Lo harus segera memilih apa yang sebenarnya lo inginkan. Gue nggak mau kalau lo menyimpan semuanya. Mereka juga perlu jawaban.”
Franda menyadarkan Irish tentang kegilaan yang sedang dia lakukan. Benteng itu memang telah berhasil ditabrak oleh ketiga orang yang datang secara berturut-turut di kehidupannya. Dia tidak menyangka akan datang saat ini. Saat dia harus benar-benar memilih apa yang ada di hatinya.
“Dan satu lagi.” Franda membalik bandannya ketika masih berada di depan pintu. “Lo jangan bicara sama gue mulai saat ini.”
Brakkk …
Irish akhirnya membuat hidupnya menjadi berantakan kembali. Irish memegang kepalanya dengan erat. Dia menunduk di atas meja. Rasanya benar-benar memusingkan. Dia tidak pernah suka keadaan seperti ini. Masa-masa krisis itu telah lama berakhir, Irish tidak siap jika harus mengulang masa-masa itu.
“Aarrrghh. Rumit banget kisah hidup gue sih.” Irish meremas rambutnya. Semua masalah ini terlalu berat untuknya.
Dalam keadaan seperti ini Irish masih harus fokus pada pekerjaannya. Dia harus mengurus naskah yang akan terbit dua minggu lagi. Tapi ternyata fokusnya memang benar-benar tidak bisa didapatkan saat ini. Pada akhirnya Irish keluar ruangan dan datang ke ruangan Radit.
Untuk pertama kalinya dia masuk ke ruangan pria itu. Wangi coffe kental langsung menyambut hidungnya sedangkan pemiliknya berada di dekat kaca. Pemandangan pusat kota sepertinya sangat menarik untuk dirinya. Pria itu ternyata adalah seorang perokok. Irish tidak tahu fakta itu. Dia sangat membeci perokok.
“Saya bisa bicara sama Anda?” tanya Irish dengan formal. Bagaimanapun selama ini Irish memang menggunakan kata-kata yang sopan jika berbicara dengan Radit.
“Saya sudah tahu apa yang ingin kamu sampaikan.” Radit menyesap rokoknya dan menghembuskan asapnya. Dada Irish rasanya sesak. Dia benci bau asap rokok. Dia harus segera menyelesaikan permasalahan ini sesegera mungkin.
“Baik. Saya memohon maaf jika bapak merasa saya mempermainkan bapak. Tapi sama sekali saya tidak pernah berniat seperti itu. Bapak juga tahu kalau saya memang sedang dekat dengan orang lain sejak pertama kali saya memutuskan untuk bertemu dengan bapak.”
Radit akhirnya memutar badannya. Dia menatap Irish dari atas sampai bawah. Perempuan yang sangat sederhana ini memang telah banyak mengisi perasaannya. Radit menjadi semakin bingung jika harus menatap Irish. Wajah tegas itu tiba-tiba berubah sayu daripada sebelumnya.
“Setidaknya kalau kamu ingin mengakhiri pendekatan saya. Kamu memberikan ekspresi senang. Saya akan lebih senang jika kamu senang. Kalau memang kamu memilih pria itu, kamu harus membuktikan kepada saya kalau kamu bahagia. Bukan terlihat tidak bersemangat seperti ini,” kata Radit dengan peduli.
“Saya hanya tidak tahu apa yang harus saya lakukan untuk memutuskan semuanya. Saya harap bapak bisa mengerti itu.”
“Sekalipun kita dekat, kamu tidak pernah sekalipun memanggil nama saya dengan baik. Dari awal memang kamu sudah memberikan batas kepada saya. Saya tidak bisa meminta kamu untuk tetap tinggal. Jadi pergilah.”
“Terima kasih telah menaruh perasaan kepada saya. Saya harap bapak menemukan yang terbaik dalam hidup bapak.” Irish menunduk hormat. Dia membalik tubuhnya tapi sebelum itu Irish menatap Radit kembali. “Saya juga tidak suka seorang perokok.”
Irish meninggalkan ruangan Radit dengan perasaan lega. Dia telah berhasil mengakhirinya dengan Radit. Sekarang hanya tinggal dua orang yang perlu dia hadapi. Orang yang sama yang sepuluh tahun lalu banyak mengubah hidup Irish menjadi seperti saat ini.
***
Tidak seperti biasanya. Irish kali ini benar-benar merasa asing di kantornya sendiri. Franda tetap tidak mengajaknya berbicara setelah tiga hari. Selama tiga hari ini dia berusaha mendatangi perempuan itu di ruangannya. Tapi tidak pernah ada. Beberapa kali juga perempuan itu tidak pernah terlihat. Irish merasa lebih pusing lagi.
“Ini kenapa satu selesai, satu kumat. Bisa gila gue kalau kayak gini. Aaarggghhh!” Irish berteriak dengan keras di ruangan Franda. Perempuan itu memang benar-benar menguji kesabarannya. “Awas kalau lo ketemu ya, Fran. Habis lo ditangan gue,” ucap Irish dengan tegas.
Jauh di tempat tersembunyi, Franda mengutuk dirinya sendiri yang terlalu berlebihan melakukan itu kepada Irish. Dia memang sengaja membuat perempuan itu memilih sesuatu yang tidak mudah, tapi dia juga merasa terlalu berlebihan.
“Lo nggak nyamperin dia? Udah frustrasi banget itu.”
“Sssttt … udah, biarin aja. Biar dia tahu rasa.”
“Kata gue lo harus segera ketemu sama dia. Bisa-bisa dia mengacak-acak kantor. Gue nggak ikut campur kalau itu.” Teman satu divisinya itu pergi dan meninggalkan Franda.
Satu kantor di lantai itu sudah pusing tujuh keliling dengan kelakuan keduanya. Irish apalagi. Perempuan itu benar-benar keluar dari zona nyamannya. Dia mengintimidasi setiap orang yang lewat di sekitar dirinya. Tidak ada yang berani. Bahkan pimred pun memilih untuk bersikap tidak tahu. Dia hanya tidak ingin kehilangan editor terbaiknya. Jadi selama Irish masih bersikap professional, pimred tidak akan mempermasalahkan.
“Akhirnaya gue ketemu sama lo.” Irish mengatakannya dengan tajam. Perempuan itu membawa sepiring batagor dan duduk dengan tenang di depan Franda.
Franda mengutuk siapapun anak kantor yang telah memberitahukan lokasinya saat ini. Franda bersikap tenang meskipun dalam hatinya sedang tidak baik-baik saja.
“Gue bilang jangan pernah ngomong sama gue lagi.”
“Yaudah tinggal lo diem aja kalau gue ngomong.” Irish tidak mau kalah. Perempuan itu memakan batagornya dengan sekali hap. Jelas mulut Irish tidak bisa memasukkan semuanya. Franda berusaha menahan tawanya. Dia tidak boleh dengan mudah leleh begitu saja. “Gue udah mengakhirinya dengan Radit. Puas nggak lo?” tanya Irish dengan sinis. Perempuan itu ingin melihat ekspresi Franda.
“Nggak penting buat gue.” Franda melirik ke samping. Dia tidak ingin Irish mengetahui ekspresinya.
“Yaudah sih. Gue cuma mau bilang itu.” Irish berdiri dari duduknya dan membawa piring batagornya pergi. Niatnya memang hanya mengatakan itu. Selama tiga hari Irish harus menunggunya. Jika Franda bukan teman terbaiknya di kantor ini, Irish sudah pasti akan mengutuk perempuan itu. Tapi sayangnya Irish terlalu menyayangi sahabatnya itu. Apapun Irish bisa lakukan untuk sahabatnya sekaligus mengakhiri kisah yang memang bukan untuknya.