Saat aku sadar kalau orang yang bernama Ray itu adalah cowok yang pernah kutampar, wajahku seketika memanas.
“Maaf, salah orang!” Aku berteriak. Lalu aku segera pergi ke kelasku. Semoga dia nggak menganggapku gila.
Eh, tadi dia mau masuk kelas XI Commerse-1? Sekelas sama Dayana dong? Terus kalau dia cowok yang pernah kutampar di angkot, artinya dia dari keluarga biasa dong. Kalau dia orang kaya, masa ke sekolah pake angkot? Apa Mrs. Shelly salah info? Ah, coba nanti kuselidiki lagi.
Mungkin orang merasa heran, kenapa gitu aku yang notabene anak Russelia pontang-panting nyari beasiswa kuliah di luar negeri? Bukannya anak-anak di sekolah ini, duit bukan hal yang perlu dipusingkan?
Perlu kalian tahu, di Russelia nggak semua murid membayar penuh biaya sekolah. Ada beberapa murid yang mendapat potongan. Contohnya seperti anak dari guru yang mengajar di sini, dan murid berprestasi seperti diriku. Selain itu, mungkin ada special case dan hanya pihak manajemen sekolah yang mengetahuinya.
Ya, seperti yang aku bilang pada Mrs. Shelly, aku pernah menyabet medali perak Olimpiade Sains bidang Matematika waktu SMP. Aku juga sering menang di berbagai kompetisi mewakili sekolah. Terus aku selalu menjadi juara kelas.
Namun ternyata menjadi pemenang kompetisi itu berat. Saat aku kalah dalam Olimpiade Sains tahun lalu, seakan satu sekolah mencemoohku. Ini semua akibat ekspektasi orang-orang yang terlalu tinggi tanpa tahu bahwa terkadang kita pernah berada di dalam titik terendah dalam hidup ini.
Masa bodoh dengan olimpiade! Pokoknya aku harus menjadi tutor cowok itu!
***
"Day, nanti pulang sekolah mau anterin gue ke Gerai Indosat, nggak? Gue mau ngebenerin kartu gue nih. Eror kayaknya," ujarku saat kami menuju rooftop ketika istirahat untuk makan siang.
Di rooftop lantai lima terdapat dining room. Beberapa meja dan bangku panjang terbuat dari kayu berderet rapi di dalam ruangan. Namun aku dan Dayana memilih salah satu gazebo di paling pojok untuk menyantap makan siang. Soalnya dekat dengan kebun hidroponik dan sepi.
"Yah, nanti sore kan gue ada latihan choir buat Assembly minggu depan," sahut Dayana. "Eh, gue kebelet pipis. Gue ke toilet dulu ya. Lo duluan aja, entar gue nyusul."
Aku pun pergi menuju meja prasmanan, tepatnya ke bagian yang tertulis kelas XI Science-1. Semua makan siang disediakan oleh katering dan ditaruh di atas meja perkelas. Lumayan panjang meja prasmanan, karena gedung ini menampung murid junior dan senior.
Namun di saat aku baru saja mengambil kotak makan yang bertuliskan nama Dayana di meja kelas XI Commerse-1, ada seseorang yang sengaja menyikut lenganku.
"Hai, Kiser! Gimana kabar lo?" Seorang cewek dengan jepitan mutiara di sisi kanan rambut cokelatnya menghalangi jalanku.
Aku mendongak dan menatap wajahnya dengan muak. Davina memberi senyuman licik.
"Eh, dia emang habis nyium siapa? Her boyfriend? She has a boyfriend? That's new." Shakira muncul di sebelah Davina.
Ah, ini lagi artis Bollywood KW pake ikutan.
"No, not kisser. Kiser, Kinan loser," sahut Davina.
Shakira tergelak. Keduanya mirip para cewek centil yang ada di sinetron remaja. Itu lho yang suka memakai rok mini.
"Heh, kalian cabe-cabean! Pergi sana!" Tiba-tiba Dayana muncul di sebelahku.
"Yang satu loser, yang satu Betty Boop. Cocok," sindir Davina sembari mengamit lengan Shakira. Mereka melenggang pergi bak model papan atas.
Mereka berdua menuju meja menghadap jendela di bagian tengah. Itu spot favorit mereka. Spotnya para murid populer. Padahal itu tempat yang enak untuk menyantap makan siang. Jadi berasa makan di restoran rooftop sambil memandangi pemandangan Jakarta dari jendela. Tapi aku mana sudi dekat dengan mereka.
Di sana ada Davina Patricia, anak Kepala Sekolah sekaligus keponakan kesayangannya pemilik sekolah ini. Shakira Putri Pricillia, anak pejabat Direktorat Jenderal Pajak. Parasnya seperti artis Bollywood, karena mamanya memang ada keturunan dari Pakistan. Bunga Soraya Agnia, si jago piano dan berparas mirip Yui Aragaki, artis Jepang yang terkenal. Ayahnya pengusaha properti besar di Jakarta dan ibunya mempunyai butik terkenal.
Lalu terdapat dua cowok. Cello Athaya, ayahnya seorang pilot dan dia juga aktif di Osis. Kemudian yang terakhir Ibra Galang Setiawan. Sebenarnya Ibra dan Cello awalnya nggak bergabung dengan ketiga cewek itu. Bahkan setahun yang lalu, aku dan Ibra masih makan bersama. Bertiga dengan Dayana.
Namun setelah kejadian menyesakkan itu, Ibra memisahkan diri. Bunga yang terlihat tertarik dengan Ibra mengajaknya bergabung. Cello ikut bergabung, karena kabarnya dia berpacaran dengan Shakira.
Siapa yang nggak tertarik dengan Ibra? Ganteng? Check. Kaya? Check. Meskipun maminya Ibra menjadi guru PNS di sekolah yang sama dengan mamaku, tapi ayahnya merupakan Bapak Walikota Jakarta Barat. Dari kakek buyutnya Ibra, itu emang udah keturunan konglomerat. Jangan samakan dengan papaku yang guru PNS. Satu lagi, Ibra itu atlet wushu sekolah ini.
Aku dan Ibra sudah berteman sejak SD, karena kedua ibu kami bekerja di sekolah yang sama. Namun sekarang hanya tinggal kenangan. Bahkan dia menolak mentah-mentah saat aku memintanya untuk mencoba bicara dengan Mrs. Shelly.
"Lo kenapa sih, nggak pernah ngelawan kalau Davina ngusik lo?" tanya Dayana.
"Ngapain? Biarin aja. Gue juga nggak yakin dia bakal tembus sampe tingkat provinsi. We will see, Day," sahutku.
“Doain orang jelek, dosa lo!”
Aku mencibir. "Eh, Day, gue mau nanya soal cowok di kelas lo."
"Siapa? Hampir setengah kelas gue cowok."
"Ih, iya gue tahu! Itu lho, cowok yang pernah gue teriakin waktu di angkot. Lo inget nggak? Seminggu yang lalu."
Dayana tergelak. "Oh, iya, iya. Inget gue. Dia emang anak kelas gue. Si Ray. Rayi Baskara. Dia emang pendiem sih. Baik kok orangnya."
"Ah, elo mah semua orang dibilang baik. Orang nyebelin kayak gitu."
"Jelaslah dia kayak gitu, Ki. Lo pernah nuduh dia mesum." Dayana terkekeh. "Emangnya kenapa?”
Aku pun menceritakan ide dari Mrs. Shelly.
“Bagus tuh idenya. Tapi good luck deh ngadepin Ray.”
Aku mengerutkan kening.
"Ya elah, lo nggak inget pas di angkot dia ngapain? Tidur! Di kelas juga kerjaannya gitu. Meskipun gue tahu kalau sebenarnya dia pinter, tapi dia kayak enggak bergairah hidup gitu. Gue aja nggak nyangka dia sampe seniat itu bikin personal statement." Dayana menepuk mulutnya. "Ya ampun, jahat banget mulut gue! Gue nggak bermaksud ngejelekin dia. Tapi mudah-mudahan aja kata lo bener. Syukurlah dia masih punya semangat. Soalnya dia sering banget dipanggil Miss. Deli ke konselor. Dihukum di ruang guru, gara-gara dia tuh udah kayak Malin Kundang dikutuk jadi batu kalau lagi tidur."
Apa benar kalau cowok yang namanya Ray itu tukang tidur? Ah, whatever, yang penting tujuanku tercapai.
***
Tadinya sepulang sekolah, aku berencana untuk pergi ke Gerai Indosat sendirian. Tapi berhubung aku mengantuk, karena belajar semalaman, jadi lebih baik aku pulang.
Eh, aku melihat cowok yang bernama Ray atau Rayi itu masuk ke dalam angkot. Aku segera berlari supaya aku nggak ketinggalan. Lalu aku memilih duduk di samping Ray. Pastinya aku berakting supaya terlihat natural. Kali ini aku mau mengajaknya berteman atau setidaknya mengibarkan bendera perdamaian. Baru kutawari menjadi tutor belajarnya.
"Lo kalau mau nampar gue lagi kayak waktu itu, gue lempar dari jendela. Dasar, cewek mesum," cetusnya. Dia berbicara dengan mata terpejam dan kepala menyandar ke jendela.
Aku memelotot kepadanya. "Eh, yang mesum itu lo! Udah mesum, sengak lagi!"
Lalu dia berteriak kepada sopir angkot. "Bang, cewek di samping saya barusan nawarin permen! Saya curiga itu narkoba!"
Semua penumpang angkot menatapku dengan tajam. Dasar, cowok sialan! Aku segera berteriak panik, "Bohong dia, Bang! Malah dia yang berusaha mesum sama saya! Makanya dia nuduh saya sembarangan! Lihat tuh, tangannya deket-deket paha saya!"
"Heh, adek-adek! Kalau mau ribut, mending turun aja. Tapi bayar dulu ya," balas sang sopir, pria yang telinganya dipenuhi dengan tindik. Namun selera musiknya dangdut koplo.
Untung saja Ray tertidur setelah adu mulut. Ah, aku jadi mempunyai ide untuk balas dendam. Saat mobil angkot sudah mendekati rel kereta, aku mengambil botol air dari dalam ranselku.
Lalu aku berteriak, "Kiri, Bang!" sembari menuangkan air ke bagian tengah celana si Ray.
"Tuh, lihat bukti dia mesum!" tunjukku kepada celananya. Aku segera turun dari angkot.
Dan saat angkot melaju, Ray mengacungkan jari tengah dari jendela.